← Empat Jam

Chapter Forty Four

Amplop Kedua

POV: Cyntia → Ervan → Cyntia


[Cyntia]

Penerbangannya pukul sebelas malam, transit satu kali, dan itu berarti kami sampai bandara pukul delapan.

Kiki datang. Wiwi datang. Naufal datang dari kantor barunya dengan kemeja yang jelas masih baru. Nadia datang dengan ibunya, yang turun dari Semarang dua hari sebelumnya dan yang memelukku di ruang tamu apartemen Ervan tanpa mengatakan apa-apa selama sepuluh detik penuh.

Kiki membawa spanduk.

Spanduk sungguhan, dicetak, satu setengah meter, bertuliskan SELAMAT JALAN MAS ERVAN — LANTAI 11 SELAMANYA dengan foto wajah Ervan yang diambil dari kanal tim tanpa izin dan diperbesar sampai buram.

“Kiki.”

“Bu, ini murah kok.”

“Bukan itu masalahnya.”

Ervan berdiri di depan spanduk itu dengan wajah orang yang ingin masuk ke dalam koper sendiri, dan Wiwi memotret semuanya, dan Naufal menangis lagi.

Mereka pulang pukul sepuluh, satu per satu.

Nadia yang terakhir. Dia memeluk kakaknya lama sekali dan berkata sesuatu ke bahunya yang tidak kudengar, dan Ervan mengangguk beberapa kali.

Lalu tinggal kami berdua di depan gerbang keberangkatan internasional.


Aku mengeluarkannya dari tas pukul sepuluh lewat dua puluh.

Amplop cokelat. Ukuran folio. Amplop kantor biasa, jenis yang dipakai untuk mengirim dokumen antar-lantai.

Aku sengaja.

Aku melihat wajahnya berubah begitu dia melihat bentuknya.

“Cyn—”

“Buka.”

“Aku—”

“Ervan,” kataku. “Buka sekarang. Di sini. Aku nggak mau kamu buka di pesawat.”

Dan dia mengambilnya dengan dua tangan dan membuka lipatan penutupnya, yang tidak kulem, karena aku tidak melem apa pun.


Lembar pertama sampai keenam.

Enam lembar cetakan konfirmasi tiket.

Jakarta–Frankfurt. Enam tanggal, tersebar sepanjang dua puluh empat bulan. Sudah dibayar. Nomor pemesanan tercetak di sudut kanan atas masing-masing.

Yang pertama: sebelas minggu dari hari itu.

Dia membacanya satu per satu, dan tangannya mulai tidak stabil di lembar ketiga.

“Enam,” katanya.

“Enam.”

“Cyn, ini—”

“Aku hitung,” kataku. “Cuti tahunanku dua belas hari, ditambah libur nasional yang jatuh di hari kejepit, ditambah dua kali kerja jarak jauh yang udah disetujui Tresna. Pas enam.”

“Ini mahal banget.”

“Iya.”

“Cyn—”

“Ervan, denger.” Aku menahan wajahku tetap tenang. “Ini bukan hadiah. Ini bukan aku bayar utang. Aku udah selesai bayar utang, dan kamu udah selesai nolak dibayar.”

Aku menunjuk lembar-lembar di tangannya.

“Ini tanggal,” kataku. “Itu doang. Kamu nggak perlu nunggu sesuatu yang nggak ada tanggalnya.”

Dan wajahnya melakukan sesuatu yang tidak bisa kutuliskan dengan baik.


Lembar ketujuh.

Dia membaliknya, dan berhenti.

TENANCY AGREEMENT.

Frankfurt. Dua belas bulan. Two-bedroom apartment.

Tanggal mulai: dua puluh empat bulan dari hari itu.

Dan di kolom penyewa, dua nama diketik.

ERVAN BAGASKARA

CYNTIA PRAMESWARI

Kolom tanda tangannya kosong. Dua-duanya.

Dia menatap kertas itu di bawah lampu bandara.

“Kolomnya kosong,” katanya.

“Iya.”

“Kenapa kosong?”

“Karena aku nggak akan tanda tangan sendirian,” kataku. “Sekali pun. Nggak pernah lagi.”

Aku mengambil tangannya dan menaruhnya di atas kertas itu.

“Dua tahun lagi kita isi bareng, di tempat yang sama, hari yang sama. Kalau kita masih mau.” Aku menahan suaraku. “Dan kalau ternyata kita nggak mau, kita robek bareng-bareng. Juga di tempat yang sama.”


Dia menangis di bandara.

Berdiri di depan gerbang keberangkatan internasional Terminal 3 pukul setengah sebelas malam, dengan tujuh lembar kertas di tangan dan koper di sisinya, dan dia menangis dengan bahu yang bergerak dan tidak ada satu pun usaha untuk menyembunyikannya.

Orang-orang lewat. Sebuah keluarga dengan tiga anak. Petugas mendorong troli.

“Maaf,” katanya.

Dan aku memegang wajahnya dengan dua tangan dan berkata:

“Nggak apa-apa.”

Dan aku mengucapkannya dengan sangat pelan, dan aku tahu persis apa yang sedang kulakukan, dan aku tahu dia tahu.

Tiga kata itu.

Tiga kata yang selama tiga tahun berarti jangan taruh apa pun di sini, aku nggak punya tempat buat itu.

Dan sekarang, di bawah lampu bandara, dari mulutku, artinya satu hal saja:

Taruh. Ada tempatnya.


[Ervan]

Aku membuka amplop itu lagi di pesawat, tiga puluh menit setelah lepas landas, dengan lampu kabin sudah diredupkan dan orang di sebelahku sudah tidur.

Enam lembar. Tanggal-tanggalnya.

Aku menghitung.

Tentu saja aku menghitung. Aku tidak akan berpura-pura bahwa aku berhenti menghitung, karena aku tidak berhenti, dan mungkin tidak akan pernah.

Sebelas minggu sampai yang pertama. Tujuh puluh tujuh hari.

Tapi ini yang berbeda, dan aku memikirkannya sepanjang penerbangan sampai langit di luar jendela mulai berubah warna:

Selama tiga tahun aku menghitung mundur dari sesuatu.

Menghitung berapa lama sejak pesan terakhir. Berapa lama sejak dia terakhir membalas. Berapa jam aku duduk di kafe. Berapa menit aku menunggu telepon yang tidak datang.

Menghitung mundur dari sesuatu yang sudah lewat, tanpa titik berhenti, karena tidak ada titik berhenti.

Ini yang pertama kalinya aku menghitung maju.

Menuju sesuatu yang tanggalnya sudah tercetak di sudut kanan atas selembar kertas.

Ada satu hal lagi yang kupikirkan di atas Laut Andaman, dan ini yang paling aneh.

Aku tidak takut.

Tiga tahun lalu aku naik pesawat ke arah yang berlawanan dengan amplop yang sama bentuknya di dalam tas, dan sepanjang dua belas jam itu aku takut. Bukan takut ditolak — aku sudah menghitung kemungkinan itu. Takut yang lain: takut bahwa aku terlalu banyak, bahwa apa pun yang kubawa ini akan menjadi beban di punggung seseorang, bahwa aku akan sampai di sana dan membuat hidup orang lain lebih berat hanya dengan hadir.

Aku benar waktu itu. Itu bagian yang tidak pernah kuceritakan ke Cyntia dan mungkin tidak akan pernah: ketakutan itu bukan halusinasi. Aku memang terlalu banyak.

Bedanya sekarang bukan bahwa aku sudah berhenti terlalu banyak.

Bedanya adalah ada orang yang sudah melihat seluruh takarannya — di trotoar, di bawah lampu jalan, dalam gerimis, dengan bahu yang bergerak dan suara yang jelek — dan tidak melangkah mundur satu pun.

Aku melipat ketujuh lembar itu dan memasukkannya kembali ke amplop dan menaruhnya di kantong depan tasku, bukan di bagasi.

Dan lalu aku mengambil ponselku dan mengetik satu pesan yang tidak akan terkirim sampai aku mendarat.

Aku nunggu yang tanggal 14.

Butir empat belas. Kalau salah satu menunggu, dia bilang dia menunggu.

Hari pertama dan aku sudah memakainya.


[Cyntia]

Aku kembali ke kantor hari Senin.

Lantai sebelas berjalan seperti biasa. Kiki di papan tulis. Wiwi di mejanya. Dua orang baru dari tim infra yang belum kuhafal namanya.

Aku berjalan ke mejaku, dan jalurnya melewati pojok.

Meja itu sudah dibersihkan oleh tim fasilitas. Dua monitor sudah dicabut dan dibawa ke gudang. Kursinya digeser masuk sampai rapat.

Permukaan kosong.

Aku sudah tahu akan seperti ini. Aku sendiri yang mengirim permintaan pembersihannya ke fasilitas hari Jumat.

Yang tidak kutahu adalah bahwa akan ada sesuatu di atasnya.


Sebuah foto.

Bukan yang di dinding apartemennya — yang itu ikut ke Frankfurt, aku melihatnya masuk ke koper.

Ini foto lain, dicetak di tukang cetak lantai dasar dengan kertas yang terlalu mengkilap, dan aku mengenalinya karena Wiwi yang memotretnya empat hari lalu di bandara.

Empat belas orang. Spanduk buram. Naufal menangis. Kiki dua jempol. Nadia dan ibunya di ujung kiri.

Dan di tengah, seorang laki-laki berambut pendek yang berdiri agak canggung dengan wajah orang yang tidak terbiasa difoto.

Fotonya disandarkan ke dinding partisi supaya berdiri.

Dan di bawahnya, selembar sticky note kuning dengan tulisan tangan yang kecil dan rapat:

Ini buat mejanya. Meja nggak boleh kosong. — E


Aku berdiri di pojok lantai sebelas pukul delapan lewat dua puluh pagi hari Senin, memegang meja seseorang yang sudah tidak bekerja di sini lagi, dan aku menangis di depan empat belas orang untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun karier.

Kiki datang berlari.

Wiwi menahan lengannya dan menggeleng, dan Kiki berhenti.

Dan mereka membiarkanku berdiri di sana.


Aku memindahkan foto itu ke mejaku sore itu, dan aku menaruhnya miring, karena aku tidak memikirkan cara mengukurnya.

Dan aku membiarkannya begitu.

Di sebelahnya ada buku catatanku, terbuka di halaman baru, dengan satu baris yang kutulis pagi itu sebelum rapat pertama.

Bukan strategi. Bukan catatan rapat.

Cuma satu angka, dan aku menuliskannya karena aku ingin melihatnya setiap pagi selama tujuh puluh tujuh hari.

77.

Dan di bawahnya, satu baris lagi, karena aku sudah belajar bahwa hal yang tidak diucapkan adalah hal yang membunuh:

Bilang aja kalau lagi nunggu.


TAMAT