← Empat Jam

Chapter Twenty One

Tawaran ke Kota Lain

POV: Cyntia


Dia masuk keesokan paginya dengan wajah yang sama sekali tidak berubah, dan itu sendiri sudah memberitahuku sesuatu.

Orang yang baik-baik saja tidak perlu memasang wajah yang sama sekali tidak berubah.

Aku menghitung apa yang berbeda: dia datang pukul delapan lewat lima, bukan delapan lewat lima belas. Dia tidak ke pantry. Sesi transfer pukul sembilan berjalan tiga puluh menit lebih cepat dari biasanya, dan Naufal keluar dari ruangan dengan wajah bingung karena tidak ada satu pun gurauan sepanjang sesi.

Dan pada pukul sebelas, dia mengirim pesan.

Bu, sesi Kamis dan Jumat minggu ini bisa saya gabung jadi satu sesi empat jam? Saya mau kejar target dokumentasi lebih cepat.

Aku membacanya tiga kali.

Kenapa buru-buru?

Biar aman kalau ada apa-apa.

Aku menatap empat kata terakhir itu selama satu menit penuh, lalu membalas:

Nggak. Tetap dua sesi.

Baik, Bu.


Aldi mengajakku ke lantai dua puluh tiga pukul dua siang, ke ruangan yang selama ini kukenal hanya sebagai tempat dewan rapat setiap kuartal.

“Bukan wawancara,” katanya sambil membuka pintu. “Tapi kalau kamu mau bawa notulen, silakan.”

Aku duduk. Dia menaruh satu lembar kertas di depanku, bukan slide, bukan tautan — kertas, dicetak, seperti orang yang tahu bahwa hal-hal tertentu harus bisa dipegang.

Head of Engineering — Arunika Surabaya.

“Kita buka kantor kedua Januari,” katanya. “Empat puluh orang tahun pertama, seratus dua puluh dalam tiga tahun. Butuh orang yang bisa bangun tim dari nol, bukan cuma jagain yang udah ada.”

Aku membaca kertas itu.

Ruang lingkupnya tiga kali lipat dari yang kupegang sekarang. Melapor langsung ke Tresna. Angka yang tertulis di baris paling bawah membuatku harus membacanya dua kali, dan aku bukan orang yang mudah terkesan oleh angka.

“Kenapa aku?”

“Karena empat bulan terakhir kamu ngerjain hal yang tiga manajer sebelum kamu nggak sanggup.” Aldi bersandar. “Zero Single Point itu bukan program teknis, Cyn. Itu program politik. Kamu ngambil pengetahuan dari orang-orang yang selama ini kuat justru karena mereka nyimpen pengetahuan, dan nggak ada satu pun dari mereka yang ngamuk. Aku belum pernah lihat orang bisa gitu.”

Aku meletakkan kertas itu.

“Kapan aku harus jawab?”

“Dua minggu.” Dia diam sebentar. “Dan aku mau bilang satu hal, dan setelah itu aku nggak akan bahas lagi selamanya.”

“Aldi—”

“Ini bukan soal itu.” Dia mengangkat tangan. “Ini soal kerjaan. Aku nggak nawarin ini buat mindahin kamu dari sini. Kalau kamu nolak, kamu tetap manajer di sini, dan aku tetap akan usulin kamu ke posisi berikutnya yang kosong. Itu janji, dan kamu boleh pegang.”

Aku percaya padanya. Itu bagian yang membuat semuanya lebih rumit.

“Tapi,” katanya, “kamu perlu tahu apa yang kamu tolak, kalau kamu nolak.”


Aku membawa kertas itu pulang dan menaruhnya di meja makan, dan aku duduk memandanginya sambil makan mi instan dengan piring yang salah.

Surabaya.

Enam ratus kilometer. Satu jam lima belas menit dengan pesawat. Bukan dua belas jam. Bukan belahan bumi yang lain. Aku bisa pulang setiap akhir pekan kalau aku mau, dan aku bisa tetap—

Tetap apa.

Aku menaruh sumpitku.

Itu pertanyaan yang benar, dan aku sudah menghindarinya selama tiga hari.

Tetap apa? Tetap duduk delapan meter dari seorang laki-laki yang menyapaku dengan sopan setiap pagi dan tidak akan pernah, sampai kapan pun, meminta apa pun dariku?

Aku sudah empat bulan di sana. Aku sudah mencoba minta maaf, memberi karier, masuk lewat tim, membuat aturan, menyusun program. Aku sudah melihat kalendernya, arsipnya, kolom nolnya, dinding kosongnya, dan satu baris dari berkas yang tidak berhak kubaca.

Dan hasil bersihnya, setelah empat bulan, adalah: satu gelas kopi hitam, satu percakapan jam tiga pagi yang dia tarik kembali sebelum matahari terbit, dan enam kata di tengah malam yang dia kirim satu kali lalu tidak pernah diulang.

Kalau aku menghitung ini sebagai proyek, aku akan menghentikannya.

Aku mengangkat kertas itu dan membacanya lagi, dan aku memikirkan sesuatu yang membuatku merasa jahat bahkan sebagai pikiran:

Mungkin justru ini yang dia butuhkan.

Mungkin selama aku ada di lantai sebelas, dia akan terus memasang wajah rata setiap pagi dan menghitung setiap percakapan dan tidur satu jam setelah insiden. Mungkin kehadiranku adalah bebannya. Mungkin hal paling baik yang bisa kulakukan untuk Ervan Bagaskara adalah pergi ke kota lain dan berhenti membuatnya harus menjadi seseorang setiap kali dia masuk lift.

Aku mencuci piringku.

Dan sambil mencuci, aku mendengar suaraku sendiri di kepala, dengan sangat jelas, menyusun versi yang jujur — dan versi yang jujur itu terdiri dari tiga kata, dan ketiganya sudah pernah kuucapkan sekali dalam hidupku, di bawah lampu jalan, di kota yang berjarak dua belas jam.

Aku mematikan keran.

Aku berdiri di depan wastafel dengan tangan basah dan menyadari bahwa aku baru saja, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, menemukan diriku di titik yang persis sama.

Terlalu lelah untuk melanjutkan. Meyakinkan diri bahwa pergi adalah bentuk kebaikan. Menyusun alasan yang begitu masuk akal sampai tidak terasa seperti melarikan diri.

Persis. Setiap langkahnya.

Dan tiga tahun lalu, akhir dari rangkaian pikiran ini adalah seorang laki-laki yang berdiri di bawah lampu jalan dengan tas di kakinya.

Aku mengeringkan tanganku dan mengambil kertas itu dari meja.

Aku tidak merobeknya. Aku bukan orang yang merobek kertas.

Aku memasukkannya ke laci paling bawah dan menutup lacinya.

Bukan karena aku sudah memutuskan.

Karena aku tahu, dengan kepastian yang tidak menyenangkan, bahwa alasan aku hampir mengambilnya adalah alasan yang sama persis dengan alasan tiga tahun lalu — dan kalau aku pergi memakai alasan itu untuk kedua kalinya, aku tidak akan pernah bisa berkata pada diriku bahwa yang pertama adalah kecelakaan.

Yang pertama boleh disebut kelelahan.

Yang kedua namanya karakter.


Aku memberi jawabanku pada Aldi dua hari kemudian, di kantin lantai dasar, sambil berdiri.

“Aku nggak ambil.”

Dia mengangguk pelan. Dia tidak terlihat kaget.

“Alasannya boleh aku tahu?”

“Belum selesai,” kataku.

“Apanya?”

“Kerjaanku.”

Aldi mengaduk kopinya. Dia adalah tipe orang yang membiarkan jeda berlangsung, dan aku sudah cukup mengenalnya untuk tahu bahwa itu bukan kekosongan, itu ruang yang sengaja dibuka.

“Cyn,” katanya akhirnya. “Boleh aku ngomong sesuatu yang mungkin nggak enak?”

“Boleh.”

“Empat bulan aku merhatiin.” Dia menaruh sendoknya. “Kamu ngerjain semuanya. Kamu ubah kebijakan lembur, kamu bikin program transfer, kamu tolak promosi. Semua orang di lantai sebelas berubah karena kamu.”

“Terus?”

“Dia nggak pernah minta satu pun dari itu.”

Aku memegang gelasku.

“Dan sekarang kamu nolak Surabaya,” lanjut Aldi, pelan, tanpa sedikit pun kekejaman di suaranya, “buat orang yang bahkan nggak pernah minta kamu tinggal.”

Aku tidak menjawab, karena tidak ada jawaban.

“Aku nggak bilang kamu salah,” katanya. “Aku cuma mau kamu denger kalimat itu dari luar kepala kamu sendiri, sekali aja. Karena kalau kamu udah denger dan kamu tetap milih itu, ya udah, aku diem.”

Dia menghabiskan kopinya dan berdiri.

“Aku tetap usulin kamu ke posisi berikutnya.”

“Makasih, Aldi.”

“Iya.” Dia menepuk meja sekali. “Tapi tolong jangan sampai posisi berikutnya itu kamu tolak juga.”


Aku naik ke lantai sebelas dan dia sedang berdiri di papan tulis dengan Kiki, menggambar sesuatu, spidol biru, lengan kemeja digulung sampai siku.

Naufal lewat sambil membawa tiga gelas kopi dan hampir menabrakku.

“Bu! Eh—maaf, Bu.”

“Hati-hati.”

“Iya, Bu. Ini yang satu buat Mas Ervan, yang satu buat Mas Kiki, yang satu—” dia melihat gelas ketiga, lalu melihatku, dan wajahnya berubah menjadi wajah orang yang tertangkap. “Ini buat Ibu. Mas Ervan yang nyuruh.”

Aku menerima gelas itu.

Hitam.

“Dia bilang apa waktu nyuruh?”

Naufal mengerutkan kening, berusaha mengingat dengan sangat serius, seperti anak yang diminta mengulang pesan orang tua.

“Bilangnya, ‘yang buat Bu Cyntia jangan salah tombol.’”

Naufal pergi.

Aku berdiri di tengah lantai sebelas memegang gelas kertas panas dengan dua tangan, sepuluh meter dari laki-laki yang tidak menoleh sekali pun dari papan tulisnya.

Kertas di laci paling bawah itu masih ada di sana. Aku tahu persis di mana.

Tapi aku tidak akan mengambilnya.