← Empat Jam

Chapter Thirty Seven

Tahun Pertama

POV: Cyntia


Aku yang menghubungi Nadia, dan aku melakukannya tanpa memberi tahu Ervan, dan aku tahu persis apa artinya itu.

Nad, aku mau minta tolong. Boleh ketemu?

Dia membalas empat jam kemudian.

Bakso Pak Gito?


Meja pojok kiri. Kipas dinding yang berbunyi klik setiap kali sampai ke ujung. Poster minuman soda tahun dua ribu belas.

Nadia sudah memesan untuk kami berdua sebelum aku datang.

“Mbak nggak usah bilang apa-apa,” katanya. “Saya udah tahu.”

“Tahu apa?”

“Mas Ervan bawa dua panci ke rumah Ibu waktu Lebaran kemarin buat dicuci, terus pas ditanya kenapa dua, dia diem tiga detik.” Nadia mengaduk baksonya. “Tiga detik itu lama banget buat pertanyaan tentang panci, Mbak.”

Aku tertawa. Sungguhan.

“Kamu marah?”

“Enggak.” Dia menaruh sendoknya. “Saya lega.”

“Lega?”

“Iya. Terus saya marah lagi, terus lega lagi, terus marah lagi. Udah dua minggu gitu.” Dia mengangkat bahu. “Saya belum selesai, Mbak. Jangan minta saya selesai sekarang.”

“Aku nggak minta.”

“Bagus.”

Kipas berbunyi klik.

“Terus Mbak mau minta tolong apa?”

Aku memegang gelas es tehku dengan dua tangan.

“Ceritain tahun pertama.”


Dia tidak langsung menjawab.

Dia menghabiskan setengah mangkuknya lebih dulu, pelan, seperti orang yang sedang memutuskan sesuatu, dan aku menunggu tanpa mendesak karena aku sudah belajar dari kakaknya bahwa mendesak tidak menghasilkan apa-apa.

“Kenapa sekarang?”

“Karena aku pacaran sama dia,” kataku, “dan aku nggak tahu siapa yang aku pacarin.”

Nadia mengangkat wajahnya.

“Maksudnya?”

“Maksudnya dia butuh sebelas menit buat milih ayam bakar dari delapan pilihan menu.” Aku menaruh gelasku. “Maksudnya dia bangun jam tiga pagi buat mastiin aku masih ada di kamar. Maksudnya dia bilang dia lupa dia pernah punya yang dia suka.”

Nadia menatap mangkuknya.

“Saya kira Mbak mau tahu buat ngerasa bersalah.”

“Aku udah tiga tahun ngerasa bersalah, Nad. Itu nggak nolong siapa-siapa.” Aku menarik napas. “Aku mau tahu apa yang rusak, biar aku tahu apa yang harus dibenerin.”

Dan dia bercerita.


Bulan pertama.

Dia pulang dari bandara naik taksi bandara dengan koper yang sama, dan dia sampai rumah pukul dua pagi, dan dia tidak membangunkan siapa pun.

Nadia menemukannya pukul enam, duduk di ruang tamu, masih memakai jaket, koper belum dibuka.

Ibunya bertanya bagaimana perjalanannya.

Dia bilang, “Baik, Bu.”

Dan lalu dia masuk kamar dan tidur enam belas jam, dan setelah itu dia bangun dan mandi dan berkata bahwa dia akan kembali bekerja hari Senin, dan tidak ada satu orang pun di rumah itu yang berani bertanya lagi.

Bulan kedua.

Dia mengajukan pengunduran diri, lalu menariknya enam hari kemudian.

“Yang enam hari itu,” kata Nadia, “dia nggak keluar kamar.”

“Sama sekali?”

“Keluar buat kamar mandi. Itu doang.” Nadia mengaduk kuahnya tanpa memakannya. “Ibu naruh makanan di depan pintu. Kadang dimakan, kadang enggak.”

“Dia nangis?”

“Nggak pernah.” Nadia menggeleng. “Itu yang bikin Ibu takut, Mbak. Kalau nangis kan ada bentuknya. Ini nggak ada apa-apa. Cuma pintu ketutup.”

Hari ketujuh, dia keluar, mandi, memakai kemeja, dan pergi ke kantor untuk menarik suratnya.

Malam itu dia makan malam bersama keluarganya dan bertanya tentang sekolah Nadia dan mendengarkan jawabannya dan menanggapi dengan benar.

“Kayak nggak pernah kejadian apa-apa,” kata Nadia.

Bulan ketiga sampai keenam.

Berat badannya turun dua belas kilogram.

“Ibu masak tiga kali sehari. Dia makan. Beneran makan, saya lihat sendiri.” Nadia menatap meja. “Tapi tetep turun. Dokter bilang lambungnya udah mulai bermasalah waktu itu. Dikasih obat. Dia minum dua minggu terus berhenti.”

“Kenapa berhenti?”

“Katanya udah nggak sakit.”

Bulan ketujuh.

Lebaran.

Seluruh keluarga besar berkumpul di rumah nenek mereka di Semarang. Ervan bilang dia tidak bisa pulang karena ada on-call.

“Bohong?”

“Bohong.” Nadia mengangguk. “Saya cek kanal kantornya. Nama dia nggak ada di jadwal.”

“Kenapa dia nggak mau pulang?”

Dan Nadia berkata sesuatu yang membuatku menaruh sendokku dan tidak mengambilnya lagi.

“Karena di Lebaran orang nanya,” katanya. “Bukan yang jahat. Yang biasa. ‘Kapan nyusul?’ ‘Mana pacarnya?’ ‘Kok sendirian?’”

Kipas dinding berbunyi klik.

“Dan Mas Ervan nggak bisa jawab pertanyaan itu tanpa nyalahin seseorang,” kata Nadia. “Dan dia nggak mau nyalahin siapa-siapa.”


Bulan kedua belas.

“Dia pindah,” kata Nadia.

“Ke apartemen yang sekarang?”

“Iya.” Nadia menyeka matanya dengan punggung tangan, cepat, marah pada dirinya sendiri karena harus. “Ibu nangis seminggu. Dia bilang alasannya deket kantor.”

“Deket?”

“Empat puluh menit, Mbak. Rumah kami dua puluh lima.”

Aku menutup mataku.

“Saya bantuin dia pindahan,” kata Nadia. “Saya yang angkat kardus-kardusnya ke atas. Ada delapan kardus.”

Dia berhenti.

“Dua minggu kemudian saya ke sana. Tinggal satu kardus.”

“Yang lain?”

“Dikasih. Dijual. Dibuang.” Nadia menatapku. “Gitarnya, komiknya, kaleng kabelnya, poster-posternya. Semuanya. Dalam dua minggu.”

“Kenapa?”

Dan Nadia mengucapkan kalimat yang, ketika aku memikirkannya lagi berbulan-bulan kemudian, adalah kalimat paling akurat yang pernah diucapkan siapa pun tentang kakaknya.

“Saya nanya waktu itu,” katanya. “Dia bilang, ‘Nggak ada gunanya, Nad.’”

Aku memegang tepi meja.

“Terus saya bilang, ‘Ya emang barang-barang gitu nggak ada gunanya, Mas, emang buat seneng-seneng aja.’”

Nadia menelan.

“Terus dia diem lama banget. Terus dia bilang, ‘Ya itu.’”


Kami duduk di meja pojok kiri itu sampai baksonya dingin.

“Nad,” kataku akhirnya. “Kamu bilang di parkiran dulu, kamu tungguin setahun biar dia ikut marah. Dan nggak pernah.”

“Iya.”

“Sekali pun nggak?”

Nadia menggeleng.

Lalu dia berhenti.

“Sekali,” katanya.

Aku mengangkat wajahku.

“Bulan kesembilan. Saya lagi ribut sama Ibu soal jurusan kuliah, terus saya kesel, terus saya bilang di depan Mas Ervan — saya bilang, ‘Ya kayak Mas Ervan aja, dibodohin orang setahun terus diem aja.’”

Perutku menjadi dingin.

“Terus?”

“Terus dia berdiri.” Nadia menatap mangkuknya. “Dan dia ngomong satu kalimat, dan itu kalimat paling dingin yang pernah saya denger seumur hidup saya, dan dia nggak ngerasin suaranya sama sekali.”

“Apa katanya?”

Nadia mengangkat wajahnya, dan matanya merah seluruhnya.

“‘Jangan pernah ngomongin dia lagi kayak gitu di depan aku.’”

Kipas dinding berbunyi klik.

“Terus dia masuk kamar,” kata Nadia. “Dan besoknya dia bikinin saya sarapan dan nganter saya ke sekolah dan nggak pernah nyinggung lagi.”

Aku menutup wajahku dengan dua tangan.

“Mbak.”

“Sebentar, Nad.”

“Mbak.”

Aku menurunkan tanganku.

Nadia sedang menatapku, dan wajahnya bukan wajah orang yang menghibur.

“Mas Ervan nggak pernah nyalahin Mbak sekali pun,” katanya. “Tiga tahun. Ke saya, ke Ibu, ke temennya, ke siapa pun.”

Dia menaruh sendoknya di mangkuk.

“Itu yang bikin saya marah, Mbak. Bukan Mbak yang pergi.” Suaranya pecah di tengah. “Yang bikin saya marah adalah kakak saya lebih milih rusak sendirian daripada bilang satu kalimat jelek tentang orang yang ninggalin dia.”


Aku menyetir pulang dan berhenti di parkiran gedungku dan tidak keluar dari mobil selama dua puluh menit.

Delapan kardus.

Dalam dua minggu, tinggal satu.

Aku memikirkan Nadia yang berumur sembilan belas tahun mengangkat kardus-kardus itu ke lantai empat gedung tanpa lift, satu per satu, sambil mengira dia sedang membantu kakaknya memulai hidup baru.

Dan aku memikirkan dia datang dua minggu kemudian dan menemukan ruangan yang sudah kosong.

Delapan kardus itu bukan barang. Delapan kardus itu adalah seluruh bukti bahwa ada seorang laki-laki berumur dua puluh enam tahun yang pernah menyukai sesuatu — yang pernah membeli gitar meskipun tidak berbakat, yang menyimpan kabel-kabel di kaleng biskuit karena suatu hari mungkin berguna, yang menempel struk bioskop di dinding termasuk film yang jelek.

Dan dia memeriksa setiap benda itu satu per satu, dan bertanya pada dirinya sendiri: ini gunanya apa.

Dan yang tidak punya jawaban, pergi.

Dan satu itu adalah kardus yang tidak pernah dia buka, yang dia taruh di tempat cukup tinggi sehingga harus benar-benar memutuskan untuk mengambilnya, dan yang kemarin dia turunkan sendiri dan buka di hadapanku di atas selembar koran supaya lantainya tidak kotor.

Aku mengambil ponselku.

Kamu lagi ngapain?

Dia membalas dalam empat puluh detik.

Lagi bikin kopi. Kamu mau ke sini?

Dan aku duduk di mobil di parkiran gedungku sendiri dan menatap enam kata itu.

Kamu mau ke sini.

Bukan pertanyaan yang sopan. Bukan penawaran yang bisa ditolak tanpa biaya.

Dia mengajak.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dia mengajak duluan.