← Empat Jam

Chapter Eight

Nol Jam Lembur

POV: Cyntia


Yang membuatku mengajukan permintaan audit itu bukan kemarahan.

Aku ingin bilang begitu. Aku ingin bilang aku bertindak karena prinsip manajerial, karena tata kelola yang baik, karena orang yang bekerja enam jam tengah malam harus tercatat bekerja enam jam tengah malam.

Sebenarnya begini: pukul sembilan pagi, empat setengah jam setelah kami pulang, dia sudah duduk di mejanya, sudah mandi, sudah menyisir rambutnya ke belakang dan mengikatnya, dan sedang menjelaskan hasil investigasi semalam kepada Tresna dengan suara yang sepenuhnya normal.

Tresna berkata, “Bagus, Van. Untung ketahuan sebelum mitra komplain.”

Dan Ervan berkata, “Untungnya alert-nya bunyi, Pak.”

Dan Tresna mengangguk lalu pergi ke rapat berikutnya, dan tidak ada satu orang pun di gedung ini yang akan pernah tahu bahwa laki-laki itu tidur satu jam.

Aku mengirim permintaan audit lembur ke HR pukul sembilan lewat lima, dari mejaku, dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil.


Mbak Rani mengirim datanya sore itu juga. Satu berkas spreadsheet, tiga tahun terakhir, seluruh tim engineering.

Aku menyortirnya dari yang paling banyak.

Kiki di puncak. Dua ratus tiga puluh enam jam lembur terklaim dalam tiga tahun — masuk akal, dia anak muda yang menganggap kantor sebagai rumah kedua dan menganggap kopi sebagai golongan darah. Di bawahnya tim infrastruktur, yang memang bergiliran jaga malam. Wiwi punya delapan puluh sekian jam, semuanya di sekitar tanggal rilis besar.

Aku menggulir ke bawah.

Terus.

Terus.

Baris paling bawah.

Bagaskara, Ervan — 0

Nol. Bukan angka kecil. Bukan dua belas jam yang menunjukkan bahwa dia mengklaim sesekali lalu bosan mengurusnya. Nol bulat, tiga tahun, di kolom seseorang yang namanya muncul di kanal insiden lebih sering daripada siapa pun di gedung ini.

Aku membuka data lain: log akses pintu kantor.

Kartu aksesnya mencatat dia keluar gedung setelah pukul sepuluh malam sebanyak seratus sembilan puluh empat kali dalam tiga tahun.

Seratus sembilan puluh empat malam.

Nol klaim.

Aku menghitungnya dengan tarif lembur standar dan angka yang muncul di kalkulatorku begitu besar sampai aku harus menghitungnya dua kali. Lalu aku menutup kalkulator karena angka itu bukan intinya dan tidak akan pernah jadi intinya.

Intinya adalah: seratus sembilan puluh empat kali, seseorang berjalan keluar dari gedung ini ke parkiran yang kosong, dan tidak pernah sekali pun berpikir bahwa itu layak dicatat.


Aku memanggilnya ke ruang Sirius pukul lima sore. Sengaja ruang Sirius. Sengaja jam lima, ketika lantai sebelas masih penuh.

Aku memutar laptopku ke arahnya.

Dia melihat layar itu selama beberapa detik. Membaca kolomnya. Menemukan namanya di baris terbawah.

Lalu dia berkata, “Oh.”

“Cuma ‘oh’?”

“Datanya bener, Bu.”

“Aku tahu datanya bener. Aku nanya kenapa.”

Dia bersandar sedikit. Tangannya di pangkuan.

“Karena lembur saya bukan lembur yang bisa diklaim, Bu.”

“Seratus sembilan puluh empat malam.”

“Sebagian besar itu bukan karena disuruh. Sistemnya rapuh, saya tahu di mana rapuhnya, jadi saya cek. Nggak ada yang minta saya cek.” Dia mengangkat bahu, gerakan kecil yang sudah mulai kubenci. “Kalau saya klaim lembur buat sesuatu yang saya kerjain karena kemauan saya sendiri, itu namanya nagih ke perusahaan buat kecemasan saya sendiri.”

“Kecemasan kamu itu yang bikin sistem ini nggak mati, Ervan.”

“Ya, tapi tetap kecemasan saya.”

Aku menutup laptop.

“Kalau Kiki yang ngelakuin ini, kamu bakal suruh dia klaim nggak?”

Jeda.

Pertama kalinya sejak kami duduk. Setengah detik, mungkin kurang, tapi ada.

“Iya,” katanya.

“Kenapa dia iya, kamu enggak?”

“Kiki punya keluarga yang nunggu di rumah, Bu. Waktunya kepakai berarti waktu mereka kepakai.” Dia membetulkan kacamatanya dengan punggung telunjuk. “Waktu saya nggak dipakai siapa-siapa. Jadi nggak ada yang dirugiin.”


Aku ingin menulis di sini bahwa aku menjawab dengan bagus.

Aku tidak menjawab dengan bagus. Aku duduk di ruang berdinding kaca itu dan tenggorokanku menutup dan aku menghabiskan sekitar empat detik hanya untuk memastikan wajahku tidak melakukan apa pun yang bisa dilihat dari seberang ruangan oleh empat belas orang.

Waktu saya nggak dipakai siapa-siapa.

Dia mengucapkannya tanpa nada mengasihani diri. Tidak ada getir di dalamnya, tidak ada sindiran, tidak ada satu pun serat yang ditujukan kepadaku. Dia menyampaikannya seperti orang menyampaikan spesifikasi server: kapasitasnya sekian, penggunaannya sekian, sisanya menganggur, jadi tidak perlu ditagihkan.

Dan sesuatu di kepalaku menyalakan kalimat lain, dari tiga tahun lalu, yang selama ini kusimpan sebagai bukti bahwa aku sudah berusaha.

“Kamu nggak apa-apa aku baru bisa telepon jam dua?”

“Nggak apa-apa. Aku emang belum tidur.”

Aku selalu membacanya sebagai kebaikan. Aku menyimpannya sebagai izin: dia bilang tidak apa-apa, jadi tidak apa-apa.

Baru sekarang, di ruangan berdinding kaca ini, aku mendengar kalimat itu dengan benar untuk pertama kalinya.

Dia belum tidur karena dia sedang menunggu.

Dan dia tidak pernah menyebutnya menunggu, karena menunggu berarti ada yang ditagih.


“Mulai bulan depan,” kataku, dan suaraku keluar lebih rata daripada yang kuduga, “semua kerja di luar jam kantor wajib diklaim. Bukan boleh. Wajib.”

“Bu—”

“Ini kebijakan tim, bukan permintaan pribadi. Berlaku ke empat belas orang.” Aku membuka bukuku dan menulis sambil bicara, karena kalau aku menulis, aku tidak perlu menatapnya. “Dan mulai sekarang nggak ada penanganan insiden P1 sendirian. Minimal berdua. Yang kedua boleh nggak ngapa-ngapain, boleh cuma duduk. Tapi harus ada.”

“Itu buang-buang orang.”

“Itu buang-buang orang yang aku setujui.”

Dia diam cukup lama sehingga aku akhirnya harus mengangkat wajah.

Dan dia sedang menatapku.

Bukan tatapan panjang yang kukenal, yang dia pakai untuk berbohong. Ini berbeda. Ini seperti orang yang sedang mencoba membaca sesuatu yang tulisannya terlalu kecil.

“Kenapa?” tanyaku.

“Nggak apa-apa.” Dia berdiri. “Saya ikut aturan, Bu. Sampai ketemu besok.”

Dia keluar, dan aku melihat lewat dinding kaca bagaimana Kiki langsung menghampirinya, bagaimana dia menjawab sesuatu yang membuat Kiki tertawa, bagaimana dia duduk lagi di mejanya seolah lima belas menit terakhir tidak terjadi.


Wiwi masuk ke ruang Sirius tiga menit kemudian tanpa mengetuk, membawa dua gelas kopi lagi, dan menaruh satu di depanku.

Hitam.

“Kamu juga tahu,” kataku.

“Saya QA, Bu. Kerjaan saya merhatiin hal yang nggak diomongin.” Dia duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Ervan. “Saya cuma niru dia.”

Aku memegang gelas itu.

“Wi, boleh tanya sesuatu?”

“Boleh.”

“Selama tiga tahun kamu di sini, pernah nggak dia minta sesuatu? Apa pun. Kursi baru, monitor, geser jadwal. Apa aja.”

Wiwi berpikir. Dia benar-benar berpikir; aku bisa melihat dia menyusuri tiga tahun itu satu per satu, dan itu berlangsung cukup lama sampai aku mulai berharap dia menemukan sesuatu, apa saja, satu hal kecil yang bisa kubawa pulang.

“Pernah,” katanya akhirnya.

Dadaku bergerak.

“Apa?”

“Tahun lalu dia minta mejanya dipindah ke pojok.” Wiwi meniup kopinya. “Yang sekarang itu. Yang paling jauh dari pintu.”

Aku menaruh gelasku.

“Kenapa?”

“Katanya biar nggak keganggu kalau lagi fokus.” Wiwi mengangkat bahu. “Tapi meja lamanya di tengah, deket jendela. Yang bagus. Yang orang antre buat dapetin.”

Dia berdiri, mengambil gelasnya, dan berhenti sebentar sebelum keluar.

“Bu, satu lagi. Bukan urusan saya, tapi saya bilang aja.”

“Bilang.”

“Aturan lembur wajib itu bagus. Beneran bagus, timnya butuh.” Dia memegang gagang pintu. “Cuma, kalau Ibu bikin aturan buat maksa satu orang, orang itu bakal ikut aturannya sampai titik terakhir. Dia bakal klaim lemburnya. Dia bakal bawa orang kedua pas insiden.” Wiwi menoleh. “Dan dia bakal tetap ngerjain semuanya sendiri, cuma sekarang ada saksinya.”

Pintu tertutup.

Aku duduk sendirian di ruang berdinding kaca itu dengan kopi hitam yang mulai dingin, memandangi lantai sebelas yang perlahan kosong, satu per satu, sampai tinggal satu blok lampu di pojok yang masih menyala.

Dia benar. Wiwi benar.

Aku bisa membuat aturan yang memaksa Ervan Bagaskara mencatat waktunya.

Aku tidak bisa membuat aturan yang memaksanya merasa waktunya layak dicatat.