← Empat Jam

Chapter Seventeen

Terjebak Aturan Sendiri

POV: Cyntia


Dalam sepuluh hari, dia menyerahkan seratus delapan puluh empat halaman.

Aku menemukannya pada Kamis pagi ketika aku membuka folder program dan melihat daftar berkas yang panjangnya membuatku harus menggulir dua kali. Semuanya dari satu orang. Semuanya dalam sepuluh hari.

Aku membukanya satu per satu.

Billing service — arsitektur, alur data, riwayat keputusan, dua puluh tiga jebakan yang tidak terdokumentasi di mana pun, masing-masing dengan penjelasan kenapa jebakan itu ada dan kenapa tidak boleh “diperbaiki” oleh orang yang belum paham.

Integrasi mitra — tujuh perusahaan, tujuh dokumen, lengkap dengan nama orang di sisi mereka, nomor telepon, dan catatan seperti “Pak Herman ini yang paling cepat bales, tapi jangan telepon Jumat siang.”

Prosedur pemulihan bencana — dua puluh enam halaman, ditulis dalam bentuk langkah bernomor, dengan kalimat yang begitu sederhana sampai Naufal pun bisa mengikutinya.

Dan yang terakhir, satu berkas berjudul keputusan-yang-saya-sesali.md.

Aku membukanya.

Sebelas keputusan arsitektur yang dia ambil antara tahun pertama dan ketiga, masing-masing dengan penjelasan tentang kenapa waktu itu dia mengira itu benar, kenapa ternyata salah, dan apa yang harus dilakukan orang berikutnya untuk memperbaikinya.

Tidak ada satu pun engineer yang pernah kutemui dalam sembilan tahun karierku yang menulis dokumen seperti itu.

Kau tidak menuliskan kesalahanmu sendiri untuk dibaca penerusmu kalau kau berencana masih ada di sana.

Aku membaca berkas terakhir itu dua kali, dan pada bacaan kedua aku memperhatikan sesuatu tentang cara dia menulis.

Di seluruh seratus delapan puluh empat halaman, setiap kali dia menjelaskan sebuah kesalahan, subjeknya “saya”.

Saya salah memperkirakan volume. Saya memilih pendekatan yang lebih cepat dan itu menimbulkan utang teknis. Saya seharusnya mengangkat ini ke rapat arsitektur dan tidak melakukannya.

Dan setiap kali dia menjelaskan sesuatu yang berhasil, subjeknya hilang.

Masalah ini akhirnya terselesaikan. Sistemnya distabilkan pada kuartal ketiga. Pendekatan ini terbukti bertahan.

Terselesaikan oleh siapa. Distabilkan oleh siapa.

Sebelas keputusan yang dia sesali, ditandatangani. Lima tahun sistem yang tidak pernah mati, anonim.


Aku memanggilnya ke ruang Sirius pukul sepuluh.

“Seratus delapan puluh empat halaman.”

“Iya, Bu.”

“Sepuluh hari.”

“Sebagian besar udah ada draftnya. Saya tinggal rapikan.”

“Draftnya dari kapan?”

Dia diam sedikit.

“Lumayan lama.”

“Ervan, dari kapan.”

“Nggak inget persis.” Dia membetulkan kacamatanya. “Saya biasa nulis kalau ada yang saya takutin lupa.”

Aku memutar layar laptopku ke arahnya dan membuka properti berkas yang paling tebal.

Dibuat: 14 September, tiga tahun lalu.

Dia melihatnya.

Dia tidak berkedip, dia tidak menegang, dia tidak melakukan satu pun hal yang dilakukan orang ketika tertangkap. Dia hanya melihat tanggal itu, lalu mengangkat wajahnya lagi dengan sabar.

“Iya, kira-kira segitu.”

“Ini dua minggu setelah kamu tarik surat resign kamu.”

“Bu—”

“Kamu balik ke kantor, terus hal pertama yang kamu kerjain adalah nulis manual buat orang yang bakal gantiin kamu.”

“Itu praktik yang bagus, Bu.”

“Ervan.”

“Itu praktik yang bagus,” ulangnya, dan suaranya sama sekali tidak naik, “dan kalau Ibu cari makna lain di situ, itu bukan makna yang saya taruh.”

Kami saling menatap melalui meja.

Di luar dinding kaca, Kiki sedang menempel sesuatu di papan tulis. Naufal membawa dua gelas kopi dan hampir menumpahkan salah satunya.

“Oke,” kataku. “Kalau gitu ada masalah teknis.”

Aku menutup laptopku.

“Dokumen kamu terlalu bagus.”


Itu bukan trik. Itu masalah nyata, dan aku baru menyadarinya semalam pukul dua pagi ketika aku membaca dokumen kedua puluh dan menyadari apa yang salah.

“Program ini bukan buat bikin arsip,” kataku. “Program ini buat bikin tiga orang bisa megang tiap sistem. Dokumen kamu bikin orang paham bahwa sistemnya begitu. Nggak bikin mereka bisa ngerjain.”

“Kalau mereka baca sampai selesai—”

“Nggak ada yang baca seratus delapan puluh empat halaman sampai selesai, Ervan. Kamu tahu itu.” Aku membuka berkas rencana program. “Aku ubah metodenya. Mulai minggu depan, transfernya nggak lewat dokumen. Lewat sesi.”

Dia menunggu.

“Dua kali seminggu, dua jam, kamu duduk sama Kiki, Naufal, dan Rio. Kamu ngerjain sesuatu di sistem itu, mereka nonton, mereka nanya, kamu jawab. Direkam. Sesinya wajib. Nggak bisa diganti dokumen.”

Aku bisa melihat dia menghitung.

Aku bisa benar-benar melihatnya kali ini — mata yang bergerak sedikit ke kiri, jeda dua detik yang terlalu lama untuk pertanyaan sesederhana ini.

Dia mencari celah dan tidak menemukan.

Karena tidak ada celah. Aku menghabiskan tiga jam semalam memastikan tidak ada celah. Aku menulis aturan itu seperti orang menulis kontrak untuk pihak yang tidak dipercaya, dan pihak yang tidak kupercaya adalah kemampuannya untuk mengubah segala sesuatu menjadi kesendirian.

“Empat jam seminggu,” katanya akhirnya. “Itu banyak, Bu.”

“Iya.”

“Kalau saya kerjain sendiri, empat jam itu bisa jadi—”

“Aku tahu bisa jadi apa.” Aku menutup laptop. “Ini bukan soal efisien. Ini soal ada orang lain di ruangan waktu kamu kerja.”

Dan pada saat itu dia melakukan sesuatu yang belum pernah kulihat.

Dia bersandar ke kursinya.

Bukan tegak, bukan sopan, bukan siap. Dia bersandar seperti orang yang kalah dalam permainan catur dan tahu persis pada langkah keberapa dia kalah.

“Ibu udah mikirin ini lama.”

“Iya.”

“Berapa lama?”

Aku memikirkan buku catatan di tasku. Aku memikirkan angka dua puluh tiga yang kulingkari di halaman Sabtu pagi.

“Sejak aku berhenti minta hal yang salah,” kataku.

Dia tidak bertanya apa maksudnya.

“Baik, Bu,” katanya. “Sesi pertama Senin?”

“Senin.”

Dia berdiri, mengambil laptopnya, dan berhenti sebentar sebelum membuka pintu.

“Bu.”

“Iya.”

“Kalau saya ngajar mereka bertiga sampai bisa,” katanya, tanpa berbalik, “abis itu saya ngapain?”

Ruangan itu diam.

Dan aku berdiri di sana dengan seluruh isi tubuhku berhenti bergerak, karena dia baru saja mengajukan pertanyaan itu dengan nada yang persis sama seperti dia menanyakan estimasi migrasi database — datar, teknis, seolah-olah itu pertanyaan tentang alokasi sumber daya.

Bukan ancaman. Bukan keluhan.

Pertanyaan tulus dari orang yang benar-benar tidak tahu jawabannya.

“Kamu ngerjain hal yang cuma kamu yang bisa,” kataku, terlalu cepat.

“Nggak ada, Bu. Itu kan intinya programnya.”

Dia membuka pintu.

“Sampai Senin.”


Aku duduk di ruang Sirius sendirian selama dua puluh menit setelah dia pergi, dan Wiwi masuk pada menit kesepuluh dengan gelas kopi hitam yang sekarang sudah menjadi kebiasaan, dan melihat wajahku, dan tidak mengatakan apa pun. Dia hanya menaruh gelasnya dan keluar lagi.

Aku menatap lantai sebelas melalui dinding kaca.

Dia sudah kembali ke pojok. Dua monitor, satu gelas kertas. Kiki sedang bercerita sesuatu di sampingnya dan dia mengangguk sambil mengetik.

Sepuluh hari yang lalu aku berdiri di depan sembilan belas orang dan mengumumkan sebuah program yang benar. Aku masih berpikir itu program yang benar. Perusahaan ini memang harus berhenti bergantung pada satu manusia; itu bukan hanya soal risiko bisnis, itu soal tidak boleh ada orang yang dibebani seluruh gedung di punggungnya.

Aku benar.

Dan aku juga baru saja mengambil satu-satunya hal yang membuatnya merasa punya alasan untuk berada di ruangan.

Tresna mengirim pesan sore itu, satu baris, tanpa tahu apa yang dia lakukan:

Bagus banget progresnya. Kalau kecepatan segini terus, kuartal depan kita udah nggak tergantung sama Ervan sama sekali.

Aku membacanya di lift.

Nggak tergantung sama Ervan sama sekali.

Itu kemenangan. Secara profesional itu kemenangan besar, dan kalau aku manajer yang benar aku akan membalasnya dengan emoji dan merasa bangga, karena aku memang sudah menyelesaikan pekerjaan yang direkrut untuk kuselesaikan.

Aku memasukkan ponselku ke saku tanpa membalas.

Ada pekerjaan yang kalau kau berhasil, kau menang. Dan ada pekerjaan yang kalau kau berhasil, kau harus pulang dan duduk di lantai dapur.

Aku membuka buku catatanku dan menulis:

Kalau semua orang bisa megang sistemnya, dia tinggal punya apa?

Aku menatap kalimat itu.

Lalu aku menulis jawabannya sendiri, dan tanganku berhenti setengah jalan karena aku tahu betul apa yang sedang kutulis:

Nggak ada. Dan dia udah tahu itu dari sepuluh hari yang lalu. Makanya dia mau selesai dalam dua bulan.