Chapter Thirty Five
Menu, Film, Warna
POV: Cyntia
Hari pertama butuh sebelas menit.
Kami di rumah makan di lantai dasar gedung, jenis tempat yang menunya cuma delapan baris dan ditulis di papan tulis. Delapan pilihan. Semuanya di bawah tiga puluh ribu.
“Kamu duluan,” kataku.
Dia membaca papan itu.
Aku menghitung, karena aku sudah menjadi orang yang menghitung.
Menit pertama: wajar. Orang membaca menu.
Menit ketiga: dia sudah membaca papan itu tiga kali dari atas ke bawah.
Menit kelima: pelayan datang, aku bilang nanti, pelayan pergi.
Menit ketujuh: dia melirikku.
“Kamu mau apa?”
“Nggak. Kamu duluan.”
Menit kesembilan: dia membetulkan kacamatanya dengan punggung telunjuk, dan aku hampir menyerah karena aku tidak sanggup melihatnya.
Menit kesebelas: “Ayam bakar.”
Aku menoleh ke arahnya.
Ada keringat tipis di pelipisnya.
Di ruangan ber-AC. Untuk memilih ayam bakar dari delapan pilihan.
“Kenapa susah?” tanyaku, setelah makanannya datang.
“Nggak susah.”
“Ervan.”
Dia menaruh sendoknya.
“Aku nggak tahu kamu mau apa,” katanya.
“Aku nggak nanya aku mau apa. Aku nanya kamu mau apa.”
“Iya, tapi kalau aku milih ayam bakar terus kamu sebenernya pengin soto, kamu bakal ikut ayam bakar, karena kamu orangnya gitu.” Dia menatap piringnya. “Terus makan siang kamu jadi nggak enak. Karena aku.”
Aku menaruh sendokku juga.
“Berapa banyak yang kamu hitung tiap kali kamu milih sesuatu?”
“Nggak banyak.”
“Ervan.”
Dia diam sebentar.
“Empat,” katanya. “Kamu mau apa. Berapa lama antrenya kalau aku salah pilih. Harganya wajar apa enggak buat kamu. Dan kalau ternyata rasanya jelek, kamu bakal bilang enak padahal enggak, terus aku bakal tahu kamu bohong.”
Delapan pilihan. Tiga puluh ribu. Empat variabel.
Setiap hari, setiap kali, sepanjang hidupnya.
“Waktu kuliah kamu nggak gini,” kataku.
“Waktu kuliah aku nggak punya apa-apa buat rugi.”
Hari keempat, dia memilih film.
Butuh tujuh menit dan dia memilih film yang jelas dia pikir akan kusukai, dan aku tahu itu karena filmnya adalah film yang kusebut sekali, tiga minggu lalu, dalam satu kalimat sambil lalu.
“Ini bukan kamu milih,” kataku. “Ini kamu inget.”
“Bedanya apa?”
“Bedanya, kalau kamu inget, itu masih tentang aku.”
Dia menatap layar laptop yang menampilkan daftar film.
“Aku nggak tahu aku suka film apa,” katanya, akhirnya, dan suaranya sangat pelan. “Aku udah tiga tahun nggak nonton.”
Aku menutup laptopnya.
“Sama sekali?”
“Aku nonton kalau tim nonton bareng.” Dia mengangkat bahu. “Itu bukan milih, itu ikut.”
Kami tidak jadi menonton malam itu.
Kami duduk di sofa apartemenku — sofa, karena apartemenku punya sofa, dan dia selalu duduk di ujung yang sama, ujung kanan, selalu — dan aku bertanya kepadanya hal-hal yang seharusnya kutanyakan bertahun-tahun lalu.
Warna apa yang dia suka. Dia bilang biru, lalu berhenti, lalu bilang sebenarnya dia tidak yakin, mungkin itu warna seragam SMA-nya.
Musik apa. Dia menyebut band yang kusuka waktu kuliah.
Aku bilang bukan itu. Dia berpikir tujuh detik dan menyebut band yang sama dengan alasan berbeda.
Aku menyerah pada pertanyaan itu.
Dan malam itu, setelah dia pulang, aku duduk di sofa yang ujung kanannya masih hangat dan melakukan hal yang sudah lama tidak kulakukan: aku membuka buku catatanku ke halaman-halaman lama.
Bulan Mei. Bukan hadiah. Perintah.
Bulan Juli. Kalau dia nggak bisa marah karena disuruh, mungkin dia cuma bisa marah kalau aku bikin dia marah.
Bulan Agustus. Berhenti. Beneran berhenti. Bukan taktik.
Empat bulan strategi. Empat bulan aku memperlakukan seorang manusia seperti sistem yang harus dipecahkan, dan setiap kali gagal aku menaikkan taruhannya.
Dan yang akhirnya membuka pintunya bukan satu pun dari itu.
Yang membukanya adalah dia sendiri, pada hari Sabtu pagi, ketika tidak ada seorang pun yang mengetuk.
Aku menutup buku itu dan tidak membukanya lagi.
Bukan karena catatannya salah. Karena aku baru mengerti bahwa orang tidak sembuh karena dikerjakan dengan benar.
Lalu aku bertanya: kalau tidak ada siapa-siapa di rumah dan tidak ada kerjaan sama sekali dan tidak ada yang akan tahu apa yang dia lakukan, dia akan melakukan apa?
Dan dia diam sangat lama.
“Aku bakal beresin sesuatu,” katanya.
“Beresin apa?”
“Apa aja. Yang belum beres.”
“Kalau semuanya udah beres?”
Dan dia menoleh ke arahku dengan wajah yang sepenuhnya kosong, dan berkata:
“Nggak pernah semuanya beres.”
Hari kedelapan, aku menemukan cara.
Bukan lewat percakapan. Lewat kecelakaan.
Kami di supermarket, dan aku sedang memilih sesuatu, dan dia berdiri di lorong sebelah menunggu. Dan ketika aku menoleh, dia sedang memegang sebuah bungkus kopi — bukan kopi instan, kopi bubuk, jenis yang perlu alat.
Dia membolak-baliknya dan membaca bagian belakangnya.
“Kamu suka itu?”
Dia langsung menaruhnya kembali.
“Enggak.”
“Kamu baca belakangnya.”
“Cuma liat.”
Aku mengambil bungkus itu dari rak.
“Ervan, ini enam puluh ribu.”
“Iya, mahal.”
“Gaji kamu delapan digit.”
Dia tidak menjawab.
Dan aku berdiri di lorong supermarket dengan bungkus kopi di tanganku dan menyadari sesuatu yang membuat dadaku sakit dengan cara yang baru.
Dia tidak sedang menghitung uang.
Dia sedang menghitung apakah dia berhak.
Aku memasukkannya ke keranjang.
“Cyn—”
“Ini bukan aku beliin buat kamu,” kataku. “Ini kamu yang beli. Kamu yang bayar. Aku cuma masukin ke keranjang biar kamu nggak bisa naruh balik.”
Dia berdiri di lorong itu memandangi keranjang.
“Aku nggak punya alatnya.”
“Ya beli.”
“Itu tiga ratus ribu.”
“Ervan.”
Dan dia menoleh ke arahku, dan dia terlihat benar-benar tersiksa, dan aku menyadari bahwa aku sedang menonton seorang laki-laki berumur dua puluh sembilan tahun berjuang melawan sebuah bungkus kopi.
“Aku beli yang manual aja,” katanya akhirnya. “Yang tuang.”
Delapan puluh ribu.
Dia menawar dirinya sendiri turun dari tiga ratus ke delapan puluh, di depanku, dengan uangnya sendiri.
Aku tidak membantah, karena aku sudah belajar: delapan puluh ribu yang dia pilih sendiri lebih berharga daripada tiga ratus ribu yang kupaksakan.
Kopi itu tiba di apartemennya hari Minggu, dan dia membuatnya dengan sangat serius, dengan timbangan dapur yang dia pinjam dari Kiki, dan dia mencatat waktunya di ponselnya.
Tentu saja dia mencatat waktunya.
Dia menuangkan dua gelas.
Dan aku mengambil punyaku dan melihat ke bawah dan berhenti.
Hitam.
“Ervan.”
“Hm?”
“Kamu bikin dua-duanya hitam.”
Dia melihat gelasnya sendiri, lalu gelasku.
“Iya. Emang kamu nggak bisa susu.”
“Aku tahu. Tapi kamu bisa.”
Dia berkedip.
“Kamu selalu minum kopi susu,” kataku. “Empat tahun. Kamu ngeledekin aku terus karena aku nggak bisa. Kamu bilang kopi hitam itu minuman orang yang suka menderita.”
Dia berdiri di depan kompor dengan teko di tangannya dan tidak berkata apa-apa selama waktu yang sangat lama.
“Aku lupa,” katanya.
“Kamu lupa kamu suka susu?”
“Aku lupa aku pernah punya yang aku suka.”
Dan dia mengucapkannya tanpa nada apa pun, sebagai informasi, sambil memegang teko.
Aku mengambil gelas itu dari tangannya dan menaruhnya di meja dan memeluknya dari depan, dan kali ini dia tidak butuh sepuluh hitungan. Kali ini butuh tiga.
Kemajuan, pikirku, dengan sesuatu yang pahit di tenggorokanku.
Tiga.
Malam itu, sebelum aku pulang, dia mengantarku ke pintu seperti biasa.
Dan di ambang pintu dia berkata, tanpa aku menanyakan apa pun:
“Cyn.”
“Ya.”
“Besok aku pengin makan mi ayam yang di deket kantor pos.”
Aku berhenti.
“Yang mana?”
“Yang gerobak. Deket kantor pos, sebelum lampu merah.” Dia menggaruk lehernya. “Aku sering lewat situ tiga tahun. Belum pernah mampir.”
“Kenapa belum?”
“Nggak ada alasan.”
Aku berdiri di koridor lantai empat gedung tua di belakang pasar, di antara jemuran tetangga dan bau minyak goreng, dan aku menahan diri dengan seluruh tenaga yang kupunya untuk tidak menangis di depannya.
“Boleh,” kataku.
“Beneran?”
“Ervan, kamu nggak perlu nanya beneran.”
Dan dia tersenyum.
Tidak lebar. Sudut mulut saja, sebentar, seperti orang yang belum yakin otot itu masih berfungsi.
Tapi itu yang pertama.
Empat setengah bulan di kantor, dua minggu berpacaran, dan itu senyum pertama yang benar-benar untukku.
Karena mi ayam gerobak.
- 1 Nama di Baris Ketujuh
- 2 Lima Belas Menit
- 3 Diterima, Bukan Dimaafkan
- 4 Enam Hari
- 5 Diberikan ke Junior
- 6 Bandar Taruhan
- 7 Kopi Tanpa Susu
- 8 Nol Jam Lembur
- 9 Laki-Laki yang Lebih Mudah
- 10 Kardus di Atas Lemari
- 11 Empat Belas Juni
- 12 Perintah untuk Protes
- 13 Adik yang Tidak Menyapa
- 14 Hampir Pindah
- 15 Yang Dihitung
- 16 Kata yang Dibuang
- 17 Terjebak Aturan Sendiri
- 18 Circuit Breaker
- 19 Migrasi
- 20 draft.txt
- 21 Tawaran ke Kota Lain
- 22 Empat Puluh Jam
- 23 Empat Jam di Lorong
- 24 Panik, Bukan Haru
- 25 Surat yang Tidak Ditandatangani
- 26 Kredit yang Dirampas
- 27 Aku Tahu
- 28 Marah
- 29 Berhenti
- 30 Empat Jam
- 31 Kenapa Akhirnya Ngomong
- 32 Isi Amplop
- 33 Yang Meminta Duluan
- 34 Mode Hemat
- 35 Menu, Film, Warna reading
- 36 Kiki Menang Taruhan
- 37 Tahun Pertama
- 38 Frankfurt
- 39 Aku yang Nyuruh Kamu Pergi
- 40 Gagal Lagi
- 41 Aku Capek
- 42 Dua Kata
- 43 Potong Rambut
- 44 Amplop Kedua