← Empat Jam

Chapter Twenty Eight

Marah

POV: Cyntia


Aku meralat notulennya hari Jumat.

Aku melakukannya dengan cara yang paling tidak bisa ditarik kembali: bukan lewat email, bukan lewat pesan ke sekretaris dewan. Aku meminta waktu lima belas menit dengan Tresna dan Aldi di ruangan yang sama, menutup pintunya, dan mengatakannya.

“Slide sepuluh di rapat Selasa itu salah. Bukan salah data. Salah dengan sengaja.”

Aku menjelaskannya seluruhnya. Keputusan jam ketiga puluh tiga bukan keputusanku. Empat puluh jam itu tidak muncul di mana pun dalam presentasiku, dan itu bukan kelalaian. Aku menulis ulang slide itu enam kali dan memilih versi yang salah.

Tresna mendengarkan dengan wajah yang tidak berubah sama sekali.

“Kenapa?” tanyanya, ketika aku selesai.

“Karena saya punya urusan pribadi dengan Ervan Bagaskara yang seharusnya saya laporkan ke HR waktu saya masuk,” kataku. “Kami pernah berhubungan waktu kuliah. Saya yang mengakhiri. Saya nggak melaporkannya, dan itu pelanggaran, dan itu yang bikin saya ngambil keputusan yang saya ambil hari Selasa.”

Aldi menutup matanya sebentar.

Tresna menaruh penanya.

“Kamu sadar apa yang baru aja kamu lakuin di ruangan ini.”

“Sadar, Pak.”

“Notulen dewan itu udah masuk ke berkas due diligence penggalangan dana. Kalau saya ralat, saya harus jelasin ke investor kenapa diralat.”

“Iya, Pak.”

“Dan kamu tetap mau saya ralat.”

“Iya, Pak.”

Aku pulang hari itu dengan satu surat teguran tertulis di berkas kepegawaianku, kewajiban melaporkan hubungan lama ke HR secara retroaktif, dan pencabutan pencalonan untuk posisi apa pun selama dua belas bulan ke depan.

Aku juga pulang dengan notulen yang benar.

Aku pikir itu setimpal.


Dia mendatangi mejaku pukul sepuluh pagi hari Senin.

Itu sendiri sudah salah. Dalam empat setengah bulan, dia tidak pernah mendatangi mejaku. Tidak sekali pun.

“Bu Cyntia. Bisa lima belas menit?”

Suaranya normal. Wajahnya normal.

“Bisa.”

Kami masuk ke ruang Sirius. Dia menutup pintu.

Dan lalu dia berdiri di sana, tidak duduk, dan menaruh laptopnya di meja dengan sangat pelan, dan berkata:

“Kenapa kamu ralat?”


Aku sudah menyiapkan jawabannya. Aku menyiapkannya sepanjang akhir pekan.

“Karena itu punya kamu.”

“Aku bilang jangan.”

“Aku tahu.”

“Aku bilang jangan tiga hari sebelumnya, di ruangan yang sama, dan aku jelasin alasannya.” Dia masih berdiri. “Aku bilang kalau kamu ralat, kamu harus jelasin kenapa versi pertamanya salah, dan nggak ada penjelasan yang nggak bikin kamu rugi.”

“Iya.”

“Terus kamu ralat.”

“Iya.”

“Dan kamu jelasin semuanya. Termasuk soal kita.”

“Iya.”

Dia mengangguk pelan, beberapa kali, seperti orang yang sedang mencocokkan sesuatu di kepalanya dengan sesuatu yang lain.

“Kamu tahu apa yang barusan kamu ambil dari aku?”

Aku membuka mulutku dan tidak ada yang keluar.

“Empat puluh jam itu punyaku,” katanya. “Kamu bener. Itu punyaku, dan aku ngasihinnya ke kamu hari Selasa, dan itu keputusanku sendiri, bukan keputusan kamu.”

Suaranya tidak naik satu nada pun.

“Itu satu-satunya barang yang aku punya, Cyn.”


“Ervan—”

“Aku belum selesai.”

Dua kata itu.

Dia tidak mengeraskan suaranya. Dia tidak mengangkat tangannya. Dia mengucapkannya dengan volume yang sama seperti orang membacakan agenda rapat, dan aku menutup mulutku seperti orang yang ditampar.

“Empat bulan,” katanya. “Kamu bikin aturan lembur. Aku ikut. Kamu bikin program transfer. Aku ikut, dan aku selesain lebih cepat dari target. Kamu suruh aku protes di rapat, aku bikin sebelas slide semalaman. Kamu nolak tanda tangan mutasiku, aku tarik sendiri formulirnya dalam tiga menit.”

Dia menekan pelipisnya dengan ibu jari, lalu menurunkan tangannya.

“Aku ikut semua. Aku nggak pernah sekali pun bikin susah kamu.”

“Aku nggak minta kamu ikut—”

“Aku tahu kamu nggak minta.” Dia menatapku. “Kamu nggak pernah minta apa-apa. Itu masalahnya dari dulu.”

Ruangan itu menjadi sangat sempit.

“Aku cuma minta satu hal ke kamu,” katanya. “Sekali. Empat bulan, satu permintaan. Jangan ralat.”

Aku memegang tepi meja.

“Dan kamu ralat.”


“Aku ngelakuinnya buat kamu.”

Dan di situlah sesuatu terjadi di wajahnya.

Bukan ledakan. Aku ingin sekali menulis bahwa dia meledak, karena ledakan itu punya bentuk dan punya akhir dan orang bisa memaafkan ledakan.

Yang terjadi adalah sebaliknya. Sesuatu di wajahnya justru menjadi lebih tenang, lebih rata, seperti permukaan air yang turun dan memperlihatkan dasar sungai.

“Enggak,” katanya.

“Ervan—”

“Kamu ngelakuinnya buat kamu.”

Aku tidak bisa bernapas dengan benar.

“Kamu ngerampas kredit aku hari Selasa bukan karena kamu pengin kreditnya,” katanya. “Kamu ngerampasnya biar aku marah. Aku tahu itu hari Selasa juga, waktu kamu ganti slide-nya. Dan aku nggak marah, jadi kamu naikin lagi taruhannya: kamu ralat notulennya, kamu rusak karier kamu sendiri di depan Tresna dan Aldi, kamu ceritain soal kita ke dua orang yang nggak perlu tahu.”

Dia berhenti sebentar. Bukan untuk efek. Untuk mengambil napas.

“Semuanya biar aku ngeluarin sesuatu yang bisa kamu terima sebagai hukuman,” katanya. “Biar kamu bisa berhenti ngerasa bersalah.”

“Itu nggak—”

“Cyn.”

Satu suku kata.

“Itu bener,” katanya.

Dan aku duduk di kursi itu dan tidak membantahnya, karena itu benar, karena aku menulis kalimatnya sendiri di buku catatanku empat bulan lalu dan mencoretnya dan menulisnya lagi.

Kalau dia nggak bisa marah karena disuruh — mungkin dia cuma bisa marah kalau aku bikin dia marah.


“Aku udah bantuin kamu tiga tahun.”

Dia mengucapkannya dengan tenang.

“Tiga tahun aku bilang nggak apa-apa tiap kali kamu nggak bales. Aku bilang nggak apa-apa waktu kamu bohong. Aku bilang nggak apa-apa waktu kamu mutusin aku.” Dia menegakkan badannya sedikit. “Aku bilang nggak apa-apa ke adikku waktu dia mau ngomongin kamu. Tiga tahun, Cyn. Tiap hari.”

Lampu lantai sebelas menyala di balik kaca. Seseorang di luar tertawa.

“Aku bilang nggak apa-apa hari Selasa, di depan lima orang, sambil ngasih empat puluh jamku ke kamu.”

Dia mengambil laptopnya dari meja.

“Kali ini aku nggak mau bantu.”


Aku berdiri.

“Ervan, tunggu—”

“Kamu mau aku marah.” Dia berhenti di depan pintu, dan dia menoleh, dan wajahnya sama sekali tidak marah. “Ini marahnya.”

“Ini bukan—”

“Ini marahnya,” ulangnya. “Kamu ngebayangin aku teriak. Aku nggak teriak. Aku nggak pernah teriak, itu bukan aku, dan kamu tahu itu dari semester tiga.”

Aku menahan sandaran kursi karena lantainya tidak stabil.

“Marahku bentuknya ini,” katanya. “Aku nggak akan bantu kamu ngerasa lebih baik. Nggak hari ini, nggak besok.”

“Ervan—”

“Kamu boleh minta maaf, dan aku nggak akan bilang nggak apa-apa. Kamu boleh bikin aturan baru, dan aku bakal ikut, tapi aku nggak akan bilang itu bagus. Kamu boleh duduk di lorong rumah sakit lagi, dan aku nggak akan nanya kamu nunggu berapa lama.”

Setiap kalimatnya diucapkan dengan volume yang sama.

“Kamu bawa perasaan bersalah kamu ke sini tiap pagi selama empat bulan dan naruh di mejaku, dan aku ambil terus, tiap kali, karena kelihatannya kamu berat banget bawanya.”

Dia membuka pintu.

“Sekarang bawa sendiri.”


Dia keluar, dan pintu ruang Sirius menutup dengan bunyi pneumatik pelan yang selalu terdengar seperti napas.

Aku tidak duduk.

Aku berdiri di tengah ruangan berdinding kaca itu, dan aku bisa melihat seluruh lantai sebelas: Kiki menempel sesuatu di papan, Naufal membawa gelas, Wiwi mengetik, dan di pojok, seorang laki-laki berambut panjang duduk dan menyalakan monitornya seperti tidak terjadi apa-apa.

Semua orang bisa melihat aku berdiri di sana.

Tidak seorang pun bisa mendengar.

Aku ingin menuliskan bahwa aku hancur, tapi kata itu terlalu keras untuk apa yang terjadi. Yang terjadi lebih pelan. Yang terjadi adalah aku berdiri di sana selama waktu yang tidak kuhitung dan pelan-pelan menyadari bahwa aku baru saja mendapatkan persis apa yang kuminta.

Empat bulan aku mengejar satu hal: aku ingin dia marah.

Dan sekarang dia marah, dan bentuk kemarahannya bukan teriakan, bukan pukulan, bukan kata-kata kasar yang bisa kusimpan sebagai hukuman dan kubawa pulang sebagai lunas.

Bentuk kemarahannya adalah: dia berhenti mengurus perasaanku.

Itu saja. Itu seluruhnya.

Dan aku baru mengerti sekarang, berdiri di ruangan ini, bahwa selama tiga tahun aku tidak pernah benar-benar menginginkan dia marah.

Aku menginginkan dia menghukumku, lalu memaafkanku, lalu memberitahuku bahwa aku sudah cukup dihukum.

Aku ingin dia mengurus rasa bersalahku sampai selesai.

Bahkan kemarahan yang kuminta darinya adalah satu hal lagi yang kuminta dia lakukan untukku.

Lampu lantai sebelas menyala terang di balik kaca. Jam sepuluh lewat dua puluh pagi. Hari Senin.

Aku berjalan keluar dari ruang Sirius, duduk di mejaku, membuka berkas jadwal sesi transfer minggu itu, dan mulai bekerja.

Karena tidak ada lagi yang bisa kulakukan, dan karena untuk pertama kalinya dalam empat bulan, tidak ada seorang pun di gedung ini yang akan mengambil ini dariku.