← Empat Jam

Chapter Forty Three

Potong Rambut

POV: Cyntia


Ada satu hal yang harus kucatat sebelum bagian ini, karena kalau tidak, seluruh dua minggu itu akan terdengar lebih manis daripada yang sebenarnya.

Dua minggu itu tidak manis.

Kami bertengkar tiga kali. Sekali soal barang siapa yang dibuang, sekali soal apakah dia harus memberi tahu ibunya sekarang atau nanti, dan sekali — yang paling buruk — soal uang, karena dia menemukan bahwa aku sudah menghubungi agen properti di Frankfurt dan dia berkata bahwa itu bukan urusanku dan aku berkata bahwa itu persis masalahnya.

Pertengkaran ketiga berlangsung empat puluh menit dan berakhir tanpa siapa pun menang.

Dan ketika aku pulang malam itu, dengan dada masih panas, aku menyadari sesuatu di dalam lift.

Dia membantah.

Empat puluh menit, dan tidak sekali pun dia bilang tidak apa-apa, dan tidak sekali pun dia menyerahkan wilayahnya supaya percakapannya cepat selesai.

Aku berdiri di dalam lift dan tertawa sendirian seperti orang gila.


Damar Prakoso muncul untuk terakhir kalinya pada hari Sabtu, dua minggu sebelum keberangkatan, di warung kopi di ujung jalan yang selalu penuh.

Kali ini kami dapat meja.

“Jadi ini,” katanya, menunjuk ke arahku dengan gelas. “Yang bikin dia beliin tiket pesawat pakai tabungan tiga tahun terus balik dua hari kemudian.”

“Damar,” kata Ervan.

“Apa. Aku cuma ngenalin diri.”

Damar tertawa keras, dan aku ingat tawa itu; aku ingat tawa itu dari kantin fakultas tahun kedua, dan aku ingat bahwa dulu Ervan tertawa dengan volume yang sama.

“Aku minta maaf,” kataku.

“Ke aku?” Damar mengangkat alis. “Kenapa ke aku?”

“Karena kamu yang harus jemput dia di bandara.”

Damar berhenti tertawa.

Dia melihat Ervan, dan Ervan menatap gelasnya, dan Damar mengangkat bahu pelan.

“Iya,” katanya. “Jam dua pagi.”

“Dam—”

“Dia nggak cerita apa-apa waktu itu,” kata Damar padaku, mengabaikannya. “Dia cuma bilang ‘nggak jadi’. Itu doang. Aku nyetir empat puluh menit dan dia bilang ‘nggak jadi’ terus tidur di mobil.”

Aku memegang gelasku.

“Terus tiga hari kemudian dia nelepon aku,” lanjut Damar, “nanya apa aku mau gitarnya.”

“Damar,” kata Ervan lagi, lebih pelan.

Dan Damar menoleh ke arahnya, dan sesuatu di wajahnya berubah — dari lelucon menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang sudah tiga tahun disimpan.

“Van, aku nolak gitarnya,” katanya. “Kamu inget nggak aku bilang apa?”

Ervan tidak menjawab.

“Aku bilang, ‘Gue simpenin, nanti lo minta lagi.’” Damar meminum kopinya. “Terus lo bilang, ‘Nggak akan.’”

Warung itu berisik. Ada blender menyala di belakang.

“Tiga tahun aku simpen di kosan, Van,” kata Damar. “Aku pindah dua kali, gitar itu ikut dua kali.”

Aku menoleh ke arah Ervan dan wajahnya sudah tidak rata lagi, tidak sejak beberapa detik yang lalu.

“Masih ada?” katanya.

“Masih.”

“Senarnya?”

“Karatan semua. Ya jelas.”

Ervan menatap mejanya cukup lama.

“Nanti aku ambil,” katanya.

Dan Damar menaruh gelasnya dan berkata, dengan suara yang tiba-tiba tidak stabil sama sekali:

“Ya udah. Akhirnya.”


Dia memotong rambutnya hari Rabu.

Aku tidak tahu sampai aku melihatnya.

Aku datang ke apartemennya pukul tujuh malam dengan dua kotak makanan, dan pintu terbuka, dan aku hampir menjatuhkan keduanya.

Rambutnya pendek.

Bukan cepak seperti dulu — lebih panjang dari itu, rapi di sisi, agak berantakan di atas. Tapi pendek. Telinganya kelihatan. Lehernya kelihatan.

Wajahnya kelihatan.

“Kamu potong rambut.”

“Iya.”

“Di mana?”

“Sini.” Dia menunjuk ke arah kamar mandi. “Gunting dapur.”

“ERVAN.”

“Nggak jelek-jelek amat kan?”

Dan dia menanyakannya dengan wajah yang benar-benar ragu, dan aku menaruh dua kotak makanan itu di meja dan berdiri di tengah ruangan dan tidak sanggup berkata apa-apa.

“Cyn?”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

“Cyn, kenapa?”

“Bentar.”

“Kamu nangis.”

“Iya.”

“Kenapa?” Dan dia benar-benar panik sekarang, dia berjalan mendekat dengan tangan setengah terangkat dan tidak tahu harus berbuat apa. “Jelek ya? Aku bisa ke tukang cukur besok, aku—”

“Bukan jelek.”

“Terus—”

“Ervan, kamu potong rambut sendiri di kamar mandi pakai gunting dapur,” kataku, dan suaraku hancur seluruhnya. “Kenapa?”

Dan dia berhenti.

Dan dia berdiri di sana dengan rambut pendek dan wajah yang tidak lagi punya tempat sembunyi, dan dia berkata:

“Karena aku mau liat mukanya.”


Kami makan malam dengan dua kotak yang sudah dingin.

“Kamu tahu kenapa aku nggak potong tiga tahun?” katanya, di tengah makan.

“Kamu pernah bilang. Nggak ada yang perlu ngeliat.”

“Iya.” Dia menaruh sendoknya. “Tapi ada yang lain, dan aku baru sadar hari ini waktu ngaca.”

Aku menunggu.

“Potong rambut itu artinya kamu mikirin gimana kamu bakal keliatan besok,” katanya. “Besok, minggu depan, bulan depan. Kamu ngerawat sesuatu yang gunanya baru kelihatan nanti.”

Dia mengangkat bahu, kecil.

“Tiga tahun aku nggak punya nanti.”

Aku menaruh sendokku.

“Terus sekarang?”

Dia memikirkannya. Sungguhan memikirkannya, dengan cara yang dulu butuh sebelas menit untuk delapan pilihan menu, dan sekarang butuh mungkin empat detik.

“Sekarang ada tujuh puluh tujuh hari,” katanya.


Kami menulis kesepakatannya hari Kamis, di lantai, dengan kertas HVS dan pulpen, seperti dua orang yang tidak waras.

Aku yang mengusulkan. Aku bilang kalau kami tidak menuliskannya, kami akan mengulang semuanya dengan versi yang lebih halus dan lebih sopan dan sama-sama fatal.

Dia bilang, “Ini kayak SOP.”

Aku bilang, “Iya. Emang SOP.”

Judulnya, yang dia tulis sendiri di atas dengan huruf kapital:

KESEPAKATAN DUA TAHUN

Ada empat belas butir. Sebagian besar konyol.

3. Kalau salah satu ngirim foto makanan, yang satunya wajib nilai dari 1 sampai 10. Nilai di bawah 5 harus dikasih alasan.

7. Nggak boleh bilang “terserah kamu” lebih dari dua kali seminggu. Yang ketiga kena denda.

8. Dendanya: harus milih tiga hal berturut-turut tanpa nanya.

11. Kalau Ervan bilang “nggak usah” ke sesuatu yang jelas dia mau, Cyntia boleh mesen sendiri dan Ervan wajib nerima.

Dan dua butir yang bukan konyol, yang kami tulis paling akhir, setelah semuanya, ketika sudah pukul dua pagi dan kertasnya sudah penuh.

Aku yang menulis nomor tiga belas.

13. Boleh telat. Nggak boleh diem.

Dia membaca itu tiga kali.

“Jelasin,” katanya.

“Kamu boleh nggak bales tiga hari kalau kamu lagi hancur,” kataku. “Kamu boleh nggak angkat telepon. Kamu boleh lupa. Aku juga boleh. Kita berdua boleh gagal, dan kita bakal gagal, karena kita manusia dan bedanya lima jam.”

Aku mengetuk kertas itu dengan ujung pulpen.

“Yang nggak boleh adalah bilang nggak apa-apa terus nyimpen sendiri,” kataku. “Kalau kamu marah karena aku telat, kamu bilang aku telat. Kalau aku capek, aku bilang aku capek. Yang telat itu bisa dibenerin, Ervan. Yang diem nggak bisa.”

Dia menatap kertas itu untuk waktu yang lama.

Lalu dia mengambil pulpen dari tanganku dan menulis nomor empat belas, dan tulisannya kecil dan rapat seperti tulisan di buku catatan hitam itu.

14. Kalau salah satu nunggu, dia bilang dia nunggu.

Aku membacanya.

Lalu aku membacanya lagi.

“Ervan.”

“Hm.”

“Ini butir yang paling susah di seluruh kertas ini.”

“Iya,” katanya. “Makanya aku taruh terakhir.”


Kami menandatanganinya, dua-duanya, di bagian bawah.

Dan setelah kami menandatanganinya, aku menyadari sesuatu dan aku harus meletakkan pulpen itu.

Dua nama di bagian bawah selembar kertas.

Yang terakhir kali punya bentuk seperti ini adalah lembar ketiga di dalam amplop cokelat: kontrak sewa dua belas bulan, dua kamar, dua nama diketik, kolom tanda tangan kosong.

Kertas itu tidak pernah ditandatangani siapa pun.

Yang ini ditandatangani dua orang, di lantai, jam dua pagi, di apartemen dua puluh satu meter persegi dengan satu foto miring di dinding.

“Cyn.”

“Ya.”

“Kenapa nangis lagi.”

“Karena ini yang kedua,” kataku.

“Kedua apa?”

“Kertas yang ada dua nama kita.”

Dia melihat kertas itu di lantai, lalu melihatku, dan aku tahu dia sedang mencari lembar ketiga di kepalanya — kontrak sewa dua belas bulan, dua kamar, kolom tanda tangan kosong, tiga tahun di dalam kardus.

“Yang pertama nggak pernah ada yang tanda tangan,” katanya.

“Iya.”

Dan dia mengambil kertas itu dari lantai dan memegangnya dengan dua tangan, seperti orang yang memegang sesuatu yang bisa hilang, dan tidak menaruhnya lagi sampai kami tidur.