Chapter Thirty One
Kenapa Akhirnya Ngomong
POV: Ervan
Aku pulang dari taman itu pukul satu siang dan duduk di mobil di parkiran gedungku sendiri selama dua puluh menit tanpa mematikan mesin.
Aku sedang menghitung kerusakan.
Itu yang selalu kulakukan setelah sesuatu terjadi: aku membuka ulang seluruh kejadian dan memeriksa bagian mana yang rusak dan siapa yang menanggungnya. Aku sudah melakukannya ribuan kali. Aku bisa melakukannya sambil menyetir.
Kerusakan hari ini:
Satu perempuan menangis di kursi beton taman perumahan selama kira-kira dua puluh menit karena aku memutuskan untuk berbicara.
Itu saja daftarnya. Satu baris.
Dan aku duduk di mobil dengan mesin menyala dan menemukan bahwa untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak bisa menyelesaikan perhitungannya.
Karena biasanya baris berikutnya adalah kesimpulan: jadi seharusnya aku tidak melakukannya. Baris itu selalu ada. Baris itu yang membuat seluruh sistemku bekerja.
Hari ini baris itu tidak muncul.
Aku sudah memikirkan pertanyaan itu selama tiga minggu, dan yang kukatakan di taman tadi benar, tapi tidak lengkap.
Yang kukatakan: aku bicara karena dia berhenti mencoba.
Yang tidak kukatakan: aku bicara karena aku takut.
Tiga minggu itu, dia menjadi manajer terbaik yang pernah kulihat di gedung ini. Wiwi naik level. Kiki mendapat umpan balik yang membuatnya berhenti menyanggupi tiga proyek sekaligus. Program ditutup dua minggu lebih cepat.
Dan dia melewati pojokku setiap hari tanpa menoleh.
Aku sudah menyiapkan diri untuk hampir semua hal. Aku sudah menyiapkan diri untuk dia membenciku, untuk dia menikah dengan orang lain, untuk dia pindah ke kota lain, untuk dia berdiri di depan dewan dan mengambil kreditku.
Aku tidak pernah menyiapkan diri untuk dia baik-baik saja tanpa aku.
Itu satu-satunya kemungkinan yang tidak pernah kuhitung, dalam tiga tahun, dalam ribuan malam, dalam seribu tiga ratus enam belas baris.
Dan ternyata itu yang paling menakutkan.
Ini yang aku pelajari tentang diriku pada hari Sabtu itu, di dalam mobil, di parkiran, dengan mesin menyala:
Selama tiga tahun aku mengira aku sedang melindunginya.
Sebagian besar itu benar. Aku tidak akan berpura-pura sebaliknya. Aku benar-benar tidak ingin dia menanggung apa yang kutanggung, dan aku masih tidak ingin, dan kalau aku bisa memutar waktu aku akan tetap bilang tidak apa-apa di parkiran basement pada malam pertama itu.
Tapi ada bagian lain, dan bagian itu lebih kecil dan lebih kotor dan aku baru bisa melihatnya sekarang.
Selama aku menyimpan empat jam itu, aku memilikinya.
Selama ada sesuatu yang tidak dia ketahui, ada sesuatu di antara kami yang belum selesai. Selama belum selesai, dia akan terus mencari. Dan selama dia mencari, aku ada di dalam kepalanya setiap hari, sama seperti dia ada di dalam kepalaku setiap hari.
Diam itu bukan cuma perlindungan.
Diam itu tali.
Aku menghitungnya sekali lagi, di parkiran itu, dan hasilnya membuatku mematikan mesin dan duduk di dalam mobil yang mulai panas:
Aku sudah tiga tahun menahan seorang perempuan di sebuah ruangan dengan cara tidak pernah membuka pintunya.
Aku naik ke lantai empat.
Dua puluh satu meter persegi. Dinding kosong empat sisi. Satu gelas di rak, satu piring.
Aku berdiri di tengah ruangan itu dan melihatnya dengan cara yang belum pernah kulakukan.
Kalau ada orang lain masuk ke sini — bukan Cyntia, siapa pun, tukang antar paket — apa yang akan dia simpulkan tentang orang yang tinggal di sini?
Bahwa orang itu baru pindah.
Bahwa orang itu akan segera pindah lagi.
Bahwa orang itu tidak berencana tinggal.
Tiga tahun. Aku sudah di sini tiga tahun, dan ruangan ini masih terlihat seperti ruangan yang ditinggali oleh seseorang yang sedang menunggu sesuatu selesai.
Aku menarik kursi dari meja kerja.
Aku menaruhnya di depan lemari.
Dan aku berdiri di sana memegang sandaran kursi itu selama waktu yang tidak kuhitung — dan itu penting, karena aku menghitung segalanya, dan aku tidak menghitung yang ini.
Kardus itu di atas lemari.
Debunya rata di permukaan atas, tebal, jenis debu yang butuh bertahun-tahun. Lakbannya sudah menguning di tepi.
Aku belum pernah membukanya sejak aku mendarat kembali di Soekarno-Hatta tiga tahun lalu, memasukkan semuanya ke dalam, menutupnya, dan menaruhnya di tempat yang cukup tinggi sehingga aku harus benar-benar memutuskan untuk mengambilnya.
Aku naik ke kursi.
Debunya menempel di telapak tanganku.
Kardus itu jauh lebih ringan dari yang kuingat. Itu hal pertama yang menghantamku: seluruh benda ini, seluruh hal yang menghabiskan tiga tahun hidupku, beratnya kurang dari dua kilogram.
Aku turun dan menaruhnya di lantai.
Dan lalu aku duduk di lantai di sebelahnya, bersandar ke dinding kosong, dan tidak membukanya.
Aku duduk di sana sampai gelap.
Bukan karena aku tidak sanggup. Aku sanggup; aku tahu persis apa yang ada di dalamnya, aku menaruhnya sendiri, tidak akan ada kejutan bagiku.
Aku tidak membukanya karena aku sedang memutuskan sesuatu yang lain.
Ada dua cara.
Cara pertama: aku buka sendiri malam ini, aku baca semuanya sekali lagi, lalu aku bakar atau buang atau simpan, dan besok aku masuk kerja dan tidak seorang pun akan pernah tahu bahwa benda ini pernah ada. Itu cara yang bersih. Itu cara yang selama tiga tahun akan selalu kupilih, dan yang lebih penting, itu cara yang tidak merepotkan siapa pun.
Cara kedua membuat perutku dingin hanya karena memikirkannya.
Cara kedua adalah: aku tidak membukanya sendirian.
Aku memikirkan alasannya sepanjang sore, dan alasannya adalah alasan yang tidak pernah kupakai untuk apa pun dalam tiga tahun terakhir.
Bukan karena dia berhak tahu — itu argumen, dan aku bisa mematahkan argumen itu dalam dua kalimat.
Bukan karena dia akan merasa lebih baik — dia tidak akan merasa lebih baik.
Alasannya adalah: aku tidak mau membukanya sendirian.
Itu saja. Kalimat itu muncul di kepalaku sekitar pukul lima sore, telanjang, tanpa pembenaran apa pun di belakangnya, dan aku duduk bersandar di dinding kosong dan memeriksanya dari segala sisi mencari argumen tandingan, dan tidak menemukan satu pun.
Aku sudah tiga tahun tidak menginginkan apa pun.
Aku lupa betapa menakutkannya.
Menginginkan sesuatu itu artinya menaruh sesuatu di luar dirimu dan membiarkan orang lain memegangnya. Selama tiga tahun aku tidak pernah menaruh apa pun di luar. Itu sebabnya tidak ada yang bisa jatuh.
Aku menghitung berapa hal yang kuinginkan hari ini, dan hasilnya satu, dan satu itu adalah hal paling kecil yang bisa dibayangkan seseorang:
Aku ingin ada orang lain di ruangan waktu kardus itu dibuka.
Bukan supaya dia tahu. Bukan supaya dia mengerti.
Supaya aku tidak sendirian waktu melihatnya.
Aku mengambil ponselku pukul delapan malam.
Aku mengetik, dan kali ini tidak empat belas versi. Satu.
Ada satu hal lagi. Aku nggak bisa cerita, harus liat sendiri. Besok bisa ke tempatku?
Terkirim.
Titik-titik muncul hampir seketika. Berhenti. Muncul lagi.
Jam berapa?
Kapan aja.
Jam sembilan.
Dan lalu, sepuluh detik kemudian:
Ervan.
Ya.
Kamu nggak harus.
Aku menatap tiga kata itu di layar untuk waktu yang lama.
Empat setengah bulan dia mengejarku dengan setiap alat yang dia punya. Dia merampas kreditku di depan dewan direksi supaya aku marah. Dia menghancurkan kariernya sendiri supaya aku dapat pengakuanku kembali.
Dan sekarang, ketika akhirnya aku membuka pintunya sendiri, hal pertama yang dia lakukan adalah memberitahuku bahwa aku boleh menutupnya lagi.
Aku mengetik balasan dan menghapusnya. Mengetik lagi.
Aku tahu. Tapi aku mau.
Aku menaruh ponselku telungkup di lantai, seperti biasa, dan bersandar ke dinding kosong di sebelah kardus yang sudah turun dari atas lemari untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Tapi aku mau.
Aku memikirkan kalimat itu sampai lewat tengah malam.
Tiga kata terakhirnya adalah tiga kata yang tidak pernah kuucapkan kepada siapa pun sejak aku dua puluh enam tahun.
- 1 Nama di Baris Ketujuh
- 2 Lima Belas Menit
- 3 Diterima, Bukan Dimaafkan
- 4 Enam Hari
- 5 Diberikan ke Junior
- 6 Bandar Taruhan
- 7 Kopi Tanpa Susu
- 8 Nol Jam Lembur
- 9 Laki-Laki yang Lebih Mudah
- 10 Kardus di Atas Lemari
- 11 Empat Belas Juni
- 12 Perintah untuk Protes
- 13 Adik yang Tidak Menyapa
- 14 Hampir Pindah
- 15 Yang Dihitung
- 16 Kata yang Dibuang
- 17 Terjebak Aturan Sendiri
- 18 Circuit Breaker
- 19 Migrasi
- 20 draft.txt
- 21 Tawaran ke Kota Lain
- 22 Empat Puluh Jam
- 23 Empat Jam di Lorong
- 24 Panik, Bukan Haru
- 25 Surat yang Tidak Ditandatangani
- 26 Kredit yang Dirampas
- 27 Aku Tahu
- 28 Marah
- 29 Berhenti
- 30 Empat Jam
- 31 Kenapa Akhirnya Ngomong reading
- 32 Isi Amplop
- 33 Yang Meminta Duluan
- 34 Mode Hemat
- 35 Menu, Film, Warna
- 36 Kiki Menang Taruhan
- 37 Tahun Pertama
- 38 Frankfurt
- 39 Aku yang Nyuruh Kamu Pergi
- 40 Gagal Lagi
- 41 Aku Capek
- 42 Dua Kata
- 43 Potong Rambut
- 44 Amplop Kedua