Chapter Thirty Three
Yang Meminta Duluan
POV: Cyntia
Dia tidak menyentuhku sepanjang sisa hari Minggu itu.
Aku menyadarinya sekitar pukul dua siang, ketika kami sudah pindah dari lantai ke meja kerjanya karena punggungku sakit, dan kami sudah makan mi instan dengan dua panci karena panci di apartemen itu cuma ada satu — dia memasak untukku duluan, tentu saja, lalu mencuci pancinya, lalu memasak untuk dirinya sendiri.
Setelah pelukan itu, tidak ada lagi.
Tidak ada tangan yang menyentuh punggung tanganku waktu menyodorkan gelas. Tidak ada bahu yang bersenggolan. Ketika aku bergeser di lantai, dia bergeser juga, menjaga jarak yang tidak pernah kurang dari setengah meter.
Dan dia tidak pernah, sekali pun, mengatakan apa pun tentang apa yang terjadi berikutnya.
Kami bicara enam jam. Tentang buku catatan hitam yang akhirnya dia biarkan kubaca — daftar hal-hal praktis: kursus bahasa, biaya sewa, perkiraan pengeluaran bulanan, jadwal kereta dari distrik itu ke kampusku, dengan waktu tempuh yang sudah dia hitung sampai menit. Tentang ibunya yang menangis di dapur. Tentang Nadia yang saat itu kelas dua SMA dan marah selama sebulan.
Tentang semuanya.
Kecuali kami.
Pukul tujuh malam aku berdiri untuk pulang, dan dia mengantarku ke pintu, dan berkata:
“Besok sesi transfer terakhir jam sembilan. Aku duluan ke ruangannya, biar Naufal nggak nunggu.”
Itu saja.
Aku menyetir pulang dan berhenti di lampu merah dan menyadari, dengan sangat jernih, apa yang sedang terjadi.
Dia sudah menyerahkan seluruh isi kardusnya kepadaku dan tidak berencana meminta apa pun sebagai gantinya.
Tentu saja tidak.
Meminta bukan bagian dari perlengkapannya. Dia bisa memberi tiga tahun. Dia bisa memberi empat puluh jam. Dia bisa memberi seluruh kariernya dan gaji sepertiga dan kamar kedua untuk tesis.
Dia tidak bisa mengajukan satu pertanyaan yang jawabannya mungkin tidak.
Dan kalau aku menunggu dia mengajukannya, aku akan menunggu selamanya, dan aku akan menyebut penantian itu sebagai kesabaran, dan itu akan menjadi kebohongan terakhir yang kukatakan pada diriku sendiri.
Lampunya hijau.
Dan sambil melepas kopling aku memikirkan satu hal lagi, yang lebih tajam.
Selama empat setengah bulan aku mengejar seorang laki-laki dan menyebutnya menebus kesalahan.
Tapi setiap kali aku mengejar, aku selalu mengejar dengan sesuatu di tangan: permintaan maaf, proyek, aturan, program, kredit di depan dewan. Aku selalu datang membawa barang.
Tidak sekali pun, dalam empat setengah bulan, aku datang dengan tangan kosong dan berkata: aku mau kamu.
Karena datang membawa barang itu aman. Kalau ditolak, yang ditolak barangnya.
Aku sudah tiga tahun memikirkan bagaimana caranya dia berhenti berhutang padaku.
Aku belum pernah sekali pun mempertimbangkan bahwa mungkin aku juga tidak pernah berani meminta.
Sesi transfer kedua puluh berlangsung Senin pagi, dan itu sesi terakhir.
Ruang rapat kecil, kamera merekam di sudut, Kiki dan Rio dan Naufal. Dua jam.
Di akhir sesi, Ervan menutup laptopnya dan berkata, “Udah. Semuanya udah pindah.”
Dan Naufal, yang tidak pernah tahu kapan harus diam, berkata: “Terus Mas Ervan ngapain sekarang?”
Ruangan itu tertawa.
Aku tidak tertawa, dan Ervan tidak tertawa, dan selama sepersekian detik mata kami bertemu di seberang meja dan aku melihat sesuatu yang tidak dilihat siapa pun di ruangan itu.
Kiki menepuk punggung Naufal. “Mas Ervan ngapain kek, istirahat lah. Tiga tahun nggak cuti.”
“Iya,” kata Ervan. “Mungkin.”
Aku menemukannya di tangga darurat pukul empat sore.
Dia tidak sedang bersembunyi — dia sedang menelepon vendor, karena sinyal di lantai sebelas payah dan semua orang di gedung ini pada akhirnya belajar bahwa tangga darurat adalah satu-satunya tempat teleponnya jernih.
Dia menutup telepon ketika melihatku.
“Ada apa, Bu?”
Bu.
Hari kerja. Kantor. Dua hari setelah kardus itu dibuka.
“Nggak ada,” kataku.
Dan aku menutup pintu tangga darurat di belakangku.
Tangga darurat lantai sebelas punya cahaya yang aneh: satu lampu neon di setiap bordes, dan tidak ada jendela, jadi kau tidak pernah tahu jam berapa di dalam sana. Dindingnya beton yang dicat abu-abu. Suara langkah orang di lantai lain terdengar dari jauh.
Aku berdiri tiga anak tangga di atasnya sehingga wajah kami hampir sejajar.
“Aku mau nanya sesuatu,” kataku. “Dan aku mau kamu jangan jawab yang paling nggak ngerepotin. Jawab yang bener.”
Dia tidak berkata apa-apa.
“Kamu masih mau sama aku?”
Aku melihatnya berhenti bernapas.
“Cyn—”
“Jangan jawab pertanyaan yang lain,” kataku. “Aku nggak nanya apa itu ide bagus. Aku nggak nanya apa aku pantes. Aku nggak nanya apa itu bakal bikin aku rugi. Aku tahu kamu punya jawaban buat semua itu dan semuanya bakal masuk akal.”
Aku menarik napas.
“Aku nanya kamu mau apa enggak.”
Tangga itu sangat sunyi.
Dia menekan pelipisnya dengan ibu jari, lalu menurunkan tangannya, lalu membetulkan kacamatanya dengan punggung telunjuk — dan aku tahu gerakan itu, aku tahu persis apa artinya gerakan itu, dan aku berkata:
“Ervan. Jangan yang itu.”
Tangannya berhenti di udara.
Dan dia menurunkannya.
“Iya,” katanya.
Satu kata.
“Iya apa?”
“Iya, aku masih mau.” Suaranya rendah dan tidak stabil sama sekali. “Aku nggak pernah berhenti. Nggak sehari pun. Tiga tahun.”
Aku turun satu anak tangga.
“Aku mau kita balik,” kataku. “Dan aku bukan minta maaf, dan aku bukan mau nebus apa-apa. Aku bukan ngasih kamu apa-apa. Aku minta sesuatu buat aku sendiri, dan itu pertama kalinya aku ngelakuin itu ke kamu.”
“Cyn.”
“Ya.”
“Aku nggak bisa janji bisa cinta kayak dulu.”
Dia mengatakannya cepat, seperti orang yang harus mengeluarkannya sebelum kehilangan nyali.
“Aku bakal ngitung. Aku bakal ngitung semuanya — berapa lama kamu bales, berapa kali kamu capek, berapa banyak yang aku ambil dari waktu kamu. Aku nggak bisa matiin itu. Aku udah nyoba tiga tahun.” Dia menatap anak tangga. “Dan aku bakal nahan diri terus. Aku bakal jadi versi yang setengah. Dan kamu bakal ngerasain itu, dan kamu bakal capek lagi, dan—”
“Ervan.”
“—dan aku nggak sanggup ngeliat kamu capek lagi gara-gara aku, Cyn, aku nggak sanggup, aku—”
Aku turun satu anak tangga lagi dan menciumnya.
Dia berhenti bicara.
Aku memegang wajahnya dengan dua tangan, dan pipinya basah, dan aku tidak tahu sejak kapan dan aku rasa dia juga tidak.
Untuk sekitar dua detik, dia tidak melakukan apa-apa. Berdiri diam seperti benda, seperti waktu aku memeluknya di lantai apartemennya.
Lalu tangannya naik ke pinggangku dan mencengkeram kausku dan dia menciumku kembali seperti orang yang sedang membantah sesuatu.
Tangga darurat lantai sebelas. Pukul empat lewat sekian sore hari Senin. Lampu neon, dinding beton abu-abu, bunyi langkah seseorang di lantai delapan.
Dan aku sadar, di tengahnya, bahwa aku sedang menangis juga.
Kami berhenti karena harus, dan dia menempelkan keningnya ke keningku, dan kami berdiri di sana dengan napas yang berantakan.
“Aku nggak minta yang dulu,” kataku.
“Apa?”
“Kamu bilang kamu nggak bisa cinta kayak dulu.” Aku memegang pergelangan tangannya, dan dia tidak menariknya. “Aku nggak minta yang dulu, Ervan. Yang dulu itu yang bikin kita hancur.”
Dia menutup matanya.
“Yang dulu kamu ngasih semuanya sebelum aku minta,” kataku. “Dan aku nggak pernah bisa ngasih balik apa-apa, karena kamu udah ngambil semua tempatnya duluan.”
“Cyn—”
“Aku nggak mau itu lagi.” Aku menggenggam pergelangan tangannya lebih erat. “Aku mau yang jelek. Aku mau kamu ngeluh. Aku mau kamu bilang capek. Aku mau kamu minta sesuatu dan aku ngasih dan kamu nerima.”
Dia membuka matanya.
Dan wajahnya, di bawah lampu neon tangga darurat, adalah wajah orang yang baru saja diberi tahu bahwa dia harus belajar berjalan lagi dengan kaki yang berbeda.
“Aku nggak tahu caranya,” katanya.
Dan itu adalah kalimat paling jujur yang pernah dia ucapkan padaku, dan aku tahu — berdiri di tangga darurat itu, dengan tangannya masih di pinggangku dan pergelangan tangannya masih di genggamanku — aku tahu bahwa yang baru saja dimulai bukan bagian yang mudah.
“Aku tahu,” kataku. “Kita cari bareng.”
Pintu tangga darurat terbuka di bordes atas.
Wiwi berdiri di sana dengan gelas kopi di tangan dan ponsel di tangan yang lain, dan dia melihat kami selama kira-kira satu detik.
Lalu dia berkata, dengan nada yang sama sekali tidak berubah:
“Sinyalnya emang bagus di sini.”
Dan menutup pintunya kembali.
- 1 Nama di Baris Ketujuh
- 2 Lima Belas Menit
- 3 Diterima, Bukan Dimaafkan
- 4 Enam Hari
- 5 Diberikan ke Junior
- 6 Bandar Taruhan
- 7 Kopi Tanpa Susu
- 8 Nol Jam Lembur
- 9 Laki-Laki yang Lebih Mudah
- 10 Kardus di Atas Lemari
- 11 Empat Belas Juni
- 12 Perintah untuk Protes
- 13 Adik yang Tidak Menyapa
- 14 Hampir Pindah
- 15 Yang Dihitung
- 16 Kata yang Dibuang
- 17 Terjebak Aturan Sendiri
- 18 Circuit Breaker
- 19 Migrasi
- 20 draft.txt
- 21 Tawaran ke Kota Lain
- 22 Empat Puluh Jam
- 23 Empat Jam di Lorong
- 24 Panik, Bukan Haru
- 25 Surat yang Tidak Ditandatangani
- 26 Kredit yang Dirampas
- 27 Aku Tahu
- 28 Marah
- 29 Berhenti
- 30 Empat Jam
- 31 Kenapa Akhirnya Ngomong
- 32 Isi Amplop
- 33 Yang Meminta Duluan reading
- 34 Mode Hemat
- 35 Menu, Film, Warna
- 36 Kiki Menang Taruhan
- 37 Tahun Pertama
- 38 Frankfurt
- 39 Aku yang Nyuruh Kamu Pergi
- 40 Gagal Lagi
- 41 Aku Capek
- 42 Dua Kata
- 43 Potong Rambut
- 44 Amplop Kedua