← Empat Jam

Chapter Thirty Nine

Aku yang Nyuruh Kamu Pergi

POV: Cyntia


Aku tidak marah di mobil.

Aku sudah menyiapkan marah — aku menghabiskan empat jam di ruang Sirius menyusunnya, kalimat demi kalimat, sampai lampu lantai sebelas mati sendiri di atas kepalaku — dan pada saat aku sampai di lantai empat gedung tua di belakang pasar, semuanya sudah habis terbakar di jalan tol.

Yang tersisa hanya satu pertanyaan.

Dia membuka pintu. Aku masuk. Aku tidak duduk.

“Kenapa kamu nggak bilang?”

“Karena aku udah nolak.”

“Kamu nolaknya hari Jumat. Tawarannya hari Kamis minggu sebelumnya.” Aku menatapnya. “Sembilan hari, Ervan. Kita ketemu enam kali.”

Dia tidak membantah, dan itu sendiri sudah memberitahuku bahwa dia sudah menghitungnya juga.

“Enam kali,” ulangku.

“Iya.”

“Kita makan mi ayam dua kali.”

“Iya.”

“Dan tiap malam aku pulang dan mikir, akhirnya, dia mulai minta sesuatu, dia mulai milih.” Suaraku naik dan aku menurunkannya lagi. “Dan selama itu ada kertas di laci Tresna.”

“Cyn—”

“Aku nggak marah kamu nolak.” Aku mengangkat tanganku. “Aku bahkan belum sampai ke sana. Aku marah karena kamu mutusin dua tahun hidup kamu sendirian di ruangan ini sambil aku duduk di sofa kamu.”

Dia berdiri di tengah ruangan dengan tangan di sisi tubuh.

“Aku nggak tahu caranya,” katanya.

“Caranya bilang?”

“Caranya bikin sesuatu jadi punya dua orang.”


Aku duduk di kursi satu-satunya karena kakiku memutuskan sendiri, dan dia duduk di lantai bersandar ke dinding kosong, dan kami tinggal begitu selama beberapa saat.

“Aku mau nanya satu hal dulu,” kataku. “Dan aku mau jawaban yang jujur, bukan yang bener.”

“Bedanya apa?”

“Jawaban yang bener itu yang bisa kamu pertahanin di rapat,” kataku. “Jawaban yang jujur itu yang bikin kamu keliatan jelek.”

Dia menekan pelipisnya.

“Oke.”

“Sembilan hari itu, kamu pernah kepikiran buat bilang ke aku?”

“Tiap hari.”

“Terus kenapa nggak?”

Dan dia diam cukup lama sehingga aku hampir mengulang pertanyaannya.

“Karena tiap kali aku mau bilang, aku nyusun kalimatnya dulu,” katanya. “Dan tiap kalimat yang aku susun kedengeran kayak aku minta izin.”

Dia mengangkat wajahnya.

“Dan aku nggak pernah minta izin ke siapa pun seumur hidup aku, Cyn. Aku nggak tahu bunyinya gimana.”


“Ceritain tawarannya,” kataku.

“Cyn, aku udah nolak—”

“Ceritain.”

Dan dia menceritakannya. Perusahaannya, posisinya, dua tahun, relokasi ditanggung, angkanya. Sistem yang dipakai oleh sistem yang dipakai bank. Kenapa mereka mencarinya — karena tulisan yang aku suruh dia tulis.

Aku mendengarkan sampai selesai.

Lalu aku berkata, “Ambil.”

Dia mengangkat wajahnya.

“Apa?”

“Ambil tawarannya.”

“Aku udah nolak.”

“Tresna belum ngabarin mereka.” Aku menatapnya. “Dia nunggu seminggu. Aku tanya tadi sore.”

Wajahnya berubah.

“Kamu tanya Tresna?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena aku mau tahu apa masih bisa ditarik,” kataku. “Dan bisa.”


Dia berdiri dari lantai.

Itu hal pertama yang salah. Selama empat setengah bulan di kantor dan hampir dua bulan di luar kantor, aku belum pernah melihatnya berdiri karena emosi.

“Aku nggak mau.”

“Ervan, ini—”

“Aku nggak mau.” Suaranya masih tidak naik. Tidak akan pernah naik; aku sudah berhenti berharap. “Aku udah mikirin sembilan hari.”

“Kamu mikirin sembilan hari sendirian, dan kamu mutusin pakai data yang salah.”

“Data apa yang salah?”

“Kamu ngitung pakai versi kita yang tiga tahun lalu,” kataku.

Dia berhenti.

“Kamu ngitung: kalau aku pergi, dia bakal capek, terus dia bakal ngerasa bersalah, terus dia bakal pergi.” Aku berdiri juga. “Iya kan? Itu barisnya di kepala kamu?”

Dia tidak menjawab.

“Ervan, itu barisnya?”

“Iya,” katanya.


Aku berjalan dua langkah dan berhenti, karena ruangan itu tidak cukup besar untuk berjalan lebih dari dua langkah.

“Aku mau kamu denger ini sekali,” kataku. “Aku nggak akan ngulang, dan aku nggak akan bikin lebih halus.”

Dia menunggu.

“Tiga tahun lalu aku bukan capek karena jaraknya,” kataku. “Jarak itu cuma tempat kejadiannya.”

“Cyn—”

“Aku capek karena tiap kali aku ngecewain kamu, kamu bilang nggak apa-apa.” Suaraku pecah dan aku membiarkannya. “Aku capek karena kamu nggak pernah marah, dan orang yang nggak pernah marah itu nggak bisa dibayar. Aku ngutang tiap hari selama enam bulan dan nggak ada satu pun cara buat nyicil.”

Aku menekan telapak tanganku ke mataku.

“Dan akhirnya aku ngelakuin satu-satunya hal yang bisa dilakuin orang yang nggak bisa bayar utangnya,” kataku. “Aku kabur.”

Ruangan itu sangat sunyi.

“Jadi kalau kamu ngitung pakai baris ‘kalau aku pergi dia bakal capek lagi’,” kataku, “kamu ngitung yang salah. Bukan kepergian kamu yang bikin aku habis.”

Aku menurunkan tanganku.

“Yang bikin aku habis adalah kamu nggak pernah ngasih aku kesempatan buat ngecewain kamu terus tetep ada di sana.”


Dia menatapku dari jarak satu setengah meter.

“Kamu mau aku pergi dua tahun,” katanya, pelan, “biar kamu bisa ngecewain aku.”

“Iya.”

“Cyn, itu—”

“Aku tahu itu kedengeran gila.”

“Itu emang gila.”

“Terus apa yang nggak gila?” kataku. “Kita tinggal di kota yang sama, jarak dua puluh menit, dan kamu tetep nggak berani ngabarin duluan. Kamu nunggu empat belas jam terus bilang nggak apa-apa. Kamu nyimpen Frankfurt sepuluh hari.”

Aku melangkah maju.

“Jarak nggak pernah jadi masalahnya, Ervan. Kita udah buktiin itu. Kita di gedung yang sama tiap hari selama lima bulan dan kamu tetep nggak bisa minta apa-apa.”

“Terus masalahnya apa?”

“Masalahnya kamu nggak percaya aku bakal tetep ada kalau kamu ngerepotin aku,” kataku. “Dan selama kamu ada di sini, kamu nggak akan pernah harus ngetes itu. Kamu bisa terus jadi orang yang nggak ngerepotin siapa-siapa. Sampai kita tujuh puluh tahun.”

Aku berhenti tepat di depannya.

“Aku nggak mau nunggu sampai tujuh puluh tahun buat tahu.”


Dia menciumku.

Dia yang memulainya, dan itu yang pertama, dan aku sadar sepenuhnya bahwa dia melakukannya untuk menghentikan percakapan ini.

Aku tahu, dan aku tetap membiarkannya, dan itu artinya aku juga sedang menghentikan percakapan ini, dan kami berdua sama-sama pengecut selama kira-kira dua puluh detik.

Ciumannya seperti argumen. Aku tidak tahu bagaimana lagi menuliskannya. Ada sesuatu yang keras kepala di dalamnya, sesuatu yang membantah, tangannya di rahangku terlalu kuat.

Aku menariknya lepas.

“Ini nggak jadi jawaban,” kataku.

“Aku tahu.”

“Ervan.”

Dan dia menyandarkan keningnya ke bahuku, dan aku merasakan seluruh berat badannya bertumpu sedikit — sangat sedikit, mungkin sepuluh persen — dan itu adalah pertama kalinya seumur hidupnya dia menaruh berat badannya pada seseorang.

“Kamu takut aku capek lagi,” kataku ke rambutnya.

Diam.

Lama.

“Iya,” katanya.


Aku pulang malam itu, dan dia mengantarku ke pintu seperti biasa, dan dia menunggu sampai aku masuk ke mobil seperti biasa.

Dan di parkiran gedungku sendiri, sebelum aku naik, aku mengirim satu pesan.

Aku nggak akan minta lagi. Ini yang terakhir aku ngomongin Frankfurt.

Dia membaca dalam sepuluh detik. Titik-titik muncul, hilang, muncul.

Oke.

Aku menatap layar.

Lalu aku mengetik satu hal lagi, dan aku mengetiknya karena aku sudah lelah menjadi orang yang cerdas tentang ini, dan karena satu-satunya hal yang belum pernah kucoba dalam lima setengah bulan adalah mengatakan sesuatu tanpa menghitung apa efeknya.

Minggu depan aku dinas ke Surabaya. Tiga hari.

Aku tahu. Ada di kalender tim.

Iya. Tapi aku mau kamu tahu dari aku.

Titik-titik muncul, dan berhenti, dan muncul lagi, dan berlangsung cukup lama untuk kalimat yang jauh lebih panjang dari yang akhirnya sampai.

Makasih.

Aku memasukkan ponselku ke tas dan naik ke apartemenku dan tidur delapan jam.

Dan aku tidak tahu — aku benar-benar tidak tahu, dan kalau ada satu hal yang ingin kuubah dari seluruh kisah ini, mungkin itu adalah bahwa aku tidur nyenyak malam itu — bahwa tiga hari di Surabaya akan menjadi tiga hari yang menghancurkan segalanya.

Dan bahwa aku yang akan menghancurkannya.

Kalau ada satu hal lagi yang ingin kuubah, mungkin ini: aku berangkat ke Surabaya dengan perasaan bahwa aku sudah mengerti semuanya.

Aku sudah membaca dindingnya. Aku sudah tahu kenapa dia menghitung. Aku sudah tahu apa yang harus dia pelajari.

Aku pikir aku sedang menunggu dia berubah.

Aku tidak pernah sekali pun mempertimbangkan kemungkinan bahwa masih ada satu hal yang harus kubuktikan lebih dulu — dan bahwa satu-satunya cara membuktikannya adalah dengan gagal.