← Empat Jam

Chapter Three

Diterima, Bukan Dimaafkan

POV: Cyntia


Aku menunggu di parkiran basement selama empat puluh menit untuk sesuatu yang berlangsung sembilan puluh detik.

Aku tahu mobilnya. Bukan karena aku mencari tahu — aku melihatnya turun dari mobil itu pada Rabu pagi, sedan tua warna abu-abu yang cat bemper belakangnya sedikit beda karena pernah diganti. Dulu belum ada mobil. Dulu ada motor, dan aku duduk di belakangnya sepanjang tahun ketiga dan keempat kuliah, dan aku hafal punggung jaketnya lebih baik daripada aku hafal wajahku sendiri.

Pukul delapan lewat sepuluh malam, lift basement terbuka, dan dia keluar sambil menenteng tas laptop.

Aku turun dari mobilku.

“Ervan.”

Dia berhenti. Melihat sekeliling sebentar, seperti memastikan tidak ada orang lain, lalu berjalan mendekat sampai jarak yang wajar dan berhenti di situ. Jarak untuk berbicara dengan atasan di parkiran. Satu setengah meter.

“Ada yang ketinggalan, Bu?”

“Nggak. Aku nunggu kamu.”

Sesuatu bergerak di rahangnya. Sangat kecil. Kalau aku tidak menghabiskan empat tahun mempelajari wajah itu, aku tidak akan melihatnya.

“Oh,” katanya.

Aku sudah menyusun kalimatnya. Sungguh. Aku menulisnya di pesawat tiga minggu lalu, di halaman belakang buku catatan, dan aku merevisinya sembilan kali sampai tidak ada satu pun kata yang membela diriku. Tidak ada “waktu itu aku lagi”, tidak ada “kamu harus ngerti”, tidak ada penjelasan tentang tesis dan shift kafe dan tidur empat jam. Hanya pengakuan. Bersih.

Aku menghafalnya. Aku mengulangnya di kamar mandi hotel sebelum wawancara.

Dan sekarang, berdiri di antara dua tiang beton berlumut di bawah lampu neon yang salah satunya berkedip, semua kalimat itu hilang dari kepalaku sekaligus.

“Maaf,” kataku.

Cuma itu yang keluar.

Dia tidak bergerak.

“Maaf soal semuanya,” kataku lagi, dan sekarang kalimat-kalimatnya datang berhamburan tapi salah urutan, keluar terlalu cepat, tidak sebagus yang kutulis. “Soal cara aku ngakhirin. Soal aku yang berhenti bales. Soal aku bohong berkali-kali padahal kamu percaya semuanya. Soal malam itu. Aku tahu ini telat tiga tahun dan aku tahu minta maaf nggak ngapa-ngapain, tapi aku nggak bisa kerja bareng kamu tiap hari tanpa pernah ngomong ini sekali aja, jadi—”

Aku berhenti karena napasku habis.

Lampu neon di atas kami berkedip dua kali.

Dia menaruh tas laptopnya di aspal. Pelan. Seperti orang yang sedang membebaskan tangannya untuk melakukan sesuatu.

Lalu dia berdiri tegak lagi, dan berkata:

“Nggak apa-apa, Bu. Udah lama.”


Ada jeda di mana aku menunggu sisanya.

Aku benar-benar menunggu. Aku berdiri di sana dengan wajah bodohku dan menunggu bagian keduanya, bagian di mana dia bilang tapi, bagian di mana suaranya naik sedikit, bagian di mana dia menyebutkan satu saja hal yang kulakukan padanya dan menamainya dengan benar.

Bagian itu tidak datang.

Dia mengambil tasnya lagi.

“Kalau soal kerja, Ibu nggak perlu khawatir,” katanya. “Saya nggak akan bawa-bawa yang dulu ke kantor. Beneran.”

“Ervan—”

“Udah malam, Bu. Hati-hati di jalan.”

Dia menunduk sedikit — bukan membungkuk, hanya gerakan sopan yang biasa dia lakukan pada satpam, pada office boy, pada siapa saja — lalu berjalan ke mobilnya.

Dia menyalakan mesin. Dia menunggu sampai aku masuk ke mobilku, karena dia selalu menunggu sampai perempuan masuk ke kendaraannya duluan, dan dia masih melakukannya bahkan untukku, bahkan sekarang.

Lalu lampu belakang sedan abu-abu itu naik ke ramp dan hilang.

Aku masih memegang setir dengan mesin mati, dan aku memutar ulang sembilan puluh detik itu di kepalaku, mencari sesuatu.

Karena ada yang aneh, dan aku baru menyadarinya setelah dia pergi.

Dia menaruh tas laptopnya di aspal.

Kenapa? Untuk apa? Dia tidak melakukan apa pun dengan tangannya. Dia tidak menyentuhku, tidak menunjuk, tidak menyeka apa pun. Dia berdiri diam sepanjang aku bicara, lalu mengambil tasnya lagi dan pergi.

Orang menaruh barang bawaannya kalau dia mengira percakapannya akan panjang.

Dia menyiapkan diri untuk mendengarkan lama.

Dan aku hanya butuh sembilan puluh detik untuk menghabiskan semua yang kupunya.


Aku tidak menangis di parkiran. Aku menangis di jalan tol, di kilometer entah berapa, dan bukan pada saat yang wajar.

Bukan saat mengingat wajahnya. Bukan saat mengingat suaranya.

Aku menangis ketika aku menyadari apa yang baru saja terjadi.

Aku datang untuk minta maaf. Untuk minta maaf, kau butuh dua orang: satu yang bersalah dan satu yang disalahi. Dan dia baru saja, dengan sangat sopan, dalam tujuh kata, menolak untuk menjadi orang yang kedua.

Nggak apa-apa. Udah lama.

Kalau dia bilang aku belum bisa maafin kamu, aku akan punya sesuatu. Aku akan punya utang dengan jumlah yang jelas, dan aku bisa mulai mencicil. Kalau dia bilang aku benci kamu, aku akan punya arah. Aku bisa berjalan ke sana.

Tapi dia bilang tidak apa-apa. Dan tidak apa-apa artinya tidak ada apa-apa. Artinya tidak pernah ada apa-apa. Artinya tiga tahun itu bukan luka, cuma cuaca. Artinya aku bukan orang yang menyakitinya — aku cuma bekas mantan, salah satu hal yang lewat, sesuatu yang selesai dengan sendirinya seperti flu.

Dia tidak memaafkanku.

Dia menghapusku.

Dan seseorang tidak menghapus hal yang tidak apa-apa. Kau menghapus hal yang tidak bisa kau tatap.

Aku menepi di rest area kilometer sembilan belas, mematikan mesin, dan menangis di balik kemudi selama waktu yang tidak kuhitung, dengan cara yang sangat jelek, dengan mulut terbuka, seperti orang yang baru kehilangan sesuatu padahal aku sudah kehilangan itu tiga tahun lalu dan aku sendiri yang membuangnya.


Aku sampai apartemen hampir tengah malam, dan ponselku bergetar saat aku membuka pintu.

Satu email. Pukul 22.47.

Dari: Ervan Bagaskara Subjek: Re: Ringkasan 1-on-1 — risiko retensi tim

Isinya tiga halaman.

Nama dua orang yang kemungkinan resign, dengan alasan spesifik masing-masing, lengkap dengan riwayat proyek dan siapa yang pernah membuat mereka kecewa. Rekomendasi konkret: yang satu butuh pengakuan publik, yang satu butuh dilepaskan dari sistem lama yang membuatnya stagnan. Estimasi biaya kalau keduanya benar-benar pergi. Estimasi waktu kalau harus merekrut pengganti.

Di paragraf terakhir:

Kalau Ibu mau, saya bisa ambil alih beban salah satu dari mereka sementara, sampai posisinya stabil. Nggak masalah buat saya. Cuma jangan disampaikan ke mereka bahwa ini usul saya, nanti canggung.

Aku duduk di lantai ruang tamu dengan jaket masih menempel, membaca email itu tiga kali.

Empat puluh menit sebelum email ini dikirim, aku berdiri di depannya dan minta maaf karena telah menghancurkannya.

Dan dia pulang ke apartemennya, membuka laptop, dan menghabiskan dua jam menulis dokumen untuk membantu pekerjaanku.

Aku menggulir ke atas, ke bagian kepala email, dan melihat satu hal lagi.

Dia mengirimnya pukul 22.47. Dari parkiran, dia sampai rumah paling cepat pukul sembilan. Artinya dia menulis tiga halaman itu dalam waktu kurang dari dua jam, dan tiga halaman itu bukan tulisan orang yang sedang buru-buru. Ada tabel di dalamnya. Ada nomor referensi tiket. Ada perhitungan biaya perekrutan dengan asumsi yang dijelaskan di catatan kaki.

Dia pulang dengan perempuan yang menghancurkannya masih tertinggal di parkiran, dan yang dia lakukan adalah membuka laptop dan bekerja.

Aku pernah melakukan hal yang sama. Aku tahu persis apa artinya.

Kau bekerja seperti itu bukan karena kau rajin. Kau bekerja seperti itu karena kalau kau berhenti, ada sesuatu yang akan mengejarmu.

Aku menaruh ponselku di lantai, telungkup, seperti dia menaruh ponselnya di ruangan berbau karpet baru itu.

Baiklah, pikirku.

Maaf tidak berlaku di sini. Mata uangnya salah.

Kalau dia tidak mau menerima maafku, aku harus mencari sesuatu yang tidak bisa dia tolak.

Dan aku ini atasannya sekarang.

Aku membalas emailnya pukul dua belas lewat, dua kalimat saja, semuanya soal pekerjaan. Terima kasih. Kita bahas Senin.

Aku menekan kirim, lalu menatap layar sampai statusnya berubah menjadi terkirim.

Dia membalas dalam sembilan detik.

Siap, Bu.

Tengah malam lewat, dan dia belum tidur juga.

Dua orang di dua tempat berbeda di kota yang sama, sama-sama terjaga, sama-sama menatap layar, saling mengirim kata-kata yang bukan kata-kata yang ingin dikirim.

Lucu sekali, pikirku, tanpa tertawa sedikit pun.

Dulu jarak kami dua belas jam, dan kami masih bicara setiap hari.

Sekarang jarak kami dua puluh menit berkendara, dan tidak satu pun kalimat yang kami tukar malam ini adalah kalimat yang benar.