← Empat Jam

Chapter Twenty Four

Panik, Bukan Haru

POV: Ervan


Yang pertama kusadari bukan sakitnya.

Yang pertama kusadari adalah bahwa aku tidak tahu jam berapa sekarang, dan itu membuat sesuatu di dadaku berdiri sebelum mataku sempat terbuka penuh.

Langit-langit asing. Bau antiseptik. Bunyi monitor. Selang di punggung tangan kiri.

Aku mencari jendela. Gelap. Bisa malam, bisa dini hari. Aku mencari jam dinding dan tidak ada. Aku meraba meja di samping tempat tidur mencari ponselku dan tanganku menyentuh sesuatu yang salah, dan setelah dua detik aku mengenali bentuknya: kacamataku, dilipat, ditaruh dengan gagangnya menghadap ke arahku supaya mudah diambil.

Aku memakainya.

Dan ruangan itu menjadi jelas, dan hal pertama yang kulihat adalah seorang perempuan tidur di kursi plastik di sudut, dengan jaket menutupi bahunya dan kepala miring ke satu sisi.

Selama satu detik, satu detik penuh, sesuatu di dadaku melakukan hal yang belum pernah dilakukannya dalam tiga tahun.

Lalu dia bergerak sedikit, dan aku melihat rambutnya, dan itu Nadia.

Dan aku merasakan dua hal secara bersamaan, dan aku benci diriku untuk keduanya.

Yang pertama adalah lega.

Yang kedua, dan yang jauh lebih besar, dan yang membuatku menutup mata lagi selama beberapa detik, adalah kekecewaan.


“Mas.”

Nadia bangun ketika aku mencoba duduk.

“Jangan bangun dulu—Mas, jangan—”

“Jam berapa sekarang?”

“Setengah dua.” Dia sudah berdiri, sudah memegang bahuku, sudah menekan tombol pemanggil perawat dengan tangan satunya. “Setengah dua pagi. Mas jangan gerak dulu, saya panggilin—”

“Hari apa?”

“Sabtu.” Dia menatapku. “Mas jatuh hari Jumat siang.”

Aku menghitung. Tiga belas jam.

Tiga belas jam aku tidak ada di dunia, dan selama tiga belas jam itu ada orang-orang yang harus mengurus keberadaanku.

“Ibu tahu?”

“Tahu.”

“Nad—”

“Saya bilang kecapekan. Saya nggak bilang jatuh.” Suaranya bergetar. “Itu Mbak Cyntia yang nyuruh.”

Dan di situlah aku berhenti bertanya, karena aku tiba-tiba tidak sanggup mendengar jawaban berikutnya.


Aku menyusun daftarnya di kepala sambil perawat memeriksa infus dan menanyakan apakah aku pusing.

Ini yang kulakukan ketika aku tidak bisa mengendalikan apa pun: aku membuat daftar. Aku menghitung.

Satu: ambulans. Berarti seseorang menelepon, seseorang menunggu, seseorang naik bersamaku.

Dua: administrasi. Berarti seseorang mengisi formulir, dan formulir rumah sakit menanyakan hal-hal yang tidak diketahui orang kantor.

Tiga: Nadia ada di sini pada pukul setengah dua pagi hari Sabtu dengan termos dan bantal. Berarti seseorang meneleponnya, dan orang itu tahu nomornya, dan orang itu berbicara cukup tenang sehingga adikku tidak menabrak sesuatu di jalan.

Empat: ibuku di Semarang mengira aku kecapekan.

Lima: tiga puluh satu ribu baris sudah selesai. Aku ingat menekan kirim. Itu satu-satunya hal di seluruh daftar ini yang berada di kolom yang benar.

Enam—

“Mas, minum dulu.”

Aku minum.

Enam: seseorang membayar semua ini. Rumah sakit swasta, IGD, CT scan, kamar. Perusahaan punya asuransi, tapi asuransi tidak membayar di muka pada hari Jumat siang. Seseorang menggesek sesuatu.

“Nad, siapa yang urus administrasi?”

“Kantor.”

“Kantor siapa.”

Nadia menaruh gelasnya.

“Mas.”

“Nad.”

“Mbak Cyntia di sini dari jam dua belas siang sampai jam sembilan malam,” katanya. “Dia yang naik ambulans. Dia yang isi formulir. Dia yang telepon saya. Dia yang bayar taksi saya. Dia nunggu di lorong empat jam sebelum boleh masuk, dan saya tahu karena saya balik jam delapan dan dia masih di kursi yang sama persis kayak waktu saya tinggal.”

Ruangan itu berbunyi. Monitor. Infus. Sesuatu di koridor.

“Dia baru pulang pas saya datang,” kata Nadia. “Dan Mas, dia nggak minta saya kasih tahu Mas. Dia malah bilang jangan.”


Ini yang seharusnya terjadi.

Seharusnya aku merasa hangat. Seharusnya ada sesuatu yang mencair. Orang-orang menulis tentang momen seperti ini seolah-olah momen ini adalah obatnya: kau bangun, kau tahu seseorang menunggu, dan sesuatu di dalam dirimu yang sudah lama membeku mulai bergerak lagi.

Yang terjadi padaku adalah ini:

Jantungku mulai berdetak terlalu cepat sampai monitor di sebelahku berbunyi dan perawat harus datang.

Empat jam.

Dia duduk di kursi logam di lorong rumah sakit selama empat jam, karena aku.

Aku menutup mataku dan yang kulihat adalah kursi itu. Aku tahu persis bentuk kursi tunggu rumah sakit. Aku tahu bagaimana punggungmu terasa setelah dua jam. Aku tahu bagaimana rasanya menghitung berapa kali lampu neon berkedip karena itu satu-satunya hal yang bergerak.

Aku tahu semuanya, karena aku sudah pernah duduk empat jam untuknya.

Dan sekarang dia sudah pernah duduk empat jam untukku.

Dan yang kurasakan bukan impas.

Yang kurasakan adalah ngeri.

Karena aku sudah menghabiskan tiga tahun untuk memastikan satu hal saja: bahwa tidak akan pernah ada lagi orang yang harus menunggu karena aku. Bahwa aku tidak akan pernah lagi menjadi sesuatu yang mengambil waktu dari hidup seseorang tanpa pernah membayarnya kembali.

Tiga tahun. Meja yang bisa dikosongkan dalam empat puluh detik. Nol jam lembur. Dinding kosong empat sisi. Semuanya untuk satu tujuan: jangan sampai ada yang berutang, jangan sampai ada yang menunggu, jangan sampai ada yang capek karena aku.

Dan aku merusaknya dalam satu hari.

Empat puluh jam yang kupilih sendiri, dengan sadar, dengan setiap alasan teknis yang benar — dan ujungnya adalah seorang perempuan yang duduk sembilan jam di gedung yang bukan gedungnya, dan seorang adik yang menangis di taksi, dan seorang ibu di Semarang yang tidak tahu.

Ini yang selalu terjadi.

Ini persis yang selalu terjadi.

Aku memberi terlalu banyak — ke sistem, ke tim, ke tiga puluh satu ribu baris — dan tagihannya selalu, selalu, jatuh ke orang lain.

Perawat menaikkan sesuatu di infus dan menyuruhku tenang.

Aku tenang.

Aku selalu bisa tenang. Itu satu-satunya hal yang benar-benar kukuasai.


Menjelang subuh, ketika Nadia akhirnya tertidur lagi di kursi, aku berbaring menatap langit-langit dan memikirkan rambutku.

Perawat memindahkannya tadi supaya tidak kena perban. Dia berkata, ramah, basa-basi orang malam: “Sayang ya rambutnya, panjang gini.”

Aku bilang tidak apa-apa.

Kenyataannya begini: aku berhenti potong rambut tiga tahun lalu bukan karena kenangan apa pun. Itu terlalu puitis dan aku bukan orang seperti itu.

Aku berhenti karena potong rambut adalah hal yang kau lakukan untuk dilihat orang.

Kau duduk di kursi, kau melihat cermin, kau memikirkan bagaimana kepalamu akan terlihat di ruangan berisi manusia. Itu percakapan antara kau dan dunia tentang bagaimana kau ingin ditanggapi.

Dan tiga tahun lalu aku memutuskan bahwa aku tidak punya urusan lagi dalam percakapan itu.

Bukan hukuman. Bukan kesedihan. Cuma penghapusan sebuah keperluan.

Setiap enam bulan, kalau sudah benar-benar mengganggu waktu bekerja, aku memotong ujungnya sendiri dengan gunting dapur, di depan cermin kamar mandi, tanpa menyalakan lampu besar.

Itu saja.

Aku memikirkan itu di ranjang rumah sakit pukul lima pagi, dan lalu aku memikirkan sesuatu yang lain, dan pikiran ini datang dengan sangat dingin dan sangat jelas, seperti kesimpulan dari sebuah dokumen desain:

Selama aku ada di lantai sebelas, dia akan terus melakukan ini.

Dia akan terus membuat aturan untukku. Dia akan terus menolak promosi. Dia akan terus duduk di kursi logam di lorong rumah sakit.

Aku tidak bisa menghentikannya, karena aku sudah mencoba selama empat bulan dengan setiap alat yang kupunya, dan tidak satu pun berhasil.

Yang bisa kuhentikan adalah keberadaanku di ruangan itu.

Aku mengambil ponselku dari meja kecil. Baterainya tiga persen; seseorang jelas sudah mengisinya sebagian.

Aku membuka portal karyawan.

Formulirnya ada di sana, di menu yang sama dengan tiga tahun lalu, dengan tata letak yang bahkan belum diperbarui.

Permohonan Mutasi Internal.

Aku mengetik dengan satu tangan, pelan, karena tangan kiriku ada infusnya.

Tujuan: Tim Infrastruktur, kantor cabang Surabaya.

Alasan: pengembangan karier.

Dan di kolom terakhir, kolom yang menanyakan tanggal efektif yang diinginkan, aku mengetik tanggal paling awal yang diizinkan sistem.

Aku menekan kirim pukul lima lewat dua puluh tiga pagi hari Sabtu, dari ranjang rumah sakit, dengan lima jahitan di pelipis kiri dan hemoglobin delapan koma dua.

Notifikasinya akan sampai ke satu orang untuk persetujuan.

Manajer langsung.