← Empat Jam

Chapter Sixteen

Kata yang Dibuang

POV: Cyntia


Aku menghitungnya pada Sabtu pagi, sambil duduk di lantai ruang tamu dengan buku catatanku terbuka.

Aku menggulir ke belakang, ke halaman-halaman tiga bulan terakhir, dan aku menandai setiap kali aku menulis atau mengucapkannya. Aku tidak mencatat semuanya, tentu saja — tapi yang tercatat saja sudah cukup untuk membuatku menaruh pena.

Dua puluh tiga.

Dua puluh tiga kali dalam tiga bulan, ke satu orang.

Dan dua puluh tiga kali, dia menjawab dengan tiga kata yang sama.

Aku duduk di sana dengan kopi yang sudah dingin dan melakukan sesuatu yang seharusnya kulakukan sejak hari pertama: aku memperlakukan diriku sendiri seperti sistem yang gagal.

Kalau sebuah proses mengirim permintaan yang sama dua puluh tiga kali dan mendapat respons gagal yang sama dua puluh tiga kali, kau tidak mengirim yang kedua puluh empat. Kau berhenti dan membaca lognya.

Jadi aku membacanya.

Dan yang kutemukan adalah ini: setiap kali aku mengucapkan kata itu, yang sebenarnya kuminta bukan pengampunan.

Yang kuminta adalah tolong bilang aku bukan orang yang seburuk itu.

Aku meminta seorang laki-laki yang sudah kuhancurkan untuk mengurus perasaanku tentang menghancurkannya. Dua puluh tiga kali. Dan dua puluh tiga kali dia melakukannya, karena dia selalu melakukan apa pun yang diminta.

Aku menutup buku itu dan menulis satu baris di halaman baru:

Kata itu dibuang. Mulai hari ini.

Lalu di bawahnya:

Kalau mau bilang itu, lakuin sesuatu.


Senin pagi aku memesan ruang rapat besar dan mengundang seluruh tim engineering, Tresna, dan HR.

Judulnya: Program Zero Single Point — Kick-off.

Aku berdiri di depan dan mempresentasikannya selama dua puluh menit tanpa satu pun basa-basi pembuka.

“Perusahaan ini punya empat titik kegagalan tunggal,” kataku. “Empat sistem yang kalau orangnya nggak ada, nggak ada yang bisa nyentuh. Ini bukan pujian buat orangnya. Ini kegagalan manajemen, dan yang gagal itu kursi yang saya duduki sekarang, bukan mereka.”

Slide berganti.

“Enam bulan ke depan, keempatnya dihapus. Semua pengetahuan yang cuma ada di kepala satu orang dipindah ke dokumen, ke rekaman, ke orang kedua dan ketiga. Targetnya jelas: setiap sistem di perusahaan ini harus bisa ditangani minimal tiga orang.”

Kiki mengangkat tangan. “Bu, ini termasuk billing?”

“Terutama billing.”

Aku tidak menoleh ke arahnya. Aku sengaja tidak menoleh ke arahnya selama seluruh presentasi, karena aku tahu apa yang akan kulihat kalau aku menoleh, dan aku tidak akan sanggup meneruskan.

“Ini bukan program sukarela,” lanjutku. “Ini masuk ke sasaran kerja kuartal ini. Untuk semua orang, termasuk saya.”

Tresna mengangguk dari ujung meja dengan wajah orang yang akhirnya mendapatkan sesuatu yang dia minta selama dua tahun.

Dan di kursi keempat dari kiri, seseorang duduk sangat diam.

Aku tahu ada satu kalimat di slide ketiga yang akan dibaca berbeda oleh satu orang di ruangan itu dibandingkan delapan belas orang lainnya.

Tidak boleh ada sistem yang keberadaannya bergantung pada satu individu.

Aku menulis kalimat itu pada pukul satu pagi. Aku menulis ulang tujuh kali. Versi pertama berbunyi tidak boleh ada individu yang memikul satu sistem sendirian — versi yang berpihak pada manusianya, versi yang jujur, versi yang kutulis karena aku memang memikirkan satu orang.

Aku menggantinya karena kalau aku memakai versi itu, dia akan tahu ini tentang dia, dan kalau dia tahu ini tentang dia, dia akan menemukan cara untuk mengubahnya menjadi sesuatu yang tidak menguntungkan dirinya sendiri.

Jadi aku menulis versi yang dingin. Versi yang berpihak pada sistem.

Dan sekarang aku berdiri di depan sembilan belas orang membaca kalimat yang sengaja kubuat untuk tidak menyebut dia, dan satu-satunya orang yang benar-benar mendengarnya adalah dia.


Dia menahanku setelah rapat.

Itu sendiri sudah luar biasa. Dalam tiga bulan, dia tidak pernah sekali pun memulai percakapan denganku. Tidak sekali pun.

“Bu Cyntia.”

Aku berhenti di ambang pintu.

“Iya.”

“Boleh saya minta waktu lima menit?”

Minta. Kata itu lagi. Dadaku melakukan sesuatu yang bodoh.

“Boleh.”

Kami tinggal berdua di ruangan yang masih hangat oleh sembilan belas orang. Dia berdiri di sisi meja, tidak duduk.

“Program ini bagus,” katanya.

“Aku tahu.”

“Saya serius. Ini yang harusnya dikerjain dari dulu.” Dia membetulkan kacamatanya dengan punggung telunjuk. “Kalau perlu, saya bisa selesain bagian saya lebih cepat dari enam bulan.”

Aku menatapnya.

“Berapa cepat?”

“Dua bulan. Mungkin sepuluh minggu kalau billing-nya rewel.”

Sesuatu di tengkukku berdiri.

“Kenapa buru-buru?”

“Biar cepat selesai.”

“Ervan, dua bulan itu artinya kamu ngerjain dokumentasi lima tahun dalam delapan minggu. Sambil tetap pegang Atlas. Sambil tetap on-call.”

“Bisa.”

“Aku nggak nanya bisa atau nggak.”

Dan di situlah aku hampir mengucapkannya.

Kata itu sudah setengah jalan di tenggorokanku — refleks, otomatis, mata uang satu-satunya yang kupunya selama tiga bulan. Maaf, aku nggak bermaksud—

Aku menutup mulutku.

Aku berdiri di ruang rapat kosong itu dan menelan kata yang sudah dua puluh tiga kali kupakai, dan rasanya seperti menelan sesuatu yang punya sudut.

Lalu aku melakukan hal yang lain.

“Aku turunin targetnya,” kataku. “Bagian kamu jadi lima bulan, bukan enam. Dan mulai minggu depan kamu lepas dari rotasi on-call sepenuhnya sampai program ini selesai.”

Wajahnya berubah.

Bukan banyak. Bukan bahkan cukup untuk disebut ekspresi. Tapi ada sesuatu di sekitar matanya yang bergeser satu milimeter, dan setelah tiga bulan mempelajari dinding itu, aku tahu apa artinya satu milimeter.

“Bu, saya nggak perlu—”

“Aku bukan nolong kamu.” Aku menatapnya lurus. “Aku ngamanin aset perusahaan. Kalau kamu tumbang di tengah program, seluruh programnya gagal dan aku yang tanggung jawab ke dewan. Ini keputusan risiko.”

Dia diam.

“Itu bohong, Bu.”

Kalimatnya keluar begitu saja, pelan, dan aku bisa melihat dia sendiri agak terkejut telah mengucapkannya.

“Iya,” kataku. “Tapi itu bohong yang tertulis di dokumen dan udah disetujui Tresna. Jadi kamu tetap harus ikut.”

Sesuatu terjadi di sudut mulutnya.

Satu detik. Kurang.

Tapi itu ada, dan itu bukan kesopanan, dan itu hal pertama yang keluar dari dalam sana sejak hari pertama.

“Baik, Bu,” katanya, dan keluar.


Aku pulang malam itu dan berdiri di dapur seperti biasa, dan untuk pertama kalinya dalam tiga bulan aku tidak merasa seperti orang yang baru saja kalah.

Aku juga tidak merasa menang. Tidak ada yang menang.

Tapi ada sesuatu yang bergeser, dan aku tahu apa itu.

Selama tiga bulan aku terus mendatanginya sambil membawa perasaanku sendiri di tangan, meminta dia menerimanya, meminta dia melakukan sesuatu dengannya. Minta maaf itu begitu. Memberi Atlas itu begitu. Naik ke ruang server itu begitu.

Semuanya adalah cara halus untuk berkata: ini aku, tolong urus.

Dan orang ini tidak bisa menolak apa pun yang diserahkan ke tangannya. Itu penyakitnya. Aku terus menyerahkan barang ke tangan orang yang tidak bisa berkata tidak, lalu menunggu dia mengeluh, lalu kecewa karena dia tidak mengeluh.

Program Zero Single Point tidak diserahkan ke tangannya.

Program itu ada di atas kepalanya, dan di atas kepalaku, dan di atas kepala sembilan belas orang, dan tidak seorang pun bisa menolaknya karena tidak seorang pun memilikinya.

Aku mencuci gelasku, menaruhnya di rak, dan berkata pada diriku sendiri, dengan suara keras di dapur yang kosong:

“Bukan minta maaf. Kerja.”


Yang tidak kusadari malam itu — yang baru kusadari sepuluh hari kemudian, terlambat, seperti biasa — adalah satu hal.

Aku baru saja meluncurkan sebuah program yang tujuan resminya, tertulis di slide kedua, disetujui dewan, dan masuk ke sasaran kerja kuartal ini, adalah:

memastikan bahwa perusahaan ini tetap berjalan dengan baik tanpa Ervan Bagaskara.

Dan aku mengumumkannya di depan sembilan belas orang, kepada laki-laki yang sudah tiga tahun bertahan hidup dengan satu kalimat di dalam kepalanya.

Saya lebih berguna kalau nggak kelihatan.

Berguna.

Dia tidak keberatan sekali pun. Dia bahkan menawarkan untuk menyelesaikannya lebih cepat.

Tentu saja dia menawarkan.