← Empat Jam

Chapter Fifteen

Yang Dihitung

POV: Ervan


Aku punya aturan, dan aturannya ada tiga.

Satu: jangan pernah lebih dulu.

Jangan pernah menyapa duluan, jangan pernah masuk ruangan duluan, jangan pernah mengirim pesan yang tidak dibalas ke sesuatu. Kalau dia menyapa, aku menjawab. Kalau dia bertanya, aku menjelaskan sampai selesai. Tapi tidak pernah satu langkah pun yang berasal dari arahku sendiri, karena satu langkah adalah permintaan, dan aku sudah selesai meminta.

Dua: kalau dia bertanya, jawab dengan lengkap.

Ini yang paling sering disalahpahami orang tentang menjaga jarak. Orang pikir menjaga jarak itu berarti pendek, dingin, seperlunya. Tidak. Kalau kau menjawab pendek, kau meninggalkan celah, dan celah itu akan diisi dengan pertanyaan berikutnya. Kalau kau menjawab sampai habis — sampai tidak ada satu pun sudut yang tersisa — orang akan pergi dengan puas dan tidak akan kembali.

Jawaban lengkap adalah pintu yang paling rapat.

Tiga: jangan pernah biarkan satu percakapan berlangsung lebih dari dua menit.

Itu batasnya. Aku sudah mengujinya. Di bawah dua menit, aku bisa jadi siapa pun. Di atas dua menit, sesuatu mulai mengendur di rahangku, dan aku mulai ingin bercerita, dan itu tidak boleh terjadi.

Aku menyusun tiga aturan ini di dalam mobil, di parkiran basement, pada pagi pertama ketika daftar nama tim baru masuk ke emailku dan aku melihat siapa manajerku.

Aku duduk di mobil itu selama dua puluh menit dan menyusun tiga aturan, seperti orang menulis dokumen desain sistem sebelum menulis satu baris kode pun.

Lalu aku naik.


Yang orang tidak tahu tentang aku adalah bahwa aku menghitung.

Bukan kiasan. Aku benar-benar menghitung, dan aku tidak bisa berhenti, dan aku sudah mencoba.

Sejak hari pertama sampai hari ini: dua ratus enam puluh empat percakapan. Aku tidak menuliskannya di mana pun — itu terlalu jauh, bahkan untukku — tapi angka itu ada di kepalaku dan bertambah sendiri, seperti penghitung yang tidak punya tombol mati.

Dari dua ratus enam puluh empat itu, dua ratus dua puluh sembilan murni pekerjaan.

Dua puluh satu di antaranya melewati batas dua menit. Semuanya karena dia yang menahan.

Delapan kali dia memanggilku dengan nama saja, tanpa embel-embel apa pun. “Ervan.” Delapan. Aku tahu nomor delapan itu di parkiran malam Kamis, di antara dua tiang beton, ketika dia berdiri di sana selama empat puluh menit sebelum aku turun.

Aku tahu dia menunggu empat puluh menit karena satpam basement bilang begitu keesokan harinya, sambil bercanda, sambil bilang “bosnya betah banget nunggu.”

Aku bilang, “Oh ya?”

Dan aku pulang dan tidak bisa tidur sampai jam tiga.


Ini yang terjadi pada malam itu, dari sisiku.

Dia bilang maaf. Dia bilang maaf soal semuanya, dan dia menyebutkannya satu per satu, dan setiap butir yang dia sebut adalah butir yang selama tiga tahun aku susun ulang setiap malam supaya tidak berbentuk seperti itu.

Aku yang berhenti bales. Aku sudah menjelaskan itu ke diriku sendiri seratus kali: dia sibuk, tesisnya berat, dia kerja sambil kuliah, aku tidak berhak.

Aku bohong berkali-kali padahal kamu percaya semuanya. Ini yang paling buruk. Ini yang membuatku menaruh tas laptopku di aspal.

Aku menaruhnya karena aku pikir percakapannya akan panjang. Aku pikir dia akan bicara lima belas menit, dua puluh menit, dan aku ingin tanganku kosong supaya aku bisa berdiri diam tanpa memegang apa pun, karena kalau aku memegang sesuatu aku akan meremasnya dan dia akan melihat.

Dia selesai dalam sembilan puluh detik.

Dan di detik ke sembilan puluh satu, ada dua jalan.

Jalan pertama: bilang yang sebenarnya. Bilang bahwa aku menunggu di kafe seberang kampusnya sampai kafenya tutup. Bilang apa yang ada di dalam tasku hari itu. Bilang bahwa aku sudah menandatangani surat pengunduran diri di ruang tamu ibuku dua minggu sebelumnya dan ibuku menangis di dapur dan aku bilang tidak apa-apa, Bu, di sana juga ada orang Indonesia.

Jalan kedua: bilang tidak apa-apa.

Dan aku memilih jalan kedua bukan karena aku pemaaf.

Aku memilih jalan kedua karena aku menghitung apa yang terjadi kalau aku memilih yang pertama.

Kalau aku bilang yang sebenarnya, dia akan hancur. Aku tahu persis seberapa hancur, karena aku sudah mengenal cara dia hancur sejak semester tiga: dia tidak menangis di depan orang, dia berhenti makan, dia bekerja sampai jam tiga pagi, dan dia meminta maaf kepada semua orang tentang hal-hal yang bukan salahnya.

Dan setelah itu dia akan mencoba memperbaikinya. Karena dia selalu mencoba memperbaiki. Dia akan mengejar, dia akan memberi, dia akan bekerja keras seperti yang dia lakukan pada semua hal dalam hidupnya, dan dia akan berhasil, karena dia selalu berhasil.

Lalu kami akan kembali.

Dan enam bulan, satu tahun, dua tahun kemudian, aku akan melakukannya lagi. Aku akan memberinya terlalu banyak, seperti yang selalu kulakukan, karena aku tidak bisa berhenti, karena aku sudah mencoba berhenti dan aku tidak bisa. Aku akan mengatur alarm jam tiga pagi lagi. Aku akan mengirim sesuatu yang tidak diminta lagi. Aku akan menjadi berat lagi.

Dan dia akan capek lagi.

Dan kali ini dia tidak akan sanggup pergi, karena kali ini dia akan tahu apa yang ada di dalam tas itu.

Jadi dia akan bertahan. Dia akan bertahan dengan orang yang membuatnya capek, selama sepuluh tahun, dua puluh tahun, karena rasa bersalah.

Itu perhitungannya.

Aku melakukannya di antara dua tiang beton di parkiran basement dalam waktu kurang dari empat detik, dan hasilnya sudah kuketahui bahkan sebelum aku selesai menghitung, karena aku sudah menghitungnya ratusan kali sebelumnya, setiap malam, selama tiga tahun.

Nggak apa-apa, Bu. Udah lama.

Lalu aku pulang, dan aku membuka laptop, dan aku menulis tiga halaman tentang risiko retensi tim, karena kalau aku berhenti bekerja malam itu ada sesuatu yang akan mengejarku.


Dia pikir aku tidak tahu.

Dia meminta audit lembur ke HR pukul sembilan lewat lima pagi, dan sistem HR mengirim tembusan otomatis ke karyawan yang datanya diminta. Aku menerimanya pukul sembilan lewat enam.

Dia mengakses arsip HR di lantai sembilan, dan Mbak Rani bercerita kepada Kiki bahwa manajer baru sedang menyusun rencana suksesi, dan Kiki bercerita kepada semua orang karena Kiki bercerita kepada semua orang tentang segalanya.

Aku tahu berkas apa yang ada di sana. Aku tahu apa yang dia baca.

Dia datang ke apartemenku membawa laptop yang seharusnya diantar kurir internal, dan dia bilang kebetulan lewat, ke gang di belakang pasar, di hari Jumat pukul dua siang.

Dan dia melihat ke atas lemari selama satu koma lima detik.

Aku menghitungnya. Tentu saja aku menghitungnya.

Aku sudah berdiri di antara dia dan lemari itu sebelum aku memutuskan untuk berdiri di sana. Tubuhku yang melakukannya. Tiga tahun tubuh ini sudah belajar satu tugas dan hanya satu tugas, dan tugas itu adalah: jangan sampai ada yang menurunkan kardus itu.

Bukan karena aku tidak ingin dia tahu.

Karena aku tahu apa yang terjadi kalau dia tahu.


Yang paling sulit bukan yang besar-besar.

Yang paling sulit adalah tujuh tombol di mesin kopi lantai sebelas.

Malam itu jam dua pagi, insiden P1, dan dia duduk di sebelahku selama tiga jam mengerjakan sesuatu yang tidak perlu dia kerjakan. Dan aku berdiri di depan mesin itu dan tanganku sudah menekan tombol paling kanan sebelum aku selesai berpikir.

Aku baru sadar setelah gelasnya penuh.

Dan setelah aku sadar, ada dua pilihan lagi: buang, buat ulang yang salah, taruh yang salah di mejanya. Atau bawa yang benar.

Aku membawa yang benar. Aku menaruhnya di sebelah kiri.

Dan aku duduk selama satu setengah jam berikutnya sambil menatap layar tanpa membaca satu baris pun, sambil menghitung berapa detik yang dia butuhkan untuk menyadarinya, sambil menunggu dia berkata sesuatu.

Dia tidak berkata apa-apa.

Dia memegang gelas itu dengan dua tangan dan tidak meminumnya selama empat menit, dan aku tahu itu karena aku melihat pantulan mejanya di monitor kedua, yang sengaja kupasang miring sejak hari pertama dia jadi manajerku.

Dia tidak berkata apa-apa, dan aku tidak tahu apakah aku lega atau hancur, dan aku sudah lama tidak bisa membedakan dua hal itu.

Aturan satu masih utuh: aku tidak melangkah lebih dulu.

Tapi aturannya tidak pernah menyebut apa-apa tentang tangan.


Ada hal lain yang tidak masuk ke dalam aturan mana pun, dan aku baru menyadarinya minggu lalu.

Dia menyuruhku klaim lembur. Dia membuat kebijakan untuk empat belas orang supaya satu orang tidak bisa mengelak. Dia menolak menandatangani apa pun yang kukerjakan sendirian.

Dan aku mengikutinya. Semuanya. Aku klaim lemburku, aku bawa orang kedua saat insiden, aku isi formulirnya sampai kolom terakhir.

Yang tidak dia tahu adalah apa yang terjadi di dalam kepalaku setiap kali aku mengisi formulir itu.

Setiap kolom yang kuisi adalah pengakuan bahwa waktuku punya harga. Dan setiap kali aku mengakui bahwa waktuku punya harga, ada perhitungan lain yang ikut menyala di belakangnya, otomatis, tanpa bisa kumatikan: kalau waktuku punya harga, maka empat jam di kafe itu punya harga. Maka hari itu punya harga. Maka tiga tahun ini punya harga.

Dan kalau semuanya punya harga, berarti ada seseorang yang berutang.

Aku tidak mau ada yang berutang.

Itu satu-satunya hal yang kupertahankan, satu-satunya, dan dia sedang membongkarnya dengan formulir HR sambil mengira dia sedang berbuat baik kepada timnya.

Dia memang sedang berbuat baik kepada timnya. Itu bagian yang membuatku tidak bisa membencinya bahkan kalau aku mau.


Empat belas Juni aku naik ke lantai dua belas jam tujuh pagi.

Enam belas derajat. Bunyi kipas yang menelan segalanya. Aku sudah tiga tahun tahu bahwa ini satu-satunya ruangan di gedung ini di mana kau tidak bisa mendengar pikiranmu sendiri, dan itu sebabnya aku ada di sana.

Dia naik ke sana jam sebelas.

Dia membuka pintu itu — pintu yang butuh kartu akses tingkat dua, pintu yang tidak akan pernah dibuka siapa pun tanpa alasan — dan berdiri di sana dengan wajah yang tidak dia sembunyikan sama sekali, dan bertanya kenapa aku masih ingat.

Aturan tiga: jangan lebih dari dua menit.

Kami di sana enam menit.

Dan pada menit kelima aku mengatakan sesuatu yang benar, satu kalimat penuh, untuk pertama kalinya sejak dia kembali: bahwa kalau aku di bawah, aku akan ikut mengucapkan selamat, dan kalau aku mengucapkan selamat maka itu menjadi hal yang kulakukan.

Aku tidak pernah bermaksud mengatakan itu.

Ruangan itu terlalu dingin dan bunyinya terlalu keras dan dia berdiri di sana dengan mata merah dan aturan-aturanku tidak dirancang untuk enam belas derajat.

Lalu aku menahan pintu untuknya, karena aku selalu menahan pintu, karena itu bukan sesuatu yang bisa kumatikan.

Dan setelah dia turun, aku duduk kembali di kursi lipat itu, di ruangan yang bunyinya seperti air terjun, dan aku menutup wajahku dengan dua tangan selama waktu yang tidak kuhitung.

Itu satu-satunya hal yang tidak kuhitung sepanjang tiga bulan ini.


Malam ini aku pulang jam sepuluh dan tidak menyalakan lampu besar.

Aku duduk di meja, dua monitor, dinding kosong empat sisi.

Aku membuka berkas yang namanya draft.txt.

Di dalamnya ada seribu tiga ratus enam belas baris. Setiap baris punya tanggal di depannya. Baris pertama tertanggal tiga tahun lalu, dua hari setelah aku mendarat kembali di Soekarno-Hatta dengan tas yang sama dan amplop yang sama.

Aku tidak pernah membaca ulang isinya. Aku hanya menambah.

Aku mengetik tanggal hari ini.

Lalu aku mengetik:

Kamu naik ke lantai dua belas.

Aku menatap kalimat itu di layar selama mungkin dua menit.

Lalu aku menghapusnya, huruf demi huruf, sampai kursornya kembali ke awal baris, karena itu aturannya — kalau ditulis boleh, kalau dibiarkan tidak — dan menutup laptop.

Di luar jendela ada bunyi anak-anak yang belum juga disuruh masuk oleh orang tuanya, dan bunyi motor, dan bunyi kota yang tidak peduli.

Tiga tahun aku sudah baik-baik saja.

Tiga bulan dia kembali, dan aku sudah lupa satu aturan, sudah menekan satu tombol yang salah, dan sudah berbicara enam menit di ruangan enam belas derajat.

Aku menghitung sisanya di kepala sebelum tidur, seperti biasa.

Dua ratus enam puluh empat percakapan.

Kalau setiap percakapan mengikis satu lapis, dan lapisnya cuma setipis ini, maka ada angka di suatu tempat di depan sana di mana tidak ada lagi yang tersisa untuk dikikis.

Aku sudah mencoba menghitung angka itu juga. Aku selalu berhenti sebelum selesai.

Bukan karena aku tidak sanggup menghitungnya.

Karena setiap kali aku hampir sampai, aku menemukan bahwa sebagian dari diriku menunggu angka itu tiba.

Dua ratus enam puluh empat.

Aku tidak akan sanggup sampai seribu.