Chapter Twenty Nine
Berhenti
POV: Cyntia
Aku berhenti pada hari Selasa, dan tidak seorang pun tahu bahwa aku berhenti, karena bentuknya adalah aku bekerja dengan sangat baik.
Ini yang kulakukan selama tiga minggu berikutnya:
Aku datang pukul delapan lewat lima belas dan pulang pukul tujuh. Aku menjalankan tujuh belas rapat satu lawan satu dan menyelesaikan seluruhnya tepat waktu. Aku menutup program Zero Single Point dua minggu lebih cepat dari target dan menulis laporan penutupnya dalam empat halaman tanpa satu pun kalimat yang berlebih.
Aku memberi Kiki umpan balik yang jujur tentang kebiasaannya menyanggupi terlalu banyak. Aku mengusulkan kenaikan level untuk Wiwi, yang sudah tertunda dua tahun karena tidak ada yang mengurusnya. Aku memperbaiki proses onboarding yang membuat Naufal menghabiskan tiga minggu pertamanya menebak-nebak.
Aku memperlakukan Ervan Bagaskara persis seperti aku memperlakukan tiga belas orang lainnya.
Dan aku ingin mencatat betapa mudahnya itu, secara teknis.
Aku sudah sembilan tahun bekerja. Aku tahu persis cara memperlakukan seseorang dengan profesional sempurna dan nol kehangatan; itu keterampilan dasar, semua manajer punya, kami memakainya setiap hari untuk orang-orang yang tidak kami sukai.
Yang tidak pernah kuduga adalah bahwa memakainya untuk orang yang kucintai ternyata memakai bagian tubuh yang sama sekali berbeda.
Setiap balasan email dua jam. Setiap “terima kasih, sudah saya catat”. Setiap kali aku melewati pojok itu tanpa menoleh.
Butuh tenaga. Setiap kali. Butuh tenaga seperti mengangkat sesuatu.
Sesi satu lawan satu setiap dua minggu, tiga puluh menit, agenda dikirim sehari sebelumnya. Umpan balik disampaikan dalam kalimat yang sama datarnya dengan yang kupakai untuk Rio. Ketika dia mengirim dokumen, aku membalas dalam dua jam dengan komentar yang spesifik dan tanpa satu pun kata yang bisa dibaca sebagai apa pun.
Aku berhenti menunggu di parkiran. Aku berhenti naik ke lantai dua belas. Aku berhenti mencari alasan untuk lewat pojok.
Dan aku berhenti mengejar.
Itu bagian yang paling sulit, dan aku ingin sangat jujur tentang bagaimana rasanya: rasanya seperti berhenti dari sesuatu yang selama ini menjadi satu-satunya alasanku bangun pagi.
Empat bulan aku hidup dari satu bahan bakar. Setiap pagi ada pertanyaan yang sama di kepalaku begitu mataku terbuka: hari ini aku coba apa.
Dan sekarang pertanyaan itu tidak ada, dan yang tersisa hanyalah pekerjaan, dan aku menemukan bahwa pekerjaan itu sendiri sebenarnya cukup untuk mengisi dua belas jam sehari, dan itu justru yang membuatku sadar betapa banyak waktu yang selama ini kuhabiskan untuk sesuatu yang bukan pekerjaan.
Yang tidak kuhentikan adalah satu hal.
Aku tetap memayunginya.
Bukan sebagai gestur. Sebagai pekerjaan manajer, yang memang tugasku, dan yang selama empat bulan tercampur dengan hal lain sampai aku sendiri tidak bisa membedakannya.
Minggu pertama: Tresna meminta Ervan memimpin audit keamanan lintas tim. Empat minggu penuh, di luar ruang lingkupnya. Aku menolak, dengan alasan beban tim dan penutupan program, dan menawarkan dua nama lain.
Minggu kedua: tim produk meminta sesi “brainstorm arsitektur” mingguan dengan Ervan, yang artinya delapan jam sebulan untuk rapat tanpa hasil. Aku memotongnya menjadi sekali sebulan dan memindahkan Kiki ke sana.
Minggu ketiga: HR menjadwalkan pelatihan wajib “Kepemimpinan Teknis” untuk semua Senior Staff, dua hari penuh, di hotel, dengan permainan kelompok. Aku membaca silabusnya, menilai bahwa itu tidak akan memberi manfaat apa pun kepada siapa pun, dan mengecualikan seluruh timku, bukan hanya dia.
Aku tidak memberitahunya satu pun dari itu.
Aku tidak menuliskan namaku di mana pun. Penolakan-penolakan itu dikirim dari akunku, tapi isinya selalu tentang kapasitas tim, bukan tentang satu orang, dan itu benar. Aku tidak berbohong sekali pun.
Aku hanya berhenti memberitahunya bahwa aku ada.
Wiwi menangkapku di minggu ketiga.
“Ibu nolak permintaan audit dari Pak Tresna.”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena empat minggu di luar ruang lingkup, dan timnya baru selesai program besar.”
Wiwi menyandarkan bahunya ke dinding pantry.
“Bu, saya baca alasannya. Bagus. Nggak ada yang bisa dibantah.” Dia meminum kopinya. “Cuma saya juga baca yang minggu lalu, sama yang kemarin. Tiga kali dalam tiga minggu, dan tiga-tiganya kebetulan yang paling kena Mas Ervan.”
“Aku nggak bisa ngatur permintaan siapa yang datang.”
“Enggak.” Dia mengangguk pelan. “Tapi Ibu bisa ngatur mana yang Ibu tolak.”
Aku mencuci gelasku.
“Wi, kalau ada dari itu yang menurut kamu keputusan manajerial yang salah, bilang. Aku serius. Kamu satu-satunya orang di lantai ini yang bakal bilang.”
Wiwi berpikir cukup lama.
“Nggak ada,” katanya akhirnya. “Semuanya keputusan yang bener.”
“Ya udah.”
“Bu.”
Aku berhenti di ambang pantry.
“Dia nggak tahu, kan.”
“Nggak,” kataku. “Dan aku mau begitu.”
Wiwi menaruh gelasnya.
“Ibu tahu itu apa namanya?”
“Enggak.”
“Itu namanya sayang,” katanya. “Yang versi nggak ada gunanya buat Ibu sendiri.”
Sesi satu lawan satu ketiga berlangsung pada Kamis minggu ketiga, tiga puluh menit, pukul empat sore.
Dia datang tepat waktu. Kami membahas empat butir agenda. Semuanya selesai dalam dua puluh dua menit.
“Ada lagi?” tanyaku.
“Nggak ada, Bu.”
“Oke. Makasih.”
Aku menutup laptopku dan mulai membereskan buku catatanku, dan dia tidak berdiri.
Aku mengangkat wajahku.
Dia masih duduk di sana, tangan di pangkuan, menatap meja.
“Ervan?”
“Bu,” katanya. “Boleh saya tanya sesuatu?”
“Boleh.”
Dia mengangkat wajahnya, dan ada sesuatu di sana yang membuat perutku bergerak, karena itu adalah wajah yang belum pernah kulihat selama empat setengah bulan.
Wajah orang yang tidak tahu.
“Ibu ganti obat?”
Aku mengerutkan kening.
“Apa?”
“Bukan—” Dia menekan pelipisnya. “Maksud saya, apa ada yang berubah. Di rumah, atau kesehatan, atau apa pun. Karena tiga minggu ini Ibu beda.”
“Beda gimana?”
“Ibu kerja lebih bagus dari sebelumnya,” katanya. “Rapat lebih cepat. Umpan balik lebih tajam. Wiwi naik level, dan itu harusnya udah dari dua tahun lalu, dan nggak ada yang ngurus sampai Ibu.”
“Terus masalahnya?”
Dia diam.
“Ervan, terus masalahnya apa?”
“Nggak ada masalah, Bu.” Dia berdiri. “Bagus. Beneran.”
Dia mengambil laptopnya, berjalan ke pintu, dan berhenti dengan tangan di gagangnya.
Sepuluh detik, mungkin. Lima belas.
Dia berdiri di sana dan tidak membuka pintunya, dan aku duduk di kursiku dan tidak berkata apa-apa, karena aku sudah berhenti, dan berhenti berarti tidak menangkap.
“Bu.”
“Iya.”
Dia tidak berbalik.
“Nggak jadi,” katanya.
Dan dia keluar.
Aku duduk di ruang Sirius selama sepuluh menit setelah dia pergi.
Empat bulan aku mengejar. Dia berjalan menjauh setiap kali, dengan sopan, dengan sempurna, tanpa satu pun retakan.
Tiga minggu aku berhenti mengejar.
Dan hari ini dia berdiri di depan pintu selama lima belas detik dengan tangan di gagangnya.
Aku tidak merasa menang. Aku ingin mencatat itu dengan jelas, karena aku tahu bagaimana cerita seperti ini biasanya dituliskan, dan itu bukan yang terjadi.
Yang kurasakan adalah takut.
Karena kalau berhenti mengejar adalah yang membuatnya berbalik, maka selama empat bulan aku bukan sedang menyembuhkan apa pun.
Aku sedang menahannya di tempat.
Setiap kali aku mendatanginya dengan rasa bersalahku, dia harus berdiri diam dan menerima. Dan orang yang harus berdiri diam tidak bisa bergerak ke mana-mana.
Aku menutup buku catatanku dan menulis satu baris di halaman terakhir, dan itu adalah catatan terpendek yang pernah kutulis tentang seluruh urusan ini:
Berhenti. Beneran berhenti. Bukan taktik.
Lalu aku pulang, dan aku memasak dengan benar untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, dan aku tidur delapan jam.
Hari Jumat, Kiki menghampiriku dengan wajah yang tidak biasa.
“Bu, boleh nanya hal aneh?”
“Boleh.”
“Mas Ervan sakit lagi?”
“Setahuku enggak. Kenapa?”
“Nggak, cuma—” Kiki menggaruk lehernya. “Tiga minggu ini dia nanya-nanya aneh. Kemarin dia nanya saya, kalau saya kerja lembur terus istri saya nggak protes, itu artinya apa.”
Aku menaruh penaku.
“Kamu jawab apa?”
“Saya jawab artinya istri saya udah nyerah, Bu.” Kiki tertawa, lalu berhenti tertawa. “Terus dia diem lama banget. Terus dia bilang makasih.”
Dan pada hari Sabtu, pukul sembilan pagi, ponselku menyala di atas meja dapur.
Satu pesan.
Bukan dari nomor kantor. Bukan lewat kanal tim.
Kamu di rumah? Aku mau ngomong sesuatu. Bukan soal kerjaan.
- 1 Nama di Baris Ketujuh
- 2 Lima Belas Menit
- 3 Diterima, Bukan Dimaafkan
- 4 Enam Hari
- 5 Diberikan ke Junior
- 6 Bandar Taruhan
- 7 Kopi Tanpa Susu
- 8 Nol Jam Lembur
- 9 Laki-Laki yang Lebih Mudah
- 10 Kardus di Atas Lemari
- 11 Empat Belas Juni
- 12 Perintah untuk Protes
- 13 Adik yang Tidak Menyapa
- 14 Hampir Pindah
- 15 Yang Dihitung
- 16 Kata yang Dibuang
- 17 Terjebak Aturan Sendiri
- 18 Circuit Breaker
- 19 Migrasi
- 20 draft.txt
- 21 Tawaran ke Kota Lain
- 22 Empat Puluh Jam
- 23 Empat Jam di Lorong
- 24 Panik, Bukan Haru
- 25 Surat yang Tidak Ditandatangani
- 26 Kredit yang Dirampas
- 27 Aku Tahu
- 28 Marah
- 29 Berhenti reading
- 30 Empat Jam
- 31 Kenapa Akhirnya Ngomong
- 32 Isi Amplop
- 33 Yang Meminta Duluan
- 34 Mode Hemat
- 35 Menu, Film, Warna
- 36 Kiki Menang Taruhan
- 37 Tahun Pertama
- 38 Frankfurt
- 39 Aku yang Nyuruh Kamu Pergi
- 40 Gagal Lagi
- 41 Aku Capek
- 42 Dua Kata
- 43 Potong Rambut
- 44 Amplop Kedua