Chapter Thirty Four
Mode Hemat
POV: Cyntia
Sabtu berikutnya dia memasak untukku, dan aku baru menyadari sesuatu ketika melihat dua panci di atas kompor satu tungku.
Dia membeli panci kedua.
“Kamu beli panci.”
“Iya. Yang lama kecil.”
“Ervan, ini panci kedua.”
Dia melihat kompornya, lalu melihatku, dan dia tidak mengerti apa yang sedang kutunjukkan.
“Ya... iya?”
Aku tidak menjelaskannya. Aku hanya duduk di kursi satu-satunya di ruangan itu — dia berdiri, tentu saja — dan menghitung diam-diam: panci kedua, gelas ketiga, dan sebuah keset kecil di depan pintu kamar mandi yang minggu lalu belum ada.
Tiga benda dalam tujuh hari.
Dinding masih kosong empat sisi. Tapi ada tiga benda baru di ruangan itu, dan semuanya adalah benda untuk dua orang.
Malam itu aku tidak pulang.
Aku tidak akan menuliskan bagian itu.
Yang akan kutuliskan adalah pukul empat pagi.
Aku terbangun karena lampu jalan dari luar jendela, dan ruangan itu remang, dan sisi kasur di sebelahku kosong.
Dia duduk di lantai, bersandar ke dinding, sekitar dua meter dari kasur. Kaus dan celana pendek. Kacamata terpasang.
Tidak melakukan apa-apa. Tidak memegang ponsel, tidak membaca, tidak bekerja.
Duduk.
“Ervan?”
Dia menoleh cepat.
“Bangunin ya. Maaf.”
“Kamu ngapain di lantai?”
Dan dia diam terlalu lama, dan aku sudah cukup mengenalnya sekarang untuk tahu bahwa diam terlalu lama artinya dia sedang menyusun versi yang tidak akan merepotkanku.
“Ervan.”
“Aku bangun jam tiga,” katanya. “Terus aku nggak bisa tidur lagi.”
“Kenapa?”
Dia menekan pelipisnya.
“Karena aku pengin mastiin.”
“Mastiin apa?”
“Kalau kamu masih di sini.”
Aku duduk di kasur dan menarik selimut ke pangkuanku.
“Kamu bisa mastiin dari sini,” kataku. “Kamu tinggal noleh.”
“Iya.” Dia mengangguk pelan. “Tapi kalau aku tidur, aku nggak noleh.”
Kami tidak tidur lagi setelah itu.
Aku turun ke lantai dan duduk di sebelahnya, bersandar ke dinding yang sama, dan dia bergeser sedikit — memberi ruang, atau menjauh, dan aku tidak tahu yang mana, dan itu sendiri sudah menjelaskan sesuatu.
Langit di luar mulai kelabu sekitar pukul lima.
“Kamu inget kosanmu dulu?” kataku.
“Inget.”
“Ada foto kita di Dieng yang ditempel pakai selotip. Yang warnanya kebiruan.”
“Iya.”
“Ke mana?”
Dia diam.
“Ervan.”
“Ada di kardus,” katanya. “Yang kemarin. Di bagian bawah. Aku nggak keluarin.”
Aku menoleh.
“Kenapa nggak?”
Dan dia berkata sesuatu yang membuatku memandangi dinding kosong di seberang kami selama waktu yang lama.
“Karena kalau aku keluarin, aku harus nempel di dinding,” katanya. “Terus tiap hari aku bakal ngeliatnya. Terus tiap hari aku bakal ngerasa harus mastiin itu nggak sia-sia.”
“Itu foto, Ervan. Bukan tagihan.”
Dia menatap lututnya.
“Buat kamu iya,” katanya. “Buat aku semuanya tagihan.”
Aku mulai menghitung sejak hari itu.
Bukan karena aku curiga. Karena aku sudah belajar dari dia bahwa menghitung adalah cara mengetahui sesuatu yang tidak bisa ditanyakan.
Dua minggu pertama, ini hasilnya:
Dia tidak pernah meninggalkan apa pun di apartemenku. Tidak sikat gigi, tidak kaus, tidak pengisi daya. Setiap kali dia menginap, dia membawa tas kecil, dan setiap kali dia pulang, tas itu ikut. Ruang tamuku setelah dia pergi terlihat persis seperti sebelum dia datang.
Dia tidak pernah memilih. Makan di mana: terserah kamu. Nonton apa: terserah kamu. Akhir pekan mau ke mana: kamu lagi pengin apa. Empat belas hari, nol pilihan.
Dia selalu tahu jadwalku lebih baik dariku. Dia tahu aku ada rapat dewan hari Kamis, jadi dia tidak menghubungiku hari Kamis sampai aku menghubunginya duluan. Dia tahu aku tidur larut hari Selasa, jadi Rabu pagi tidak ada pesan.
Yang terakhir ini yang paling halus, dan yang paling lama kubutuhkan untuk melihatnya.
Dia tidak pernah menghubungiku duluan.
Empat belas hari. Nol.
Setiap percakapan yang terjadi antara kami di luar kantor dimulai olehku. Dan begitu aku memulainya, dia hadir sepenuhnya — dia membalas cepat, dia bercerita, dia bertanya, dia bahkan lucu.
Tapi tidak pernah lebih dulu. Tidak sekali pun.
Aku mengujinya pada hari keenam belas, dan aku tidak bangga.
Aku tidak menghubunginya sama sekali. Seharian.
Aku bekerja seperti biasa. Aku melewati pojoknya dua kali. Aku menjawab pesannya di kanal tim dengan wajar.
Dan aku menunggu.
Pukul sembilan malam: tidak ada.
Pukul sepuluh: tidak ada.
Pukul sebelas: tidak ada.
Aku duduk di ruang tamuku dengan ponsel di meja dan menatapnya seperti orang gila, dan pukul setengah dua belas aku menyerah dan mengetik udah tidur? dan dia membalas dalam sembilan detik.
Belum.
Ngapain?
Nunggu.
Aku menatap layar itu.
Nunggu apa?
Dan dia mengetik cukup lama untuk sesuatu yang hanya lima kata:
Nunggu kamu ngabarin. Nggak apa-apa.
Aku menaruh ponselku di meja, telungkup, dan menekan telapak tanganku ke mataku.
Dia menunggu seharian.
Empat belas jam, mungkin lebih, dan dia tidak mengirim satu pun pesan, dan ketika akhirnya aku mengirim satu, dia membalas dalam sembilan detik — yang artinya ponsel itu ada di tangannya.
Dan lalu dia menempelkan tiga kata itu di ujung kalimatnya, seperti orang yang menempelkan plester ke sesuatu yang tidak berdarah.
Aku ke apartemennya keesokan harinya, hari Sabtu, tanpa memberi tahu.
Dia membuka pintu dengan wajah kaget.
“Kamu nggak bilang—”
“Iya. Aku sengaja.”
Aku masuk dan berdiri di tengah ruangan dua puluh satu meter persegi itu.
Panci kedua. Gelas ketiga. Keset. Dan sekarang ada satu benda baru lagi: sebuah botol sampo yang jelas bukan sampo yang dia pakai, di rak kamar mandi, karena dia melihat merek yang kupakai sekali dan membelinya.
Lima benda.
Semuanya untukku.
Tidak ada satu pun yang untuk dirinya.
Aku memeriksa ruangan itu sekali lagi dengan mata yang berbeda, dan aku menemukan hal yang sudah ada sejak kunjungan pertamaku bulan Juni dan tidak pernah kulihat.
Dua monitor. Satu kursi.
Meja kerja yang mahal, bagus, disusun dengan sangat serius — satu-satunya bagian dari ruangan ini yang dirawat.
Karena meja kerja bukan untuk dirinya. Meja kerja adalah alat produksi. Meja kerja adalah tempat dia menghasilkan sesuatu yang berguna untuk orang lain, dan uang untuk alat produksi adalah uang yang bisa dia bayarkan tanpa merasa bersalah.
Tiga tahun dia tinggal di ruangan kosong dengan satu piring, dan dia membeli monitor kedua.
“Ervan, aku mau ngomong.”
Dia menutup pintu dan berdiri di sana dengan tangan di sisi tubuh, dan wajahnya sudah menjadi wajah orang yang bersiap menerima kabar.
Dan itu, tepatnya itu, yang menghancurkanku.
Kami sudah bersama dua minggu. Dan setiap kali aku bilang “aku mau ngomong”, tubuhnya bersiap untuk ditinggalkan.
“Kamu pacaran sama aku pakai rem tangan,” kataku.
Dia tidak menjawab.
“Kamu nggak naruh barang di tempatku. Kamu nggak pernah milih makan di mana. Kamu nggak pernah ngabarin duluan, dan kemarin kamu nunggu empat belas jam terus bilang nggak apa-apa.”
“Cyn—”
“Dan kamu beli panci, gelas, keset, sampo.” Aku menunjuk rak kamar mandi. “Lima barang dalam dua minggu, Ervan, dan semuanya buat aku. Nggak ada satu pun buat kamu.”
Dia melihat ke rak itu.
“Itu emang buat kamu.”
“Aku tahu.”
“Terus salahnya di mana?”
Dan dia menanyakannya dengan tulus. Wajahnya sepenuhnya bingung, sepenuhnya tidak paham, dan aku berdiri di ruangan berdinding kosong empat sisi itu dan menyadari bahwa aku baru saja sampai di dasar dari seluruh urusan ini.
Dia benar-benar tidak melihatnya.
Bukan menolak, bukan menghindar. Dia benar-benar tidak bisa melihat bahwa ada perbedaan antara aku ada di ruangan ini dan aku berguna di ruangan ini.
Dan selama dia tidak bisa melihatnya, dia akan terus mengisi ruangan ini dengan benda-benda untukku sampai ruangannya penuh, dan dia sendiri tidak akan pernah ada di dalamnya.
Aku duduk di kursi satu-satunya.
“Ervan,” kataku. “Duduk.”
“Nggak ada kursi—”
“Duduk di lantai.”
Dia duduk di lantai.
“Mulai besok,” kataku, “aku mau kamu milih satu hal tiap hari. Satu aja. Kecil banget nggak apa-apa. Mau makan apa, mau nonton apa, mau ke mana.”
Dia menatapku.
“Cuma itu?”
“Cuma itu.”
Dan dia mengangguk, dan wajahnya jelas menunjukkan bahwa dia mengira ini adalah permintaan yang sangat mudah.
- 1 Nama di Baris Ketujuh
- 2 Lima Belas Menit
- 3 Diterima, Bukan Dimaafkan
- 4 Enam Hari
- 5 Diberikan ke Junior
- 6 Bandar Taruhan
- 7 Kopi Tanpa Susu
- 8 Nol Jam Lembur
- 9 Laki-Laki yang Lebih Mudah
- 10 Kardus di Atas Lemari
- 11 Empat Belas Juni
- 12 Perintah untuk Protes
- 13 Adik yang Tidak Menyapa
- 14 Hampir Pindah
- 15 Yang Dihitung
- 16 Kata yang Dibuang
- 17 Terjebak Aturan Sendiri
- 18 Circuit Breaker
- 19 Migrasi
- 20 draft.txt
- 21 Tawaran ke Kota Lain
- 22 Empat Puluh Jam
- 23 Empat Jam di Lorong
- 24 Panik, Bukan Haru
- 25 Surat yang Tidak Ditandatangani
- 26 Kredit yang Dirampas
- 27 Aku Tahu
- 28 Marah
- 29 Berhenti
- 30 Empat Jam
- 31 Kenapa Akhirnya Ngomong
- 32 Isi Amplop
- 33 Yang Meminta Duluan
- 34 Mode Hemat reading
- 35 Menu, Film, Warna
- 36 Kiki Menang Taruhan
- 37 Tahun Pertama
- 38 Frankfurt
- 39 Aku yang Nyuruh Kamu Pergi
- 40 Gagal Lagi
- 41 Aku Capek
- 42 Dua Kata
- 43 Potong Rambut
- 44 Amplop Kedua