Chapter Thirteen
Adik yang Tidak Menyapa
POV: Cyntia
Perempuan itu berdiri di meja resepsionis lantai sebelas dengan tas kertas apotek di tangannya, dan aku mengenalinya dari cara dia berdiri sebelum aku mengenali wajahnya.
Nadia berdiri seperti kakaknya. Berat badan di satu kaki, bahu sedikit ke depan, satu tangan memegang siku tangan yang lain. Aku pernah menertawakan itu dulu — bilang bahwa dua-duanya berdiri seperti orang yang minta maaf karena mengambil ruang.
Dia dua puluh tiga sekarang. Rambut dipotong pendek. Wajahnya sudah jadi wajah orang dewasa, dan mirip kakaknya dengan cara yang membuat dadaku sakit.
Resepsionis menelepon ke suatu tempat. Nadia menunggu sambil melihat-lihat lantai sebelas, dan pandangannya bergerak melewati meja-meja, melewati papan tulis, melewati aku.
Berhenti.
Kembali.
Kami saling menatap dari jarak sepuluh meter selama mungkin tiga detik.
Lalu dia berpaling.
Bukan terkejut. Bukan bingung. Bukan wajah orang yang sedang mencoba mengingat di mana pernah bertemu.
Dia tahu persis siapa aku, dan dia memutuskan bahwa aku tidak ada.
Ervan datang dari arah pantry, mengambil tas apotek itu, mengatakan sesuatu yang membuat adiknya memukul lengannya, lalu mengantarnya ke lift. Seluruh interaksi berlangsung sembilan puluh detik. Dia tidak menoleh ke arahku sekali pun, dan aku tidak tahu apakah itu karena dia tidak melihatku atau karena dia melihat semuanya.
Pintu lift menutup.
Aku sudah setengah berdiri sebelum aku sadar aku sedang berdiri.
Aku menemukannya di parkiran, sedang membuka helm di sebelah motor matik merah.
“Nadia.”
Dia berhenti. Tidak berbalik dulu. Bahunya naik satu inci, lalu turun.
Lalu dia berbalik.
“Mbak Cyntia.”
Dua kata itu diucapkan dengan sopan penuh, dan justru karena sopan penuh, terdengar seperti pintu yang dikunci dari dalam.
“Kamu udah gede,” kataku, dan langsung menyesalinya, karena itu kalimat orang yang merasa berhak.
“Iya.”
“Skripsinya gimana?”
“Udah sidang. Lulus.” Dia memasukkan helmnya ke jok. “Mbak kerja di sini?”
“Aku manajernya Ervan.”
Dan aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya — sesuatu yang cepat dan panas dan langsung ditekan kembali, dengan cara yang sama persis seperti kakaknya menekan pelipisnya.
Bedanya, Nadia gagal menekannya sampai habis.
“Oh,” katanya. “Enak ya, Mbak.”
“Nad—”
“Enak. Beneran.” Dia menutup jok dengan bunyi keras. “Mbak pergi, Mbak sekolah, Mbak balik, Mbak jadi bosnya.”
“Nadia.”
“Mas Ervan yang nyuruh saya nggak nyapa Mbak tadi, kalau Mbak mau tahu.” Dia menegakkan badan. “Dia SMS saya pas saya masih di lift. ‘Nanti kalau ketemu Bu Cyntia jangan diapa-apain, dia atasan aku.’ Gitu.”
Aku memegang pintu mobil di sebelahku.
“Dia bilang gitu?”
“Iya. Karena dia gitu orangnya.” Suaranya naik, dan dia langsung menurunkannya lagi, melirik ke sekeliling parkiran. “Tiga tahun, Mbak. Tiga tahun saya tinggal serumah sama dia setahun pertama, terus dia pindah karena katanya nggak enak nyusahin. Dan sekali pun, sekali pun, dia nggak pernah ngomongin Mbak.”
“Nadia—”
“Saya yang ngomong. Saya yang misuh-misuh tiap malam. Saya yang bilang Mbak jahat, Mbak brengsek, Mbak—” dia berhenti, menelan sesuatu. “Dan tiap kali saya ngomong gitu, dia nyuruh saya diem. ‘Jangan gitu, Nad. Dia nggak salah.’”
Sesuatu di dadaku terbuka dan tidak mau menutup lagi.
“Sekali doang saya kepingin dia ikut marah,” kata Nadia, dan sekarang suaranya bergetar. “Sekali doang. Saya tungguin setahun. Nggak pernah.”
Yang terjadi berikutnya adalah hal yang tidak bisa kujelaskan kepada siapa pun tanpa terdengar gila.
Aku merasa lega.
Berdiri di parkiran basement dengan adik dari laki-laki yang kuhancurkan sedang menatapku dengan mata merah, mengucapkan kata “brengsek” tentang aku, dan yang kurasakan adalah sesuatu yang melonggar di antara tulang rusukku untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Karena akhirnya ada orang yang mengatakannya.
Akhirnya ada orang di dunia ini yang berdiri di depanku dan menamai apa yang kulakukan dengan nama yang benar, bukan dengan nggak apa-apa, bukan dengan udah lama, bukan dengan diam yang sopan.
Aku tidak menangis. Aku berdiri tegak dan membiarkannya.
“Kamu bener,” kataku.
Nadia mengedip.
“Apa?”
“Kamu bener. Semuanya.” Aku menarik napas. “Aku yang berhenti bales. Aku yang bohong berkali-kali. Aku yang mutusin dia pas dia lagi di negara asing yang dia nggak kenal siapa-siapa. Kamu boleh manggil aku apa pun yang kamu mau, dan aku nggak akan bilang kamu salah, dan aku nggak akan ngadu ke kakak kamu.”
Dia menatapku seperti orang yang mengayunkan tinju ke arah pintu dan mendapati pintunya terbuka.
“Mbak nggak ngebela diri?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
Aku memikirkan enam hari di berkas HR. Aku memikirkan ruang server enam belas derajat. Aku memikirkan dinding kosong empat sisi dan satu piring di rak.
“Karena aku baru tahu sebagian dari yang aku lakuin,” kataku. “Dan aku belum tahu semuanya.”
Nadia menyalakan motornya, lalu mematikannya lagi.
Dia duduk di jok dengan kaki menapak lantai parkiran, memandangi setang, dan aku berdiri di sana tanpa berani bergerak karena aku tahu apa pun yang kulakukan bisa membuatnya pergi.
“Mbak tahu nggak dia sempet nggak masuk kerja seminggu?” katanya, pelan.
“Enam hari,” kataku.
Dia mendongak, kaget.
“Mbak tahu?”
“Aku baca surat resign-nya di arsip HR.” Aku menelan. “Aku nggak tahu apa-apa lagi selain itu.”
Nadia diam lama.
“Saya nggak akan cerita, Mbak,” katanya akhirnya. “Bukan karena saya benci Mbak. Karena itu bukan cerita saya.”
“Aku ngerti.”
“Tapi saya kasih tahu satu hal.” Dia memakai helmnya, menutup kacanya setengah, dan menatapku dari balik kaca itu. “Yang bikin dia hancur bukan Mbak mutusin dia.”
Parkiran itu berdengung. Ada mobil masuk di ujung sana, lampunya menyapu dinding.
“Terus apa?”
Nadia menyalakan mesin. Suaranya nyaris tenggelam di antara raungan itu.
“Yang Mbak nggak tahu.”
Dia melepas rem dan melaju ke arah ramp, dan aku berdiri di petak parkir yang bukan petakku sampai suara motornya hilang sepenuhnya.
Ada satu hal lagi yang dia katakan, dan aku baru memasangnya di kepalaku setelah dia pergi.
Setahun pertama saya tinggal serumah sama dia, terus dia pindah karena katanya nggak enak nyusahin.
Setahun.
Berarti setelah malam itu, dia tidak pulang ke kosnya. Dia pulang ke rumah keluarganya, ke kamar yang ada adiknya dan ibunya, dan dia tinggal di sana selama dua belas bulan.
Orang tidak pulang ke rumah orang tuanya di usia dua puluh enam karena rindu masakan ibunya.
Orang pulang ke rumah orang tuanya karena tidak sanggup sendirian.
Dan setelah setahun, ketika dia sudah cukup kuat untuk berdiri, hal pertama yang dia lakukan adalah pergi lagi — ke dua puluh satu meter persegi di belakang pasar, dengan dinding kosong empat sisi — karena tinggal bersama orang yang menyayangimu berarti menyusahkan mereka.
Aku memegang atap mobilku dan berdiri di sana cukup lama sampai lampu sensor parkiran mati sendiri di atas kepalaku.
Aku naik ke lantai sebelas dan dia ada di sana, di pojok, dua monitor, satu gelas kertas.
Dia mendongak ketika aku lewat.
“Sore, Bu.”
“Sore.”
Aku duduk di mejaku, membuka laptop, dan menatap layar tanpa membaca apa pun selama waktu yang cukup lama sampai screensaver menyala.
Delapan meter dariku, dia mengetik.
Sepuluh menit yang lalu, adiknya berkata bahwa dia melarang keluarganya sendiri untuk membenciku. Bahwa selama tiga tahun dia meredam satu-satunya orang yang berpihak padanya, supaya tidak ada yang menjelekkanku.
Dia melindungiku dari kemarahan orang lain.
Dia melindungiku dari kemarahannya sendiri.
Dan sekarang dia duduk delapan meter dariku, menyapa dengan sopan, dan menyimpan sesuatu yang tidak kuketahui — sesuatu yang menurut adiknya lebih besar daripada perpisahan itu sendiri.
Aku membuka bukuku dan menulis satu kalimat.
Bukan aku mutusin dia yang bikin dia hancur. Ada yang lain. Yang aku nggak tahu.
Lalu aku menulis satu kata lagi di bawahnya, dan menggarisbawahinya dua kali, karena itu satu-satunya benda di dunia ini yang bisa kubayangkan berisi hal yang tidak kuketahui:
Kardus.
- 1 Nama di Baris Ketujuh
- 2 Lima Belas Menit
- 3 Diterima, Bukan Dimaafkan
- 4 Enam Hari
- 5 Diberikan ke Junior
- 6 Bandar Taruhan
- 7 Kopi Tanpa Susu
- 8 Nol Jam Lembur
- 9 Laki-Laki yang Lebih Mudah
- 10 Kardus di Atas Lemari
- 11 Empat Belas Juni
- 12 Perintah untuk Protes
- 13 Adik yang Tidak Menyapa reading
- 14 Hampir Pindah
- 15 Yang Dihitung
- 16 Kata yang Dibuang
- 17 Terjebak Aturan Sendiri
- 18 Circuit Breaker
- 19 Migrasi
- 20 draft.txt
- 21 Tawaran ke Kota Lain
- 22 Empat Puluh Jam
- 23 Empat Jam di Lorong
- 24 Panik, Bukan Haru
- 25 Surat yang Tidak Ditandatangani
- 26 Kredit yang Dirampas
- 27 Aku Tahu
- 28 Marah
- 29 Berhenti
- 30 Empat Jam
- 31 Kenapa Akhirnya Ngomong
- 32 Isi Amplop
- 33 Yang Meminta Duluan
- 34 Mode Hemat
- 35 Menu, Film, Warna
- 36 Kiki Menang Taruhan
- 37 Tahun Pertama
- 38 Frankfurt
- 39 Aku yang Nyuruh Kamu Pergi
- 40 Gagal Lagi
- 41 Aku Capek
- 42 Dua Kata
- 43 Potong Rambut
- 44 Amplop Kedua