← Empat Jam

Chapter Four

Enam Hari

POV: Cyntia


Alasannya sah. Aku terus mengulang itu di kepalaku sambil menaiki tangga ke lantai sembilan, seperti orang menghafal alibi.

Alasannya benar-benar sah: aku diminta Tresna menyusun rencana suksesi untuk seluruh tim engineering, lengkap dengan pemetaan risiko dan riwayat karier tiap orang. Untuk itu aku butuh akses arsip HR. Aku mengirim permintaan resmi. Permintaannya disetujui dalam dua jam. Semuanya tercatat, semuanya wajar, tidak ada satu pun yang perlu kusembunyikan.

Dan aku tetap merasa seperti maling.

Ruang arsip HR sebenarnya bukan ruangan; cuma satu sudut di lantai sembilan dengan empat lemari besi dan meja kecil, karena sebagian besar sudah didigitalisasi dan yang tersisa hanya dokumen bertanda tangan basah. Mbak Rani dari HR membukakan lemari kedua untukku, menunjukkan sistem penomorannya, lalu kembali ke mejanya sambil berpesan supaya aku menutup lemarinya kalau sudah selesai.

Aku mulai dari huruf A.

Aku benar-benar mulai dari huruf A. Aku membaca berkas Arif Nugroho yang tidak kukenal sama sekali, seluruh delapan halamannya, hanya supaya aku bisa berkata pada diriku bahwa aku sedang bekerja dan bukan sedang menggali kuburan.

Sampai huruf B.

BAGASKARA, ERVAN.

Berkasnya paling tebal di lemari itu. Empat tahun sepuluh bulan. Enam kali kenaikan level, dua di antaranya di luar siklus normal. Tiga surat penghargaan. Satu memo dari CTO sebelumnya yang isinya permintaan agar gajinya dinaikkan di luar anggaran karena “risiko kehilangan orang ini tidak sebanding dengan angka mana pun.”

Kinerja: selalu di dua kategori tertinggi. Selalu. Empat tahun sepuluh bulan tanpa satu pun periode di bawah itu.

Catatan disipliner: kosong.

Cuti: kosong.

Aku membalik halaman berikutnya, dan tanganku berhenti.


Selembar kertas putih, dilipat dua, dibuka lagi sehingga garis lipatannya tegas. Diketik, satu halaman, singkat.

SURAT PENGUNDURAN DIRI

Dengan ini saya, Ervan Bagaskara, mengajukan pengunduran diri dari jabatan saya sebagai Backend Engineer di PT Arunika Digital Nusantara. Saya bersedia menjalani masa pemberitahuan sesuai ketentuan atau melepaskan hak-hak saya apabila diperlukan percepatan.

Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan yang timbul. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan selama ini.

Tidak ada alasan. Tidak ada rencana selanjutnya. Tidak ada satu pun kalimat yang menjelaskan apa pun.

Tanda tangan di bawah, tinta biru, dan di sampingnya tanggal.

Aku membaca tanggal itu.

Lalu aku membacanya lagi, karena otakku menolak menerimanya pada bacaan pertama, karena ada bagian dari diriku yang masih berharap aku salah lihat.

Sembilan hari.

Sembilan hari setelah malam itu.

Aku mengenal angka-angka itu seperti orang mengenal tanggal lahirnya sendiri. Aku tidak perlu menghitung. Aku hanya perlu melihatnya, dan tubuhku sudah menghitung duluan sebelum kepalaku ikut.

Sembilan hari setelah aku berdiri di bawah lampu jalan di kota yang berjarak dua belas jam dari sini dan mengatakan tiga kata yang mengakhiri semuanya, laki-laki ini duduk di suatu tempat, membuka laptop, dan mengetik surat yang tidak menjelaskan apa-apa.

Aku membalik halaman.

Di belakangnya ada satu lembar lagi. Formulir internal, tulisan tangan, satu baris:

Pengunduran diri ditarik atas permintaan ybs. Berkas disimpan sebagai catatan.

Tanggalnya enam hari kemudian.


Aku duduk di kursi plastik di sudut ruang arsip itu dengan berkas terbuka di pangkuanku dan sesuatu yang sangat dingin merambat dari perut ke tenggorokanku.

Enam hari.

Selama enam hari, dia sudah berhenti.

Dan di hari ketujuh, dia kembali.

Bukan karena ada yang membujuknya — tidak ada catatan tentang negosiasi, tidak ada surat penawaran, tidak ada kenaikan gaji yang bertanggal di sekitar situ. Aku memeriksanya dua kali. Perusahaan tidak melakukan apa pun untuk menahannya.

Dia yang datang sendiri dan meminta suratnya ditarik.

Aku mencoba membayangkannya dan tidak bisa. Aku mencoba membayangkan Ervan yang kukenal — Ervan yang bicara sepanjang perjalanan angkot, Ervan yang menempel struk bioskop di dinding, Ervan yang tertawa terlalu keras di bioskop sampai orang di depan menoleh — duduk di ruangan ini, di kursi ini mungkin, dan berkata pada Mbak Rani atau siapa pun bahwa dia berubah pikiran.

Aku tidak bisa membayangkannya karena aku tidak punya wajahnya.

Aku tidak pernah melihat wajah Ervan pada minggu itu. Aku sedang di belahan bumi lain, tidur untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan tanpa perasaan bersalah menekan dadaku, dan aku ingat — aku ingat ini dan aku membencinya seumur hidupku — aku ingat berpikir bahwa akhirnya aku bisa bernapas.

Enam hari dia mencoba pergi dari satu-satunya hal yang tersisa. Lalu dia kembali, dan sejak itu tidak pernah mengambil satu hari cuti pun.

Bukan karena dia mencintai pekerjaan ini.

Karena dia tidak punya ke mana-mana lagi untuk pergi.

Aku membaca ulang surat itu sekali lagi, dan kali ini aku memperhatikan kalimatnya, bukan tanggalnya.

Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan yang timbul.

Dia minta maaf. Di surat pengunduran dirinya sendiri, di minggu terburuk hidupnya, dia meminta maaf kepada perusahaan karena telah merepotkan mereka dengan kepergiannya.

Dan kemudian dia membatalkannya, mungkin karena menyadari bahwa pergi pun merepotkan orang.

Kertas itu ringan sekali di tanganku. Delapan puluh gram, mungkin. Aku memikirkan berapa lama dia duduk di depan layar untuk menghasilkan enam kalimat yang tidak menjelaskan apa-apa, dan aku memikirkan bahwa di dunia ini ada tepat satu orang yang tahu apa yang seharusnya tertulis di baris alasan.

Dan orang itu sedang duduk di kursi plastik di lantai sembilan, membaca dokumen yang seharusnya tidak dia baca, tiga tahun terlambat.


Aku menyalin dua kalimat ke buku catatanku, dengan tangan gemetar sedikit, seperti seorang manajer yang sedang bekerja:

Ervan B. — pengajuan resign, ditarik enam hari kemudian. Tidak ada retensi dari perusahaan. Tidak ada cuti sejak.

Lalu aku menutup berkasnya, mengembalikannya ke lemari, dan menutup lemari besi itu dengan bunyi yang terlalu keras untuk lantai sembilan yang sepi.

Di lift turun, aku menatap pantulanku sendiri di pintu logam.

Aku pikir aku tahu apa yang kulakukan kepadanya. Aku sudah menghitungnya berkali-kali selama tiga tahun: aku menyakitinya, dia sedih, dia sembuh, dia melanjutkan hidup dengan rambut panjang dan wajah rata dan pekerjaan yang bagus. Itu cerita yang kubawa pulang. Itu cerita yang membuatku sanggup melamar ke sini.

Ternyata ceritanya tidak selesai di situ.

Ternyata ada enam hari yang tidak pernah kuketahui, dan kalau ada enam hari yang tidak kuketahui, mungkin ada yang lain.

Pintu lift terbuka di lantai sepuluh dan seorang perempuan dari tim keuangan masuk sambil menelepon seseorang, mengeluh tentang tagihan vendor yang tidak jelas, tertawa, menutup telepon, lalu tersenyum kepadaku dengan sopan.

Aku membalas senyumnya.

Begitulah cara kerjanya. Semua orang berjalan di gedung ini setiap hari, naik lift bersama, memesan kopi yang sama, dan tidak seorang pun tahu isi lemari besi di lantai sembilan. Tidak seorang pun tahu bahwa di antara berkas-berkas itu ada satu lembar kertas yang ditulis seseorang pada minggu terburuk dalam hidupnya, dan bahwa lembar itu masih ada di sana, rapi, dijilid, diberi nomor, disimpan sebagai catatan.

Disimpan sebagai catatan. Itu istilah yang mereka pakai.

Seolah-olah ada sesuatu yang selesai.


Aku keluar lift di lantai sebelas dan langsung melihatnya.

Dia berdiri di depan papan tulis bersama Kiki dan Naufal, menggambar sesuatu dengan spidol biru, menjelaskan sambil sesekali menekan pelipisnya dengan ibu jari. Naufal mengangguk-angguk terlalu cepat, jelas tidak paham, jelas terlalu takut mengaku tidak paham. Ervan menghapus setengah gambarnya dan mulai lagi dari awal, dengan cara yang lebih sederhana, tanpa berkomentar apa-apa tentang anggukan Naufal yang bohong.

Dia sabar. Dia sabar dengan cara yang tidak bisa dipalsukan.

Kiki melihatku dan melambai. “Bu Cyntia! Ini Mas Ervan lagi jelasin kenapa sistem kita kayak rumah yang tangganya di luar—”

“Bukan gitu analoginya,” potong Ervan pelan, dan Kiki tertawa.

Lalu Ervan menoleh, melihatku, dan wajahnya melakukan hal yang sama seperti biasanya: tidak melakukan apa-apa.

“Sore, Bu.”

“Sore,” kataku.

Aku berjalan ke mejaku, duduk, membuka laptop, dan menatap layar yang menyala tanpa membaca satu pun huruf di atasnya.

Dia berdiri delapan meter dariku, menjelaskan arsitektur kepada anak magang dengan sabar, di perusahaan yang hampir dia tinggalkan sembilan hari setelah aku memutuskannya.

Dan tidak seorang pun di ruangan ini tahu.

Termasuk, sampai satu jam yang lalu, aku.