Chapter Thirty Two
Isi Amplop
POV: Cyntia
Aku tidak tidur.
Aku sampai di gedungnya pukul delapan lewat empat puluh dan duduk di mobil sampai pukul sembilan kurang satu menit, karena aku tidak ingin datang terlalu awal dan membuatnya merasa harus terburu-buru, dan karena aku tidak sanggup naik ke lantai empat lebih cepat dari yang diperlukan.
Aku mengetuk.
Dia membuka pintu dengan kaus abu-abu yang sama, tanpa kacamata, rambut tergerai.
Dan kali ini dia tidak mengambil kacamatanya dari saku.
“Masuk.”
Kardus itu ada di lantai, di tengah ruangan, di atas selembar koran yang dia bentangkan supaya lantainya tidak kotor oleh debu.
Dua puluh satu meter persegi. Dinding kosong empat sisi.
Dan satu kardus cokelat berukuran sedang di tengahnya, seperti benda yang baru saja diturunkan dari langit-langit.
Dia sudah menyiapkan dua gelas air di meja. Dua gelas. Aku tahu persis berapa banyak gelas yang dia punya, karena aku pernah melihat raknya, dan aku tidak bertanya dari mana yang kedua.
“Duduk di mana?”
“Di lantai aja,” katanya. “Nggak ada kursi kedua.”
Kami duduk di lantai di sisi berlawanan dari kardus itu, seperti dua orang yang akan bermain sesuatu.
“Aku nggak akan cerita,” katanya. “Aku bakal buka aja. Kalau aku cerita duluan, aku bakal ngatur ceritanya biar kamu nggak kaget, dan aku nggak mau ngelakuin itu lagi.”
“Oke.”
Dia mengambil pisau dapur dari meja dan menyayat lakban yang sudah menguning.
Bunyinya sangat kecil.
Dan aku menyadari, mendengar bunyi itu, bahwa dia sudah menyayat lakban yang sama tiga tahun lalu ketika menutupnya — dan bahwa selama tiga tahun benda ini duduk di atas lemari di ruangan yang dia bersihkan setiap minggu, di atas kepala seorang laki-laki yang tidur miring ke kanan di bawahnya setiap malam.
Aku pernah berdiri di ruangan ini. Bulan Juni. Aku melihat kardus itu selama satu koma lima detik dan dia berpindah tempat tanpa sadar dan berdiri di garis antara aku dan lemari itu selama empat menit.
Empat menit itu ada di kepalaku sekarang sementara pisau dapur bergerak melewati lakban.
Dia menjaga benda ini dariku.
Dan hari ini dia yang menurunkannya.
Yang pertama keluar adalah paspor.
Bukan paspornya sekarang — yang lama, yang sudah kedaluwarsa, sampulnya lecet di sudut. Dia membukanya dan menunjukkan halaman visanya kepadaku dan menaruhnya di lantai di antara kami.
Lalu boarding pass. Dua lembar, transit. Sudah rapuh, tinta termalnya sudah memudar setengah sehingga hanya sebagian huruf yang masih terbaca.
Lalu satu lembar lagi. Boarding pass ketiga, tanggal berbeda, penerbangan pulang.
Aku membaca tanggalnya.
“Ini yang kamu ubah.”
“Iya.”
Lalu buku catatan kecil, jenis yang dijual di minimarket, dengan sampul karton hitam.
“Ini apa?”
“Jangan dulu.” Dia menaruhnya di sisi lain. “Nanti.”
Lalu sebuah amplop cokelat.
Amplop kantor biasa, ukuran folio, yang di kantor mana pun dipakai untuk mengirim dokumen antar-lantai. Sudutnya penyok. Bagian penutupnya tidak pernah dilem — hanya dilipat masuk.
Dia menaruhnya di lantai di depanku.
“Ini yang aku bawa,” katanya.
Aku membukanya dengan tangan yang tidak bisa kuandalkan.
Lembar pertama.
SURAT PENGUNDURAN DIRI
Format yang sama persis. Enam kalimat. Tidak ada alasan, tidak ada rencana selanjutnya, tidak ada satu pun kalimat yang menjelaskan apa pun.
Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan yang timbul.
Tanda tangan di bawah, tinta biru.
Dan tanggalnya.
Tiga belas hari sebelum dia terbang.
Aku mengangkat wajahku.
“Kamu udah tanda tangan ini sebelum berangkat.”
“Iya.”
“Ervan, aku pernah baca surat resign kamu di arsip HR. Tanggalnya sembilan hari setelah kamu pulang.”
“Itu yang kedua,” katanya. “Aku ketik ulang waktu sampai rumah. Yang ini nggak pernah aku serahin.”
Lembar kedua.
Kop surat perusahaan asing. Bahasa Inggris.
Offer of Employment — Backend Engineer.
Nama kotanya di baris kedua.
Kotaku.
Gajinya sepertiga dari yang dia terima di Arunika waktu itu — aku tahu berapa gajinya waktu itu, dia pernah cerita, dia bangga sekali waktu itu — dan jabatannya turun dua tingkat.
Tanggal mulai kerja: dua bulan setelah tanggal surat.
“Kamu turun dua level.”
“Iya.”
“Gajinya sepertiga.”
“Iya.”
“Ervan, kamu—” Aku menaruh kertas itu karena tanganku menggigil terlalu keras untuk memegangnya. “Kamu udah tanda tangan resign, kamu udah terima ini, dan kamu nggak bilang apa-apa.”
“Aku mau bilang di sana.”
Lembar ketiga.
Dan lembar ketiga adalah lembar yang membuatku berhenti bernapas untuk waktu yang cukup lama sampai dia mencondongkan badan.
TENANCY AGREEMENT.
Kontrak sewa. Dua belas bulan. Alamat di distrik yang letaknya empat puluh menit dari kampusku dengan kereta, karena itu yang bisa dijangkau dengan gaji sepertiga.
Two-bedroom apartment.
Dua kamar.
Dan di kolom penyewa, di bagian bawah, dua nama sudah diketik.
ERVAN BAGASKARA
CYNTIA PRAMESWARI
Kolom tanda tangannya kosong. Dua-duanya.
Aku tidak ingat bunyi yang kubuat.
Aku ingat kertas itu ada di lantai dan aku ingat wajahku ada di tanganku dan aku ingat aku berkata sesuatu berulang-ulang tanpa tahu apa yang kukatakan.
Aku ingat dia tidak menyentuhku.
Aku ingat itu dengan sangat jelas: dia duduk di lantai satu setengah meter dariku dan tidak bergerak sedikit pun, dan pada saat itu aku tidak mengerti kenapa, dan aku baru mengerti berminggu-minggu kemudian.
Dia sudah tiga tahun percaya bahwa tangannya adalah bagian dari masalahnya.
“Dua kamar,” kataku, akhirnya.
“Iya.”
“Kenapa dua?”
Dan dia mengangkat bahu, kecil, gerakan yang sudah empat setengah bulan kubenci dan sekarang tidak lagi.
“Karena kamu kalau nulis tesis nggak bisa ada orang di ruangan,” katanya. “Kamu bilang gitu di semester tujuh.”
Aku mengambil buku catatan kecil bersampul karton hitam itu — yang tadi dia sisihkan, yang dia bilang nanti — dan dia tidak menghentikanku.
Halaman pertama: daftar biaya. Sewa, deposit, transportasi bulanan, kursus bahasa tingkat dasar, asuransi. Angka-angka dalam dua mata uang, dengan kurs yang dia tulis tangan di margin.
Halaman ketiga: jadwal kereta. Dari distrik itu ke kampusku. Empat kolom: hari kerja, akhir pekan, kereta pertama, kereta terakhir.
Halaman kelima berjudul, dengan tulisan tangannya yang kecil dan rapat:
Hal yang tidak boleh diulang.
Dan di bawahnya, dua belas baris bernomor.
1. Jangan telepon kalau dia belum menghubungi duluan. 2. Jangan tanya sudah makan atau belum lebih dari sekali sehari. 3. Jangan kirim apa pun yang tidak dia minta. 4. Kalau dia diam tiga hari, jangan hitung harinya.
Aku berhenti di nomor empat.
Dia menulis ini sebelum terbang. Dia menulis dua belas aturan untuk dirinya sendiri, dengan tulisan tangan, di buku catatan minimarket, tentang bagaimana caranya mencintaiku dengan lebih sedikit.
Dia sudah tahu. Sebelum aku mengatakan apa pun, sebelum lampu jalan itu, dia sudah tahu bahwa dirinya terlalu berat, dan dia sudah menyusun sistem untuk menguranginya.
Dan dia tetap membeli tiket.
Aku menutup buku itu.
Aku duduk di lantai apartemen dua puluh satu meter persegi itu dengan tiga lembar kertas di depanku dan menyusun ulang seluruh hidupku selama tiga tahun terakhir.
Bukan kiasan. Secara harfiah: aku mengambil setiap kejadian dan memasangnya kembali di tempat yang benar.
Dia tidak datang untuk mengunjungiku selama lima hari.
Dia datang untuk pindah.
Dia sudah melepas pekerjaannya. Dia sudah menerima gaji sepertiga dan jabatan dua tingkat lebih rendah di negara yang bahasanya tidak dia kuasai. Dia sudah menyewa apartemen dua kamar dengan kamar kedua untukku menulis tesis.
Dia menunggu empat jam di bandara dan lima jam di kafe dan tiga jam di halte, dan sepanjang dua belas jam itu, semua ini ada di dalam tasnya.
Dan dia melihat wajahku, dan dia memutuskan dalam empat detik untuk tidak mengeluarkannya.
“Kenapa kamu nggak bilang?” kataku.
Suaraku hampir tidak ada.
Dia menatap kertas-kertas di lantai.
“Kamu keburu bilang capek.”
“Aku bisa—” Aku berhenti. Mulai lagi. “Kalau kamu bilang, aku bakal—”
“Iya,” katanya. “Kamu bakal tinggal.”
Dan dia mengucapkannya dengan sangat lembut, dan itu bukan kemenangan, itu diagnosis.
“Kamu bakal tinggal, dan kamu bakal berhenti bilang capek, dan kamu bakal ngerasa bersalah tiap hari selama sepuluh tahun karena aku ngelepas kerjaan buat kamu.” Dia mengangkat wajahnya. “Dan aku bakal ngasih lebih banyak lagi. Karena aku nggak bisa berhenti. Itu yang aku pelajarin di halte itu.”
“Ervan—”
“Aku nggak nyimpen ini biar suatu hari kamu tahu,” katanya. “Aku nyimpen ini karena aku nggak sanggup buang. Itu dua hal beda dan aku mau kamu tahu bedanya.”
Aku mengangkat lembar ketiga lagi.
Dua nama, diketik, kolom tanda tangan kosong.
Aku menyentuh namaku sendiri di kertas itu dengan ibu jari, dan tinta lama itu tentu saja tidak melakukan apa pun.
Lalu aku berdiri.
Aku berdiri dan berjalan satu setengah meter dan berlutut di depannya dan memeluknya, dan aku merasakan seluruh tubuhnya menjadi kaku seperti benda.
Aku menghitung.
Aku tidak berencana menghitung. Aku menghitung karena dia terlalu lama diam dan menghitung adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan otakku.
Satu. Dua. Tiga. Empat.
Lima. Enam. Tujuh.
Delapan. Sembilan.
Sepuluh.
Dan pada hitungan kesepuluh, tangannya naik ke punggungku, dan dia memelukku kembali dengan kekuatan yang membuatku tidak bisa bernapas — terlalu erat, jauh terlalu erat, seperti orang yang jatuh dan menemukan sesuatu untuk dipegang.
Dan lalu aku merasakannya.
Bahunya bergerak sekali, dua kali, tanpa suara sedikit pun.
Tiga tahun.
Aku memegang kepalanya dan tidak mengatakan apa-apa, karena tidak ada satu pun kalimat di dunia ini yang tidak akan menghina momen ini, dan karena aku sudah membuang kata yang biasanya kupakai.
Di lantai di sebelah kami, tiga lembar kertas tergeletak di atas koran yang dibentangkan supaya lantainya tidak kotor.
- 1 Nama di Baris Ketujuh
- 2 Lima Belas Menit
- 3 Diterima, Bukan Dimaafkan
- 4 Enam Hari
- 5 Diberikan ke Junior
- 6 Bandar Taruhan
- 7 Kopi Tanpa Susu
- 8 Nol Jam Lembur
- 9 Laki-Laki yang Lebih Mudah
- 10 Kardus di Atas Lemari
- 11 Empat Belas Juni
- 12 Perintah untuk Protes
- 13 Adik yang Tidak Menyapa
- 14 Hampir Pindah
- 15 Yang Dihitung
- 16 Kata yang Dibuang
- 17 Terjebak Aturan Sendiri
- 18 Circuit Breaker
- 19 Migrasi
- 20 draft.txt
- 21 Tawaran ke Kota Lain
- 22 Empat Puluh Jam
- 23 Empat Jam di Lorong
- 24 Panik, Bukan Haru
- 25 Surat yang Tidak Ditandatangani
- 26 Kredit yang Dirampas
- 27 Aku Tahu
- 28 Marah
- 29 Berhenti
- 30 Empat Jam
- 31 Kenapa Akhirnya Ngomong
- 32 Isi Amplop reading
- 33 Yang Meminta Duluan
- 34 Mode Hemat
- 35 Menu, Film, Warna
- 36 Kiki Menang Taruhan
- 37 Tahun Pertama
- 38 Frankfurt
- 39 Aku yang Nyuruh Kamu Pergi
- 40 Gagal Lagi
- 41 Aku Capek
- 42 Dua Kata
- 43 Potong Rambut
- 44 Amplop Kedua