← Empat Jam

Chapter Two

Lima Belas Menit

POV: Cyntia


Hal pertama yang kupelajari sebagai manajer adalah bahwa waktuku bukan milikku.

Kalenderku dibuka untuk seluruh perusahaan. Siapa pun bisa melihat kapan aku kosong, dan siapa pun bisa mengambilnya. Dalam tiga hari, empat belas orang sudah memesan slot: satu jam untuk Tresna, tiga puluh menit untuk Wiwi yang ternyata dipakai lima menit saja karena dia menyampaikan semuanya dalam empat kalimat lalu pergi, tiga puluh menit untuk Kiki yang dipakai penuh dan masih kurang.

Satu orang tidak memesan apa pun.

Aku menunggu sampai hari keempat. Aku bilang pada diriku bahwa aku sedang memberi ruang, bahwa aku sedang bersikap profesional, bahwa manajer yang baik tidak mengejar. Semua itu bohong. Aku menunggu karena aku takut, dan aku mengarang alasan yang lebih terhormat daripada takut — kebiasaan yang seharusnya sudah kubuang tiga tahun lalu dan ternyata masih kubawa pulang seperti koper yang salah ambil di bandara.

Hari keempat, pukul sepuluh pagi, aku membuka kalendernya.

Kalender Ervan penuh. Bukan penuh rapat — penuh blok abu-abu tanpa judul, dari jam sembilan sampai jam tujuh, setiap hari, sepanjang dua minggu ke depan. Focus time. Tembok.

Ada satu celah. Selasa, pukul empat sore. Lima belas menit.

Aku memesannya.

Judul yang kutulis: 1-on-1 (Cyntia ↔ Ervan).

Aku menatap layar selama mungkin satu menit penuh sebelum menekan kirim, dan aku menyadari betapa lucunya ini. Dulu aku bisa meneleponnya jam tiga pagi karena mimpi buruk tentang skripsi, dan dia akan mengangkat pada dering kedua, dan dia akan tetap di telepon sampai aku tertidur lagi, dan besoknya dia tetap masuk kuliah pukul tujuh.

Sekarang aku harus antre.

Undangannya diterima dalam sebelas detik.


Dia datang pukul empat kurang satu menit.

Ruang Sirius sedang dipakai, jadi kami dapat ruangan kecil di ujung koridor yang hanya muat empat orang dan berbau karpet baru. Dia masuk, menutup pintu, duduk di seberangku, dan meletakkan laptopnya di meja tanpa membukanya.

“Selamat sore, Bu.”

“Sore.” Aku membuka bukuku. “Aku pengin ngobrol soal—”

“Sebentar, Bu.” Dia menekan sesuatu di ponselnya, lalu menaruh ponsel itu terbalik di meja. “Saya set timer. Biar nggak molor, slot-nya cuma lima belas menit.”

Aku menatap ponsel yang tertelungkup itu.

“Kamu nge-set timer.”

“Iya. Kalau kelamaan, jadwal Ibu berikutnya kena.” Dia membetulkan kacamatanya dengan punggung telunjuk. “Silakan.”

Aku ingin bilang: aku yang punya jadwal itu, aku yang berhak menentukan molor atau tidak. Aku ingin bilang: kamu tahu tidak ada jadwal berikutnya, kamu bisa lihat kalenderku, semua orang bisa. Aku ingin melempar ponsel itu ke luar jendela dan bertanya kenapa kamu memperlakukan aku seperti vendor.

Aku bilang, “Oke.”

Dan aku mulai bicara soal pekerjaan, karena hanya itu yang tersisa.


Empat belas menit itu, harus kuakui, adalah empat belas menit paling berguna dalam empat hari pertamaku.

Dia menjelaskan tiga hal, dan dia menjelaskannya dengan cara yang membuatku sadar kenapa perusahaan ini masih hidup.

Pertama, bahwa peta arsitektur di Confluence sudah usang delapan belas bulan dan tidak ada gunanya kubaca. Kedua, bahwa ada empat sistem yang saling bergantung dengan cara yang tidak pernah didokumentasikan siapa pun, dan kalau salah satu mati, tiga lainnya akan mati enam menit kemudian. Ketiga, bahwa dua orang di timku sudah mengirim sinyal ingin resign dan sebaiknya aku bicara dengan mereka minggu ini, bukan bulan depan.

“Kamu tahu dari mana?”

“Pola commit-nya berubah, Bu. Yang satu berhenti review punya orang lain. Yang satu lagi mulai kerja jam sembilan pas, pulang jam enam pas.” Dia mengangkat bahu sedikit. “Orang kalau udah mau pergi, dia berhenti ngurusin hal yang nggak jadi tanggung jawabnya.”

Aku menulis itu di bukuku, dan tanganku berhenti di tengah kalimat.

Orang kalau udah mau pergi, dia berhenti ngurusin hal yang nggak jadi tanggung jawabnya.

Dia tidak sedang menyindirku. Aku tahu dia tidak sedang menyindirku, karena wajahnya sama sekali tidak berubah, karena dia langsung melanjutkan ke topik berikutnya, karena orang yang menyindir akan berhenti sejenak untuk menikmati sindirannya dan dia tidak berhenti sedetik pun.

Itu justru yang membuatnya jauh lebih buruk.

“Yang ketiga,” katanya, “saya kirim ke email Ibu nanti. Lebih enak dibaca.”

“Ervan.”

Dia berhenti. Menunggu. Sopan.

Aku tidak tahu apa yang mau kukatakan. Aku hanya ingin mendengar namanya keluar dari mulutku di ruangan ini, sekali saja, dan sekarang setelah keluar, tidak ada tempat untuk menaruhnya.

“Nggak,” kataku. “Lanjut aja.”

Dia lanjut.


Timer-nya berbunyi di menit ke lima belas. Getar pendek, dua kali, di atas meja.

Dia berdiri.

“Segitu dulu, Bu. Kalau ada yang kurang, saya bisa lanjut lewat thread.”

“Ervan, duduk dulu sebentar.”

Dia duduk.

Dia duduk begitu saja, tanpa protes, tanpa melirik jam, dan itu entah kenapa membuatku semakin panik — karena dia akan tetap duduk di situ selama apa pun aku menyuruhnya duduk, dan itu bukan karena dia ingin, itu karena aku atasannya.

Aku menutup bukuku.

“Kita perlu ngomongin ini,” kataku. “Kondisinya. Aku manajer kamu sekarang. Kalau ada yang bikin kamu nggak nyaman—”

“Nggak ada, Bu.”

“Aku belum selesai.”

“Maaf.” Dia diam. Menunggu lagi.

Aku menarik napas lewat mulut, bukan hidung.

“Kalau kamu mau pindah tim, aku bisa atur. Ke infra, ke platform, ke mana pun. Aku nggak akan tersinggung, dan nggak akan ada catatan apa pun di HR. Aku cuma perlu kamu jujur.”

Dan untuk pertama kalinya dalam empat hari, dia menatapku.

Tepat di mata. Lama. Terlalu lama untuk ukuran orang yang sedang bicara dengan atasannya.

“Saya nggak apa-apa, Bu,” katanya.

Tiga kata itu masuk ke dadaku dan bersarang di tempat yang tidak bisa kujangkau.

“Sistem yang saya pegang lagi rapuh,” lanjutnya, “dan Ibu baru masuk. Kalau saya pindah sekarang, dua bulan ke depan bakal berantakan, dan yang kena bukan saya.” Dia berdiri lagi, mengambil laptopnya. “Jadi lebih baik saya di sini.”

“Itu jawaban buat perusahaan. Aku nanya buat kamu.”

Dia berhenti di depan pintu.

Punggungnya, rambut yang diikat rendah itu, bahu yang lebih kurus daripada yang kuingat.

“Buat saya juga sama, Bu,” katanya, tanpa berbalik. “Beneran.”

Pintu tertutup.


Aku duduk di ruangan berbau karpet baru itu selama sepuluh menit setelah dia pergi, dan tidak ada yang datang mencari, karena kalenderku memang kosong sesudahnya dan dia tahu itu.

Lalu aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh.

Aku membuka kalender bersama perusahaan, memilih namanya, dan menggeser tampilan ke belakang. Ke bulan lalu. Ke tiga bulan lalu. Ke tahun lalu.

Blok abu-abu. Blok abu-abu. Blok abu-abu.

Aku menggeser terus, sampai layar menolak memuat lebih jauh, dan dalam seluruh riwayat kalender itu aku tidak menemukan satu pun cuti. Tidak satu hari. Bukan sakit, bukan libur, bukan izin.

Tiga tahun.

Aku menutup laptop dan menyandarkan kepala ke dinding.

Dulu dia tidak bisa diam. Itu yang paling sering dikeluhkan teman-temanku: pacarmu itu kalau ngomong nggak ada remnya. Dia bisa menghabiskan dua puluh menit menjelaskan kenapa sebuah antrean di rumah sakit dirancang dengan buruk, lengkap dengan usul perbaikan yang tidak diminta siapa pun. Dia menulis pesan panjang-panjang, tiga paragraf untuk mengabari bahwa dia sampai rumah. Ibuku pernah bilang, sambil tertawa, bahwa anak itu bicaranya seperti orang yang takut kehabisan waktu.

Sekarang dia bicara dalam kalimat-kalimat yang bisa dihitung.

Dan dia memasang timer supaya kalimat-kalimat itu tidak melewati batas.

Aku pikir yang paling kutakutkan adalah dia membenciku. Aku sudah menyiapkan diri untuk itu; aku bahkan sudah menyiapkan kalimat-kalimatnya, semua yang akan kukatakan kalau dia meledak, semua yang pantas kuterima.

Tapi dia tidak membenciku.

Dia mengatur timer supaya tidak mencuri waktuku. Dia tetap di timku supaya orang lain tidak repot. Dia bilang tidak apa-apa dengan menatap mataku langsung, dan aku ingat betul — aku ingat betul — bahwa dulu, ketika dia berbohong, dia tidak pernah membuang muka.

Dia justru menatap terlalu lama.