Chapter Twenty Three
Empat Jam di Lorong
POV: Cyntia
Yang kuingat dari empat puluh menit berikutnya bukan urutannya. Yang kuingat adalah potongan-potongan yang tidak mau tersusun.
Aku ingat berlutut di lantai ruang rapat dan menyadari bahwa aku tidak berteriak, padahal aku pikir aku berteriak.
Aku ingat darah di pelipisnya — tidak banyak, sungguh tidak banyak, tapi darah di kepala selalu terlihat seperti terlalu banyak.
Aku ingat Wiwi muncul entah dari mana dan langsung berlutut di sisi lain, memiringkan kepalanya, memeriksa napasnya dengan tenang yang membuatku sadar bahwa dia pernah melakukan ini sebelumnya untuk seseorang.
Aku ingat Kiki menelepon ambulans sambil menangis dan tetap menyebutkan alamat gedung dengan lengkap, termasuk nama jalan dan patokan, karena Kiki adalah orang yang berguna bahkan sambil hancur.
Aku ingat memegang tangan Ervan dan mendapati bahwa tangan itu sangat dingin, dan berpikir dengan sangat jernih dan sangat bodoh: dia kedinginan, AC-nya terlalu rendah, aku harus naikin AC-nya.
Aku ingat naik ke ambulans dan seseorang bertanya hubunganku dengannya, dan aku mendengar diriku menjawab, “Saya atasannya.”
Dan aku ingat, di dalam ambulans yang berguncang, satu hal kecil yang tidak masuk akal untuk diingat.
Dia sadar sebentar. Matanya terbuka mungkin tiga detik, tidak fokus, mencari sesuatu di langit-langit kendaraan.
Petugas itu bertanya, keras, dengan cara yang dipakai orang untuk menjaga seseorang tetap terjaga: “Pak? Pak, bisa dengar saya? Sakit di mana?”
Dan Ervan berkata, “Nggak apa-apa.”
Lalu matanya menutup lagi.
Dua kata, kepada orang asing berseragam yang sedang mengukur tekanan darahnya di dalam ambulans yang menyalakan sirene.
Bahkan di sana. Bahkan dengan darah di pelipisnya.
Bahkan ketika satu-satunya pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah pertanyaan tentang di mana dia sakit.
Rumah sakit itu punya lorong dengan lantai vinil hijau muda dan lampu neon yang salah satunya berkedip.
Aku sudah lama tidak percaya pada kebetulan. Aku hanya mencatat bahwa dua kali dalam hidupku, hal terpenting terjadi di bawah lampu yang berkedip.
Mereka membawanya masuk pukul dua belas lewat empat puluh.
Petugas administrasi memberiku formulir. Aku mengisi apa yang bisa kuisi: nama lengkap, tempat kerja, nomor karyawan. Aku sampai di kolom golongan darah dan berhenti.
Aku tidak tahu.
Empat tahun. Aku tahu dia tidak bisa makan udang. Aku tahu dia tidur miring ke kanan. Aku tahu dia mengeja “analisis” dengan salah setiap kali dan marah kalau dikoreksi. Aku tahu nama tukang cukurnya.
Aku tidak tahu golongan darahnya.
Aku menelepon Nadia.
“Mbak?”
“Nad, ini Cyntia. Dengerin aku baik-baik dan jangan panik.”
Aku mendengar sesuatu jatuh di sisi sana.
Aku memberitahunya. Pelan, urut, tanpa satu pun kata yang lebih besar dari yang perlu: kelelahan, terjatuh, kepalanya terbentur, sadar sebelum ambulans datang, sekarang sedang ditangani, rumah sakitnya di mana.
“Golongan darahnya apa, Nad?”
“B.” Suaranya sudah pecah. “B, Mbak.”
“Oke. Ibumu di Semarang?”
“Iya—saya telepon—”
“Kamu telepon Ibu, bilang kondisinya stabil, karena itu benar. Jangan bilang jatuh, bilang kecapekan. Kamu naik apa ke sini?”
“Motor.”
“Nggak. Kamu naik taksi, aku yang bayar, dan kamu jangan nyetir sekarang.” Aku menutup mata. “Nad. Aku di sini sampai kamu datang. Dia nggak sendirian. Aku janji.”
Dia menangis di telepon selama beberapa detik, dan lalu dia berkata sesuatu yang tidak kuduga.
“Makasih, Mbak.”
Nadia datang lima puluh menit kemudian dan memelukku di lorong itu, dan aku berdiri kaku selama satu detik penuh sebelum tanganku tahu harus berbuat apa.
Kami menunggu bersama.
Dokter keluar pukul dua lewat sepuluh. Perempuan, sekitar empat puluh, wajah orang yang sudah menyampaikan berita jauh lebih buruk berkali-kali dan karena itu tahu persis bagaimana menyampaikan berita yang tidak buruk.
“Sudah sadar. Tenang dulu.”
Nadia menutup mulutnya.
“Luka di pelipis lima jahitan, itu yang paling kelihatan tapi paling nggak penting. CT scan bersih, nggak ada perdarahan. Yang bikin dia jatuh bukan benturannya — dia jatuh dulu, baru kebentur.”
“Kenapa dia jatuh, Dok?”
Dokter itu melihat catatannya, lalu melihat kami berdua.
“Tekanan darahnya delapan puluh per lima puluh waktu masuk. Dehidrasi berat, gula darah rendah. Dan ada perdarahan lambung — tukak yang sudah lama, bukan baru.” Dia menutup mapnya. “Kadar hemoglobinnya delapan koma dua. Itu bukan kejadian satu malam, Bu. Itu berbulan-bulan.”
Lorong itu berdengung.
“Berbulan-bulan,” kataku.
“Minimal. Dan dia pasti merasakannya. Nyeri ulu hati, mual, gampang capek.” Dokter itu mengangkat bahu dengan cara yang sudah lelah. “Orang seperti ini biasanya sudah lama tahu badannya bermasalah. Cuma nggak pernah datang.”
Nadia mulai menangis lagi.
“Boleh dijenguk?”
“Nanti sore. Biarin dia tidur dulu. Empat puluh jam nggak tidur itu—” dokter itu berhenti, dan untuk pertama kalinya wajahnya menunjukkan sesuatu. “Siapa yang bikin dia kerja empat puluh jam?”
Ada beberapa jawaban yang bisa kuberikan.
Aku memilih yang benar.
“Saya,” kataku. “Saya manajernya.”
Nadia pulang pukul empat untuk mengambil pakaian dan mengurus ibunya di telepon.
Aku bilang aku akan tinggal.
Dan aku tinggal.
Lorong itu punya kursi tunggu logam berjajar sepuluh, dan aku duduk di kursi keempat dari kiri, dan tidak pindah.
Aku tidak melakukan apa pun.
Itu bagian yang paling sulit kujelaskan. Aku tidak menelepon siapa pun. Aku tidak membuka laptop. Aku sudah mengirim satu pesan ke kanal tim pukul satu — Ervan stabil, dirawat, jangan ada yang ke rumah sakit hari ini — dan setelah itu aku menaruh ponselku di tas dan tidak mengeluarkannya lagi.
Aku duduk.
Orang-orang lewat. Petugas mendorong kereta. Seseorang di ujung lorong menangis dan berhenti dan menangis lagi. Lampu neon yang rusak itu berkedip dengan pola yang akhirnya kuhafal: dua kali cepat, lalu jeda panjang.
Aku menghitung sesuatu yang tidak berguna: bahwa kalau aku memasang aturan larangan kerja sendirian pada bulan pertama, bukan bulan ketiga, mungkin empat puluh jam itu tidak akan pernah ada. Bahwa kalau aku menghentikannya pada jam kedua belas — kalau aku benar-benar mencabut aksesnya seperti yang bisa kulakukan — dia akan membenciku selama tiga hari dan tidak akan ada darah di sudut meja.
Aku tidak menangis di lorong itu.
Aku sudah menangis di tangga darurat lantai sebelas, di mobil di kilometer sembilan belas, di dapur apartemenku. Aku tahu bagaimana rasanya, dan ini bukan itu.
Ini sesuatu yang lain. Ini seperti duduk di ruangan yang sangat sunyi dan menyadari bahwa kau sudah lama sekali berada di ruangan itu.
Sekitar jam enam, seorang ibu duduk dua kursi dariku dengan anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang kakinya digips. Anak itu bosan dan mulai menendang-nendang kaki kursi, dan ibunya menyuruhnya berhenti, dan dia berhenti selama dua menit lalu mulai lagi.
Lalu dia menoleh ke arahku dan bertanya, “Tante nungguin siapa?”
Ibunya langsung menegurnya.
“Nggak apa-apa,” kataku ke ibunya. Lalu ke anak itu: “Nungguin temen.”
“Temennya sakit apa?”
“Kecapekan.”
Anak itu mengerutkan kening dengan seluruh keseriusan anak sepuluh tahun.
“Kok bisa masuk rumah sakit gara-gara capek?”
Aku membuka mulutku dan tidak ada yang keluar.
Ibunya menariknya pergi ke arah kantin, sambil meminta maaf padaku dengan mata, dan aku duduk di kursi keempat dari kiri dengan pertanyaan itu masih menggantung di lorong.
Kok bisa.
Kalau kau tidak berhenti, dan tidak ada yang menghentikanmu, dan kau sudah menghapus semua orang yang punya hak untuk menghentikanmu.
Begitu caranya.
Empat jam.
Aku baru tahu angkanya kemudian, ketika aku melihat jam di ponselku: aku duduk di kursi keempat dari kiri selama empat jam, dari pukul empat sampai pukul delapan.
Waktu itu angka itu tidak berarti apa-apa bagiku.
Perawat mengizinkanku masuk pukul delapan lewat.
Ruangannya remang. Ada tirai hijau, tiang infus, monitor yang berbunyi pelan setiap beberapa detik.
Dia tidur.
Ada perban di pelipis kiri. Kacamatanya dilipat di atas meja kecil di samping tempat tidur, dan tanpa kacamata itu wajahnya kembali menjadi wajah orang yang kukenal, seperti hari Jumat di apartemennya, seperti Kamis siang ketika dia tertidur di mejanya.
Rambutnya tergerai di bantal.
Aku duduk di kursi plastik di samping tempat tidur.
Aku tidak mengatakan apa pun, karena tidak ada yang boleh kukatakan pada orang yang sedang tidur; kalimat yang diucapkan pada orang tidur adalah kalimat yang diucapkan untuk diri sendiri.
Aku hanya duduk.
Dan setelah beberapa waktu — aku tidak tahu berapa lama, mungkin sepuluh menit, mungkin empat puluh — aku mengulurkan tanganku dan memegang tangannya.
Tangan yang tadi siang sangat dingin. Sekarang hangat.
Ada bekas jarum infus di punggung tangan itu, dan kapalan tipis di sisi luar jari telunjuk kanan tempat pena bertumpu, kapalan yang sudah ada sejak dia dua puluh tahun dan aku pernah menertawakannya karena tidak ada lagi orang yang menulis cukup banyak untuk punya kapalan.
Aku memegangnya dengan dua tangan.
Dan aku duduk di sana di ruangan remang itu, dan aku tidak berkata apa-apa, dan setelah sepuluh menit aku melepaskannya lagi dan mengembalikan tangan itu ke atas selimut persis seperti semula, karena besok pagi dia akan bangun dan dia tidak boleh tahu.
Kalau dia tahu, dia akan meminta maaf.
Dan aku tidak akan sanggup mendengarnya meminta maaf.
Aku pulang pukul sembilan malam ketika Nadia kembali dengan tas dan bantal dan termos.
“Mbak nggak apa-apa?”
Kata-kata itu, dari mulut adiknya, di lorong rumah sakit.
“Nggak apa-apa,” kataku.
Dan aku mendengar diriku mengucapkannya, dan aku berdiri di lorong berlantai vinil hijau itu dan menyadari bahwa aku baru saja menggunakan kalimatnya.
Bahwa itu satu-satunya kalimat yang tersedia ketika kau tidak bisa menyerahkan bebanmu kepada siapa pun di ruangan.
Bahwa dia mengucapkannya kepadaku dua puluh kali, dan setiap kali, artinya persis seperti yang kumaksudkan sekarang.
Aku berjalan ke lift rumah sakit dan menekan tombol turun dan bersandar ke dinding, dan untuk pertama kalinya dalam sembilan jam, sesuatu di dadaku pecah.
- 1 Nama di Baris Ketujuh
- 2 Lima Belas Menit
- 3 Diterima, Bukan Dimaafkan
- 4 Enam Hari
- 5 Diberikan ke Junior
- 6 Bandar Taruhan
- 7 Kopi Tanpa Susu
- 8 Nol Jam Lembur
- 9 Laki-Laki yang Lebih Mudah
- 10 Kardus di Atas Lemari
- 11 Empat Belas Juni
- 12 Perintah untuk Protes
- 13 Adik yang Tidak Menyapa
- 14 Hampir Pindah
- 15 Yang Dihitung
- 16 Kata yang Dibuang
- 17 Terjebak Aturan Sendiri
- 18 Circuit Breaker
- 19 Migrasi
- 20 draft.txt
- 21 Tawaran ke Kota Lain
- 22 Empat Puluh Jam
- 23 Empat Jam di Lorong reading
- 24 Panik, Bukan Haru
- 25 Surat yang Tidak Ditandatangani
- 26 Kredit yang Dirampas
- 27 Aku Tahu
- 28 Marah
- 29 Berhenti
- 30 Empat Jam
- 31 Kenapa Akhirnya Ngomong
- 32 Isi Amplop
- 33 Yang Meminta Duluan
- 34 Mode Hemat
- 35 Menu, Film, Warna
- 36 Kiki Menang Taruhan
- 37 Tahun Pertama
- 38 Frankfurt
- 39 Aku yang Nyuruh Kamu Pergi
- 40 Gagal Lagi
- 41 Aku Capek
- 42 Dua Kata
- 43 Potong Rambut
- 44 Amplop Kedua