Chapter Twenty Seven
Aku Tahu
POV: Cyntia
Aku bertahan dua hari.
Dua hari aku duduk di lantai sebelas dan menyaksikan tidak terjadi apa-apa. Dia bekerja. Dia menjalankan sesi transfer kesembilan belas dan kedua puluh. Dia menyapa dengan sopan setiap pagi. Kiki menang taruhan tentang sesuatu dan berteriak di seluruh ruangan dan Ervan tertawa pendek satu kali.
Notulen rapat dewan diedarkan Rabu siang. Di dalamnya ada kalimat itu, dikutip lengkap: Saya sempat menolak sebagian arahan Bu Cyntia selama insiden, dan beliau tetap menahan posisinya.
Kiki mengirim tautannya ke kanal tim dengan tiga emoji api.
Aku menutup laptopku dan berjalan ke pojok.
“Ervan. Ruang Sirius. Sekarang.”
Aku menutup pintu dan tidak duduk.
“Aku ngerampas kredit kamu.”
Dia menaruh laptopnya di meja.
“Slide sepuluh,” kataku. “Keputusan jam ketiga puluh tiga itu keputusan kamu. Aku yang ngizinin, dan itu doang. Kerangka war room emang punyaku, tapi yang bikin insiden itu selesai adalah empat puluh jam kamu, dan aku nulis presentasi yang bikin kelihatan sebaliknya.”
Dia tidak berkata apa-apa.
“Dan aku nggak salah nulis, Ervan. Aku nulisnya enam kali. Versi pertama bener. Aku ganti.”
Ruang berdinding kaca itu berdengung pelan.
“Aku sengaja,” kataku.
Dan dia berkata:
“Aku tahu.”
Ada beberapa detik di mana aku tidak yakin aku mendengar dengan benar.
Bukan karena isinya. Karena kata pertamanya.
Aku.
Bukan saya.
“Kamu tahu.”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Sejak slide sepuluh keluar di layar.” Dia bersandar sedikit. “Kamu nggak pernah pakai kata ‘saya’ buat ngeklaim apa pun. Empat bulan. Kamu selalu bilang ‘tim’. Waktu presentasi Zero Single Point kamu bilang yang gagal itu kursi yang kamu dudukin, bukan orangnya. Terus tiba-tiba di depan dewan kamu bilang ‘saya yang memutuskan’.” Dia mengangkat bahu, kecil. “Itu bukan kamu. Itu orang yang lagi meranin sesuatu.”
Aku memegang sandaran kursi.
“Terus kenapa kamu tetap belain aku?”
“Karena kamu keliatan capek.”
Aku menarik kursi itu dan duduk, karena kakiku memutuskan sendiri.
“Aku keliatan capek,” ulangku.
“Iya.”
“Ervan, aku baru aja nginjek kamu di depan tiga anggota dewan dan dua investor.”
“Iya.”
“Dan yang kamu liat cuma aku keliatan capek.”
“Aku liat semuanya,” katanya. “Aku liat kamu ganti slide-nya. Aku liat kamu nggak noleh ke aku selama delapan menit. Aku liat tangan kamu waktu megang pointer.”
Dia menaruh kedua tangannya di meja.
“Terus aku liat kamu bilang ‘saya yang tanggung’ ke investor, dan aku tahu kalau aku diem aja terus ada yang nanya detail jam ketiga puluh tiga, cerita kamu bakal bolong dan kamu bakal ketahuan bohong di depan dewan.” Suaranya sama sekali tidak naik. “Jadi aku tambal.”
“Kamu tambal.”
“Iya.”
“Kamu tahu aku bohong, terus kamu bantuin aku bohong lebih rapi.”
“Iya.”
Aku menutup mataku.
“Kenapa,” kataku. “Ervan, kenapa. Kasih aku satu alasan yang masuk akal.”
Dan dia memberikannya, dan alasan itu masuk akal, dan itu yang paling buruk.
“Karena kalau kamu ketahuan bohong di depan dewan,” katanya, “karier kamu di sini selesai. Bukan cuma di sini. Investor itu duduk di lima perusahaan lain.”
“Aku pantes—”
“Kamu nggak pantes kehilangan karier kamu gara-gara aku.”
Ruangan itu sangat sunyi.
“Gara-gara kamu,” kataku.
Dia tidak menjawab.
“Ervan, aku yang ngelakuin. Bukan kamu. Aku yang nulis slide-nya.”
“Iya. Tapi kamu nulisnya karena aku.”
Dia berkata itu dengan sangat tenang, sebagai fakta, sebagai satu baris di dokumen desain.
“Aku nggak tahu persis kamu mau apa,” lanjutnya. “Aku nggak sepinter itu. Tapi aku tahu kamu udah empat bulan nyoba sesuatu, dan tiap kali gagal, dan tiap kali kamu naikin taruhannya. Aturan lembur. Program transfer. Rumah sakit.” Dia menekan pelipisnya dengan ibu jari, lalu menurunkannya. “Dan sekarang kamu sampai di titik nginjek orang di depan dewan. Itu bukan orang yang lagi jahat, Cyn. Itu orang yang lagi kehabisan cara.”
Cyn.
Tiga huruf, di ruangan berdinding kaca, jam sebelas pagi, di kantor.
Dia tidak meralatnya.
“Jadi,” kataku, dan suaraku sudah hancur di tengah, “kamu ngeliat aku mukulin kamu, terus yang kamu pikirin adalah aku bakal terluka gara-gara mukulin kamu.”
“Iya.”
“Itu bukan kebaikan, Ervan. Itu penyakit.”
“Mungkin.”
“Jangan ‘mungkin’—”
“Iya,” katanya. “Itu penyakit.”
Dan dia mengatakannya tanpa perlawanan sedikit pun, dan itu menghentikanku sepenuhnya, karena aku sudah bersiap untuk membantah selama sepuluh menit dan dia menyerahkan seluruh wilayahnya dalam satu kata.
Aku duduk di sana cukup lama sampai lantai sebelas mulai bergerak di balik kaca; orang-orang berdiri untuk makan siang.
“Aku bakal ralat notulennya,” kataku.
“Jangan.”
“Ervan—”
“Kalau kamu ralat sekarang, kamu harus jelasin kenapa versi pertamanya salah. Nggak ada penjelasan yang nggak bikin kamu rugi.” Dia berdiri, mengambil laptopnya. “Udah lewat. Biarin aja.”
“Aku nggak bisa biarin aja.”
“Kenapa nggak?”
Aku mengangkat wajahku.
“Karena aku nggak mau jadi orang yang ngambil dari kamu terus,” kataku. “Aku udah ngelakuin itu empat tahun, Ervan. Aku ngambil waktu kamu, aku ngambil malam-malam kamu, aku ngambil tabungan kamu, aku ngambil satu tahun hidup kamu. Terus aku pergi. Terus aku balik dan minggu ini aku ngambil empat puluh jam kamu di depan dewan direksi.” Aku menarik napas lewat mulut. “Kapan berhentinya?”
Dia berdiri di dekat pintu dengan tangan di gagangnya.
Dan dia berkata sesuatu yang tidak pernah kuduga, dan mengucapkannya dengan nada yang sama sekali tidak pahit — nada orang yang menyampaikan hasil pengukuran.
“Kamu nggak ngambil apa-apa, Cyn.”
“Aku—”
“Aku yang ngasih.” Dia menoleh sedikit. “Itu beda, dan bedanya penting. Kamu nggak pernah minta satu pun dari itu. Nggak sekali pun, empat tahun.”
Dan dia keluar.
Aku duduk di sana dan menatap pintu yang sudah tertutup, dan aku memikirkan satu hal yang tidak sempat kutanyakan.
Aku yang ngasih.
Kalau itu benar — kalau selama empat tahun dia memberi dan aku hanya menerima — maka ada satu pertanyaan yang seharusnya kutanyakan sejak dulu dan tidak pernah kutanyakan sekali pun.
Kenapa.
Kenapa seseorang memberi sebanyak itu, terus-menerus, kepada orang yang tidak pernah memintanya. Kenapa dia mengatur alarm jam tiga pagi. Kenapa dia mengirim uang yang tidak dia punya. Kenapa dia menyimpan dokumen tiga puluh dua halaman selama sebelas bulan untuk seorang junior yang belum tentu ada.
Orang normal memberi karena sayang.
Tapi orang normal juga berhenti kalau capek. Orang normal sesekali mengeluh. Orang normal punya batas, dan batas itulah yang membuat pemberiannya berarti.
Ervan tidak punya batas.
Dan aku duduk di ruang berdinding kaca itu dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun aku mempertimbangkan kemungkinan bahwa yang selama ini kuanggap sebagai cinta yang terlalu besar sebenarnya adalah sesuatu yang lain — sesuatu yang bentuknya persis seperti cinta dari luar, dan dari dalam terasa seperti membayar sesuatu.
Membayar apa, aku belum tahu.
Aku duduk di ruang Sirius selama sisa jam makan siang dan tidak makan.
Kamu nggak pernah minta satu pun dari itu.
Aku memutar kalimat itu berkali-kali, dan setiap putaran membukanya sedikit lebih lebar, dan pada putaran keenam aku sampai ke dasarnya dan langsung berharap aku tidak.
Karena kalau dia benar — kalau memang aku tidak pernah meminta, dan dia yang selalu memberi lebih dulu — maka selama empat tahun aku hidup di dalam sesuatu yang tidak pernah bisa kubayar. Bukan karena aku pelit. Karena tidak ada tagihannya. Karena kau tidak bisa melunasi sesuatu yang tidak pernah ditagihkan.
Dan seorang perempuan berumur dua puluh empat tahun, di negara asing, tidur empat jam sehari, dengan pacar yang mengirim vitamin dan mengatur alarm jam tiga pagi dan tidak pernah sekali pun marah —
perempuan itu tidak sedang dicintai terlalu banyak.
Perempuan itu sedang berutang setiap hari kepada orang yang menolak menagih.
Dan pada akhirnya perempuan itu melakukan satu-satunya hal yang bisa dilakukan orang yang tidak bisa melunasi utangnya.
Dia kabur.
Aku menaruh keningku di meja ruang rapat, di ruangan berdinding kaca di mana sembilan belas orang bisa melihatku, dan tinggal begitu sampai seseorang mengetuk kaca dan bertanya apakah ruangannya bisa dipakai.
- 1 Nama di Baris Ketujuh
- 2 Lima Belas Menit
- 3 Diterima, Bukan Dimaafkan
- 4 Enam Hari
- 5 Diberikan ke Junior
- 6 Bandar Taruhan
- 7 Kopi Tanpa Susu
- 8 Nol Jam Lembur
- 9 Laki-Laki yang Lebih Mudah
- 10 Kardus di Atas Lemari
- 11 Empat Belas Juni
- 12 Perintah untuk Protes
- 13 Adik yang Tidak Menyapa
- 14 Hampir Pindah
- 15 Yang Dihitung
- 16 Kata yang Dibuang
- 17 Terjebak Aturan Sendiri
- 18 Circuit Breaker
- 19 Migrasi
- 20 draft.txt
- 21 Tawaran ke Kota Lain
- 22 Empat Puluh Jam
- 23 Empat Jam di Lorong
- 24 Panik, Bukan Haru
- 25 Surat yang Tidak Ditandatangani
- 26 Kredit yang Dirampas
- 27 Aku Tahu reading
- 28 Marah
- 29 Berhenti
- 30 Empat Jam
- 31 Kenapa Akhirnya Ngomong
- 32 Isi Amplop
- 33 Yang Meminta Duluan
- 34 Mode Hemat
- 35 Menu, Film, Warna
- 36 Kiki Menang Taruhan
- 37 Tahun Pertama
- 38 Frankfurt
- 39 Aku yang Nyuruh Kamu Pergi
- 40 Gagal Lagi
- 41 Aku Capek
- 42 Dua Kata
- 43 Potong Rambut
- 44 Amplop Kedua