← Empat Jam

Chapter Six

Bandar Taruhan

POV: Cyntia


Aku tahu soal taruhan itu dari Naufal, karena tentu saja dari Naufal.

Anak itu berdiri di sebelah mejaku sambil memegang laptopnya seperti perisai, hendak bertanya soal pull request yang tidak kunjung di-review, lalu tiba-tiba berkata:

“Bu, kalau boleh tahu, Ibu suka makanan pedas nggak?”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.” Dia menelan ludah. “Cuma nanya.”

“Naufal.”

“Mas Kiki taruhan,” katanya, cepat sekali, seperti orang membuang barang panas. “Sepuluh ribu per orang. Kalau makan siang tim nanti Ibu milih tempat yang pedas, tim backend menang. Kalau Ibu milih yang aman, tim QA menang. Mbak Wiwi bilang Ibu tipe yang milih aman karena Ibu manajer baru dan manajer baru selalu milih aman.”

Aku menatapnya.

“Mbak Wiwi bilang gitu?”

“Iya, terus Mas Kiki bilang Mbak Wiwi nggak ngerti manusia karena kerjanya nyari bug, terus Mbak Wiwi bilang manusia itu bug.” Naufal menarik napas. “Terus Mas Ervan bilang taruhannya nggak sopan.”

Tanganku berhenti di atas keyboard.

“Terus?”

“Terus Mas Kiki bilang ‘Mas Ervan ikut nggak?’, terus Mas Ervan bilang enggak.” Naufal berpikir sebentar. “Tapi terus Mas Ervan naruh sepuluh ribu di meja Mas Kiki pas pulang. Nggak bilang milih apa.”

Naufal pergi setelah PR-nya kujanjikan, dan aku duduk memikirkan sepuluh ribu rupiah di atas meja seseorang.

Dia bilang taruhannya tidak sopan. Lalu dia ikut, karena kalau tidak ikut, Kiki akan kecewa. Lalu dia tidak memilih apa-apa, karena memilih berarti berpendapat, dan berpendapat berarti ada bagian dari dirinya yang ikut masuk ke ruangan.

Sepuluh ribu untuk membeli hak agar tidak perlu hadir.


Aku memilih rumah makan Padang.

Bukan strategi. Aku benar-benar memilihnya karena tempatnya cukup besar untuk empat belas orang, jaraknya sepuluh menit jalan kaki, dan aku ingin melihat mereka di luar gedung — karena orang berubah begitu keluar dari gedung kantor, dan aku perlu tahu versi mana yang asli.

Kiki menerima kemenangannya dengan pidato tiga menit di depan warung.

“Ini bukan cuma soal uang,” katanya, sambil menerima lembaran dari Wiwi yang menyerahkannya tanpa ekspresi apa pun. “Ini soal kepercayaan pada kemanusiaan. Ini soal keyakinan bahwa manajer kita adalah manusia yang punya lidah, bukan spreadsheet berjalan—”

“Kiki.”

“Siap, Bu.”

Kami duduk. Piring-piring datang seperti biasanya, ditumpuk di lengan pelayan sampai tinggi. Naufal memotret semuanya untuk ibunya. Wiwi memindahkan seluruh cabai dari piringnya ke piring Kiki dengan gerakan yang sudah jelas dilakukan ratusan kali sebelumnya.

Dan Ervan duduk di ujung meja, tiga kursi dariku.

Bukan sejauh mungkin. Itu yang membuatku memperhatikan. Kalau dia duduk di ujung yang paling jauh, aku akan tahu dia menghindar. Tiga kursi adalah jarak yang tidak berarti apa-apa — cukup dekat untuk sopan, cukup jauh untuk tidak pernah masuk ke percakapan yang sama denganku.

Dia sudah menghitungnya. Aku yakin dia sudah menghitungnya.


Yang tidak kuduga adalah bahwa dia lucu.

Bukan lucu seperti Kiki, yang lucu dengan cara berteriak. Ervan lucu dengan cara memasukkan satu kalimat pendek ke celah yang tepat, dengan wajah yang tidak berubah sedikit pun, lalu membiarkan orang lain yang tertawa.

Kiki bercerita tentang insiden bulan Februari, ketika sistem mati karena seseorang mengubah satu baris konfigurasi.

“Dan yang paling parah,” kata Kiki, “yang ubah itu—”

“Kamu,” kata Ervan.

“—adalah seseorang yang,” Kiki mengangkat suara, “belum tentu saya.”

“Commit-nya atas nama kamu.”

“Akunku diretas.”

“Sama laptopmu sendiri.”

Seluruh meja meledak. Naufal tertawa sampai tersedak dan Wiwi menepuk punggungnya tanpa menoleh dari makanannya.

Aku ikut tertawa, dan tawaku keluar setengah detik lebih lambat dari yang lain, karena aku sedang sibuk merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan di dada.

Dia masih ada.

Orang itu masih ada di dalam sana, dan dia keluar ketika Kiki bicara, dan dia keluar ketika Naufal salah paham soal sesuatu, dan dia keluar ketika Wiwi menyindir siapa pun.

Dia hanya tidak pernah keluar ketika aku ada di percakapan yang sama.

Aku mengujinya sekali lagi, diam-diam, dengan cara yang sangat kecil.

Aku diam. Aku benar-benar diam selama tujuh menit penuh, tidak bertanya apa pun, tidak menanggapi apa pun, hanya makan dan mendengarkan, dan aku menghitung.

Menit ketiga, dia bercanda soal Naufal yang memotret makanannya.

Menit kelima, dia mengoreksi Wiwi soal tanggal rilis.

Menit ketujuh, dia tertawa — pendek, satu kali, tapi tawa betulan — karena Kiki menirukan suara Tresna di rapat.

Aku bertanya satu kalimat di menit kedelapan, tentang apa pun, aku bahkan tidak ingat apa.

Dan ruangan itu tidak berubah, semua orang tetap ribut, Kiki tetap berbicara. Hanya satu orang di ujung meja yang berhenti bicara sampai piringnya kosong.

Aku mencoba, dua kali.

Pertama, aku bertanya kepada meja tentang tempat makan yang layak di sekitar kantor, pertanyaan bodoh yang kutujukan ke semua orang tapi kutimpakan pandanganku ke arahnya. Kiki menjawab selama empat menit. Ervan tidak menjawab sama sekali.

Kedua, aku bertanya langsung: “Ervan, kamu biasanya makan siang di mana?”

Dia meletakkan sendoknya. Sopan, penuh perhatian, wajah yang sepenuhnya tersedia.

“Saya biasanya nggak makan siang, Bu.”

“Kenapa?”

“Ngantuk kalau makan siang.” Dia mengangkat bahu sedikit. “Kiki, itu rendangnya jangan diambil semua, Naufal belum.”

Dan percakapan itu berpindah tangan dengan mulus, seperti bola yang dioper sebelum ada yang sempat merebutnya, dan aku duduk di sana memegang pertanyaan yang sudah tidak ada tempatnya.

Dia tidak menghindariku.

Dia hanya tidak pernah membiarkan percakapan bertahan cukup lama untuk menjadi percakapan.


Saat kami hendak keluar, aku ke kasir untuk membayar. Sudah kusiapkan kartu perusahaan, sudah kuurus persetujuan anggarannya kemarin, karena makan siang tim adalah salah satu dari sedikit hal yang boleh kulakukan dengan uang orang lain.

Mbak kasir menggeleng.

“Sudah dibayar, Bu.”

“Sudah? Sama siapa?”

“Sama bapak yang tadi,” katanya, menunjuk ke arah pintu dengan dagunya. “Yang rambutnya panjang. Bayar duluan pas baru datang, sebelum yang lain masuk. Bilangnya jangan diumumin.”

Aku berdiri di depan kasir memegang kartu perusahaan yang tidak jadi kupakai.

“Berapa?”

Dia menyebut angkanya. Empat belas orang, rumah makan Padang, semua lauk yang disentuh dihitung.

Aku tahu berapa gajinya. Aku yang menandatangani matriksnya minggu lalu. Angka itu bukan angka yang membuatnya sulit tidur.

Bukan itu masalahnya.

Masalahnya adalah dia datang lebih awal — dia yang selalu datang tepat waktu, tidak pernah lebih — datang lebih awal ke rumah makan yang dipilih oleh perempuan yang membuangnya, untuk membayar sesuatu yang jelas-jelas sudah dianggarkan perusahaan, dan meminta agar tidak diumumkan.

Bukan supaya berterima kasih. Bukan supaya berutang.

Supaya tidak ada yang tahu.


Di jalan pulang ke kantor, mereka berjalan bergerombol dan aku sengaja melambat sampai sejajar dengannya.

“Kamu bayar.”

Dia tidak menyangkal. Dia bahkan tidak terlihat kaget.

“Kasirnya cerita ya, Bu.”

“Uangnya udah dianggarin, Ervan. Aku bisa reimburse.”

“Nggak usah.”

“Ini bukan soal usah atau nggak usah. Ini uang perusahaan yang emang buat itu.”

“Iya, Bu. Tapi kalau pakai anggaran, nanti ada laporannya, terus tim tahu ada anggaran, terus bulan depan mereka nunggu-nunggu makan siang lagi.” Dia melangkah menghindari genangan. “Kalau nggak ada anggaran, nggak ada yang nunggu. Nggak ada yang kecewa.”

Aku berhenti berjalan.

Dia berjalan dua langkah lagi sebelum menyadari, lalu berhenti juga, dan menoleh dengan wajah yang benar-benar sabar dan benar-benar tidak mengerti.

“Kenapa, Bu?”

“Kamu ngomong soal makan siang.”

“Iya.”

Aku menatapnya di trotoar yang panas, di antara dua toko fotokopi, dengan tim kami sudah dua puluh meter di depan dan Kiki masih berteriak-teriak tentang sesuatu.

Kalau nggak ada yang dijanjiin, nggak ada yang nunggu. Kalau nggak ada yang nunggu, nggak ada yang kecewa.

Dia mengucapkannya tentang rendang. Dengan wajah yang sepenuhnya biasa saja. Sebagai kebijakan operasional yang masuk akal.

Dan tidak ada satu pun bagian dari dirinya yang menyadari bahwa dia baru saja menjelaskan cara dia hidup selama tiga tahun terakhir.

“Nggak jadi,” kataku. “Ayo, ketinggalan.”

Dia mengangguk dan berjalan lagi, tiga langkah di depanku, rambut terikat, punggung kurus, membelah panas siang seperti orang yang tidak sedang membawa apa-apa.

Malam itu aku memindahkan anggaran makan siang tim ke pos lain dan tidak pernah memakainya lagi.

Bukan karena dia benar.

Karena aku belum sanggup mendengar dia menolak untuk kedua kalinya.