← Empat Jam

Chapter Fourteen

Hampir Pindah

POV: Cyntia


Aku menunggu sembilan hari sebelum menghubunginya, dan sembilan hari itu adalah tawar-menawar yang kulakukan dengan diriku sendiri.

Kalau aku menghubungi Nadia, aku sedang menggali sesuatu di belakang punggung Ervan. Kalau aku tidak menghubunginya, aku sedang membiarkan sesuatu tetap terkubur karena aku takut melihat isinya.

Aku mencari alasan yang bisa membuat dua-duanya benar dan tidak menemukan satu pun.

Jadi aku menghubunginya tanpa alasan.

Nad, ini Cyntia. Maaf ganggu. Aku nggak akan nanya soal yang kamu bilang di parkiran. Aku cuma mau bilang selamat atas kelulusannya. Beneran. Kamu hebat.

Aku menekan kirim pukul sepuluh malam dan meletakkan ponselku di sisi lain ruangan, seperti orang yang meninggalkan bom di ruangan lain.

Dia membalas empat puluh menit kemudian.

Makasih Mbak.

Lalu, tiga menit setelahnya:

Mbak besok siang bisa? Ada Bakso Pak Gito deket kampus saya. Yang dulu Mbak sama Mas Ervan sering.


Bakso Pak Gito tidak berubah sama sekali, dan itu terasa menghina.

Meja kayu yang sama. Kipas angin dinding yang sama, yang berputar dengan bunyi klik setiap kali sampai ke ujung. Poster minuman soda tahun dua ribu belas yang sudah pudar. Bahkan Pak Gito masih Pak Gito, meskipun sekarang ada anak muda yang meracik dan Pak Gito hanya duduk di kasir.

Aku duduk di meja pojok kiri karena tubuhku duduk di sana sebelum kepalaku memutuskan.

Nadia datang lima menit kemudian, memesan tanpa melihat menu, lalu duduk di seberangku.

“Saya nggak akan cerita,” katanya, sebelum sendok pertama.

“Iya. Aku tahu.”

“Terus kenapa Mbak datang?”

“Karena kamu yang ngajak.”

Dia mengaduk baksonya. Kipas dinding berbunyi klik.

“Mbak tahu kenapa saya ngajak?”

“Nggak.”

“Saya juga nggak tahu.” Dia menaruh sendoknya. “Semalem saya nggak bisa tidur. Saya mikirin muka Mbak di parkiran waktu saya ngomong jelek-jelek.”

“Aku pantes dapet itu.”

“Iya, pantes.” Dia mengangkat bahu, dan gerakan itu sama persis dengan kakaknya sampai aku harus menunduk. “Cuma... Mbak keliatan lega. Orang nggak keliatan lega pas dimaki-maki.”

Aku memutar gelas es tehku.

“Karena kakak kamu nggak pernah marah,” kataku.

Nadia berhenti mengunyah.

“Tiga bulan aku kerja bareng dia,” lanjutku. “Aku udah minta maaf, dia bilang nggak apa-apa. Aku kasih proyek besar, dia kasih ke junior. Aku maksa dia klaim lembur, dia bilang waktunya nggak dipakai siapa-siapa. Aku suruh dia protes di rapat, dia protes — persis kayak yang aku suruh, sebelas slide, sempurna, kosong.”

Kipas berbunyi klik.

“Aku bawa utang tiga tahun ke kantor itu tiap pagi, Nad, dan nggak ada satu orang pun yang mau nerima pembayarannya.”

Nadia menatapku lama.

“Terus kemarin saya maki-maki Mbak.”

“Terus kemarin kamu maki-maki aku.” Aku tersenyum, dan senyum itu jelek. “Dan itu hal paling baik yang orang lakuin ke aku selama tiga tahun.”

Dia meletakkan sendoknya sepenuhnya.

“Mbak,” katanya, “itu rusak banget.”

“Iya.”

“Bukan Mbak doang. Kalian berdua.” Dia menggeleng pelan. “Kalian berdua rusak banget.”


Kami makan tanpa bicara selama beberapa menit, dan itu bukan diam yang canggung; itu diam dua orang yang sedang sama-sama memikirkan orang ketiga.

Lalu Nadia berkata, tanpa mengangkat wajah:

“Dia hampir pindah, Mbak.”

Sendokku berhenti di udara.

“Apa?”

“Ke luar negeri.” Nadia menyendok kuah. “Waktu itu. Sebelum semuanya.”

Kipas dinding berbunyi klik dan aku mendengarnya seperti orang mendengar sesuatu dari dalam air.

“Pindah gimana?”

“Ya pindah. Kerja di sana.” Nadia mengangkat bahu, ringan, terlalu ringan, dengan cara orang menyebut fakta lama yang sudah tidak penting. “Saya cuma tahu itu doang. Waktu itu saya masih SMA, saya nggak ngerti detailnya. Cuma inget Ibu nangis di dapur karena Mas Ervan mau pindah, terus abis itu nggak jadi.”

“Kapan?”

“Ya waktu itu.”

“Nad, kapan tepatnya.”

Sesuatu di suaraku pasti berubah, karena Nadia mengangkat wajah dan menatapku dengan wajah yang mulai waspada.

“Kenapa, Mbak?”

Aku menaruh sendokku karena tanganku sudah tidak bisa dipercaya.

Tiga tahun. Aku sudah memutar malam itu di kepalaku ribuan kali. Aku hafal urutannya seperti orang menghafal doa: dia mengabari sudah mendarat, aku sedang ujian proposal, aku bilang jangan ke kampus, aku bilang nanti aku kabari, aku bekerja shift sore, aku terlambat, aku sampai jam sembilan, dia berdiri di trotoar di bawah lampu jalan, aku bilang aku capek.

Dalam semua putaran itu, dalam ribuan versi yang kubangun selama tiga tahun, tidak pernah sekali pun ada bagian tentang pekerjaan.

Dia datang untuk mengunjungiku. Itu ceritanya. Itu selalu ceritanya. Dia menabung dan datang untuk mengunjungiku selama lima hari dan pulang setelah satu malam.

“Nadia,” kataku, dan suaraku terdengar aneh bahkan di telingaku sendiri. “Dia mau pindah ke negara mana?”

Nadia meletakkan sendoknya.

Dan aku melihat wajahnya berubah — pelan, ngeri, seperti orang yang baru menyadari bahwa pintu yang dia buka bukan pintu lemari.

“Mbak nggak tahu?”

“Nggak.”

“Mbak beneran nggak tahu.”

“Nadia, negara mana.”

Kipas dinding berbunyi klik.

“Mbak,” katanya, sangat pelan, “kok Mbak nanya negara mana.”

Dan itu bukan jawaban, tapi itu jawaban.


Aku tidak ingat membayar. Aku ingat Nadia berkata sesuatu, dua kali, mungkin memanggil namaku. Aku ingat berjalan ke mobil di bawah matahari jam satu siang dan merasakan aspal panas menembus sol sepatu.

Aku duduk di kursi pengemudi dengan mesin mati dan kaca tertutup, dan udara di dalam mobil itu panas seperti oven, dan aku tidak menyalakan AC.

Aku menghitung.

Kalau dia mau pindah ke sana — ke kotaku, ke kota yang dua belas jam dari sini, ke kota tempat aku menghabiskan dua tahun tidur empat jam sehari — maka penerbangan itu bukan kunjungan.

Kalau itu bukan kunjungan, maka koper yang dia bawa bukan koper lima hari.

Aku menutup mataku dan mencoba mengingat kopernya, dan aku tidak bisa, karena aku tidak pernah melihatnya. Kami bertemu di trotoar jam sembilan malam dan dia tidak membawa koper. Dia sudah menaruhnya di suatu tempat.

Di mana?

Di penginapan yang dia bayar sendiri, tentu saja, karena aku tidak menawarkan dan dia tidak meminta.

Berapa lama dia di sana sebelum jam sembilan malam?

Aku tidak tahu.

Aku tidak pernah bertanya.

Aku menekan kepalaku ke sandaran dan mencoba menghitung mundur, dan hasilnya membuat perutku naik.

Pesawatnya mendarat pagi. Aku ingat itu — aku ingat karena dia mengirim foto papan kedatangan dan aku membalasnya empat jam kemudian dari ruang ujian, dengan satu kalimat: maaf baru buka HP, hari ini padat banget, nanti aku kabari ya.

Empat jam. Aku ingat angka itu karena waktu itu aku merasa bersalah selama kira-kira delapan detik, lalu ujian dimulai dan aku melupakannya.

Dan setelah itu aku tidak menghubunginya lagi sampai sore, dan setelah itu ada shift kafe yang tidak bisa kutinggalkan, dan setelah itu jalanan macet, dan setelah itu jam sembilan malam.

Antara papan kedatangan itu dan lampu jalan itu, ada satu hari penuh.

Satu hari penuh milik seseorang yang baru mendarat di negara asing, yang tidak mengenal siapa pun di kota itu selain aku.

Dan aku tidak pernah, sekali pun, dalam tiga tahun, bertanya apa yang dia lakukan sepanjang hari itu.

Selama tiga tahun aku menghukum diriku setiap hari untuk sebuah malam yang aku bahkan tidak tahu bentuk lengkapnya, dan sekarang aku duduk di mobil yang panas dan menyadari bahwa aku telah menghitung utangku dengan angka yang salah sejak awal.

Bukan lebih kecil.

Dan ada satu hal lagi, yang paling kecil dari semuanya, yang justru membuatku menekan tanganku ke mulut di dalam mobil yang panas itu.

Selama tiga bulan ini, setiap kali aku bertanya sesuatu kepadanya, dia menjawab sampai habis. Setiap sudut. Setiap detail. Tidak pernah sekali pun dia menyisakan celah.

Aku pikir itu profesionalisme.

Sekarang aku tahu itu bukan.

Orang menjawab selengkap itu supaya kau berhenti bertanya.

Tiga bulan aku duduk delapan meter darinya dan mengajukan ratusan pertanyaan, dan tidak satu pun dari pertanyaan itu adalah pertanyaan yang benar.

Aku menyalakan mesin, dan tanganku bergetar begitu hebat sehingga butuh dua kali mencoba.

Bukan lebih kecil.