← Empat Jam

Chapter Forty Two

Dua Kata

POV: Cyntia


Dia menelepon Tresna hari Senin pagi.

Bukan naik ke lantai dua puluh tiga, bukan memesan slot di kalender. Dia menelepon pukul delapan lewat sepuluh dari tangga darurat, seperti orang yang tidak ingin memberi dirinya sendiri waktu untuk berubah pikiran.

Aku tahu karena Wiwi melihatnya masuk ke tangga darurat dan Wiwi memberitahuku, dan karena satu jam kemudian Tresna mengirim satu pesan ke kanal manajer yang isinya:

Cyn, mampir ke ruanganku bentar.

“Ervan narik penolakannya,” katanya, begitu aku duduk.

Aku menunggu.

“Frankfurt masih terbuka. Mereka belum isi posisinya.” Tresna menyandarkan punggungnya. “Aku udah kabarin mereka pagi ini. Mereka minta wawancara dua putaran, formalitas, tapi tetep ada. Bulan depan berangkat kalau lancar.”

“Bagus, Pak.”

“Cyn.”

“Iya, Pak.”

“Aku nggak nanya sebagai CTO.” Dia menaruh penanya. “Kamu tahu soal ini?”

“Enggak.”

“Dia nggak ngomong sama kamu?”

Dan aku duduk di ruangan itu dengan pemandangan seluruh kota di belakang punggung Tresna, dan aku merasakan sesuatu yang sama sekali tidak kuduga, dan itu bukan sakit hati.

“Belum,” kataku. “Dia bakal ngomong nanti.”

“Kamu yakin?”

“Iya, Pak,” kataku. “Saya yakin.”

Dan aku benar-benar yakin, dan aku tidak bisa menjelaskan kepada Tresna kenapa — kenapa perbedaan antara dia nggak ngomong dan dia belum ngomong adalah seluruh isi enam bulan terakhir hidupku.


Dia memberitahuku Rabu malam.

Di apartemennya, setelah makan, sebelum aku pulang. Dia sudah menaruh gelas di meja dan berdiri di dekat kompor dan berkata:

“Cyn, aku mau ngomong sesuatu. Duduk dulu.”

Dan aku duduk, dan aku mendengarkan seluruhnya, dan aku tidak menyela satu kali pun.

Dia menceritakan panggilan ke Tresna. Dua putaran wawancara. Bulan depan. Dua tahun.

Lalu dia berkata, “Aku belum bilang iya ke mereka. Aku bilang ke Tresna aku mau maju, tapi aku belum tanda tangan apa-apa.”

“Kenapa belum?”

“Karena ini bukan cuma keputusan aku.”

Empat kata terakhir itu.

Aku memegang gelasku dengan dua tangan dan menahan wajahku tetap biasa saja dengan seluruh tenaga yang kupunya, karena aku tahu kalau aku menangis sekarang dia akan mengira dia melakukan sesuatu yang salah.

“Kamu mau apa?” tanyaku.

“Aku mau ambil.”

Tanpa jeda. Tanpa menghitung.

“Kenapa?”

Dan dia berkata sesuatu yang membuatku menaruh gelas itu di meja.

“Karena kalau aku nggak ambil sekarang, alasannya bukan karena aku nggak mau,” katanya. “Alasannya karena aku takut. Dan aku nggak mau punya hidup yang bentuknya diatur sama hal yang aku takutin.”


Kami menghabiskan sisa minggu itu membicarakannya seperti orang dewasa, yang ternyata jauh lebih membosankan dan jauh lebih baik daripada semua percakapan dramatis yang pernah kami lakukan.

Aku tidak bisa ikut bulan depan. Itu jelas sejak awal — tahun fiskal, kantor Surabaya, tim yang baru saja stabil setelah program transfer. Kalau aku pergi sekarang, semua yang kubangun selama enam bulan akan roboh, dan aku akan menjadi orang yang menyelamatkan hubungannya dengan menghancurkan pekerjaan empat belas orang.

Jadi jaraknya nyata, dan angkanya nyata, dan kami menuliskannya di kertas seperti dua orang gila.

Frankfurt. Beda waktu enam jam kalau musim dingin, lima kalau musim panas.

Bukan dua belas.

“Enam,” katanya, waktu pertama kali kami menghitungnya, dan dia mengucapkannya dengan nada orang yang membaca hasil laboratorium.

“Enam.”

“Setengahnya.”

“Iya.”

Dan kami berdua diam cukup lama sesudahnya.


Yang terjadi berikutnya terjadi pada hari Minggu, dan bentuknya sangat kecil, dan aku tidak akan pernah bisa menjelaskan kepada siapa pun kenapa itu adalah momen terpenting dalam seluruh hidupku.

Aku di dapurnya — dapur, dua langkah, kompor satu tungku — mencuci dua panci.

Dan di belakangku, dia sedang melakukan sesuatu.

Aku mendengar bunyi kardus. Lalu bunyi sesuatu yang diseret. Lalu diam cukup lama.

Aku tidak menoleh, karena dia sedang membereskan barang untuk pindah dan sudah tiga hari begitu dan aku sudah belajar untuk tidak mengawasinya.

Lalu aku mendengar bunyi kertas.

Dan aku menoleh.

Dia berdiri di depan dinding kosong di sebelah meja kerjanya, memegang sesuatu dengan dua tangan, dan aku tahu apa itu bahkan dari jarak tiga meter, karena warnanya terlalu biru.

Foto Dieng.

Cetakan tukang cetak murah, tahun keempat kuliah, dua orang berumur dua puluh dua tahun dengan jaket yang salah dan wajah yang belum tahu apa-apa.

Dia memegangnya. Dan dia memegang selotip di tangan yang satunya.

Dan dia berdiri di depan dinding itu, tidak bergerak, selama waktu yang cukup lama sehingga aku mematikan keran.


“Ervan?”

Dia tidak menoleh.

“Ini nggak mau nempel,” katanya.

Suaranya sangat normal.

Aku berjalan mendekat dan melihat: dinding apartemen itu dicat ulang dengan cat yang murah dan berpori, jenis cat yang tidak mau menerima selotip. Ada empat potongan selotip yang sudah terlepas dan menggantung.

“Pakai lakban dobel,” kataku.

“Nggak ada.”

“Besok aku—”

“Cyn.”

Aku berhenti.

Dan dia menoleh, dan wajahnya adalah wajah orang yang sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih berat daripada menempel foto, dan dia berkata:

“Bantu aku.”


Dua kata.

Aku berdiri di apartemen dua puluh satu meter persegi itu dengan tangan masih basah dan menatap seorang laki-laki berumur dua puluh sembilan tahun yang baru saja meminta tolong untuk menempelkan selembar foto ke dinding.

Aku tidak tahu apa yang terjadi pada wajahku.

Aku tahu bahwa aku berkata, “Iya,” dan aku tahu bahwa suaraku keluar dengan benar, karena dia tidak melihatku dengan cara yang aneh.

Aku memegang ujung kiri foto itu. Dia memegang ujung kanan. Aku menahan sementara dia menempelkan selotip di keempat sudutnya dengan sangat serius, menekan setiap sudut selama lima detik, karena tentu saja dia menekan setiap sudut selama lima detik.

Fotonya menempel.

Kami mundur satu langkah dan melihatnya.

Selembar foto berwarna terlalu biru di tengah dinding kosong seluas dua meter, tampak sangat kecil dan sangat konyol, dipasang sedikit miring karena kami berdua tidak memikirkan cara mengukurnya.

“Miring,” katanya.

“Dikit.”

“Aku betulin—”

“Jangan,” kataku. “Biarin.”

Dan dia menurunkan tangannya.


Aku kembali ke wastafel dan menyalakan keran lagi.

Aku berdiri membelakanginya dan mencuci panci yang sudah bersih selama mungkin tiga menit, dengan air mengalir cukup keras, dan aku menangis dengan cara yang tidak mengeluarkan suara sedikit pun karena aku sudah tiga tahun berlatih.

Tiga tahun.

Enam bulan mengejar, lima usaha yang gagal, satu kredit yang kurampas di depan dewan, satu karier yang kuhancurkan sendiri, empat puluh jam, sembilan jam di rumah sakit, empat jam di lorong, dua ratus enam puluh menit yang dia hitung di apartemen ini sambil menunggu telepon dariku.

Dan yang akhirnya datang bentuknya adalah dua kata tentang selotip.

“Cyn?”

“Ya,” kataku, ke arah wastafel.

“Airnya kegedean.”

“Iya. Bentar.”

Aku mengecilkan kerannya dan tetap membelakanginya sampai selesai, karena kalau dia melihat wajahku sekarang, dia akan bertanya kenapa, dan aku akan menjawab, dan dia akan mengerti bahwa dua kata itu adalah hal terbesar yang pernah dia berikan kepadaku.

Dan kalau dia mengerti itu, dia tidak akan pernah bisa mengucapkannya lagi dengan ringan.

Aku mematikan keran, mengeringkan tanganku, dan berbalik dengan wajah yang sudah kususun.

“Ada lagi yang perlu dibantu?”

Dia sedang berjongkok di depan kardus, memilah-milah sesuatu.

“Nanti,” katanya. “Ada rak yang mau aku pasang. Berat.”

“Oke.”

Dan dia melanjutkan pekerjaannya, dan aku berdiri di dapur dua langkah itu, dan di dinding di seberang ruangan ada selembar foto yang dipasang miring.

Aku memikirkannya sepanjang perjalanan pulang.

Dua kata itu tidak menyembuhkan apa pun. Aku tahu itu. Dia masih akan menghitung. Dia masih akan berdiri sepuluh detik sebelum memilih menu. Dia masih akan menaruh gelas di sebelah kiri tanpa menyebutnya apa-apa.

Orang tidak berubah karena satu kalimat, dan aku sudah selesai berharap bahwa ada satu kalimat.

Tapi ada bedanya antara pintu yang terkunci dan pintu yang berat.

Pintu yang terkunci itu masalah. Pintu yang berat itu cuma pekerjaan.

Dan untuk pertama kalinya sejak bulan Mei, aku menyetir pulang tanpa menyusun rencana apa pun untuk besok.