← Empat Jam

Chapter Thirty Eight

Frankfurt

POV: Ervan


Tresna memanggilku pukul sepuluh pagi hari Kamis dan menaruh satu lembar kertas di meja, dan aku tahu isinya sebelum membacanya, karena tidak ada berita baik yang disampaikan lewat kertas dicetak kecuali berita yang ingin bisa dipegang.

Principal Architect — Payments Infrastructure

Nama perusahaannya aku kenal. Semua orang yang bekerja di pembayaran mengenalnya. Mereka membangun sistem yang dipakai oleh sistem yang dipakai bank.

Kotanya: Frankfurt.

“Dua tahun,” kata Tresna. “Kontrak penuh, bukan penugasan. Relokasi ditanggung. Mereka minta rekomendasi ke aku tiga bulan lalu, dan aku kasih tiga nama, dan mereka balik cuma nanya satu.”

Aku membaca kertas itu.

Angkanya membuatku harus membaca dua kali. Bukan karena besar — meskipun besar — tapi karena angka itu adalah angka yang diberikan orang kepada seseorang yang mereka anggap sulit didapat.

“Kenapa saya, Pak?”

“Karena kamu satu-satunya orang di Asia Tenggara yang pernah nulis post-mortem soal truncation bug di konversi mata uang lintas zona waktu dan ngasih perhitungannya terbuka.” Tresna mengangkat bahu. “Kamu publikasiin itu di blog engineering kita bulan lalu. Ingat?”

Aku ingat. Cyntia yang memintaku menulisnya. Dia bilang tim lain di industri harus tahu supaya tidak kena hal yang sama, dan aku bilang tidak ada yang akan baca, dan dia bilang tulis aja.

“Van.”

“Iya, Pak.”

“Ingat yang aku bilang tiga minggu lalu?”

Jangan langsung nolak dalam sepuluh detik.

“Ingat.”

“Bagus.” Dia menyandarkan punggungnya. “Aku kasih waktu dua minggu. Dan aku mau kasih tahu satu hal sebagai atasan, terus satu hal lagi bukan sebagai atasan.”

“Silakan, Pak.”

“Sebagai atasan: kalau kamu ambil, perusahaan ini rugi, dan aku bakal cari penggantimu selama setahun dan nggak akan ketemu.” Dia mengetukkan pena. “Bukan sebagai atasan: ambil.”


Aku menolaknya dalam sembilan hari.

Bukan sepuluh detik. Aku ingin mencatat itu, karena aku benar-benar berusaha.

Sembilan hari itu aku melakukan semua yang dilakukan orang normal. Aku membaca profil perusahaannya. Aku membaca soal kotanya. Aku menghitung biaya hidup, aku melihat peta, aku bahkan membuka satu situs properti dan menutupnya lagi setelah empat menit.

Aku membuat spreadsheet.

Tentu saja aku membuat spreadsheet.

Kolom pertama: alasan mengambil. Sebelas baris. Semuanya kuat.

Kolom kedua: alasan menolak. Aku mengetik satu baris dan menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapus lagi.

Karena baris itu tidak bisa ditulis dengan jujur tanpa membuat seluruh spreadsheet itu terlihat seperti apa adanya: sebuah dokumen yang disusun untuk mendapatkan jawaban yang sudah kuputuskan di hari pertama.

Aku menutup berkas itu pada hari kesembilan dan naik ke lantai dua puluh tiga.

“Saya nggak ambil, Pak.”

Tresna menatapku cukup lama.

“Alasannya?”

“Saya baru mulai sesuatu di sini yang belum selesai.”

“Program transfer udah ditutup.”

“Bukan itu.”

Dan Tresna — yang sudah dua puluh tahun mengelola engineer, yang sudah melihat setiap jenis kebohongan yang bisa dibuat orang teknis — Tresna hanya mengangguk pelan dan berkata:

“Oke.”

Dia mengambil kertas itu dari mejanya dan memasukkannya ke laci.

“Aku bakal kabarin mereka minggu depan,” katanya. “Bukan hari ini.”

“Kenapa nggak hari ini, Pak?”

“Karena kamu jawab dalam sembilan hari,” katanya, “dan orang yang beneran nggak mau, jawabnya dalam dua.”


Aku tidak memberi tahu Cyntia.

Aku ingin sangat jelas tentang urutannya, karena urutannya penting dan karena aku sudah cukup sering menyusun ulang urutan untuk membuat diriku terlihat lebih baik.

Aku menerima tawaran itu hari Kamis.

Aku menolaknya hari Jumat minggu berikutnya.

Aku tidak memberi tahunya sekali pun di antara dua tanggal itu.

Sembilan hari. Kami bertemu enam kali dalam sembilan hari itu. Kami makan mi ayam gerobak dekat kantor pos dua kali, karena setelah dia bilang boleh, aku menemukan bahwa aku sanggup memintanya lagi. Kami menonton film yang aku pilih dan filmnya jelek dan dia bilang jelek dan aku merasa lega dengan cara yang aneh.

Dan sepanjang enam pertemuan itu, ada satu lembar kertas di laci meja Tresna dan satu spreadsheet di laptopku dan tidak satu kata pun keluar dari mulutku.


Aku sudah memikirkan kenapa, berkali-kali, dan aku bisa memberikan tiga alasan.

Alasan pertama, yang paling mudah diucapkan: aku tidak ingin membebaninya dengan keputusan yang sudah kuambil.

Alasan kedua, yang lebih jujur: aku takut dia akan menyuruhku pergi.

Dan alasan ketiga, yang baru kupahami di hari kedelapan, waktu aku berdiri di depan kompor menuangkan air ke atas bubuk kopi dan menghitung waktu di ponselku seperti orang gila:

Kalau aku memberitahunya, itu berarti aku mengakui bahwa keputusan ini bukan cuma keputusanku.

Dan aku belum pernah, seumur hidupku, punya keputusan yang bukan cuma keputusanku.

Tiga tahun aku memutuskan segalanya sendirian karena tidak ada orang lain di ruangan. Empat tahun sebelumnya aku memutuskan segalanya sendirian karena aku tidak ingin merepotkan orang di ruangan.

Aku tidak tahu caranya membuka mulut dan berkata: ada ini, dan ini menyangkut kamu juga.

Aku tahu caranya memberi. Aku tahu caranya menolak. Aku tahu caranya menyerap.

Aku tidak tahu caranya berbagi.

Dan ada satu hal lagi, yang lebih kecil dan lebih memalukan, yang baru kusadari pada hari kesembilan ketika aku menutup spreadsheet itu.

Sebagian dari diriku ingin dia memaksaku.

Sebagian dari diriku menyimpan Frankfurt selama sembilan hari sambil berharap dia mengetahuinya dari orang lain — sambil berharap dia datang ke apartemenku dan marah dan berkata kenapa kamu nggak bilang — karena kalau dia yang memaksa, maka keputusannya bukan keputusanku, dan kalau keputusannya bukan keputusanku, aku tidak perlu bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi setelahnya.

Tiga tahun aku membenci diriku karena memberi terlalu banyak.

Dan sekarang aku duduk di ruangan berdinding kosong empat sisi sambil menunggu seseorang mengambil keputusanku dari tanganku.


Dia tahu dari Tresna.

Hari Rabu, sepuluh hari setelah aku menolak, di rapat perencanaan kuartal, dengan sembilan orang di ruangan.

Aku tidak ada di rapat itu. Aku tahu detailnya kemudian, dari Wiwi, yang menceritakannya kepadaku dengan wajah orang yang sedang memberi peringatan cuaca.

Mereka sedang membahas rencana perekrutan tahun depan. Dan Tresna, yang tidak tahu apa-apa dan tidak bermaksud apa-apa, berkata:

“Buat arsitektur pembayaran kita aman, karena Ervan nolak tawaran Frankfurt bulan ini. Jadi nggak usah panik.”

Dan Wiwi bilang bahwa Cyntia mengangguk, menulis sesuatu di bukunya, dan melanjutkan agenda ke butir berikutnya tanpa satu detik pun jeda.

“Terus?” kataku.

“Terus rapat selesai jam empat,” kata Wiwi. “Terus dia masuk ruang Sirius sendirian dan nutup pintu.”

“Berapa lama?”

Wiwi meminum kopinya.

“Sampai lampu lantai sebelas mati otomatis, Mas.”


Ponselku menyala jam delapan malam.

Kamu di rumah?

Iya.

Aku ke sana.

Tiga kata. Bukan pertanyaan.

Aku duduk di kursi satu-satunya di apartemen dua puluh satu meter persegi ini dan menatap layar, dan aku menghitung — karena aku selalu menghitung, dan karena kali ini hitungannya sangat sederhana dan sangat buruk.

Sepuluh hari.

Aku menyembunyikan sesuatu darinya selama sepuluh hari.

Dan aku menyembunyikannya bukan dengan berbohong. Aku menyembunyikannya dengan cara yang sama persis seperti yang dia lakukan padaku tiga tahun lalu: dengan diam yang setiap butirnya bisa dibela satu per satu.

Aku nggak mau ngerepotin.

Aku lagi sibuk.

Nanti aja kalau udah pasti.

Aku menaruh ponselku telungkup di meja.

Tiga tahun aku menyimpan empat jam.

Sepuluh hari aku menyimpan Frankfurt.

Dan aku duduk di ruangan berdinding kosong empat sisi itu dan menyadari, dengan sangat terlambat, bahwa aku tidak pernah benar-benar tidak mengerti kenapa dia diam waktu itu.

Aku cuma belum pernah berada di sisi yang ini.

Dan dari sisi yang ini, tidak ada satu butir pun yang terasa seperti kebohongan.

Itu bagian yang paling menakutkan. Setiap hari dari sepuluh hari itu punya alasannya sendiri, dan setiap alasannya masuk akal, dan tidak ada satu pagi pun di mana aku bangun dan memutuskan untuk menyembunyikan sesuatu.

Kau tidak pernah memutuskan untuk diam.

Kau cuma menunda satu hari, sepuluh kali.