← Empat Jam

Chapter One

Nama di Baris Ketujuh

POV: Cyntia


Lift di Gedung Amerta selalu penuh pukul delapan empat puluh lima, dan aku sudah tahu itu sejak hari pertama aku wawancara. Yang belum kutahu adalah bahwa di dalam lift sesak itu, aku akan membaca sebuah nama dan lupa cara bernapas.

Aku membuka daftar tim di layar ponsel karena tidak ada yang lebih baik untuk dilakukan dengan tanganku. Empat belas orang. Backend, infrastruktur, data. Aku sudah membacanya dua kali semalam, tapi semalam aku membacanya sambil setengah tidur, dan otakku pasti memutuskan bahwa ada hal-hal yang lebih baik disimpan untuk pagi.

Baris pertama, Tresna Wijaya, CTO. Bukan timku, cuma tercantum.

Baris kedua sampai keenam, nama-nama yang kuhafal semalam.

Baris ketujuh.

Ervan Bagaskara — Senior Staff Backend Engineer / IT Solution Architect.

Lift berhenti di lantai enam. Orang keluar, orang masuk. Seseorang bilang permisi dan aku bergeser tanpa merasakan kakiku bergeser.

Ada tiga kemungkinan, kataku pada diriku sendiri, dengan suara yang di kepalaku terdengar sangat tenang dan sangat profesional. Satu: nama yang sama, orang yang berbeda. Dua: dia sudah resign dan daftarnya belum diperbarui. Tiga—

Pintu lift terbuka di lantai sebelas.

Aku tidak sempat memikirkan kemungkinan ketiga karena aku sudah melihatnya.

Dia berdiri di pantry, membelakangiku, menuangkan air panas ke gelas kertas. Aku mengenali punggung itu dengan cara yang tidak masuk akal, cara yang tidak bisa kujelaskan kepada siapa pun, karena tiga tahun seharusnya cukup untuk membuat sebuah punggung menjadi punggung siapa saja.

Rambutnya panjang sekarang. Sebahu, diikat rendah di tengkuk.

Dulu cepak. Dulu dia potong rambut tiap tiga minggu, di tempat yang sama, dengan tukang cukur yang sama, karena katanya kalau sudah nemu yang cocok jangan cari-cari lagi.

Aku ingat pernah menertawakan kalimat itu di angkot, dan dia bertahan mati-matian selama dua puluh menit perjalanan, menjelaskan dengan serius kenapa mengganti tukang cukur adalah keputusan berisiko tinggi dengan imbal hasil rendah. Dia bicara terus sampai kami turun. Dia selalu bicara terus. Itu hal pertama yang membuatku menyukainya dan hal terakhir yang kuingat hilang.

Sekarang rambutnya panjang, dan aku berdiri di lantai sebelas sebuah gedung perkantoran memikirkan berapa lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk berhenti peduli pada rambutnya sendiri.

Tiga tahun, kira-kira.

Aku berdiri di depan lift yang sudah menutup di belakangku, memegang laptop di dada seperti perisai, dan berpikir: aku bisa turun. Aku bisa bilang ada urusan di lantai dasar. Aku baru saja jadi manajer di sini selama sebelas menit, tidak ada yang akan bertanya ke mana aku pergi.

Lalu aku berjalan masuk.


Rapat perkenalan dijadwalkan pukul sembilan di ruang Sirius. Ruangannya berdinding kaca dari lantai sampai langit-langit, menghadap ke seluruh area engineering, sehingga siapa pun yang duduk di dalamnya bisa dilihat semua orang dan tidak bisa didengar siapa pun. Belakangan aku akan berpikir bahwa ruangan itu dirancang khusus untukku dan dia, oleh seseorang yang punya selera humor sangat buruk.

Aku masuk delapan menit lebih awal. Kebiasaan lama: datang duluan, duduk menghadap pintu, kuasai ruangan sebelum ruangan menguasaimu. Aku menaruh buku catatan kecilku di meja, membuka halaman kosong, dan menulis tanggal.

Mereka masuk bergerombol. Anak berkaus hitam bertuliskan nama distro yang tidak kukenal — Rizky, dipanggil Kiki, yang langsung memperkenalkan diri sebelum aku sempat bertanya dan langsung menawarkan diri untuk menunjukkan mesin kopi yang benar karena “yang di pantry itu jebakan, Bu.” Perempuan bertubuh kecil dengan kacamata bulat dan wajah yang sudah lelah pada pukul sembilan pagi — Dwi Anggraini, QA Lead, panggil saja Wiwi. Anak magang bernama Naufal yang menyalamiku dengan dua tangan seperti menyalami wali kelas.

Lalu dia.

Dia masuk paling terakhir, dan dia berdiri dari kursinya lagi ketika Tresna menyebut namaku.

“Ervan Bagaskara,” katanya. “Backend, sekaligus pegang arsitektur.”

Dia mengulurkan tangan.

Aku menyambutnya. Tangannya kering dan hangat dan dilepas tepat pada hitungan kedua, tidak kurang tidak lebih, seperti orang yang sudah menghitungnya sebelumnya.

“Selamat pagi, Bu Cyntia,” katanya.

Aku tidak tahu apa yang kuharapkan. Mungkin dia pucat. Mungkin dia menarik napas. Mungkin ada sesuatu di wajahnya yang retak sedikit saja, cukup untuk memberitahuku bahwa aku bukan satu-satunya orang di ruangan ini yang sedang berdiri di atas lantai yang tidak ada.

Tidak ada apa-apa.

Wajahnya rata seperti dinding yang baru dicat.

“Selamat pagi,” kataku.

Suaraku keluar. Itu saja sudah pencapaian.


Rapat berjalan sembilan puluh menit. Aku memandu, karena itu pekerjaanku sekarang: mendengar, memetakan, mencatat siapa memegang apa, dan berpura-pura belum tahu jawabannya padahal sudah membaca semua dokumentasi tiga malam terakhir.

Yang tidak kuduga adalah betapa banyak dokumentasi itu tidak berguna, dan betapa banyak jawaban yang sebenarnya hanya ada di kepala satu orang.

“Siapa yang paham billing service lama?”

“Saya, Bu.” Ervan.

“Yang megang integrasi mitra logistik?”

“Saya juga.”

“Kalau reconciliation job gagal tengah malam, siapa yang dipanggil?”

Kiki tertawa kecil, dan itu jawaban yang cukup.

Aku mencatat di bukuku: bus factor 1. Lalu kucoret. Lalu kutulis lagi.

Tresna melirik ke arahku ketika aku menulisnya, dan aku tahu dia sudah tahu. Itu sebabnya aku direkrut. Bukan untuk membangun apa pun. Untuk membongkar isi kepala satu orang dan menyebarkannya ke tiga belas orang lain, supaya kalau orang itu suatu hari tidak masuk, perusahaan ini tidak berhenti bernapas.

Pekerjaanku, secara harfiah, adalah membuat Ervan Bagaskara tidak lagi diperlukan.

Aku menutup bukuku.

Setiap kali aku bertanya, dia menjawab. Lengkap, runut, tanpa jeda, tanpa satu pun kata yang berlebih. Dia menjelaskan kenapa sistem pembayaran mitra dibangun dengan cara yang salah lima tahun lalu, kenapa memperbaikinya sekarang berarti menghentikan pendapatan selama satu akhir pekan penuh, dan kenapa tidak ada yang berani menyentuhnya sejak dua tech lead sebelumnya menyerah. Dia melakukannya tanpa menyalahkan siapa pun. Dia melakukannya seperti orang membaca ramalan cuaca.

Dan selama sembilan puluh menit itu, dia tidak menatapku sekali pun.

Bukan menghindar dengan cara yang canggung. Bukan menunduk. Dia menatap layar, menatap Tresna, menatap Kiki, menatap papan tulis, menatap gelas kertasnya. Matanya bekerja sepanjang rapat. Semua tempat kecuali satu.

Kalau dia membuang muka, aku akan tahu apa artinya. Aku sudah menyiapkan diri untuk itu selama penerbangan sepuluh jam, selama antre imigrasi, selama tiga minggu wawancara, selama tiga tahun.

Tapi ini bukan membuang muka. Ini rapi. Ini dilatih.

Dan pada menit kedelapan puluh, ketika Tresna bertanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memigrasikan basis data mitra, dia menjawab tanpa berpikir sedetik pun:

“Empat jam, Pak. Kalau bersih.”

Aku menulis empat jam di bukuku, entah kenapa. Aku bahkan tidak sedang mencatat jadwal.


Rapat bubar. Orang-orang berdiri, meregangkan badan, mengeluh soal AC yang terlalu dingin. Kiki sudah setengah jalan menawarkan taruhan apa pun kepada Naufal tentang sesuatu yang tidak sempat kudengar.

Ervan menutup laptopnya, mendorong kursinya masuk sampai rapat ke meja, dan berjalan keluar.

Aku memberi diriku waktu sampai hitungan lima, lalu keluar juga.

Dia sudah duduk di mejanya di pojok, dan aku melihat mejanya untuk pertama kalinya dari jarak dekat.

Dua monitor. Satu keyboard. Satu mouse. Satu gelas kertas.

Tidak ada apa-apa lagi.

Tidak ada foto, tidak ada tanaman kecil yang setengah mati, tidak ada botol minum, tidak ada tumpukan camilan, tidak ada tiket konser yang ditempel di pinggir layar, tidak ada satu pun benda yang memberi tahu dunia bahwa ada seorang manusia yang duduk di sana setiap hari selama bertahun-tahun. Meja itu bisa dikosongkan dalam empat puluh detik dan tidak akan ada bukti bahwa dia pernah ada.

Dulu meja kerjanya di kosan berantakan sampai aku tidak bisa menaruh gelas. Dulu dia menempel struk bioskop di dinding, semuanya, bahkan film yang jelek.

Wiwi berhenti di sampingku sambil memegang dua gelas kopi, mengikuti arah pandanganku, lalu meminum kopinya sendiri.

“Mas Ervan,” katanya, tanpa nada apa pun. “Jangan kaget kalau dia nggak pernah ngeluh.”

“Kenapa?”

Wiwi mengangkat bahu.

“Tiga tahun saya di sini, saya belum pernah dengar dia minta apa pun.”

Dia berjalan pergi.

Aku berdiri di tengah lantai sebelas, di antara meja-meja yang penuh benda-benda kecil milik orang-orang yang punya hidup, memandangi satu meja yang kosong, dan menyadari sesuatu yang membuat perutku dingin.

Aku pikir aku datang ke sini untuk menghadapi kemarahannya.

Ternyata tidak ada kemarahan yang perlu dihadapi. Tidak ada satu pun.

Dan aku belum tahu mana yang lebih buruk.