← Empat Jam

Chapter Twenty Two

Empat Puluh Jam

POV: Cyntia


Semuanya dimulai pukul empat lewat dua puluh sore hari Rabu, dengan sebuah pesan dari mitra terbesar kami yang isinya sopan dan pendek dan salah satu kalimat paling menakutkan yang pernah kubaca:

Selamat sore, mohon konfirmasi. Saldo settlement kami hari ini tercatat Rp0. Apakah ada gangguan?

Aku membuka dasbor.

Bukan nol untuk satu mitra. Nol untuk tujuh.

Tiga puluh satu ribu transaksi dalam dua hari terakhir tercatat dengan nilai kosong. Bukan hilang — ada. Barisnya ada, nomornya ada, waktunya ada. Kolom nominalnya nol.

Uang tujuh perusahaan logistik, dua hari, sekitar empat miliar rupiah, berubah menjadi angka nol di sistem yang menjadi satu-satunya catatan resmi kedua belah pihak.

Aku menekan tombol eskalasi P1 pukul empat lewat dua puluh tiga.


War room dibuka di ruang rapat besar dalam sembilan menit. Tresna datang dari lantai dua puluh tiga. Aldi menutup rapat produk dan turun. Kiki, Wiwi, Rio, dua orang infra, satu orang keuangan.

Dan Ervan sudah di sana sebelum aku sampai, sudah dengan tiga jendela terbuka, sudah mengetik.

“Ervan. Kondisi.”

“Belum tahu penyebabnya.” Dia tidak mengangkat wajah. “Yang saya tahu: nol-nya bukan dari sisi mitra. Data masuk benar. Yang salah terjadi di antara ingest dan penyimpanan. Dan ini bukan sejak dua hari lalu.”

“Maksudnya?”

“Yang tercatat nol memang dua hari terakhir. Tapi bug-nya sudah ada lebih lama.” Sekarang dia mengangkat wajah. “Saya perlu cek berapa lama. Bisa jadi jauh lebih panjang.”

Ruangan itu menjadi sangat sunyi.

Tresna berbicara pertama. “Van, kemungkinan terburuknya apa?”

“Kemungkinan terburuknya, sebagian catatan yang selama ini kita anggap benar juga salah, dan kita nggak tahu yang mana.”

“Itu artinya?”

“Itu artinya kita nggak bisa percaya sama data kita sendiri sampai saya bisa tunjukin batasnya di mana.”

Kiki menaruh keningnya di meja.

“Kita punya berapa lama?” tanya Aldi.

“Sampai mitra pertama tutup buku.” Orang keuangan itu melihat catatannya. “Senin pagi. Kalau Senin pagi angkanya masih nol, mereka wajib lapor ke auditor mereka sebagai selisih material.”

“Berarti tujuh puluh dua jam.”

“Enam puluh delapan,” kata Ervan, tanpa mengangkat wajah.

Dan seluruh ruangan menoleh ke arahnya, dan aku menyadari bahwa dia sudah menghitungnya sebelum siapa pun sempat bertanya.

Aku berdiri dan menulis satu angka di papan tulis dengan spidol merah: 68.

“Itu jam yang kita punya,” kataku. “Aturannya empat. Nggak ada yang kerja lebih dari dua belas jam berturut-turut. Nggak ada yang nyentuh produksi sendirian. Semua yang dicoba dicatat di dokumen bersama, gagal maupun berhasil. Dan kalau ada yang ngerasa nggak sanggup, bilang, dan itu bukan aib.”

Kiki mengangkat tangannya setengah. “Bu, saya nggak sanggup baca kode billing jam segini.”

“Bagus. Kamu pegang komunikasi mitra.”

Dia terlihat lega dengan cara yang membuatku ingin menepuk kepalanya.

Empat aturan. Aku menuliskannya di papan, aku mengucapkannya di depan sembilan orang, dan aku sungguh-sungguh mempercayainya.

Tiga puluh delapan jam kemudian, tiga dari empat aturan itu masih utuh.

Yang keempat dilanggar oleh satu orang, di depan mataku, dengan persetujuanku.


Aku memimpin war room itu selama tiga puluh delapan jam berikutnya, dan aku melakukannya dengan baik.

Aku ingin mencatat itu, karena setelah semua yang terjadi, aku perlu satu hal yang bisa kupegang.

Aku juga ingin mencatat hal lain, yang lebih jujur: sepanjang tiga puluh delapan jam itu, ada bagian dari diriku yang merasa hidup.

Ini yang tidak pernah diakui orang tentang krisis. Krisis itu jernih. Tidak ada yang samar. Tidak ada yang harus ditebak. Ada satu masalah, ada tenggat, ada tujuh perusahaan yang menunggu, dan setiap keputusan punya jawaban yang benar atau salah dalam waktu kurang dari satu menit.

Empat bulan aku hidup di dalam kabut yang tidak punya bentuk. Dan sekarang aku punya papan tulis dengan angka merah di atasnya.

Aku mengerti, di jam kesembilan, kenapa seseorang bisa membangun seluruh hidupnya di dalam ruangan seperti ini.

Aku menyusun rotasi. Aku memaksa Kiki pulang pukul sebelas malam pertama dan Rio pukul satu. Aku menulis komunikasi ke tujuh mitra setiap enam jam, bahkan ketika tidak ada perkembangan, karena diam lebih menakutkan daripada kabar buruk. Aku menahan dewan direksi yang ingin masuk ke ruangan setiap dua jam. Aku menolak permintaan Tresna untuk menyewa konsultan eksternal, karena orang luar akan butuh empat hari hanya untuk memahami sistemnya, dan kami tidak punya empat hari.

Aku melakukan semua yang harus dilakukan seorang manajer.

Dan sepanjang tiga puluh delapan jam itu, ada satu hal yang tidak berhasil kulakukan.


“Kamu udah dua belas jam.”

“Iya, Bu.”

“Rio udah bangun. Serahin ke dia empat jam, kamu tidur di ruang istirahat.”

“Nanti, Bu.”

Pukul sepuluh malam. Dua belas jam.


“Ervan, ini perintah. Rotasi.”

“Bu, kalau saya lepas sekarang, Rio harus baca dari awal apa yang udah saya coba. Itu tiga jam. Terus dia bakal nyoba jalur yang udah saya buntu-in, karena catatan saya belum lengkap.” Dia mengetik terus sambil bicara. “Dua jam lagi saya rapikan catatannya, terus saya lepas.”

“Kamu bilang gitu dua jam yang lalu.”

“Iya.”

Pukul empat pagi. Delapan belas jam.


“Kiki bilang kamu nggak makan.”

“Saya makan.”

“Kiki bilang roti yang dia taruh masih di situ.”

Dia melihat ke meja. Ada roti di sana, masih terbungkus.

“Nanti.”

Pukul dua siang. Dua puluh delapan jam.


Pukul sembilan malam hari Kamis, tiga puluh tiga jam, dia menemukannya.

Aku tahu dari punggungnya. Aku sudah cukup lama duduk di ruangan itu untuk mengenali bagaimana punggung seseorang berubah ketika dia melihat sesuatu.

“Ketemu?”

“Sebentar.”

Dua menit. Empat.

Lalu dia bersandar, melepas kacamatanya, dan menekan pangkal hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk.

“Pustaka konversi mata uang,” katanya. “Kita naikin versinya empat belas bulan lalu. Di versi baru, kalau nilai desimalnya lebih dari dua digit, dia nggak nge-round, dia nge-truncate ke nol. Nggak error. Nggak ada log. Cuma nol.”

“Empat belas bulan?”

“Empat belas bulan. Tapi baru kelihatan dua hari lalu karena mitra baru mulai kirim nilai dengan tiga desimal setelah mereka update sistem hari Senin.” Dia memakai kacamatanya lagi. “Sebelum itu, semua nilai kita dua desimal. Jadi selama empat belas bulan, bug-nya ada dan nggak pernah kena.”

Ruangan itu mengeluarkan napas bersama-sama.

“Jadi data lama aman,” kata Tresna.

“Data lama aman.”

“Yang rusak cuma dua hari.”

“Yang rusak cuma dua hari. Tiga puluh satu ribu baris.”

Aldi menepuk meja. Kiki berteriak sesuatu yang tidak jelas. Wiwi menutup mata dan tetap begitu selama beberapa detik.

Dan aku, yang sudah tidak tidur selama tiga puluh tiga jam juga, merasakan sesuatu yang sangat besar melepaskan cengkeramannya dari tengkukku.

“Bagus,” kataku. “Sekarang semua pulang. Perbaikannya kita mulai besok pagi dengan otak yang jalan.”

“Nggak bisa, Bu.”

Aku menoleh.

“Tiga puluh satu ribu baris harus dihitung ulang dari log mentah,” katanya. “Log mentah cuma disimpan tujuh puluh dua jam. Kita udah di jam empat puluh delapan.” Dia sudah membuka jendela baru. “Kalau nggak selesai dalam dua puluh empat jam, datanya hilang selamanya dan kita harus minta tujuh mitra ngirim ulang catatan mereka. Itu bukan cuma malu, Bu. Itu artinya kita ngaku kita nggak punya catatan.”

Tresna mengumpat pelan.

“Berapa lama kalau dikerjain bareng?” tanyaku.

“Dua belas jam kalau bertiga.”

“Kalau sendiri?”

Jeda.

“Delapan belas.”

“Ervan—”

“Bu.” Dan dia menoleh, akhirnya, dan menatapku. “Kalau saya bagi ke Kiki dan Rio, saya harus jelasin dulu struktur log-nya. Itu tiga jam. Terus mereka bakal salah di beberapa tempat, karena ini pertama kali mereka nyentuh, dan tiap kesalahan harus dicari lagi.” Suaranya sepenuhnya datar. “Dan kalau ada satu baris yang salah hitung, kita ngirim angka salah ke tujuh perusahaan dan itu jadi masalah hukum, bukan masalah teknis. Saya nggak mau nama Kiki ada di commit itu kalau salah.”

“Aku nggak nanya kamu mau atau nggak.”

“Saya tahu, Bu.”

Dan dia berbalik ke layarnya dan mulai mengetik.


Aku bisa menghentikannya.

Aku memikirkan ini berkali-kali sesudahnya, di tempat-tempat yang gelap, pada jam-jam yang salah.

Aku manajernya. Aku bisa mencabut aksesnya. Aku bisa memanggil keamanan gedung. Aku bisa berdiri di depan mejanya dan berteriak sampai seluruh ruangan berhenti.

Aku tidak melakukan satu pun dari itu, dan alasannya adalah alasan yang akan kubawa seumur hidupku:

Karena dia benar.

Setiap kalimatnya benar. Log mentah memang tujuh puluh dua jam. Membaginya memang lebih lambat. Kesalahan memang menjadi masalah hukum. Setiap keputusan yang dia ambil malam itu adalah keputusan yang akan kuambil juga kalau aku duduk di kursinya.

Jadi yang kulakukan adalah ini: aku memulangkan semua orang, aku menutup pintu war room, dan aku duduk di kursi di seberangnya.

“Ibu pulang aja.”

“Enggak.”

“Ibu nggak bisa bantu apa-apa di sini.”

“Aku tahu.”

Dia berhenti mengetik.

“Terus Ibu ngapain?”

“Aku ada di ruangan,” kataku.


Jam sebelas malam, dia masih mengetik.

Jam satu, dia berhenti dua menit untuk minum, lalu lanjut.

Jam tiga, tangannya mulai salah. Aku melihatnya menghapus satu baris tiga kali berturut-turut.

Jam lima, matahari mulai kelabu di jendela besar dan jalan tol mulai terisi, dan dia masih mengetik dengan bahu yang naik satu inci dan tidak pernah turun lagi sejak jam dua belas.

Jam tujuh, Kiki datang membawa bubur untuk dua orang, melihat kami, dan tidak berkata apa-apa. Dia hanya menaruh bungkusnya dan keluar.

Jam sembilan, aku memindahkan seluruh rapatku.

Jam sebelas siang hari Jumat, dia berhenti mengetik.

Empat puluh jam.

“Selesai.”

Suaranya serak. Dia menjalankan verifikasi terakhir. Tiga puluh satu ribu baris, tujuh mitra, nol selisih.

Dia mengirim ringkasan ke kanal. Dia mengetiknya dengan sangat pelan, satu jari salah dua kali, dan aku duduk empat meter darinya menahan diri untuk tidak mengambil alih papan ketiknya.

Lalu dia menutup laptopnya.

“Bu.”

“Iya.”

“Kredit ke tim infra. Mereka yang nyimpen log tujuh puluh dua jam waktu itu, padahal disuruh dua puluh empat buat hemat biaya.”

“Ervan.”

“Serius, Bu. Tulis di laporannya.”

“Oke. Aku tulis.”

Dia mengangguk.

Dia berdiri.

Dan dia berdiri dengan cara yang salah — aku melihatnya, aku melihat seluruhnya, tangannya mencari sandaran kursi dan tidak menemukannya, dan bahunya miring ke kiri seperti orang yang salah memperkirakan lantai.

“Ervan—”

Aku sudah setengah berdiri ketika dia jatuh.

Dan bunyi yang dibuat kepalanya ketika mengenai sudut meja adalah bunyi yang akan kudengar setiap kali aku memejamkan mata selama bertahun-tahun sesudahnya.