← Empat Jam

Chapter Eleven

Empat Belas Juni

POV: Cyntia


Aku tidak memberi tahu siapa pun soal ulang tahunku, dan itu tidak menolong sama sekali, karena HR punya sistem yang mengirim notifikasi otomatis ke kanal perusahaan setiap pukul delapan pagi.

Pukul delapan lewat dua menit, Kiki sudah berdiri di depan mejaku sambil membawa kue dari toko roti di lantai dasar, jenis kue yang dibeli lima menit sebelumnya oleh orang yang panik.

“Bu Cyntia! Kenapa nggak bilang!”

“Karena aku nggak mau ada beginian.”

“Ya makanya nggak bilang, makanya kita beliin.” Dia menaruh kotaknya di mejaku. “Ini logikanya bener, Bu. Mbak Wiwi bilang saya nggak ngerti logika, tapi ini bener.”

Wiwi lewat sambil membawa laptop. “Kue itu diskon karena mau kedaluwarsa besok.”

“Itu namanya efisiensi.”

Aku tertawa. Aku benar-benar tertawa, dan itu mengejutkanku sendiri, karena aku bangun pagi ini dengan perasaan seperti orang yang harus melewati sebuah ruangan gelap dan sudah tahu ada meja di tengahnya.

Empat belas Juni.

Tiga tahun lalu, pukul enam pagi waktu sana, ponselku menyala dan ada rekaman suara berdurasi empat puluh tujuh detik: seorang laki-laki menyanyikan lagu ulang tahun dengan nada yang salah semua, diiringi suara gitar yang hanya bisa tiga lagu, diakhiri dengan tawa dan kalimat “udah gitu doang, mahal pulsa.”

Aku tidak pernah menghapus rekaman itu. Aku juga tidak pernah memutarnya lagi.

Empat belas Juni dua tahun lalu, aku sudah pulang ke Indonesia, dan aku menghabiskan hari itu di kamar kosku sambil bekerja lembur untuk perusahaan yang tidak memintaku lembur.

Dan sekarang, empat belas Juni tahun ini, aku duduk di lantai sebelas dengan kue diskon di mejaku dan empat belas orang menyanyi sumbang, dan aku menghitung kepala.

Tiga belas.


“Mas Ervan mana?”

Aku bertanya kepada Naufal, karena Naufal adalah satu-satunya orang di gedung ini yang tidak punya perisai.

“Lagi on-call, Bu.” Naufal menunjuk ke atas dengan garpu plastik. “Di ruang server. Ada jadwal maintenance mitra malam ini, dia jaga dari pagi.”

“Bukannya rotasi on-call-nya minggu depan?”

“Iya, harusnya Mas Rio.” Naufal mengunyah. “Tapi Mas Ervan tukeran. Kayak biasa.”

Aku meletakkan garpuku.

“Kayak biasa gimana?”

“Ya... kayak biasa aja?” Naufal terlihat bingung, seperti anak yang ditanya kenapa air itu basah. “Mas Ervan emang selalu ambil on-call tanggal segini, Bu. Tiap tahun. Mas Kiki pernah bilang itu udah kayak tradisi.”

Ruangan itu tidak berhenti bergerak. Kiki masih memperdebatkan sesuatu dengan Wiwi. Seseorang menyalakan lagu dari speaker kecil. Kue diskon itu tinggal setengah.

Dan aku duduk di tengahnya sambil merasakan lantai bergeser sedikit ke kiri.

“Tiap tahun,” kataku.

“Iya. Tiga kali seingat saya, tapi saya baru setahun di sini.” Naufal mengambil potongan kedua. “Emangnya kenapa, Bu?”

“Nggak apa-apa.”

Aku mendengar diriku sendiri mengatakan itu, dan aku ingin menampar mulutku sendiri.


Ruang server ada di lantai dua belas, di ujung koridor, di balik pintu yang butuh kartu akses tingkat dua. Aku punya kartu itu sejak minggu pertama dan belum pernah memakainya.

Dingin di dalam sana menampar wajahku begitu pintu terbuka. Enam belas derajat, mungkin kurang. Suara kipas dari rak-rak server memenuhi ruangan seperti air terjun yang tidak pernah berhenti — bunyi yang membuat orang tidak bisa mendengar apa pun, termasuk pikirannya sendiri.

Dia duduk di kursi lipat di sudut, dengan laptop di pangkuan, memakai hoodie hitam yang jelas dia simpan khusus untuk ruangan ini.

Dia mendongak.

“Bu Cyntia.”

“Kamu tukeran jadwal sama Rio.”

“Rio ada acara keluarga.”

“Rio bilang ke aku dia nggak ada acara apa-apa.” Aku menutup pintu di belakangku. “Aku tanya dia sepuluh menit yang lalu.”

Dia menutup laptopnya, pelan.

Kipas server terus berbunyi.

“Bu,” katanya, “ini bukan hal yang perlu dibahas.”

“Aku manajernya. Rotasi on-call itu urusanku.”

“Bukan itu yang saya maksud.”

“Aku tahu bukan itu.”

Kami saling menatap di ruangan enam belas derajat dengan bunyi kipas yang menelan segalanya, dan untuk pertama kalinya sejak aku masuk ke gedung ini, tidak ada yang bisa melihat kami. Tidak ada dinding kaca. Tidak ada empat belas pasang mata di lantai sebelas. Tidak ada Kiki yang bisa menyelamatkannya dengan lelucon.

Cuma dua orang dan mesin-mesin yang tidak peduli.

“Tiga tahun,” kataku. “Tiap tanggal empat belas Juni.”

Dia tidak menjawab.

“Kamu nggak lupa.”

“Enggak,” katanya.

Satu kata. Datar. Tanpa pembelaan, tanpa penjelasan, tanpa satu pun usaha untuk membuatnya terdengar lebih kecil dari yang sebenarnya.

Dan itu justru yang membuat kakiku hampir tidak sanggup.

“Kenapa?” tanyaku, dan suaraku pecah di tengah, dan aku membencinya. “Kenapa kamu masih inget? Kalau kamu udah nggak apa-apa, kalau semuanya udah lama, kenapa kamu harus ngumpet di ruangan enam belas derajat tiap tanggal ini?”

Dia menatap laptop yang sudah tertutup di pangkuannya.

“Karena kalau saya di bawah,” katanya, “saya bakal liat orang-orang ngucapin selamat ke Ibu.”

Aku memegang rak server di sebelahku. Logamnya dingin dan bergetar pelan.

“Terus?”

“Terus saya bakal ikut ngucapin, karena nggak enak kalau enggak.” Dia mengangkat wajahnya. “Dan saya nggak mau ngucapin, Bu. Bukan karena marah. Cuma karena kalau saya ngucapin, itu jadi hal yang saya lakuin. Kalau saya di sini, itu cuma tanggal.”


Aku pernah membaca bahwa ada suhu tertentu di mana tubuh berhenti mengenali dingin sebagai dingin dan mulai mengenalinya sebagai sakit.

Aku berdiri di sana cukup lama untuk mengetahui bahwa itu benar.

“Selamat ulang tahun, Bu Cyntia,” katanya.

Aku menoleh secepat yang bisa dilakukan leher manusia.

Dia sudah berdiri. Laptop di satu tangan. Wajahnya sopan, tenang, rata. Suaranya seperti orang mengucapkan selamat pagi kepada satpam.

“Kamu bilang kamu nggak mau ngucapin.”

“Iya.”

“Terus kenapa—”

“Karena Ibu udah naik ke sini,” katanya. “Kalau Ibu udah naik ke sini terus saya diem, itu jahat. Dan saya nggak mau jahat sama Ibu.”

Dia berjalan ke arah pintu, berhenti, dan menahannya terbuka untukku, karena dia laki-laki yang menahan pintu untuk orang lain bahkan ketika orang itu adalah orang yang menghancurkannya.

“Ibu duluan, Bu. Dingin.”


Aku turun sendirian lewat tangga.

Aku duduk di anak tangga antara lantai dua belas dan sebelas, di tempat orang menangis di kantor, dan aku menangis di sana selama mungkin empat menit sebelum aku ingat bahwa mataku akan merah dan aku harus kembali ke ruangan berisi empat belas orang yang baru saja menyanyikan lagu ulang tahun untukku.

Aku mengeluarkan ponselku.

Aku menggulir ke bawah, jauh sekali, melewati ribuan hal, sampai ke folder yang tidak pernah kubuka.

Berkas audio. Empat puluh tujuh detik. Tanggal tiga tahun lalu.

Ibu jariku melayang di atasnya.

Aku tidak menekannya.

Bukan karena aku tidak sanggup mendengar suaranya. Aku pikir aku sanggup; aku sudah menyiapkan diri untuk itu sejak pagi.

Aku tidak menekannya karena aku baru menyadari sesuatu di ruang server tadi, dan sekarang aku tidak bisa membatalkan kesadaran itu.

Selama tiga tahun aku menyimpan rekaman ini sebagai kenangan. Sesuatu yang manis dan menyakitkan yang kupunya, milikku, bukti bahwa aku pernah dicintai seperti itu.

Dan sepanjang tiga tahun yang sama, orang yang menyanyikannya duduk di ruangan enam belas derajat setiap tanggal empat belas Juni, memilih untuk menjadi tidak ada, supaya tidak perlu melakukan apa pun yang akan membuat hari itu terasa nyata.

Aku menyimpan hariku sebagai kenangan.

Dia menyimpannya sebagai hari yang harus dilewati.

Aku memasukkan ponselku ke saku, mengusap wajahku dengan lengan blazer, dan berdiri.

Di lantai sebelas, Kiki sedang membuat sesi foto tim dengan sisa kue, dan mereka meneriakkan namaku begitu pintu tangga terbuka.

Aku tersenyum. Aku berfoto. Aku memegang piring plastik.

Dan sepanjang sisa hari itu, satu blok lampu di pojok tetap gelap, dan di lantai atas, di ruangan yang bunyinya seperti air terjun, seseorang duduk di kursi lipat menunggu tanggal ini habis.