← Empat Jam

Chapter Forty One

Aku Capek

POV: Ervan


Hari terakhir Naufal jatuh pada hari Jumat, sembilan hari setelah malam di koridor.

Kontrak magangnya habis. Dia sudah diterima di tempat lain — yang menerimanya karena dia mengaku tidak jujur soal kejujurannya — dan hari Senin depan dia mulai di sana.

Kiki mengorganisir perpisahan dengan cara Kiki: kue dari toko roti lantai dasar, kartu ucapan yang diedarkan diam-diam ke empat belas orang, dan pidato yang tidak diminta siapa pun.

Aku menandatangani kartu itu waktu diedarkan ke mejaku.

Aku menulis: Semoga sukses. Jangan takut bilang nggak paham.

Delapan kata. Aku memikirkannya selama empat menit.


Perpisahannya pukul empat sore di area terbuka dekat jendela besar.

Naufal menangis di menit kedua pidato Kiki, yang membuat Kiki ikut menangis, yang membuat Wiwi berkata “astaga” dan keluar dari kerumunan lalu kembali tiga puluh detik kemudian dengan mata yang mencurigakan.

Cyntia bicara sebentar. Bagus, singkat, tanpa satu pun kalimat kosong. Dia menyebut satu hal spesifik yang Naufal kerjakan di bulan ketiga dan yang tidak seorang pun ingat kecuali dia.

Lalu orang-orang mulai bubar, dan Naufal berkeliling menyalami satu per satu.

Dia sampai ke mejaku terakhir.

“Mas Ervan.”

“Sukses ya, Fal.”

Dan dia berdiri di sana dengan kartu ucapan di tangan dan tidak pergi.

“Mas, boleh saya ngomong bentar?”

“Boleh.”

“Saya mau bilang makasih.”

“Iya, sama-sama—”

“Bukan yang basa-basi.” Dia menggeleng, dan wajahnya adalah wajah anak dua puluh satu tahun yang sudah menyiapkan sesuatu dan takut kehabisan nyali. “Saya beneran mau bilang.”

Aku menutup laptopku.

“Mas inget nggak, bulan kedua saya di sini, saya ngerusak staging?”

“Itu Mas Kiki.”

“Iya, Mas Kiki yang jalanin. Tapi yang salah nulis perintahnya di dokumen itu saya.” Naufal memegang kartunya lebih erat. “Saya yang salah, Mas. Saya nggak pernah ngaku, dan saya tahu Mas tahu.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Terus Mas berdiri di depan Mbak Wiwi dan bilang itu salah Mas, karena Mas nggak jelasin urutannya.” Suaranya mulai goyah. “Padahal Mas udah jelasin. Saya yang nggak nyatet.”

“Fal—”

“Saya mikirin itu setahun, Mas.”

Lantai sebelas berjalan di sekitar kami. Seseorang tertawa di dekat pantry.

“Kalau waktu itu saya kena,” katanya, “saya bakal berhenti magang. Saya udah mau berhenti, saya udah nulis pesannya ke HR, tinggal kirim.” Dia menyeka wajahnya dengan lengan. “Saya nggak jadi karena Mas berdiri duluan.”

Dia menaruh kartu ucapan itu di mejaku.

“Saya nggak tahu kenapa Mas ngelakuin itu buat orang yang baru kenal dua bulan,” katanya. “Tapi saya kerja di bidang ini sekarang, Mas. Saya punya kerjaan. Itu gara-gara Mas.”

Dan lalu, karena dia dua puluh satu tahun dan tidak tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dia memelukku.

Cepat, canggung, satu setengah detik.

“Makasih ya, Mas.”

Dan dia pergi.


Aku duduk di mejaku selama sekitar sepuluh menit setelah itu dan tidak membuka laptopku.

Aku tidak merasakan apa-apa.

Itu yang aneh. Aku menunggu sesuatu datang dan tidak ada yang datang; ada semacam kekosongan yang terlalu rata, seperti layar yang menyala tapi tidak menampilkan apa pun.

Aku merapikan mejaku. Aku mematikan monitor. Aku mengambil tasku.

Aku berkata selamat sore kepada satpam di lobi seperti biasa, dan dia menjawab seperti biasa, dan aku berjalan keluar melewati pintu putar.

Cyntia sudah menungguku di trotoar depan gedung, karena kami memang berjanji makan malam.


Trotoar depan Gedung Amerta punya empat lampu jalan yang menyala pukul enam.

Hari itu mendung sejak sore, jadi lampu-lampu itu sudah menyala sejak pukul lima lewat. Udara berat. Bau aspal sebelum hujan.

Dia berdiri di bawah lampu kedua dari kiri.

“Udah?”

“Udah.”

“Mau makan di mana?”

Dan aku membuka mulutku untuk menjawab, dan tidak ada yang keluar.

Aku mencoba lagi.

Tidak ada.

“Ervan?”

Dan aku berdiri di trotoar di depan kantorku sendiri, dengan tas laptop di tangan kanan, di bawah lampu jalan, jam enam lewat sekian, dengan orang-orang berjalan melewati kami menuju halte, dan aku menyadari bahwa aku tidak bisa berbicara.

Bukan karena aku tidak tahu mau bilang apa.

Karena setiap kalimat yang tersedia di kepalaku adalah kalimat yang sudah kupilih supaya tidak merepotkan orang di depanku, dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, tidak ada satu pun dari kalimat itu yang sanggup kuucapkan.

Cyntia menaruh tasnya di trotoar.

Dia tidak bertanya apa-apa. Dia hanya menaruh tasnya dan berdiri di sana dan tidak bergerak.

Dan aku berkata:

“Aku capek.”


Lampu jalan itu berbunyi pelan seperti semua lampu jalan.

“Aku capek,” kataku lagi, dan suaraku pecah di kata kedua, dan aku tidak bisa memperbaikinya. “Cyn, aku capek banget.”

Dia tidak bergerak.

“Naufal bilang makasih.” Aku memegang tali tasku terlalu erat. “Anak itu bilang makasih karena aku nutupin kesalahannya setahun lalu. Dia nyimpen itu setahun. Dia mikirin itu setahun.”

Aku menarik napas dan napasnya tidak masuk dengan benar.

“Dan aku duduk di meja aku dan aku nggak ngerasain apa-apa,” kataku. “Nggak seneng. Nggak terharu. Nggak apa-apa. Kosong.”

Sesuatu di dadaku naik dan aku tidak bisa menahannya lagi.

“Terus aku sadar kenapa,” kataku. “Karena aku nggak inget. Aku beneran nggak inget kejadiannya, Cyn. Aku udah ngelakuin hal kayak gitu ratusan kali dan aku nggak nyimpen satu pun.”

Aku menekan pangkal telapak tanganku ke mataku dan itu tidak menolong sama sekali.

“Aku udah ngasih ke ratusan orang selama tiga tahun dan aku nggak inget satu pun dari itu karena nggak ada satu pun yang buat aku,” kataku. “Semuanya buat mereka. Semuanya cuma buat mereka.”

Dan aku menangis di trotoar di depan Gedung Amerta pada pukul enam lewat sekian hari Jumat, dengan orang-orang berjalan melewatiku menuju halte, dan aku tidak bisa berhenti.


Aku tidak menangis selama tiga tahun.

Aku ingin mencatat itu bukan sebagai kebanggaan tetapi sebagai fakta teknis: sistem itu bekerja dengan sangat baik selama seribu seratus hari, dan malam itu sistemnya berhenti bekerja sepenuhnya dan tidak ada mekanisme cadangan.

Aku menangis dengan cara yang jelek. Aku tahu itu. Bahuku bergerak dan aku mengeluarkan suara dan aku harus berpegangan pada tiang lampu.

“Aku capek nggak apa-apa,” kataku. “Aku capek jadi orang yang nggak apa-apa.”

Aku bahkan tidak tahu apakah kalimat itu benar secara tata bahasa.

“Aku capek ngitung. Aku capek mastiin semua orang nggak repot. Aku capek nyusun kalimat di mobil sebelum masuk kantor. Aku capek bilang nggak usah, aku capek bilang nanti aja, aku capek—”

Aku berhenti karena aku tidak bisa bernapas.

Dan aku berdiri di sana memegang tiang lampu jalan dengan tas laptop tergeletak di trotoar dan menunggu.

Menunggu dia berkata bahwa aku hebat. Menunggu dia berkata bahwa aku tidak perlu begitu. Menunggu dia meminta maaf, karena setiap orang selalu meminta maaf, dan permintaan maaf adalah tempat di mana aku harus segera bilang tidak apa-apa dan semuanya kembali ke tempatnya semula.

Dia tidak melakukan satu pun dari itu.


Dia berjalan mendekat dan berdiri di depanku dan tidak menyentuhku.

“Iya,” katanya.

Satu kata.

Aku mengangkat wajahku.

“Iya,” katanya lagi. “Kamu capek.”

Dan dia tidak menambahkan apa-apa.

Tidak ada tapi. Tidak ada makanya. Tidak ada saran, tidak ada penghiburan, tidak ada pengakuan bersalah yang harus kutampung.

Dia berdiri di trotoar itu dan membiarkan kalimatku tetap ada di udara tanpa mengambilnya, dan aku menemukan — untuk pertama kalinya seumur hidupku — bagaimana rasanya mengatakan sesuatu tanpa harus segera membereskannya.

Hujan mulai turun.

Bukan hujan besar. Jenis yang di sini disebut gerimis.

Dia tetap tidak bergerak.

“Kamu basah,” kataku.

“Iya.”

“Ada kanopi di—”

“Ervan.” Dia menatapku. “Aku nggak ke mana-mana.”


Aku menangis lebih keras setelah itu, dan aku tidak tahu kenapa, dan aku baru mengerti berminggu-minggu kemudian.

Karena selama tiga tahun aku percaya satu hal dengan seluruh tubuhku: bahwa kalau aku berat, orang akan pergi. Bahwa berat itu penyebab dan pergi itu akibat, dan bahwa satu-satunya cara membuat orang tinggal adalah dengan tidak menjadi apa-apa.

Aku sudah mengujinya sekali dalam hidupku dan hasilnya adalah trotoar di bawah lampu jalan di kota yang berjarak dua belas jam.

Dan sekarang aku berdiri di trotoar lain, di bawah lampu lain, dan aku baru saja melakukan hal terberat yang bisa kulakukan kepada seseorang — aku menaruh seluruh berat badanku di depannya, di jalan umum, tanpa peringatan — dan perempuan itu berdiri di bawah gerimis dengan tas tergeletak di trotoar dan tidak bergerak satu langkah pun.

“Kamu boleh capek,” katanya.

Aku tidak sanggup menjawab.

“Ervan, denger.” Dia mendekat sampai aku bisa melihat air di rambutnya. “Aku nggak akan pergi cuma karena kamu capek.”

Dan lalu, karena dia mengenalku, dia menambahkan satu hal lagi — satu kalimat yang tidak pernah kuminta dan tidak pernah kuduga dan yang menghancurkan bagian terakhir yang masih berdiri:

“Dan kalau besok kamu capek lagi, aku juga nggak akan pergi.”


Kami berdiri di sana sampai hujannya cukup besar sehingga tidak masuk akal lagi.

Lalu dia mengambil tasnya dan tasku dan menarik lenganku ke arah lobi, dan kami duduk di kursi tunggu lobi Gedung Amerta yang tidak nyaman itu, basah, di depan satpam yang dengan sangat sopan memutuskan untuk melihat ke arah lain.

Aku tidak berbicara selama mungkin dua puluh menit.

Lalu aku berkata, “Aku belum makan siang.”

Dan dia tertawa — tertawa betulan, satu kali, keras, dengan suara yang membuat satpam menoleh — dan menutup mulutnya dengan tangan.

“Aku juga,” katanya.

“Kamu mau makan apa?”

“Kamu duluan.”

Dan aku berkata, tanpa jeda, tanpa menghitung, tanpa empat variabel:

“Mi ayam.”