← Empat Jam

Chapter Twenty

draft.txt

POV: Cyntia


Dia tertidur di mejanya pada Kamis pukul dua siang, dan itu adalah pemandangan yang membuat seluruh lantai sebelas berhenti bergerak selama beberapa detik.

Kiki yang pertama menyadari. Dia berjalan ke arahku dengan wajah orang yang melihat gerhana.

“Bu,” bisiknya. “Mas Ervan tidur.”

“Terus?”

“Nggak, maksud saya—” Kiki menoleh ke belakang. “Saya di sini tiga tahun, Bu. Saya belum pernah lihat dia tidur.”

Aku berdiri dan berjalan ke pojok.

Dia tertidur dengan kepala miring ke bahu kiri, kacamata masih terpasang, satu tangan masih di atas keyboard. Rambutnya lepas dari ikatannya di satu sisi. Napasnya pelan.

Dia terlihat dua puluh empat tahun.

Itu hal pertama yang menghantamku, dan aku harus berdiri di sana selama beberapa detik sampai bisa mengendalikannya. Tanpa wajah yang dijaga, tanpa jarak yang dihitung, tanpa dinding rata itu — dia hanya kembali menjadi laki-laki yang tertidur di perpustakaan dengan mulut sedikit terbuka sementara aku menyalin catatannya diam-diam.

“Jangan dibangunin,” kataku ke Kiki.

“Sesi jam tiga—”

“Aku pindah ke besok.”

Aku mengambil jaketku dari sandaran kursiku sendiri dan menyampirkannya di punggung kursinya, karena AC lantai sebelas terlalu dingin dan karena aku tidak bisa memikirkan satu pun hal lain yang boleh kulakukan.

Dan pada saat aku menarik tanganku kembali, aku melihat layarnya.


Layar keduanya menampilkan editor kode. Layar pertamanya menampilkan sesuatu yang lain.

Sebuah berkas teks. Polos. Tanpa warna, tanpa format.

Di sudut atas tab-nya, tertulis nama berkasnya.

draft.txt

Setiap baris dimulai dengan tanggal.

Aku tidak berniat membacanya. Aku ingin menuliskan itu di sini dan aku ingin itu benar, tapi kejujurannya adalah: aku sudah membaca sebelum aku sempat memutuskan untuk membaca. Mata bergerak lebih cepat daripada moral.

Baris yang terlihat di layar ada empat.

Aku hanya sanggup membaca satu.

14/06 — Kamu naik ke lantai dua belas.

Empat kata setelah tanggalnya. Itu saja. Barisnya berhenti di situ.

Bilah gulir di sisi kanan jendela itu setipis rambut.

Aku pernah membuka berkas dengan bilah gulir setipis itu. Berkas log server yang sudah berjalan berbulan-bulan. Ribuan baris. Puluhan ribu.

Setiap baris punya tanggal.

Yang paling atas — aku bisa melihatnya karena dia sedang menggulir ke atas ketika tertidur, karena dia sedang membaca dari awal — bertanggal tiga tahun lalu.

Aku menutup laptopnya.

Bukan diminimalkan. Aku menutup penutupnya, pelan, sampai berbunyi klik.

Empat kata setelah tanggal.

Aku sudah membacanya berkali-kali di kepalaku sebelum tanganku selesai menutup penutup itu, dan aku sudah mulai memahami bentuknya, dan itulah yang membuat lantai bergeser.

Kamu naik ke lantai dua belas.

Bukan dia. Bukan Bu Cyntia. Bukan manajer saya.

Kamu.

Empat ribu jam kerja, ratusan percakapan, tiga bulan setengah — dan di seluruh waktu itu dia memanggilku “Bu” dengan konsistensi yang tidak pernah retak satu kali pun.

Kecuali di satu tempat.

Di tempat yang tidak pernah dikirim ke mana pun, tidak pernah dibaca siapa pun, dan disimpan di bawah nama berkas yang paling tidak berarti yang bisa dipilih seseorang.

Dan aku berjalan kembali ke mejaku dan duduk dan meletakkan kedua tanganku di pangkuan supaya tidak ada yang melihat mereka bergetar.


Aku tidak membaca sisanya.

Aku ingin mencatat itu dengan jelas, karena selama tiga jam berikutnya aku duduk delapan meter dari laptop yang tertutup itu dan setiap serat di tubuhku menginginkan sebaliknya.

Aku punya alasan. Aku punya banyak alasan, dan semuanya bagus.

Aku bisa membacanya dan akhirnya tahu apa yang terjadi. Aku bisa membacanya dan berhenti menebak-nebak. Aku bisa membacanya dan mengetahui isi kardus, mengetahui apa yang Nadia tidak mau ceritakan, mengetahui apa yang membuat laki-laki ini menjadi ruangan berdinding kosong.

Tiga tahun aku menghukum diriku dengan versi yang salah. Di dalam berkas itu ada versi yang benar.

Dan aku tidak membacanya.

Bukan karena aku orang baik.

Karena aku sudah pernah melakukan ini.

Tiga tahun lalu, aku mengambil sesuatu darinya tanpa pernah meminta izin: aku mengambil kesabarannya, aku mengambil malam-malamnya, aku mengambil tabungannya, aku mengambil satu tahun hidupnya — dan setiap kali aku mengambil, aku berkata pada diriku bahwa dia tidak keberatan, karena dia bilang tidak apa-apa.

Berkas itu adalah satu-satunya tempat di dunia di mana dia tidak bilang tidak apa-apa.

Satu-satunya.

Kalau aku mengambil itu juga, tidak ada yang tersisa yang benar-benar miliknya.


Pukul lima lewat, dia bangun.

Aku melihatnya dari mejaku: dia terbangun dengan cara orang yang tidur di tempat yang salah, tersentak, langsung menegakkan badan, langsung meraih ponsel untuk melihat jam.

Lalu dia berhenti.

Dia menoleh ke bahunya. Ke jaket yang tersampir di sandaran.

Dia duduk sangat diam selama beberapa detik.

Lalu dia membuka laptopnya, dan aku melihat wajahnya dari samping, dan aku melihat momen tepat ketika dia menyadari bahwa dia tidak menutupnya sendiri.

Sesuatu terjadi di tubuhnya. Bahunya naik satu inci dan tidak turun.

Dia mengetik sesuatu — dua detik, tiga — dan aku tahu persis apa yang dia lakukan, karena aku akan melakukan hal yang sama: dia menutup berkas itu.

Lalu dia mengambil jaketku dari sandaran, melipatnya dengan sangat rapi, dan berjalan ke mejaku.

“Bu.”

“Iya.”

“Jaketnya.”

Aku mengambilnya.

Dia berdiri di sana. Dia tidak pergi.

Dan untuk sesaat aku melihat sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat dalam tiga bulan setengah — bukan tenang, bukan sopan, bukan rata. Sesuatu yang berdiri di tepi.

Dia akan bertanya.

Aku bisa melihat pertanyaan itu terbentuk. Ibu lihat layarnya? Empat kata. Dia sedang menyusunnya.

Dan aku menyadari, dalam sepersekian detik itu, bahwa apa pun yang kujawab akan mengubah segalanya. Kalau aku bilang tidak, aku berbohong padanya lagi, dan aku sudah cukup berbohong untuk seumur hidup. Kalau aku bilang iya—

Ponselnya berbunyi.

Bukan notifikasi. Panggilan.

Dia melihat layarnya, dan wajahnya berubah dengan cara yang membuatku menegakkan punggung.

“Sebentar, Bu.”

Dia berjalan ke arah jendela, jauh, ke ujung ruangan.

Aku tidak bisa mendengar apa pun.

Tapi aku melihat bahasa tubuhnya, dan aku melihatnya berkata sesuatu yang pendek, lalu diam lama, lalu menggeleng sekali. Aku melihat tangannya naik ke pelipisnya dan tinggal di sana.

Dan aku melihat, di detik terakhir sebelum dia menutup telepon, dia menoleh — sangat cepat, sangat singkat — ke arahku.


Dia kembali ke mejaku dua menit kemudian. Wajahnya sudah rata lagi.

“Bu, saya harus keluar sebentar. Sekitar sejam.”

“Ada apa?”

“Teman lama.”

“Ervan.”

“Bukan urusan kerja, Bu.” Dia sudah mengambil kunci mobilnya. “Sesi besok tetap jam sembilan.”

Dia pergi.

Aku duduk di mejaku sampai lantai sebelas kosong.

Lalu aku melakukan hal yang paling kecil dan paling putus asa yang bisa dilakukan seorang manajer: aku membuka daftar kontak darurat di berkas HR-nya, kolom yang diisi setiap karyawan pada hari pertama mereka bekerja dan tidak pernah diperbarui lagi.

Kontak darurat 1: Ratna Bagaskara (ibu) Kontak darurat 2: Damar Prakoso (teman)

Damar.

Aku mengenal nama itu. Damar yang tinggal satu kos dengannya di tahun kedua. Damar yang meminjamkan motornya waktu kami mau ke Dieng. Damar yang tertawa paling keras di seluruh angkatan.

Dan di kolom sebelah kanannya, ada tanggal terakhir berkas itu diperbarui.

Tiga tahun lalu. Bulan September.

Dua minggu setelah dia menarik surat pengunduran dirinya.

Sebelum September itu, siapa yang tertulis di sana?

Aku tahu jawabannya sebelum aku selesai bertanya, karena aku ingat mengisi formulir yang sama untuk kantor pertamaku, dan aku ingat nama siapa yang kutulis di kolom kedua.

Aku menutup berkasnya.

Aku mengambil tasku, mematikan lampu meja, dan berjalan ke lift di lantai sebelas yang sudah gelap seluruhnya.

Di suatu tempat di kota ini, ada seorang laki-laki yang menyimpan ribuan baris kalimat yang tidak pernah dikirim, yang tertidur di mejanya untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dan yang sekarang sedang duduk di suatu tempat bersama satu-satunya orang yang masih tersisa di kolom kontak daruratnya.

Dan aku, yang menyebabkan seluruh keadaan ini, pulang.

Karena itu satu-satunya hal yang boleh kulakukan.