← Empat Jam

Chapter Five

Diberikan ke Junior

POV: Cyntia


Proyek Atlas adalah hal terbaik yang bisa kutawarkan kepada siapa pun di perusahaan ini, dan aku menghabiskan sebelas hari untuk memastikan hal itu.

Atlas adalah penulisan ulang seluruh sistem pembayaran mitra: dua belas bulan, tim khusus enam orang, anggaran yang sudah disetujui dewan, dan yang paling penting — visibilitas. Siapa pun yang memimpinnya akan presentasi ke dewan direksi setiap bulan. Siapa pun yang berhasil menyelesaikannya akan menjadi Principal Engineer dalam setahun, dan setelah itu namanya akan dikenal di luar gedung ini, di perusahaan-perusahaan yang membayar tiga kali lipat.

Aku menyusun proposalnya sendiri, malam demi malam. Aku memasukkan permintaan penyesuaian level di dalamnya, dari Senior Staff ke Principal, dengan angka yang membuat Tresna mengangkat alis lalu menandatanganinya juga karena dia tahu aku benar.

Aku menyiapkan slide. Aku menyiapkan jawaban untuk setiap keberatan yang mungkin muncul. Aku menyiapkan tiga versi timeline.

Aku tidak menyiapkan diri untuk kata “tidak”.


“Saya usul Kiki, Bu.”

Aku menatapnya melewati meja.

Kami di ruang Sirius, dan aku sengaja memilih ruangan ini karena aku ingin semua orang di lantai sebelas melihat bahwa Ervan Bagaskara sedang duduk berhadapan dengan manajernya di ruang kaca, dan kemudian melihatnya keluar sebagai orang yang memimpin proyek terbesar di perusahaan.

“Kiki dua tahun pengalaman,” kataku.

“Dua tahun tujuh bulan. Dan dia yang paling sering saya suruh baca kode billing setahun terakhir.” Dia membuka laptopnya, memutar layar ke arahku. Ada dokumen di sana, sudah disiapkan, dengan poin-poin. “Ini catatan saya soal dia. Kalau dibimbing enam bulan pertama, dia bisa.”

“Kamu sudah nyiapin ini.”

“Iya.”

“Sebelum aku ngasih tahu isi rapatnya apa.”

Dia membetulkan kacamatanya dengan punggung telunjuk.

“Ibu masukin agenda rapat ‘Diskusi Atlas — kepemimpinan teknis’ tiga hari lalu,” katanya. “Dan Ibu minta HR akses matriks level saya minggu lalu. Nggak susah nebaknya.”

Aku menutup laptopku.

“Ervan. Ini bukan soal Kiki bisa atau nggak. Ini punya kamu. Sistem itu kamu yang jaga lima tahun. Kamu yang paling berhak.”

“Berhak,” ulangnya. Bukan bertanya. Hanya mengambil kata itu, memegangnya sebentar, lalu meletakkannya kembali. “Bu, saya bakal tetap kerja di Atlas. Bedanya cuma nama siapa yang di slide.”

“Bedanya bukan cuma itu dan kamu tahu.”

“Iya, saya tahu.” Dia mengangguk sedikit. “Bedanya, kalau nama saya yang di slide, saya harus presentasi ke direksi tiap bulan, dan saya kehilangan enam jam per minggu buat nyiapin itu. Enam jam itu kalau saya pakai buat refactor, lebih berguna.”

Semuanya masuk akal. Itu bagian terburuknya. Setiap kalimatnya masuk akal secara profesional, bisa dipertahankan di depan dewan mana pun, dan aku tidak bisa membantah satu pun tanpa terdengar seperti orang yang punya agenda pribadi.

Karena aku memang punya agenda pribadi.

“Kalau soal levelnya,” katanya, “saya nggak minta. Kalaupun disetujui, saya nggak akan nolak, kan nggak sopan. Tapi saya nggak minta.”

“Kenapa nggak?”

Dia diam. Satu detik. Dua.

Lalu dia mengangkat bahu, kecil sekali, dan mengatakan kalimat yang akan kuingat lebih lama daripada yang seharusnya:

“Saya lebih berguna kalau nggak kelihatan, Bu.”


Kiki menangis di ruang rapat ketika aku mengumumkannya. Benar-benar menangis, lalu langsung malu, lalu menutupinya dengan bercanda bahwa dia alergi AC, lalu meminta izin ke toilet dan kembali dengan mata merah dan mengumumkan bahwa taruhan hari ini dibatalkan demi menghormati momen bersejarah.

Naufal bertepuk tangan sendirian selama tiga detik sebelum sadar tidak ada yang mengikuti.

Wiwi memandangku dari seberang meja dengan tatapan yang tidak kusukai.

Dan Ervan bertepuk tangan bersama yang lain, dan setelah rapat dia yang pertama menyalami Kiki, dan sore itu juga dia mengirim dokumen tiga puluh dua halaman berisi seluruh pengetahuan tentang sistem billing — arsitektur, jebakan, riwayat keputusan, nama-nama orang di perusahaan mitra yang bisa dihubungi kalau ada masalah — ke Kiki, dengan tembusan kepadaku.

Dokumen itu jelas tidak dibuat dalam satu sore.

Aku memeriksa properti berkasnya. Dibuat sebelas bulan lalu. Terakhir diubah: hari ini, pukul 16.02.

Sebelas bulan dia menyimpan dokumen itu, memperbaruinya diam-diam, menunggu ada orang yang layak menerimanya.

Sebelas bulan dia menyiapkan penggantinya sendiri.

Aku membuka dokumen itu dan menggulirnya sampai halaman terakhir, dan di bagian penutup ada satu paragraf yang jelas ditulis untuk dibaca orang lain suatu hari nanti, bukan untuk hari ini:

Kalau ada bagian yang nggak jelas dan saya nggak bisa dihubungi, cek riwayat commit bulan Maret tahun 2021. Sebagian besar keputusan aneh di sistem ini ada penjelasannya di sana.

Kalau saya nggak bisa dihubungi.

Orang tidak menulis kalimat itu untuk cuti. Orang menulis kalimat itu untuk kemungkinan yang lebih permanen, ditulis dengan tenang, sebelas bulan lalu, oleh seseorang yang sedang membereskan barang-barangnya jauh-jauh hari.

Aku menutup laptop dan tidak membukanya lagi selama sepuluh menit.


Aku menemukan Wiwi di pantry pukul tujuh malam, mengaduk kopi instan dengan wajah orang yang sedang mempertimbangkan pilihan hidupnya.

“Kamu mau ngomong sesuatu tadi,” kataku.

“Nggak.”

“Wi.”

Dia menaruh sendoknya.

“Ibu ngasih Atlas ke Kiki karena Mas Ervan yang minta,” katanya. “Itu keputusan bagus. Kiki emang siap, dan Mas Ervan emang lebih guna di dalam mesin daripada di depan direksi. Saya nggak protes.”

“Tapi.”

“Tapi saya udah tiga tahun ngeliatin orang nyodorin barang bagus ke Mas Ervan dan dia geser terus.” Wiwi mengangkat gelasnya, meniupnya. “Tresna pernah nawarin dia jadi Head of Platform. Dia nolak. Ada yang nawarin dia jadi pembicara konferensi, dia suruh Kiki. Bonus tahunan dua tahun lalu, dia minta dipecah ke tim.”

Aku memegang meja pantry.

“Kenapa?”

“Ya itu, Bu.” Wiwi menatapku lurus. “Saya pikir dulu dia rendah hati. Terus saya pikir dia males politik kantor. Sekarang saya udah nggak mikir dua-duanya.”

“Terus sekarang kamu mikir apa?”

Wiwi meminum kopinya. Dia tidak buru-buru menjawab, dan itu justru yang membuatku ingin lari.

“Orang yang nggak mau dikasih apa-apa,” katanya akhirnya, “biasanya lagi ngerasa nggak pantes dikasih apa-apa. Dan itu bukan urusan HR. Itu urusan orang yang bikin dia ngerasa gitu.”

Dia mencuci sendoknya, menaruhnya di rak, dan berhenti sebentar di pintu pantry.

“Ibu udah kenal dia dari dulu, kan?”

Seluruh tubuhku menjadi dingin.

“Kenapa kamu mikir gitu?”

“Karena Ibu manggil dia ‘Ervan’,” kata Wiwi. “Semua orang di kantor ini manggil dia ‘Mas Ervan’. Semua. Dari OB sampai CTO.” Dia mengangkat bahu. “Cuma Ibu yang enggak.”

Lalu dia pergi.


Aku kembali ke mejaku dan tidak bekerja apa pun selama setengah jam.

Dari tempatku duduk, aku bisa melihat pojok itu. Dua monitor, satu keyboard, satu gelas kertas. Dia masih di sana, tentu saja, menatap layar dengan pantulan kode di kacamatanya, rambut panjang yang mulai lepas dari ikatannya di satu sisi.

Usaha pertamaku: minta maaf. Ditolak — dengan cara diterima.

Usaha kedua: memberinya sesuatu yang besar. Ditolak — dengan cara diberikan ke orang lain.

Aku menyalakan lagi kalimat Wiwi di kepalaku, dan kali ini aku membiarkannya sampai selesai.

Orang yang nggak mau dikasih apa-apa biasanya lagi ngerasa nggak pantes dikasih apa-apa.

Aku pikir aku sedang membujuk seseorang yang marah.

Ternyata aku sedang membujuk seseorang yang sudah memutuskan bahwa dia tidak berhak atas apa pun — dan sudah memutuskan itu sejak lama, dan sudah hidup dengannya selama tiga tahun, dan sudah begitu terbiasa sehingga dia bisa mengucapkannya sambil mengangkat bahu di ruang rapat berdinding kaca.

Saya lebih berguna kalau nggak kelihatan, Bu.

Aku membuka buku catatanku, membalik ke halaman kosong, dan menulis satu baris. Bukan catatan rapat. Bukan apa-apa yang boleh dibaca orang lain.

Kalau dia nggak mau nerima apa pun, aku harus cari sesuatu yang nggak bisa dia tolak.

Aku menatapnya cukup lama sampai tinta di ujung penaku mengumpul dan menetes ke kertas.

Lalu aku menambahkan satu baris lagi, dan tanganku sedikit gemetar saat menulisnya, karena aku tahu persis apa artinya.

Bukan hadiah. Perintah.