← Empat Jam

Chapter Forty

Gagal Lagi

POV: Cyntia


Ini urutannya, dan aku akan menuliskannya dengan jujur, termasuk bagian-bagian di mana aku tahu apa yang sedang kulakukan.

Hari pertama, Selasa.

Penerbangan pukul enam pagi. Aku sampai kantor cabang Surabaya pukul sembilan. Aku ke sana untuk audit persiapan kantor baru — kantor yang seharusnya kupimpin, kalau aku mengambil kertas di laci paling bawah itu enam bulan lalu.

Aku mengiriminya foto ruangan kosong berdebu itu pukul sepuluh.

Ini kantornya. Belum ada apa-apa.

Bagus. Lantai berapa?

Tiga. Nggak ada lift.

Kasian orang infra.

Aku tertawa sendirian di ruangan kosong itu.

Malamnya kami video call empat puluh menit. Dia menunjukkan alat kopi manualnya dan menjelaskan sesuatu tentang suhu air yang tidak kupahami sedikit pun, dengan bersemangat, tanpa jeda, seperti orang di angkot dua puluh menit menjelaskan kenapa mengganti tukang cukur itu berisiko tinggi.

Aku tidur pukul sebelas.

Hari kedua, Rabu.

Rapat dengan calon vendor sejak pukul delapan. Molor. Rapat kedua dimajukan. Aku makan siang pukul tiga sambil berjalan.

Aku membalas pesannya pukul empat sore.

Baru sempet buka HP. Padet banget.

Aku mengetik itu dan menekan kirim dan tidak berhenti untuk memikirkannya.

Nggak apa-apa. Semangat.

Malamnya, panggilan pukul sembilan. Kami bicara lima belas menit. Aku mengantuk. Aku bilang aku mengantuk. Dia bilang tidur.

Hari ketiga, Kamis.

Dan hari ketiga adalah hari di mana semuanya jatuh.


Rapat penutupan dijadwalkan pukul sepuluh dan molor menjadi pukul satu, karena kepala keuangan cabang menemukan selisih di anggaran renovasi dan tidak seorang pun boleh pulang sebelum ketemu.

Baterai ponselku empat belas persen pukul dua siang.

Aku punya power bank di tas. Aku tahu aku punya power bank di tas.

Aku tidak mengeluarkannya, karena rapat sedang berjalan dan mengeluarkan power bank di tengah rapat terlihat tidak sopan.

Ponselku mati pukul tiga lewat.

Rapat selesai pukul enam. Aku langsung ke bandara karena penerbanganku pukul delapan, dan di bandara aku mengisi daya di lantai dekat gerbang, dan aku ketiduran di kursi bandara selama empat puluh menit dengan ponsel yang tercolok di lantai.

Aku bangun karena pengumuman boarding.

Aku mencabut ponselku, memasukkannya ke tas, dan naik pesawat.

Aku tidak melihat layarnya.


Kami punya janji.

Ini bagian yang harus kutulis pelan-pelan, karena ini bagian yang membuatku ingin menutup buku ini.

Kami punya janji video call pukul sembilan malam hari Kamis. Dia yang mengusulkannya — dia, yang tidak pernah mengusulkan apa pun, mengusulkan ini pada hari Senin sebelum aku berangkat, dengan kalimat yang harus kutunggu sebelas detik untuk keluar dari mulutnya.

Kamis malem bisa telepon? Aku mau nunjukin sesuatu.

Aku bilang bisa.

Pesawatku mendarat pukul sembilan lewat empat puluh.

Aku menyalakan ponselku di taksi pukul sepuluh.

Tiga panggilan tidak terjawab. 21.00. 21.06. 21.20.

Empat pesan.

21.02 — Udah sampe? 21.25 — Nggak apa-apa kalau lagi sibuk. 21.40 — Aku tidur duluan ya. 21.41 — Nggak apa-apa.


Aku duduk di kursi belakang taksi dengan ponsel di tangan dan seluruh tubuhku menjadi dingin, dan itu bukan kiasan, jari-jariku benar-benar menjadi dingin.

Karena aku sudah pernah melihat urutan ini.

Aku sudah pernah menjadi orang yang mengetiknya, dan aku sudah pernah menjadi orang yang menerimanya, dan aku tahu persis apa bentuknya dari kedua sisi.

Nggak apa-apa kalau lagi sibuk.

Aku tidur duluan ya.

Nggak apa-apa.

Tiga tahun lalu, di kota yang berjarak dua belas jam, seorang laki-laki mengetik kalimat-kalimat yang persis seperti ini, ratusan kali, selama enam bulan.

Dan sekarang aku duduk di taksi di jalan tol bandara dan menatap kalimat yang sama di layar dan menyadari sesuatu yang membuat perutku terangkat:

Aku baru saja melakukan seluruhnya.

Baterai yang mati karena aku tidak sopan mengeluarkan power bank. Rapat yang molor. Ketiduran di bandara. Baru sempet buka HP, padet banget.

Setiap butirnya benar. Setiap butirnya bisa kubela satu per satu di pengadilan mana pun.

Dan gabungan seluruhnya adalah persis, persis, hal yang kulakukan tiga tahun lalu.


Ponselku menyala di tanganku.

22.04 — Kamu udah sampe? Kabarin aja udah sampe.

Dia belum tidur.

Tentu saja dia belum tidur. Dia mengetik aku tidur duluan ya pukul sembilan lewat empat puluh dan dia masih terjaga pukul sepuluh lewat empat, karena aku tidur duluan ya tidak pernah berarti aku tidur duluan.

Aku tahu itu.

Aku tahu itu karena aku pernah membaca kalimat itu ratusan kali dan setiap kali aku memilih untuk mempercayainya, karena mempercayainya berarti aku boleh tidur.

Aku mengetik.

Udah sampe. Maaf—

Aku menghapusnya.

Aku menghapus kata itu, di kursi belakang taksi, dengan tangan yang gemetar, karena aku sudah membuangnya bulan Juli dan karena kata itu tidak pernah sekali pun membayar apa pun.

Aku mengetik ulang.

Udah sampe. Aku ke tempat kamu sekarang.

Jangan. Udah malem. Besok aja.

Aku ke tempat kamu sekarang.

Cyn, aku nggak apa-apa. Beneran. Besok kita ketemu di kantor.

Aku menatap tiga kata itu.

Aku nggak apa-apa.

Dan aku mencondongkan badan ke depan dan berkata kepada sopir taksi:

“Pak, tolong ganti tujuan.”


Aku sampai di gedung tua di belakang pasar pukul sebelas lewat empat puluh.

Koridor lantai empat gelap. Jemuran tetangga masih tergantung. Bau minyak goreng sudah tidak ada, digantikan bau hujan yang belum turun.

Aku mengetuk.

Butuh waktu lama. Cukup lama sehingga aku sempat berpikir mungkin dia benar-benar tidur, dan sempat menyiapkan diri untuk duduk di koridor sampai pagi.

Pintu terbuka.

Dia memakai kaus abu-abu. Kacamata terpasang. Lampu di dalam menyala.

Dan wajahnya adalah wajah orang yang belum tidur sama sekali.

“Cyn—”

“Aku telat,” kataku.

Dia diam.

“Aku telat, dan aku salah.” Aku berdiri di koridor itu dengan koper kecil masih di tangan. “HP aku mati jam tiga karena aku males ngeluarin power bank di tengah rapat. Aku ketiduran di bandara empat puluh menit. Aku bisa nyalain HP di taksi jam sembilan tapi aku nggak, karena aku udah habis dan aku nggak mau liat layar.”

“Nggak apa-apa—”

“Jangan,” kataku.

Dia berhenti.

“Jangan bilang itu lagi.”


Koridor itu sangat sunyi.

Ada televisi menyala di apartemen sebelah. Ada anak kecil yang menangis dua lantai di bawah.

“Aku bikin kamu nunggu tiga jam,” kataku. “Kamu nelepon tiga kali, aku nggak angkat. Kamu ngirim empat pesan, aku nggak bales. Dan kamu ngetik ‘nggak apa-apa’ dua kali dalam empat puluh menit.”

Aku menaruh koperku di lantai koridor.

“Dan itu persis yang aku lakuin tiga tahun lalu. Persis. Setiap langkahnya.”

Dia tidak berkata apa-apa.

“Jadi ini bagian di mana kamu boleh marah,” kataku. “Bukan boleh. Harus.”

“Cyn—”

“Ervan, aku nggak minta kamu marah biar aku ngerasa lebih baik. Aku udah pernah ngelakuin itu dan aku tahu itu jahat.” Suaraku bergetar. “Aku minta kamu marah karena aku emang salah malam ini. Bukan salah tiga tahun lalu. Malam ini. Kamu nunggu tiga jam dan aku ada di kursi bandara dan aku milih nggak buka HP.”

Dan di situlah aku melihatnya.

Sesuatu bergerak di wajahnya. Bukan kemarahan.

Ketakutan.

“Kamu mau aku marah,” katanya, dan suaranya sangat pelan, “terus kamu pergi.”


Aku menutup mataku selama satu detik penuh.

Di sana. Di situ dasarnya. Lima setengah bulan, dan akhirnya aku melihatnya dengan jelas.

Bukan bahwa dia tidak bisa marah.

Bahwa dia percaya, dengan seluruh tubuhnya, bahwa marah adalah tombol yang membuat orang pergi.

“Enggak,” kataku.

“Cyn—”

“Enggak.” Aku melangkah maju sampai tidak ada jarak lagi. “Aku nggak ke mana-mana.”

“Kamu nggak bisa janji—”

“Aku bisa janji satu hal,” kataku. “Aku nggak akan pergi malam ini. Cuma malam ini. Itu aja yang aku janjiin.”

Dia menatapku.

“Terus besok?”

“Besok aku janji lagi buat besok.”

Dan sesuatu di wajahnya retak.

Bukan pecah. Retak — satu garis halus, di sekitar mata, seperti gelas yang berubah bentuk sedikit dan tidak akan pernah kembali seperti semula.

“Marah, Ervan,” kataku. “Sekarang. Aku di sini.”


Dia tidak marah malam itu.

Aku menuliskannya supaya jelas, karena aku ingin sekali menuliskan bahwa dia marah dan semuanya selesai dan kami berpelukan di koridor.

Yang terjadi adalah dia berdiri di ambang pintu selama mungkin dua puluh detik.

Lalu dia berkata, “Masuk dulu. Dingin.”

Dan aku masuk, dan dia membuatkanku teh karena kopi terlalu malam, dan kami duduk — dia di lantai, aku di kursi — dan tidak bicara selama waktu yang lama.

Lalu pukul satu pagi, tanpa aku bertanya apa pun, dia berkata ke arah dinding kosong:

“Aku ngitung.”

“Ngitung apa?”

“Dari jam sembilan.” Dia menekan pelipisnya dengan ibu jari. “Aku ngitung menitnya. Sampai jam sebelas empat puluh.”

Aku memegang gelasku dengan dua tangan.

“Dua ratus enam puluh menit,” katanya.

Dan lalu dia menoleh ke arahku, dan matanya sudah merah seluruhnya, dan dia berkata:

“Aku nggak mau jadi orang yang ngitung, Cyn.”

Aku menaruh gelasku di lantai.

“Terus kenapa kamu ngitung?”

“Karena kalau aku ngitung, aku tahu berapa besarnya.” Dia menekan pangkal telapak tangannya ke matanya. “Kalau aku tahu berapa besarnya, aku bisa mutusin itu wajar apa enggak. Dan kalau wajar, aku boleh nggak apa-apa.”

“Dan dua ratus enam puluh menit itu wajar?”

Dia tidak menjawab.

“Ervan.”

“Enggak,” katanya.

Satu kata, ke arah dinding kosong, pukul satu pagi.

Dan itu adalah pertama kalinya seumur hidupnya dia mengatakan bahwa sesuatu yang kulakukan padanya tidak wajar.