Chapter Nineteen
Migrasi
POV: Cyntia
Migrasi basis data mitra dijadwalkan Sabtu pukul sebelas malam, karena itu satu-satunya jendela di mana tujuh perusahaan logistik sepakat untuk berhenti mengirim data selama empat jam.
Aturannya sendiri yang kubuat: tidak ada yang bekerja sendirian.
Aturan itu berlaku untuk semua orang. Aturan itu berlaku untukku.
Aku sudah menyusun jadwalnya dengan rapi — Ervan sebagai pelaksana, Rio sebagai pengamat, aku sebagai penanggung jawab yang seharusnya hanya perlu hadir daring dari rumah.
Lalu istri Rio masuk rumah sakit pada Jumat sore.
Bayinya lahir Sabtu pagi. Perempuan. Kiki mengirim foto ke kanal tim sembilan kali.
Dan pukul sebelas malam hari Sabtu, di lantai sebelas yang gelap kecuali satu blok lampu, ada dua orang.
“Ibu nggak perlu ada di sini.”
“Aturannya bilang perlu.”
“Aturannya bilang harus ada orang kedua. Bisa Kiki.”
“Kiki tiga hari nggak tidur ngurus rilis.” Aku menaruh tasku di meja kosong sebelahnya. “Dan kalau kamu mau debat aturan yang aku bikin sendiri, silakan, tapi nanti aja jam empat pagi.”
Dia tidak membalas.
Migrasi dimulai pukul sebelas lewat empat.
Yang tidak pernah diceritakan orang tentang migrasi besar adalah bahwa sembilan puluh persen waktunya adalah menunggu.
Kau menjalankan sebuah perintah, dan kemudian sebuah bilah kemajuan bergerak sangat lambat selama empat puluh menit, dan tidak ada satu pun hal produktif yang bisa kau lakukan karena kau tidak boleh menyentuh apa pun sampai selesai.
Pukul dua belas lewat dua puluh, tahap pertama berjalan dan tidak ada yang bisa dilakukan siapa pun selama tiga puluh delapan menit.
Kami duduk bersebelahan menghadap dua monitor yang menampilkan bilah biru yang bergerak seperti orang berjalan di lumpur.
Aku membuka bungkus roti dari mesin di lantai dasar. Aku menyodorkan satu ke arahnya tanpa berkata apa-apa.
Dia mengambilnya.
Itu saja. Tapi dia mengambilnya.
“Rio anaknya perempuan,” kataku.
“Iya, saya lihat fotonya.”
“Kiki kirim sembilan kali.”
“Sepuluh. Ada satu yang dia hapus karena salah kirim foto struk.”
Aku tertawa. Pendek, sekali, hampir tidak ada.
Dan dia tidak berpaling.
Itu yang membuatku menahan napas — bukan karena dia ikut tertawa, dia tidak; tapi dia tidak berpaling, dan selama tiga bulan setengah, setiap kali aku tertawa dia selalu menemukan sesuatu di layarnya untuk dilihat.
Bilah biru bergerak satu persen.
“Kamu inget migrasi pertama kita?” kataku, dan aku mendengar kata “kita” keluar dari mulutku sepersekian detik setelah terlambat untuk menariknya.
Dia diam cukup lama sampai aku yakin dia akan mengabaikannya.
“Lab basis data,” katanya. “Semester lima.”
“Kamu ngerusak tabelnya.”
“Saya nggak ngerusak. Saya jalanin perintah yang ada di modul.”
“Modulnya salah cetak dan kamu tahu modulnya salah cetak.”
“Saya curiga. Saya nggak tahu.” Dia mengambil gigitan roti. “Beda.”
“Terus asistennya marah-marah, terus kamu berdiri dan bilang itu salah kamu padahal itu salah cetak modul, dan aku duduk di sebelah kamu sambil pengin nendang kursi kamu.”
Bilah biru bergerak satu persen lagi.
Aku menunggu dia melanjutkan. Dulu dia akan melanjutkan. Dulu satu kenangan akan memancing lima kenangan lain dan dia akan bicara sepuluh menit tanpa jeda, tentang asisten lab yang sombong, tentang modul yang salah cetak sejak angkatan sebelumnya, tentang teori konspirasinya bahwa fakultas sengaja tidak memperbaikinya untuk menghemat biaya cetak.
Dia tidak melanjutkan.
Dia berhenti tepat di ujung, seperti orang yang berjalan sampai ke bibir tangga lalu ingat sesuatu.
Dan aku menyadari bahwa ini yang paling berat dari semuanya: bukan bahwa dia menolak bicara denganku. Dia bicara. Dia menjawab semuanya.
Dia hanya berhenti tepat sebelum bagian di mana bicara menjadi menyenangkan.
“Iya,” katanya. “Saya inget kamu marah di parkiran.”
Kamu.
Bukan Ibu.
Aku tidak bergerak. Aku tidak menoleh. Aku duduk sangat, sangat diam, seperti orang yang menyadari ada burung hinggap di lengannya.
Dia tidak meralatnya.
“Aku bilang kamu bego,” kataku pelan.
“Iya.”
“Terus kamu bilang—”
“Saya bilang mendingan saya yang kena daripada asistennya nyalahin lima orang.” Dia menatap layar. “Dan kamu bilang itu bukan pahlawan, itu males berdebat.”
Kipas laptop berdengung.
“Aku bener,” kataku.
“Sebagian.”
“Bagian mana yang salah?”
Dia berpikir. Aku bisa melihat dia benar-benar berpikir, ibu jari menyentuh pelipis lalu turun lagi.
“Bagian males,” katanya. “Sisanya bener.”
Pukul satu lewat, tahap kedua gagal.
Bukan gagal besar — sebuah kunci asing yang tidak ditemukan, sesuatu yang sudah lima tahun ada di sana dan tidak pernah menimbulkan masalah karena tidak pernah ada yang memindahkan tabelnya.
Dia mengetik selama empat menit tanpa bicara, dan aku mencondongkan badan untuk membaca layarnya.
“Yang ini,” kataku, menunjuk. “Baris seratus dua belas.”
Dan tanganku bersenggolan dengan tangannya di atas keyboard.
Punggung jariku, punggung jarinya. Mungkin setengah detik.
Dia menarik tangannya.
Terlalu cepat. Bukan cepat yang wajar, bukan cepat orang memberi ruang; cepat seperti orang yang menyentuh panci.
Aku menarik tanganku juga, terlambat satu detik, dan kami berdua menatap layar seolah-olah baris seratus dua belas adalah hal paling menarik yang pernah ditulis manusia.
“Iya,” katanya. “Itu.”
Suaranya berbeda. Setengah nada, mungkin kurang.
Dia memperbaikinya dalam tiga menit dan menjalankan ulang tahapnya, dan bilah biru mulai bergerak lagi, dan tidak satu pun dari kami mengatakan apa pun selama sebelas menit berikutnya.
Pukul tiga lewat empat puluh, migrasinya selesai.
Verifikasi berjalan bersih. Tujuh mitra, empat juta baris, nol selisih.
Dia mengirim ringkasan ke kanal, menutup laptopnya, dan bersandar ke kursi sambil menekan pelipisnya dengan dua ibu jari.
“Selesai,” katanya.
Lantai sebelas gelap di sekeliling kami. Bunyi kulkas pantry menyala-mati. Di luar jendela besar, jalan tol kosong dengan lampu oranye yang berbaris sampai ke tempat yang tidak kelihatan.
“Ervan.”
“Hm.”
“Kamu masih main gitar?”
Dia tidak menjawab.
Aku menoleh, dan dia sedang menatap jendela.
“Enggak,” katanya.
“Kenapa?”
“Gitarnya nggak ada.”
“Dijual?”
“Dikasih.” Dia mengambil kacamatanya, mengusapnya dengan ujung kaus, memakainya lagi. “Ke anak tetangga yang pengin belajar.”
“Kapan?”
Dan di sinilah aku belajar, untuk pertama kalinya, bahwa ada bentuk lain dari kejujuran yang jauh lebih buruk daripada kebohongan.
“Tiga tahun lalu,” katanya.
Tidak ada kepahitan di dalamnya. Tidak ada tuduhan. Tidak ada satu pun serat yang ditujukan ke arahku.
Dia menyebutkan tahunnya seperti orang menyebutkan tahun sebuah mobil.
Aku memegang tepi meja.
“Ervan, aku—”
Dan aku berhenti, karena kata yang datang berikutnya adalah kata yang sudah kubuang, dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri di lantai ruang tamu pada Sabtu pagi.
Jadi aku tidak mengatakannya.
Aku berdiri, mengambil dua gelas kertas kosong dari meja — punyaku dan punyanya — dan berjalan ke tempat sampah di dekat pantry, sama seperti yang dia lakukan pada malam pertama, dan aku membuangnya.
Lalu aku kembali dan mengambil tasku.
“Ayo pulang. Aku antar sampai parkiran.”
“Nggak usah, Bu.”
“Aku bukan nawarin.”
Kami berjalan ke lift bersama-sama, dan di dalam kotak logam itu, di bawah lampu putih yang membuat semua orang kelihatan seperti mayat, dia berkata:
“Bu.”
“Iya.”
“Makasih rotinya.”
Aku menatap pintu lift.
“Sama-sama.”
Angka-angka turun. Sebelas, sepuluh, sembilan.
Dan di lantai empat, tanpa berpaling dari pintu, dia berkata:
“Kamu selalu bawa dua kalau ambil roti dari mesin.”
Lift berhenti di basement.
Pintu terbuka.
Dia keluar, berjalan ke sedan abu-abunya, dan menunggu sampai aku masuk ke mobilku duluan, karena dia selalu menunggu sampai perempuan masuk ke kendaraannya duluan.
Dan aku duduk di kursi pengemudi dengan mesin mati, jam empat pagi, memikirkan bahwa dia baru saja mengaku — dengan sangat tenang, di dalam lift, di lantai empat — bahwa selama tiga bulan setengah dia memperhatikan aku mengambil roti dari mesin.
Senin pagi, dia memanggilku “Bu Cyntia” lagi.
Semuanya kembali. Jarak satu setengah meter. Jawaban lengkap. Timer lima belas menit.
Seolah-olah Sabtu malam itu tidak pernah ada.
Tapi aku sudah tahu sekarang.
Aku sudah tahu bahwa orangnya masih ada di dalam sana, dan bahwa dia keluar pada jam tiga pagi di ruangan gelap ketika tidak ada saksi, dan bahwa dia menyeret dirinya kembali masuk sebelum matahari terbit.
Dan itu jauh lebih menyakitkan daripada kalau dia memang sudah hilang.
- 1 Nama di Baris Ketujuh
- 2 Lima Belas Menit
- 3 Diterima, Bukan Dimaafkan
- 4 Enam Hari
- 5 Diberikan ke Junior
- 6 Bandar Taruhan
- 7 Kopi Tanpa Susu
- 8 Nol Jam Lembur
- 9 Laki-Laki yang Lebih Mudah
- 10 Kardus di Atas Lemari
- 11 Empat Belas Juni
- 12 Perintah untuk Protes
- 13 Adik yang Tidak Menyapa
- 14 Hampir Pindah
- 15 Yang Dihitung
- 16 Kata yang Dibuang
- 17 Terjebak Aturan Sendiri
- 18 Circuit Breaker
- 19 Migrasi reading
- 20 draft.txt
- 21 Tawaran ke Kota Lain
- 22 Empat Puluh Jam
- 23 Empat Jam di Lorong
- 24 Panik, Bukan Haru
- 25 Surat yang Tidak Ditandatangani
- 26 Kredit yang Dirampas
- 27 Aku Tahu
- 28 Marah
- 29 Berhenti
- 30 Empat Jam
- 31 Kenapa Akhirnya Ngomong
- 32 Isi Amplop
- 33 Yang Meminta Duluan
- 34 Mode Hemat
- 35 Menu, Film, Warna
- 36 Kiki Menang Taruhan
- 37 Tahun Pertama
- 38 Frankfurt
- 39 Aku yang Nyuruh Kamu Pergi
- 40 Gagal Lagi
- 41 Aku Capek
- 42 Dua Kata
- 43 Potong Rambut
- 44 Amplop Kedua