Chapter Seven
Kopi Tanpa Susu
POV: Cyntia
Aku bangun pukul dua belas lewat empat puluh karena ponselku bergetar di atas nakas seperti serangga yang sekarat.
Bukan telepon. Notifikasi kanal #incident.
[P1] Reconciliation job — mismatch 4.812 transaksi mitra
Aku duduk di tempat tidur dengan jantung yang langsung berlari sebelum otakku sempat membaca sampai selesai. Ini insiden tingkat satu. Ini uang. Ini empat ribu delapan ratus transaksi yang angkanya tidak cocok antara sistem kami dan sistem tujuh perusahaan logistik yang besok pagi akan membuka dasbor mereka dan bertanya-tanya ke mana uang mereka pergi.
Aku menggulir ke atas untuk melihat siapa yang sudah bangun.
Satu orang.
22.14 — ervan: ada mismatch di recon job. lagi saya cek. 22.47 — ervan: bukan di job-nya. ada di layer mitra. masih nyari. 23.30 — ervan: kemungkinan dari perubahan format timestamp di sisi mereka. saya validasi dulu. 00.02 — ervan: kepastiannya besok pagi. nggak ada dana yang hilang, cuma pencatatannya. aman.
Empat pesan. Dua jam. Nol orang lain.
Tidak ada yang di-mention. Tidak ada yang dibangunkan. Tidak ada eskalasi ke siapa pun, termasuk kepada manajernya, yang tidur nyenyak dua belas kilometer dari sana sambil percaya bahwa dia sudah membangun tim yang sehat dalam tiga minggu.
Aku mengambil kunci mobil dan keluar dengan celana olahraga dan kaus.
Lantai sebelas pukul satu pagi berbunyi. Itu yang tidak pernah kau tahu tentang kantor kalau kau tidak pernah datang tengah malam: AC-nya berdengung, satu lampu di dekat pantry berdenting pelan setiap beberapa menit, dan kulkas menyala-mati dengan bunyi seperti orang berdehem.
Hanya satu blok lampu yang menyala. Pojok.
Dia tidak menoleh saat aku keluar dari lift. Dia baru menoleh saat aku sudah berdiri di samping mejanya, dan ketika dia menoleh, dia melakukan sesuatu yang tidak pernah kulihat sejak hari pertama.
Dia terkejut.
Wajahnya benar-benar terkejut, selama mungkin sepersekian detik, sebelum semuanya kembali rata.
“Bu Cyntia.”
“Kenapa nggak ngabarin aku?”
“Sudah, Bu. Di kanal insiden.”
“Kanal insiden bukan ngabarin. Kanal insiden itu papan pengumuman.” Aku menarik kursi dari meja kosong sebelah dan mendudukkannya di samping mejanya. “Kalau P1 jam sepuluh malam, kamu telepon aku. Bukan nulis di kanal terus ngerjain sendiri sampai pagi.”
“Nggak ada yang bisa dikerjain sama dua orang, Bu. Ini bukan masalah kapasitas, ini masalah nyari.”
“Aku nggak nanya kamu butuh atau nggak.”
Dia diam.
Aku duduk. Dia menatap layarnya lagi.
Dan kami di sana, dua orang dalam satu blok lampu di lantai sebelas yang gelap, dengan empat ribu delapan ratus transaksi yang tidak cocok di antara kami.
Aku tidak berguna dan aku tahu aku tidak berguna.
Aku pernah jadi engineer, dulu. Tiga tahun sebelum master, dua tahun setelahnya di perusahaan lain sebelum aku pindah jalur ke manajemen. Aku masih bisa membaca kode. Aku hanya tidak lagi cukup cepat untuk sistem yang tidak kukenal ini, di mana setiap tabel punya nama yang diwariskan dari keputusan buruk lima tahun lalu, dan setiap kali aku bertanya, dia harus berhenti untuk menjelaskan.
Setelah pertanyaan keempatku, aku berhenti bertanya.
Aku membuka laptopku sendiri dan mengerjakan hal yang bisa kukerjakan: menulis draf komunikasi ke tujuh mitra, menyusun linimasa untuk laporan pagi, menyiapkan pernyataan kalau-kalau ada yang menelepon sebelum jam sembilan.
Pukul dua lewat, aku menyadari bahwa aku sedang melakukan hal yang sama dengannya.
Kami duduk bersebelahan selama satu jam empat puluh menit dan berbicara delapan kalimat.
Pukul dua lewat dua puluh, dia berdiri.
Aku pikir dia akan menyuruhku pulang lagi. Dia memang menyuruhku pulang lagi — dua kali sudah, dengan kalimat yang persis sama, “Ibu pulang aja, besok Ibu ada rapat pagi” — tapi kali ini dia hanya berjalan ke pantry.
Aku mendengar bunyi mesin kopi.
Dia kembali dengan dua gelas kertas dan menaruh satu di sisi mejaku, di sebelah kiri, bukan di sebelah kanan tempat tanganku bekerja.
Aku mengangkatnya. Hitam. Panas. Tidak ada apa-apa di dalamnya.
Mesin kopi di pantry lantai sebelas adalah mesin dengan tujuh tombol. Latte, cappuccino, kopi susu, cokelat, teh, air panas, dan satu tombol paling kanan yang tidak pernah dipakai siapa pun karena rasanya seperti aspal.
Aku tidak bisa minum susu. Bukan alergi — perutku hanya memutuskan, sejak usia sembilan belas, bahwa susu adalah musuh pribadi. Ada empat orang di dunia yang tahu ini. Ibuku, adikku, sahabatku dari SMA, dan satu orang lagi yang dulu selalu membelikanku kopi hitam di kantin fakultas sambil mengeluh bahwa aku ini merepotkan.
Dia sudah duduk lagi dan sudah menatap layarnya lagi.
Dia tidak bertanya. Dia tidak melirik untuk melihat reaksiku. Tidak ada satu pun tanda bahwa dia baru saja melakukan sesuatu.
Karena bagi tubuhnya, itu memang bukan sesuatu. Tangannya menekan tombol yang benar dengan cara yang sama seperti tanganku menyentuh pergelangan tangan kiriku ketika gugup, mencari jam yang sudah tiga tahun tidak ada di sana.
Tubuh tidak tahu kalau hubungannya sudah selesai. Tubuh butuh waktu lebih lama.
Aku menghitung mundur di kepalaku. Terakhir kali dia membelikanku kopi adalah bulan Agustus, tiga tahun lalu, di kantin fakultas, dua hari sebelum aku berangkat. Dia mengeluh seperti biasa. Dia bilang aku merepotkan seperti biasa. Lalu dia menaruh gelasnya di sebelah kiri tanganku seperti biasa, karena aku menulis dengan tangan kanan dan pernah menumpahkan segelas penuh ke atas catatan metodologi penelitianku, dan sejak hari itu dia tidak pernah sekali pun menaruh minuman di sebelah kananku lagi.
Aku menoleh ke gelas kertas di meja.
Sebelah kiri.
Aku memegang gelas itu dengan dua tangan dan tidak meminumnya selama beberapa menit, karena aku tahu kalau aku bergerak, aku akan mengatakan sesuatu, dan kalau aku mengatakan sesuatu, dia akan menyadari apa yang baru saja dia lakukan.
Dan kalau dia menyadarinya, dia tidak akan pernah melakukannya lagi.
Pukul empat lewat sepuluh, dia bersandar ke kursinya dan menekan pelipisnya dengan ibu jari.
“Ketemu.”
“Apa?”
“Mitra ubah zona waktu di API mereka bulan lalu. Nggak diumumin. Semua transaksi yang jatuh di antara jam sebelas malam sampai tengah malam kecatat sebagai besoknya.” Dia memutar layar ke arahku dan menunjuk. “Ini. Selisihnya konsisten. Nggak ada dana yang hilang, cuma pindah hari.”
Aku menatap kolom-kolom angka itu, lalu menatap wajahnya di bawah cahaya monitor, kacamata yang memantulkan baris-baris, kantung di bawah mata yang tidak bisa disembunyikan pada jam empat pagi.
“Berapa lama kamu ngerjain ini?”
“Dari jam sepuluh.”
“Enam jam.”
“Empat jam yang produktif,” katanya. “Dua jam pertama saya nyari di tempat yang salah.”
Dia mengetik lagi. Menutup jendela. Menulis ringkasan di kanal insiden, tiga paragraf, jelas, tanpa satu pun kata yang menunjukkan bahwa penulisnya belum tidur.
Lalu dia menambahkan satu kalimat terakhir, dan aku membacanya dari layar sebelum dia menekan kirim:
Kredit ke tim recon yang sudah bikin alert-nya tahun lalu. Kalau alert-nya nggak ada, kita baru tahu besok siang.
“Ervan.”
“Iya, Bu.”
“Kamu yang nemu.”
“Alert-nya yang nemu, Bu. Saya cuma baca.”
Dia menekan kirim, menutup laptop, dan berdiri sambil mengambil dua gelas kertas kosong dari meja — punyanya dan punyaku — untuk dibuang di jalan keluar.
Aku ikut berdiri, dan pada saat itulah aku menyadari bahwa aku telah duduk di sampingnya selama tiga jam dan tidak sekali pun dia meninggalkan mejanya kecuali untuk membuatkanku kopi.
“Makasih kopinya,” kataku.
Dia berhenti setengah langkah.
Sangat singkat. Kalau bukan aku, tidak akan ada yang melihatnya.
“Nggak apa-apa, Bu,” katanya, tanpa menoleh, dan berjalan terus ke arah lift.
Aku berdiri di lantai sebelas pukul empat lewat dua puluh pagi dan memikirkan satu hal saja:
Dia baru sadar sekarang.
Dan besok, di pantry, tangannya akan berhenti di depan tujuh tombol dan berpikir untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
- 1 Nama di Baris Ketujuh
- 2 Lima Belas Menit
- 3 Diterima, Bukan Dimaafkan
- 4 Enam Hari
- 5 Diberikan ke Junior
- 6 Bandar Taruhan
- 7 Kopi Tanpa Susu reading
- 8 Nol Jam Lembur
- 9 Laki-Laki yang Lebih Mudah
- 10 Kardus di Atas Lemari
- 11 Empat Belas Juni
- 12 Perintah untuk Protes
- 13 Adik yang Tidak Menyapa
- 14 Hampir Pindah
- 15 Yang Dihitung
- 16 Kata yang Dibuang
- 17 Terjebak Aturan Sendiri
- 18 Circuit Breaker
- 19 Migrasi
- 20 draft.txt
- 21 Tawaran ke Kota Lain
- 22 Empat Puluh Jam
- 23 Empat Jam di Lorong
- 24 Panik, Bukan Haru
- 25 Surat yang Tidak Ditandatangani
- 26 Kredit yang Dirampas
- 27 Aku Tahu
- 28 Marah
- 29 Berhenti
- 30 Empat Jam
- 31 Kenapa Akhirnya Ngomong
- 32 Isi Amplop
- 33 Yang Meminta Duluan
- 34 Mode Hemat
- 35 Menu, Film, Warna
- 36 Kiki Menang Taruhan
- 37 Tahun Pertama
- 38 Frankfurt
- 39 Aku yang Nyuruh Kamu Pergi
- 40 Gagal Lagi
- 41 Aku Capek
- 42 Dua Kata
- 43 Potong Rambut
- 44 Amplop Kedua