Chapter Twenty Six
Kredit yang Dirampas
POV: Cyntia
Aku merencanakannya selama enam hari, dan aku ingin sangat jujur tentang bagian ini, karena ini adalah hal terburuk yang pernah kulakukan dengan sengaja kepada seseorang.
Bukan tiga tahun lalu. Tiga tahun lalu aku lelah dan bodoh dan tenggelam. Itu kejahatan orang yang tidak melihat.
Ini berbeda. Ini kulakukan sambil melihat.
Logikanya begini, dan logikanya sempurna, dan itulah yang membuatku sanggup:
Ervan tidak bisa berhenti melindungiku. Aku sudah mencoba semua pintu. Aku sudah minta maaf, memberi karier, membuat aturan, menyusun program, menolak promosi, duduk sembilan jam di rumah sakit. Setiap kali, dia menyerap semuanya dan mengembalikannya dalam bentuk kesopanan.
Dia akan melindungiku sampai dia mati. Aku sudah melihat berapa dekat itu.
Jadi satu-satunya jalan yang tersisa adalah membuat melindungiku menjadi mustahil.
Bukan sulit. Mustahil.
Aku harus menjadi orang yang tidak bisa dibela oleh siapa pun di ruangan mana pun — termasuk oleh dirinya.
Rapat post-mortem insiden dijadwalkan Selasa pukul dua, di ruang dewan lantai dua puluh tiga.
Yang hadir: tiga anggota dewan, dua di antaranya investor. Tresna. Aldi. Kepala keuangan. Dan dari tim engineering, aku sebagai penanggung jawab, dengan Ervan diminta hadir sebagai pelaksana teknis.
Presentasinya kususun sendiri. Empat belas slide.
Slide satu sampai sembilan bersih dan benar: kronologi, akar masalah, pustaka konversi, tujuh puluh dua jam log mentah, tiga puluh satu ribu baris, nol selisih. Aku menulisnya dengan jujur dan aku menulisnya dengan baik.
Slide sepuluh berjudul Penanganan & Kepemimpinan Insiden.
Aku menulis ulang slide itu enam kali. Versi pertama adalah versi yang benar. Versi keenam adalah versi yang kubawa ke ruangan.
Aku mencetaknya Senin malam, dan aku duduk di meja makanku memandanginya, dan aku muntah di kamar mandi sekali sebelum tidur.
“Slide sepuluh,” kataku.
Ruang dewan itu punya meja kayu panjang dan kursi yang terlalu empuk dan jendela yang menghadap ke seluruh kota.
Ervan duduk di ujung, dua kursi dari Tresna. Dia belum berbicara sama sekali sepanjang sembilan slide, karena dia memang tidak diminta.
“Insiden ini ditangani dalam empat puluh delapan jam dari deteksi sampai pemulihan penuh,” kataku. “Yang saya ingin sampaikan ke dewan bukan soal teknisnya, tapi soal kenapa itu bisa secepat itu.”
Aku mengganti slide.
“Struktur war room yang saya bangun bulan lalu,” kataku. “Rotasi wajib, dokumentasi bersama, larangan penanganan sendirian. Kerangka itu yang bikin tim bisa bergerak paralel tanpa saling menghalangi.”
Salah satu investor mengangguk sambil mencatat.
“Dan keputusan paling menentukan diambil di jam ketiga puluh tiga,” lanjutku, “waktu saya memutuskan untuk tidak membagi rekonstruksi log ke seluruh tim, tapi memusatkannya, dengan pertimbangan risiko hukum kalau ada satu baris yang salah hitung.”
Aku mendengar suaraku sendiri mengatakannya.
Waktu saya memutuskan.
“Itu keputusan berisiko,” kata investor yang satunya. “Kalau orangnya gagal?”
“Saya sudah hitung,” kataku. “Saya yang tanggung.”
Aku tidak menoleh ke ujung meja.
Aku tidak menoleh selama delapan menit penuh, dan selama delapan menit itu aku merasakan sesuatu di sisi kanan tubuhku seperti orang merasakan panas dari jendela.
Nama Ervan tidak muncul di slide sepuluh.
Nama Ervan muncul di slide tiga, sekali, dalam daftar personel yang terlibat, di antara enam nama lain, diurutkan menurut abjad.
“Ada yang mau ditambahkan dari tim teknis?”
Tresna yang bertanya. Tentu saja Tresna.
Dan aku menghitung mundur di kepalaku, tiga, dua, satu, karena inilah yang kutunggu selama enam hari.
Sekarang.
Sekarang dia berdiri dan berkata bahwa keputusan jam ketiga puluh tiga itu bukan keputusanku. Sekarang dia menyebutkan empat puluh jam. Sekarang dia melakukan hal yang akan dilakukan oleh manusia normal mana pun yang duduk di ruangan dan mendengar pekerjaan terberat hidupnya dipasang di dada orang lain.
Sekarang dia membenciku, dan aku akhirnya punya sesuatu yang nyata, dan setelah itu dia bisa bebas.
Ervan berdiri.
“Terima kasih, Pak.”
Dia tidak memakai slide. Dia berdiri dengan tangan kosong, sedikit pucat, plester kecil masih di pelipis kiri.
“Saya mau menambahkan satu hal yang menurut saya kurang ditekankan di presentasi Bu Cyntia,” katanya.
Ada sesuatu yang jatuh di perutku dan terus jatuh.
“Kerangka war room yang beliau bangun itu bukan sekadar prosedur,” katanya. “Sebelum ada kerangka itu, insiden di perusahaan ini ditangani dengan cara siapa yang paling paham, dia yang kerja sampai selesai. Itu cara yang kelihatan efisien, dan itu cara yang salah, dan saya salah satu orang yang paling lama memakai cara itu.”
Ruangan itu diam.
“Yang bikin insiden kemarin bisa selesai bukan karena ada orang yang kerja lama,” katanya. “Itu justru bagian yang gagal. Yang bikin selesai adalah karena Bu Cyntia yang megang keputusan, bukan yang megang kodenya. Selama empat puluh delapan jam, semua keputusan besar diambil sama orang yang masih bisa mikir, bukan sama orang yang udah nggak bisa.”
Dia menoleh ke arah investor.
“Kalau strukturnya kayak dua tahun lalu, insiden ini selesai dalam lima hari, Pak. Dan kita udah kehilangan tujuh puluh dua jam log.”
“Jadi kamu setuju dengan keputusan pemusatan itu?”
“Itu keputusan yang benar,” kata Ervan. “Dan saya mau catat di notulen bahwa saya sempat menolak sebagian arahan Bu Cyntia selama insiden, dan beliau tetap menahan posisinya. Itu yang saya maksud kepemimpinan.”
Tresna mengangguk pelan.
Investor menulis sesuatu.
Aldi menatapku dari seberang meja, dan wajahnya tidak menunjukkan apa pun, dan itu jauh lebih buruk daripada kalau dia menunjukkan sesuatu.
Rapat selesai pukul tiga lewat dua puluh.
Aku mendapat pujian di depan dewan. Salah satu investor menyalamiku dan mengatakan sesuatu tentang kematangan operasional. Tresna menepuk bahuku dan berkata bahwa ini akan sangat membantu di penggalangan dana berikutnya.
Aku mengucapkan terima kasih. Aku mengucapkannya dengan benar. Aku tersenyum dengan otot-otot yang tepat.
Ervan keluar lebih dulu, dan pada saat aku sampai di lift, dia sudah tidak ada.
Aku turun ke lantai sebelas dan duduk di mejaku dan tidak bisa membuka satu pun berkas selama empat puluh menit.
Aku sudah memperhitungkan semua kemungkinan. Dia marah. Dia diam. Dia menyerahkan kredit itu tanpa berkata apa-apa.
Yang tidak pernah, sekali pun, masuk ke dalam perhitunganku adalah bahwa dia akan berdiri dan menambahkan argumen baru untuk memperkuat posisiku.
Dia tidak sekadar membiarkanku mengambilnya.
Dia membuatnya lebih kuat.
Dia melihat celah di kebohonganku — bagian tentang keputusan jam ketiga puluh tiga, bagian yang bisa dibongkar oleh siapa pun yang bertanya lebih detail — dan dia menambalnya dengan kesaksian yang tidak bisa dibantah, karena satu-satunya orang yang bisa membantahnya adalah dia.
Dan dia melakukannya dengan menyebut empat puluh jam kerjanya sendiri sebagai bagian yang gagal.
Aku menemukan Wiwi di tangga darurat lantai sebelas pukul lima sore.
Dia sedang duduk di anak tangga sambil memegang ponselnya, jelas sedang bersembunyi dari sesuatu, dan dia melihatku dan langsung tahu.
“Ibu kenapa?”
Aku duduk di anak tangga di bawahnya.
“Wi, kalau ada orang yang ngelakuin sesuatu yang jahat banget ke kamu,” kataku, “dan kamu tahu itu disengaja, kamu bakal ngapain?”
“Saya bakal marah.”
“Kalau kamu nggak bisa marah?”
Wiwi memasukkan ponselnya ke saku.
“Ibu tahu kenapa saya kerja di QA?”
“Nggak.”
“Karena kerjaan QA itu satu-satunya kerjaan di dunia di mana saya dibayar buat bilang ‘ini rusak’ ke muka orang.” Dia menatap tangga di bawahnya. “Bapak saya nggak pernah bisa bilang gitu. Sekali pun. Sampai meninggal.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Orang yang nggak bisa marah itu bukan orang yang sabar, Bu,” katanya. “Itu orang yang udah lama banget mutusin kalau marahnya nggak ada tempatnya.”
Dia berdiri, membersihkan celananya.
“Dan kalau Ibu maksa nyariin tempat buat marahnya,” katanya, “Ibu harus siap sama apa yang keluar. Karena itu bukan marah empat bulan. Itu marah tiga tahun.”
Dia membuka pintu tangga darurat, dan cahaya lantai sebelas masuk, dan dia berhenti sebentar di ambangnya.
“Bu.”
“Iya.”
“Apa pun yang Ibu lakuin tadi di lantai dua puluh tiga,” katanya, “jangan diulang.”
Pintu tertutup.
Dan aku duduk di tangga darurat, di tempat orang menangis di kantor, dan menyadari bahwa Wiwi bahkan tidak perlu tahu apa yang kulakukan untuk mengetahui bahwa aku telah melakukan sesuatu.
- 1 Nama di Baris Ketujuh
- 2 Lima Belas Menit
- 3 Diterima, Bukan Dimaafkan
- 4 Enam Hari
- 5 Diberikan ke Junior
- 6 Bandar Taruhan
- 7 Kopi Tanpa Susu
- 8 Nol Jam Lembur
- 9 Laki-Laki yang Lebih Mudah
- 10 Kardus di Atas Lemari
- 11 Empat Belas Juni
- 12 Perintah untuk Protes
- 13 Adik yang Tidak Menyapa
- 14 Hampir Pindah
- 15 Yang Dihitung
- 16 Kata yang Dibuang
- 17 Terjebak Aturan Sendiri
- 18 Circuit Breaker
- 19 Migrasi
- 20 draft.txt
- 21 Tawaran ke Kota Lain
- 22 Empat Puluh Jam
- 23 Empat Jam di Lorong
- 24 Panik, Bukan Haru
- 25 Surat yang Tidak Ditandatangani
- 26 Kredit yang Dirampas reading
- 27 Aku Tahu
- 28 Marah
- 29 Berhenti
- 30 Empat Jam
- 31 Kenapa Akhirnya Ngomong
- 32 Isi Amplop
- 33 Yang Meminta Duluan
- 34 Mode Hemat
- 35 Menu, Film, Warna
- 36 Kiki Menang Taruhan
- 37 Tahun Pertama
- 38 Frankfurt
- 39 Aku yang Nyuruh Kamu Pergi
- 40 Gagal Lagi
- 41 Aku Capek
- 42 Dua Kata
- 43 Potong Rambut
- 44 Amplop Kedua