Chapter Thirty
Empat Jam
POV: Ervan
Aku mengetik pesan itu empat belas kali sebelum mengirimnya.
Bukan kiasan. Aku menghitung, karena aku selalu menghitung. Empat belas versi, sebagian besar dihapus sebelum baris pertama selesai, dan yang akhirnya terkirim adalah yang paling pendek, karena semua versi lainnya berbohong dengan cara yang berbeda-beda.
Kamu di rumah? Aku mau ngomong sesuatu. Bukan soal kerjaan.
Dia membalas dalam dua menit dengan alamat.
Aku sudah tahu alamatnya. Ada di berkas kepegawaian, dan aku pernah melihatnya sekali, delapan bulan lalu, ketika HR memintaku memverifikasi sesuatu yang tidak ada hubungannya. Aku melihat satu baris yang bukan urusanku dan langsung menutupnya, dan aku ingat alamat itu selama delapan bulan seperti orang mengingat nomor telepon yang tidak pernah dia hubungi.
Aku sampai pukul setengah sebelas.
Dia turun dengan kaus dan celana panjang dan rambut diikat asal, dan itu membuat sesuatu di dadaku bergerak dengan cara yang tidak adil, karena aku belum pernah melihatnya seperti ini selama empat setengah bulan.
Selama empat setengah bulan dia selalu blazer, selalu rapi, selalu Bu Cyntia.
“Kamu mau naik?”
“Nggak usah.”
“Ada warung kopi di ujung jalan.”
“Boleh.”
Kami berjalan ke sana dan warungnya penuh, jadi kami membeli dua gelas dan berjalan lagi, dan akhirnya duduk di kursi beton taman kecil di antara dua blok apartemen, jenis taman yang dibangun pengembang supaya bisa ditulis di brosur.
Sabtu pagi. Ada bapak-bapak menjemur burung. Ada anak kecil bersepeda roda tiga sambil diikuti pengasuhnya.
Aku memegang gelas kopiku dan tidak meminumnya.
“Kamu bilang bukan soal kerjaan.”
“Iya.”
“Oke.”
Dan dia diam.
Itu yang paling sulit. Kalau dia bertanya, aku bisa menjawab; menjawab itu mudah, aku sudah tiga tahun ahli dalam menjawab. Tapi dia tidak bertanya apa-apa. Dia duduk di kursi beton dengan gelas di dua tangan dan menunggu, dan tidak ada satu pun pertanyaan yang bisa kuisi.
Tiga minggu terakhir dia begitu. Dia berhenti mengetuk. Dan aku menemukan bahwa aku tidak sanggup dengan pintu yang tidak diketuk.
“Aku mau cerita satu hal,” kataku. “Dan aku cuma bisa sekali. Aku nggak akan bisa ngulang, jadi kalau ada yang nggak jelas, tanya sekarang, bukan besok.”
Dia menoleh.
“Oke.”
Aku menatap ke depan, ke pagar taman, ke bapak-bapak dengan burungnya.
“Waktu itu aku nunggu kamu empat jam.”
Aku merasakan dia berhenti bergerak di sebelahku.
Dia tidak bertanya waktu itu kapan. Dia tahu waktu itu kapan.
“Pesawatku mendarat jam setengah enam pagi,” kataku.
Aku sudah bangun sebelum lampu kabin menyala. Tidak bisa tidur sama sekali, dua belas jam, transit dua kali. Aku menghabiskan sebagian besarnya membaca ulang catatan di ponselku, dan sebagian lagi mengulang kalimat di kepala.
Aku sudah menyusun kalimatnya sejak dua minggu sebelumnya. Aku sudah merevisinya lebih banyak daripada dokumen apa pun yang pernah kutulis.
Aku turun, mengambil koper, keluar. Suhu di luar sembilan derajat dan aku memakai jaket yang salah karena aku tidak pernah ke negara dingin sebelumnya.
Aku mengirim foto papan kedatangan pukul enam kurang.
Kau membalasnya pukul sepuluh.
Empat jam.
Aku duduk di bangku area kedatangan selama empat jam itu, dan aku ingin kau tahu bahwa aku tidak marah sedikit pun. Aku benar-benar tidak marah. Aku tahu kau ujian. Aku sudah menghitung kemungkinan itu sebelum aku membeli tiketnya, dan aku sudah memutuskan bahwa kejutan yang gagal tetap lebih baik daripada tidak ada kejutan.
Yang kuingat dari empat jam itu adalah bahwa aku menghabiskannya dengan bahagia.
Itu bagian yang tidak pernah kuceritakan ke siapa pun, karena orang selalu mengira bagian menunggunya yang menyakitkan.
Aku duduk di bangku bandara di negara asing dengan koper di kaki dan sesuatu di dalam tas, dan aku menyusun ulang urutan hari itu di kepala, dan aku merasa seperti orang yang paling beruntung di gedung itu.
Kau membalas pukul sepuluh. Maaf baru buka HP, hari ini padat banget, nanti aku kabari ya.
Aku membalas: santai, aku nggak buru-buru.
Dan aku menulis kalimat itu sambil tersenyum. Aku ingat tersenyum.
Aku naik kereta ke kota dan menaruh koperku di penginapan yang sudah kupesan, dan lalu aku pergi ke kampusmu, karena aku sudah menghafal petanya dari internet selama tiga minggu.
Ada kafe di seberang gerbang utara. Aku sudah tahu tentang kafe itu sebelum aku sampai, karena kau pernah menyebutnya sekali, di video call bulan Maret, sebagai tempat yang kopinya mahal.
Aku duduk di sana pukul dua belas lewat.
Aku memesan yang paling murah dan menghitung berapa lama aku boleh duduk sebelum harus memesan lagi.
Aku memesan tiga kali.
Kafe itu tutup pukul lima sore, dan pelayannya — anak muda, mungkin seumuranmu — bilang sesuatu yang tidak kumengerti dan menunjuk jam, dan aku bilang sorry, sorry, dan aku keluar.
Aku menunggu di halte di depan kafe.
Hujan mulai turun pukul enam. Bukan hujan besar. Jenis hujan yang di sana biasa dan di sini akan disebut gerimis, tapi sembilan derajat, dan jaketku salah.
Kau menghubungiku pukul delapan lewat empat puluh. Kau bilang kau baru selesai shift. Kau bilang kau ke sini sekarang.
Kau sampai jam sembilan lewat.
Aku ingin menyisipkan satu hal di sini, dan ini satu-satunya bagian yang mungkin terdengar seperti aku menuntut, dan aku tidak menuntut.
Selama tiga jam di halte itu, aku memikirkan sesuatu yang tidak pernah kuceritakan ke siapa pun.
Aku memikirkan bahwa kalau kau tidak datang malam itu, aku akan tetap di sana sampai pagi.
Bukan karena aku setia. Karena aku tidak punya tempat lain untuk menaruh diriku. Aku sudah menyerahkan seluruh isi hidupku ke satu titik di peta, dan titik itu adalah kau, dan orang yang melakukan itu tidak punya rencana cadangan.
Dan waktu aku menyadarinya — berdiri di halte, sembilan derajat, jam delapan malam — aku merasa ngeri pada diriku sendiri.
Karena tidak ada satu manusia pun yang sanggup jadi satu-satunya tempat bagi manusia lain.
Dan aku sudah enam bulan meminta kau menjadi itu, tanpa pernah sekali pun mengatakannya, tanpa pernah sekali pun menyebutnya permintaan.
“Ervan.”
Suara Cyntia di sebelahku.
Aku tidak berhenti, karena kalau aku berhenti sekarang aku tidak akan bisa mulai lagi.
Kau berjalan dari arah halte dan kau memakai jaket biru dan wajahmu — Cyn, wajahmu.
Aku sudah menyusun kalimatku selama dua minggu, dan aku membuangnya dalam dua detik, karena kau datang dengan wajah orang yang sudah tidak tidur selama berbulan-bulan.
Kau tidak terlihat senang melihatku.
Kau terlihat takut.
Dan aku berdiri di sana di bawah lampu jalan dengan air di rambutku dan menyadari sesuatu yang tidak pernah kusadari selama enam bulan sebelumnya: bahwa setiap pesanku yang tidak kau balas bukan karena kau tidak peduli.
Karena kau tidak sanggup membukanya.
Karena setiap kali ponselmu menyala dengan namaku, kau harus menghadapi seseorang yang tidak pernah marah, dan seseorang yang tidak pernah marah tidak bisa dilunasi.
Aku berdiri di sana dan aku mengerti seluruhnya, dalam waktu kira-kira empat detik, dan yang kurasakan bukan patah hati.
Yang kurasakan adalah malu.
Kau bilang, “Aku capek.”
Dan aku bilang, “Iya.”
Kau bilang beberapa hal lagi setelah itu. Aku tidak ingat semuanya. Aku ingat kau bilang maaf empat kali, dan aku ingat aku bilang tidak apa-apa tiga kali, dan aku ingat kau menangis dan aku tidak menyentuhmu karena aku sudah memutuskan, di detik keempat itu, bahwa tanganku adalah bagian dari masalahnya.
Aku ingat kau bertanya, “Kamu di sini sampai kapan?”
Dan aku bilang, “Besok pulang.”
Itu bohong. Tiketku lima hari.
Aku mengubahnya malam itu juga di penginapan, dengan biaya perubahan yang hampir sama dengan harga tiketnya, dan aku terbang keesokan sorenya.
Taman itu sangat sunyi.
Bapak-bapak dengan burungnya sudah tidak ada. Anak kecil dengan sepeda roda tiga sudah tidak ada. Aku tidak tahu kapan mereka pergi.
Cyntia menaruh gelasnya di kursi beton, dan tangannya bergetar sampai gelas itu hampir jatuh, dan dia menangkapnya lagi.
“Kamu di sana dari jam dua belas,” katanya. “Sampai jam sembilan.”
“Iya.”
“Aku nyuruh kamu jangan ke kampus.”
“Aku tahu.”
“Kenapa kamu tetap—”
“Karena aku pengin ada di deket kamu,” kataku. “Walaupun kamu nggak tahu.”
Dia berdiri.
Aku tidak yakin dia sadar dia berdiri. Tubuhnya berdiri dan berbalik ke arah jalan, dan aku tahu bentuk itu, aku sudah pernah melihat bentuk itu di trotoar di bawah lampu jalan, dan tanganku bergerak sebelum kepalaku sempat menghitung.
Aku memegang pergelangan tangannya.
Dia berhenti.
Dan aku langsung melepasnya, secepat orang menyentuh panci, dan aku menarik tanganku kembali dan menaruhnya di lututku sendiri.
“Maaf,” kataku.
Dia tidak duduk lagi. Dia berdiri di depanku dengan punggung setengah membelakangi, dan bahunya naik-turun dengan cara yang tidak beraturan.
“Kamu ngasih tahu aku ini,” katanya, dan suaranya hancur seluruhnya, “tiga tahun kemudian.”
“Iya.”
“Kenapa sekarang?”
“Karena tiga minggu ini kamu berhenti,” kataku.
Dia berbalik.
“Apa?”
“Kamu berhenti nyoba.” Aku menatap gelas kopiku yang sudah dingin. “Dan aku nggak apa-apa selama kamu nyoba, karena selama kamu nyoba, aku bisa nolak. Nolak itu gampang. Aku ahli.”
Aku menaruh gelas itu di kursi.
“Terus kamu berhenti, dan aku baru sadar aku nggak punya apa-apa buat ditolak.”
Dia duduk lagi, akhirnya, di ujung kursi beton yang lain.
Kami tidak bicara selama beberapa menit.
“Aku bikin kamu nunggu empat jam di bandara,” katanya. “Terus lima jam di kafe. Terus tiga jam di halte, hujan.”
“Cyn—”
“Terus aku dateng, dan aku mutusin kamu, dan kamu bilang nggak apa-apa.”
“Iya.”
“Dan kamu bilang besok pulang padahal tiketnya lima hari.”
“Iya.”
Dia menutup wajahnya dengan dua tangan.
Dan aku duduk di sana dan tidak menyentuhnya, dan aku merasakan seluruh berat tiga tahun itu berpindah ke kursi beton di antara kami, dan aku menyadari bahwa aku baru saja melakukan persis hal yang selama tiga tahun kuhindari.
Aku baru saja membuat perempuan ini menanggung sesuatu.
“Cyn.”
Dia tidak menjawab.
“Aku nggak cerita ini biar kamu ngerasa jelek.”
“Terus buat apa?”
Aku menatap tanganku sendiri.
“Karena kamu udah tiga tahun mikir aku hancur gara-gara kamu ninggalin aku,” kataku. “Dan itu salah. Itu bukan yang bikin aku hancur.”
Dia mengangkat wajahnya. Matanya merah seluruhnya.
“Terus apa?”
Dan aku memberitahunya, dan ini adalah kalimat yang paling lama kusimpan dalam hidupku, lebih lama dari apa pun yang ada di dalam berkas draft.txt, lebih lama dari apa pun yang ada di dalam kardus di atas lemari.
“Aku nggak pernah marah sama kamu, Cyn,” kataku. “Aku marah sama diriku sendiri. Karena aku berdiri di halte itu tiga jam, dan aku mikir aku lagi ngasih sesuatu ke kamu.”
Aku menoleh dan menatapnya.
“Terus kamu dateng, dan aku liat muka kamu, dan aku baru ngerti bahwa selama enam bulan aku bukan lagi ngasih. Aku lagi nagih.”
Taman itu sunyi.
“Dan aku bikin kamu capek sampai kamu harus lari ke tempat yang jaraknya dua belas jam,” kataku, “supaya bisa napas.”
- 1 Nama di Baris Ketujuh
- 2 Lima Belas Menit
- 3 Diterima, Bukan Dimaafkan
- 4 Enam Hari
- 5 Diberikan ke Junior
- 6 Bandar Taruhan
- 7 Kopi Tanpa Susu
- 8 Nol Jam Lembur
- 9 Laki-Laki yang Lebih Mudah
- 10 Kardus di Atas Lemari
- 11 Empat Belas Juni
- 12 Perintah untuk Protes
- 13 Adik yang Tidak Menyapa
- 14 Hampir Pindah
- 15 Yang Dihitung
- 16 Kata yang Dibuang
- 17 Terjebak Aturan Sendiri
- 18 Circuit Breaker
- 19 Migrasi
- 20 draft.txt
- 21 Tawaran ke Kota Lain
- 22 Empat Puluh Jam
- 23 Empat Jam di Lorong
- 24 Panik, Bukan Haru
- 25 Surat yang Tidak Ditandatangani
- 26 Kredit yang Dirampas
- 27 Aku Tahu
- 28 Marah
- 29 Berhenti
- 30 Empat Jam reading
- 31 Kenapa Akhirnya Ngomong
- 32 Isi Amplop
- 33 Yang Meminta Duluan
- 34 Mode Hemat
- 35 Menu, Film, Warna
- 36 Kiki Menang Taruhan
- 37 Tahun Pertama
- 38 Frankfurt
- 39 Aku yang Nyuruh Kamu Pergi
- 40 Gagal Lagi
- 41 Aku Capek
- 42 Dua Kata
- 43 Potong Rambut
- 44 Amplop Kedua