← Empat Jam

Chapter Twenty Five

Surat yang Tidak Ditandatangani

POV: Cyntia


Notifikasinya masuk pukul lima lewat dua puluh tiga pagi hari Sabtu, dan aku membacanya pukul enam kurang, karena aku tidak tidur.

Permohonan Mutasi Internal — Ervan Bagaskara — menunggu persetujuan Anda.

Aku duduk di lantai ruang tamu dengan ponsel di tangan dan membaca formulir itu tiga kali.

Tujuan: Tim Infrastruktur, Arunika Surabaya.

Alasan: pengembangan karier.

Tanggal efektif: paling awal yang diizinkan sistem.

Dan di sudut kanan atas, waktu pengajuan: 05.23, Sabtu.

Dia mengetiknya di ranjang rumah sakit.

Aku berjalan ke dapur, menyalakan keran, dan berdiri di sana dengan air mengalir tanpa mencuci apa pun selama mungkin dua menit, dan yang kupikirkan bukan kemarahan.

Yang kupikirkan adalah: Surabaya.

Kota yang sama. Kertas di laci paling bawah, kota yang sama.

Dan aku menyadari sesuatu yang membuatku mematikan keran: dia tidak tahu. Tidak ada satu pun cara dia bisa tahu. Tawaran itu tidak pernah diumumkan, dan aku tidak menceritakannya kepada siapa pun kecuali Aldi.

Ini kebetulan.

Dua orang, secara terpisah, dalam dua minggu yang sama, memilih kota yang sama sebagai tempat untuk tidak berada di ruangan yang sama.


Aku tidak menyetujuinya.

Aku juga tidak menolaknya, karena sistem mencatat penolakan dan penolakan membutuhkan alasan tertulis yang akan dibaca HR.

Aku membiarkannya menggantung.

Selama tiga hari, notifikasi itu duduk di daftar tugasku dengan lencana merah kecil, dan setiap kali aku membuka portal, benda itu ada di sana.

Dia kembali bekerja hari Rabu.

Aku sudah memberitahunya — lewat pesan, karena aku tidak menjenguknya lagi setelah malam itu — bahwa dia tidak boleh masuk sampai dokter mengizinkan, dan dia mengirim balik tangkapan layar surat keterangan dokter yang mengizinkannya bekerja dengan catatan tidak untuk shift malam.

Dia datang pukul delapan lewat lima.

Perban di pelipisnya sudah diganti dengan plester kecil. Wajahnya masih pucat dengan cara yang tidak bisa disembunyikan oleh siapa pun. Dan yang paling menghancurkan bukan itu.

Yang paling menghancurkan adalah Kiki.

Kiki berdiri dari kursinya begitu pintu lift terbuka, dan berjalan ke arahnya, dan tidak berkata apa-apa. Dia hanya berdiri di depannya.

Dan Ervan berkata, “Sori, ya.”

Dan Kiki berkata, “Mas, jangan gitu lagi.”

Dan Ervan berkata, “Iya.”

Seluruh lantai sebelas menonton, dan tidak seorang pun berpura-pura tidak menonton, dan Wiwi berdiri di depan pantry dengan gelas kopi yang tidak dia minum.

Lalu Ervan berjalan ke pojok, duduk, dan menyalakan monitornya.


Aku memanggilnya ke ruang Sirius pukul sepuluh.

Dia datang tepat waktu. Tentu saja tepat waktu.

Aku sudah menyiapkan laptopku, formulirnya sudah terbuka di layar, dan aku memutar layar itu ke arahnya begitu dia duduk.

“Jelasin.”

“Isinya sudah jelas, Bu.”

“Ervan.”

“Saya mau pindah ke infra Surabaya. Alasannya pengembangan karier. Itu alasan yang benar — di sana saya bakal pegang infrastruktur dari nol, itu pengalaman yang nggak saya punya.”

“Kamu ngetik ini jam lima pagi dari ranjang rumah sakit.”

“Saya nggak bisa tidur, jadi saya kerjain hal-hal yang tertunda.”

“Ervan.”

“Bu.” Dia melipat tangannya di pangkuan. “Ibu sendiri yang bilang program Zero Single Point tujuannya supaya nggak ada sistem yang tergantung satu orang. Dokumentasi billing sudah selesai. Sesi transfer sudah delapan belas dari dua puluh. Kiki sudah bisa pegang sendiri. Rio sudah bisa jadi cadangan.” Dia berhenti sebentar. “Programnya berhasil, Bu. Ini konsekuensinya.”

Dan itu benar.

Setiap kata itu benar, dan setiap kata itu adalah kalimat yang aku sendiri ucapkan di depan sembilan belas orang empat bulan lalu, dan dia mengembalikannya kepadaku dengan rapi seperti orang mengembalikan alat yang dipinjam.

Aku menutup laptop.

“Aku nggak tanda tangan.”

“Bu—”

“Aku nggak tanda tangan sekarang, dan aku nggak akan tanda tangan minggu depan.” Aku menatapnya. “Kalau kamu mau naik ke Tresna dan minta dia yang setujuin, itu hak kamu. Aku nggak akan halangin dan aku nggak akan bikin susah. Silakan.”

Dia diam.

“Tapi aku nggak akan naruh tanda tangan aku di kertas yang bilang alasannya pengembangan karier,” kataku. “Karena itu bohong, dan aku udah cukup lama jadi orang yang bohong sama kamu.”

Ruang Sirius berdinding kaca.

Di luar sana, Kiki menempel sesuatu di papan. Naufal membawa tiga gelas kopi lagi. Wiwi mengetik dengan wajah yang sengaja tidak menoleh ke arah kami.

Semua orang bisa melihat kami. Tidak seorang pun bisa mendengar.

“Terus alasan yang bener apa, Bu?” katanya, dan untuk pertama kalinya sejak dia kembali, ada sesuatu yang bergerak di suaranya. Bukan marah. Sesuatu yang lebih rendah dari itu. “Menurut Ibu.”

Dan aku memberikannya.

“Karena aku nunggu di lorong.”

Wajahnya tidak berubah.

Tapi tangannya berubah. Aku melihatnya — jari-jari yang tadi terlipat rapi di pangkuan, sekarang mencengkeram lututnya sendiri.

“Kamu bangun, kamu tahu ada orang yang nunggu, dan hal pertama yang kamu lakuin jam lima pagi adalah ngajuin formulir biar itu nggak kejadian lagi.” Aku menjaga suaraku tetap rata dengan seluruh tenaga yang kupunya. “Bukan karena kamu benci aku. Karena kamu nggak sanggup jadi orang yang bikin orang lain nunggu.”

Dia tidak menjawab.

“Aku bener?”

Dia tidak menjawab.

“Ervan, aku bener?”

Dan dia berkata, sangat pelan, ke arah meja:

“Ibu nggak ngerti.”

“Ya makanya jelasin.”

“Nggak bisa.”

“Kenapa nggak bisa?”

“Karena kalau saya jelasin,” katanya, dan sekarang dia mengangkat wajahnya dan menatapku lurus, “Ibu bakal ngerasa jauh lebih buruk daripada yang Ibu rasain sekarang. Dan itu nggak ada gunanya buat siapa-siapa.”

Ruangan itu sangat sunyi.

“Aku nggak minta kamu ngelindungin aku,” kataku.

“Saya tahu.”

“Terus kenapa kamu masih—”

“Karena itu satu-satunya hal yang masih bisa saya lakuin,” katanya.

Dan lalu dia menutup mulutnya, cepat, seperti orang yang menginjak rem.

Terlambat.

Kami berdua mendengarnya. Kalimat itu sudah keluar dan sudah ada di ruangan dan tidak bisa ditarik kembali, dan aku melihat di wajahnya momen tepat ketika dia menyadari apa yang baru saja dia berikan kepadaku.

Dia berdiri.

“Formulirnya biar saya tarik sendiri,” katanya. “Ibu nggak usah repot.”

“Ervan—”

“Permisi, Bu.”

Dia keluar, dan pintu ruang Sirius tertutup dengan bunyi pneumatik pelan yang selalu terdengar seperti napas.


Aku duduk di sana sampai tanganku berhenti gemetar.

Lalu aku membuka portal karyawan.

Permohonan mutasi itu sudah hilang dari daftarku. Ditarik oleh pemohon, pukul 10.41, tiga menit setelah dia keluar dari ruangan.

Aku menatap layar kosong itu.

Karena itu satu-satunya hal yang masih bisa saya lakuin.

Aku menulisnya di bukuku, kata demi kata, karena aku takut ingatanku akan memperhalusnya besok.

Lalu aku duduk memandanginya.

Melindungiku.

Itu satu-satunya hal yang masih bisa dia lakukan untukku — dan dia menyebutnya seperti orang menyebut satu-satunya barang yang tersisa di rumah yang sudah dikosongkan.

Empat bulan aku mencoba membuatnya marah, membuatnya menuntut, membuatnya meminta. Empat bulan aku mengira dinding itu adalah jarak.

Ternyata bukan.

Dinding itu adalah pekerjaan.

Setiap “nggak apa-apa”, setiap jawaban lengkap, setiap kali dia meredam adiknya, setiap kali dia menghitung dua menit — itu semua bukan cara dia menjauhkan diri dariku.

Itu adalah cara dia masih mencintaiku.

Satu-satunya cara yang dia izinkan untuk dirinya sendiri.

Dan kalau itu benar — kalau seluruh dinding itu sebenarnya adalah pekerjaan yang dia lakukan untukku setiap hari, tanpa libur, selama empat bulan — maka setiap usahaku selama ini adalah usaha untuk membuatnya berhenti bekerja.

Aku memintanya marah. Marah berarti berhenti melindungi.

Aku memintanya menuntut. Menuntut berarti berhenti menjaga.

Aku memintanya jujur. Jujur berarti membiarkanku merasakan apa yang selama ini dia tanggung sendirian.

Empat bulan aku mengetuk pintu dan meminta orang di dalamnya untuk membiarkanku masuk, dan orang itu menahan pintunya dengan seluruh berat badannya, bukan supaya aku tidak masuk.

Supaya aku tidak melihat isinya.

Aku menutup buku catatanku dan menekan pangkal telapak tanganku ke mataku, dan aku duduk di ruang berdinding kaca itu di mana sembilan belas orang bisa melihatku dan tidak seorang pun bisa mendengar.