Chapter Nine
Sebelas Menit
POV: Renata
Selisihnya satu juta dua ratus empat puluh ribu rupiah.
Aku menemukannya pada hari Kamis pukul 16.20, ketika mencocokkan laporan kas triwulan dengan saldo fisik di brankas sekretariat. Buku mencatat saldo Rp3.180.000. Yang ada di brankas Rp4.420.000.
Perlu aku tegaskan: lebih, bukan kurang.
Ini lebih buruk.
Kas yang kurang memiliki tiga kemungkinan penjelasan, dan seluruhnya dapat ditelusuri. Kas yang lebih berarti ada uang yang masuk tanpa tercatat, dan uang yang masuk tanpa tercatat berarti ada transaksi yang tidak dilaporkan, dan transaksi yang tidak dilaporkan berarti — dalam pengalamanku membaca berita mengenai organisasi mana pun di negara ini — sesuatu yang tidak baik.
Audit sekolah dijadwalkan sembilan hari lagi.
Aku menghabiskan dua malam memeriksa nota. Seratus empat belas lembar. Aku membuat tabel silang antara tanggal, vendor, nominal, dan penanggung jawab.
Aku tidak menemukan apa pun.
Pada malam ketiga, pukul 01.40, aku menutup laptop dan menyadari bahwa aku telah memeriksa hal yang sama tiga kali dengan metode yang sama, dan bahwa itu adalah definisi dari tidak bekerja.
Aku juga menyadari hal lain, yang lebih tidak menyenangkan.
Aku tidak bisa meminta bantuan.
Bukan karena tidak ada yang mampu. Ada tujuh belas orang di kepengurusan, dan sekurang-kurangnya empat di antaranya memiliki kemampuan aritmetika yang memadai.
Tetapi apabila aku meminta bantuan, akan tercatat bahwa Ketua OSIS tidak mampu menyelesaikan selisih kas di organisasinya sendiri. Dan catatan semacam itu tidak pernah berhenti pada satu orang; catatan semacam itu bergerak.
Aku telah membangun tiga tahun di atas asumsi bahwa aku tidak pernah membutuhkan siapa pun.
Asumsi itu memiliki biaya, dan biayanya sedang aku bayar pada pukul 01.40 dini hari, sendirian, dengan seratus empat belas lembar nota yang tidak mau berbicara.
Pukul 12.40 keesokan harinya, aku naik ke atas gudang dan tidak berbaring.
Aku duduk. Aku membuka map. Aku membaca ulang lembar rekapitulasi.
Setelah kira-kira empat menit, aku menyadari ada yang memperhatikan.
“Kamu nggak tidur.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Ada pekerjaan.”
“Oh.”
Dia kembali menghadap ke depan.
Aku melanjutkan membaca. Aku membaca baris yang sama tiga kali tanpa memahaminya, kemudian menutup map dengan lebih keras dari yang kumaksudkan.
“Saudara Andhika.”
“Hm.”
“Apakah Anda pernah menangani pembukuan?”
Dia berpikir sebentar. “Tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Pembukuan apa.”
“Kas organisasi. Seratus empat belas nota. Selisih satu juta dua ratus empat puluh ribu.”
“Kurang atau lebih?”
Aku berhenti.
Itu pertanyaan pertama yang benar. Ketiga pengurus yang kuberi tahu bertanya “siapa yang ambil?”. Tidak satu pun bertanya arahnya.
“Lebih,” kataku.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, ekspresinya berubah — sedikit, di sekitar mata, semacam ketertarikan yang muncul dan langsung disimpan kembali.
“Boleh saya liat?”
Aku menyerahkan map itu.
Aku mencatat waktunya, karena aku mencatat waktu untuk segala hal: 12.47.
Dia membuka map. Dia tidak membaca lembar rekapitulasi. Dia langsung ke belakang, ke tumpukan nota, dan mulai membaliknya.
Cepat. Terlalu cepat. Sekitar satu lembar per detik, kadang lebih cepat, dan pada beberapa lembar dia berhenti kurang dari setengah detik lalu lanjut.
“Anda tidak membacanya.”
“Baca.”
“Satu lembar per detik bukan membaca.”
“Buat nota, cukup.”
Aku hendak membantah, kemudian tidak.
Pada menit keempat, dia mengeluarkan tiga lembar dari tumpukan dan meletakkannya berjajar di lantai semen.
Pada menit keenam, dia menambahkan satu lembar lagi.
Pada menit kesembilan, dia mengambil kembali salah satu dari empat lembar itu dan mengembalikannya ke tumpukan.
Pada menit kesebelas, dia menyerahkan map itu kembali kepadaku, dengan tiga lembar nota terjepit di sampulnya.
12.58.
Aku perlu mencatat apa yang terjadi di antara menit keempat dan menit kesebelas, karena aku mengamatinya dan karena pengamatan itu masih menggangguku.
Dia tidak menggunakan kalkulator.
Dia juga tidak menggunakan kertas. Tidak ada coretan, tidak ada penjumlahan di margin, tidak ada tanda apa pun bahwa dia sedang menghitung.
Pada satu titik, sekitar menit ketujuh, dia berhenti membalik dan menatap tembok pembatas selama kira-kira delapan detik. Bibirnya tidak bergerak. Matanya tidak bergerak.
Kemudian dia kembali ke tumpukan, membalik langsung ke lembar yang berada — aku menghitungnya kemudian — pada urutan ketiga puluh sembilan, dan mengeluarkannya.
Dia tidak mencarinya. Dia mengambilnya.
“Uangnya nggak ada yang masuk,” katanya. “Yang ada, ada yang keluar dari kantong orang.”
Aku perlu menuliskan penjelasannya dengan tepat, karena aku telah mengulanginya empat kali dalam kepalaku sejak saat itu dan aku ingin memastikanku tidak menambahkan apa pun.
“Nota yang tiga ini,” katanya, “tulisannya sama.”
“Ketiganya dari vendor berbeda.”
“Iya. Tapi yang nulis satu orang.”
“Bagaimana Anda tahu?”
“Angka empatnya.” Dia menunjuk. “Yang ini ekornya nyambung. Yang di nota lain, nggak. Tiga-tiganya nyambung.”
Aku mengambil ketiga lembar itu dan mengangkatnya ke arah cahaya.
Dia benar.
“Vendor bisa saja menggunakan format serupa—”
“Bukan formatnya. Tulisan tangannya.” Dia mengangkat bahu. “Di tempat saya kerja, orang sering minta cetak nota kosong. Banyak. Tiap minggu ada.”
“Untuk apa?”
“Macem-macem. Tapi yang paling sering: dia udah bayar pakai uang sendiri, terus notanya ilang, terus dia bikin ulang biar bisa diganti.”
Aku menurunkan kertas itu.
“Anda mengatakan seseorang memalsukan nota.”
“Saya nggak bilang gitu.”
“Anda baru saja—”
“Saya bilang ada yang nulis ulang.” Dia melihatku. “Bedanya, kalau orang mau ngambil uang, dia bikin nota buat barang yang nggak ada. Ini barangnya ada.”
“Bagaimana Anda tahu barangnya ada?”
“Sound system-nya kepake pas Bulan Bahasa. Saya denger dari lapangan.”
Aku diam.
“Jadi,” lanjutnya, “yang terjadi kemungkinan besar: ada yang nalangin pakai uang sendiri. Terus dia catet di buku sebagai pengeluaran kas, biar bukunya rapi. Padahal uangnya nggak keluar dari kas.”
“Sehingga saldo buku berkurang, sementara saldo fisik tetap.”
“Iya.”
“Sehingga selisihnya menjadi lebih.”
“Iya.”
“Sehingga uang itu—”
Aku berhenti.
“Uang itu miliknya,” kataku.
“Iya.”
“Satu juta dua ratus empat puluh ribu rupiah.”
“Iya.”
“Dan dia tidak memintanya kembali.”
“Iya.”
Aku duduk di lantai semen atap gudang selama beberapa saat tanpa mengatakan apa pun.
Bendahara OSIS bernama Gita Anggraini. Kelas sebelas. Ayahnya pensiunan. Aku mengetahui detail ini karena aku mengetahui detail semua pengurusku, karena mengetahui detail adalah pekerjaanku.
Dan selama tiga minggu terakhir, aku telah menyusun tiga skenario mengenai siapa yang mengambil uang, dan nama Gita ada di dua di antaranya.
“Kenapa dia nggak minta ganti?” tanyaku, lebih kepada diri sendiri.
“Karena kalau dia minta ganti, dia harus jelasin kenapa dia bayar duluan,” kata Andhika. “Terus orang nanya kenapa nggak lapor. Terus jadi panjang.”
“Itu tidak masuk akal. Menyelesaikannya lebih mudah daripada—”
“Buat kamu iya.”
Aku menoleh.
Dia tidak sedang menyerang. Dia mengatakannya seperti orang membacakan suhu ruangan.
“Kalau kamu ngomong, orang dengerin,” katanya. “Kalau dia ngomong, orang nanya dulu bener apa nggak.”
Aku berdiri. Aku merapikan map. Tanganku, aku perhatikan, bergerak sedikit lebih cepat dari biasanya.
“Saya harus kembali ke sekretariat.”
“Hm.”
“Saudara Andhika.”
“Hm.”
“Anda menyelesaikan ini dalam sebelas menit.”
“Kebetulan.”
“Saya menghabiskan dua malam.”
“Kamu nyari yang ngambil. Saya nggak nyari itu.”
“Anda mencari apa?”
Dia memasang kembali earphone-nya. “Saya nyari siapa yang lagi nutupin sesuatu. Beda.”
Aku berdiri di sana lebih lama dari yang kurencanakan, kemudian aku melakukan satu hal yang kusesali segera setelahnya.
“Sebutkan kompensasinya.”
Dia menoleh. “Apa?”
“Anda telah memberikan jasa. Saya akan mengganti. Sebutkan angkanya, atau bentuk lain apabila Anda menghendaki — surat rekomendasi, poin keaktifan, pencantuman nama dalam laporan—”
“Nggak usah.”
“Ini bukan pemberian. Ini penyelesaian transaksi.”
“Nggak usah, Renata.”
“Saya tidak dapat menerima jasa tanpa—”
“Renata.” Dia melepas earphone-nya lagi. “Kalau nama saya masuk laporan, orang bakal nanya siapa saya.”
“Lalu?”
“Terus mereka cari tau.”
“Lalu?”
Dia tidak menjawab.
“Saudara Andhika, dicari tahu bukan hukuman. Dalam banyak kasus, itu justru menguntungkan. Apabila kemampuan Anda diketahui—”
“Renata.”
“—Anda dapat memperoleh rekomendasi, akses, kesempatan yang—”
“Renata.”
Aku berhenti.
“Kamu tau kenapa kamu nawarin itu?” katanya.
“Karena itu adil.”
“Bukan.” Dia menutup buku catatannya. “Karena kamu nggak nyaman kalau ada yang ngasih sesuatu terus nggak minta apa-apa.”
Aku membuka mulut.
Aku menutupnya.
“Itu bukan kesimpulan yang dapat Anda tarik dari data yang tersedia.”
“Iya,” katanya. “Maaf.”
Dan dia memasang earphone-nya kembali dan menghadap ke depan, dan itu adalah cara dia menutup pintu, dan aku sudah cukup mengenalnya untuk tahu bahwa pintu itu tidak akan terbuka hari ini.
Pukul 15.40, aku memanggil Gita ke sekretariat.
Dia masuk dengan wajah orang yang sudah menyiapkan permintaan maaf selama tiga minggu.
“Duduk.”
“Ketua, saya—”
“Duduk.”
Dia duduk.
Aku meletakkan tiga lembar nota di meja.
Wajahnya kehilangan seluruh warnanya dalam waktu kurang dari dua detik, dan dia mulai bicara sangat cepat, dan aku mengangkat satu tangan.
“Gita.”
“Ketua, saya nggak—”
“Saya tidak menuduh Anda.”
Dia berhenti.
“Kas kita lebih satu juta dua ratus empat puluh ribu,” kataku. “Angka itu sama dengan DP sound system yang Anda bayarkan pada tanggal empat belas.”
Dia menatap meja.
“Apakah benar?”
Kepalanya mengangguk sekali, sangat kecil.
“Mengapa Anda tidak melapor?”
“Saya takut Ketua marah.”
“Saya tidak marah.”
“Ketua selalu—” Dia berhenti. Menelan. “Ketua selalu bener. Jadi kalau saya salah, saya—”
Dia tidak menyelesaikannya.
Aku duduk di kursiku dan tidak mengatakan apa pun selama beberapa detik, karena aku baru saja menyadari sesuatu yang tidak menyenangkan mengenai organisasi yang kupimpin.
Kalau kamu ngomong, orang dengerin. Kalau dia ngomong, orang nanya dulu bener apa nggak.
“Uang itu akan dikembalikan hari Senin,” kataku akhirnya. “Beserta bukti. Saya akan menandatanganinya sendiri.”
“Ketua nggak usah repot—”
“Gita.”
“Ya, Ketua?”
“Lain kali, laporkan.”
“Iya, Ketua.”
“Dan Gita.”
“Ya?”
Aku membuka mulut. Aku berniat mengatakan sesuatu — sesuatu yang mendekati permintaan maaf, atau setidaknya pengakuan bahwa aku telah menyusun tiga skenario dan nama dia ada di dua di antaranya.
Aku tidak mengatakannya.
“Tidak. Anda boleh keluar.”
Malam itu aku membuka laporan penyelesaian selisih kas dan mengisinya.
Ada kolom di bagian bawah: Diselesaikan oleh.
Aku mengetikkan namaku sendiri, sebagaimana yang telah disepakati, sebagaimana yang diminta.
Kemudian aku menghapusnya.
Kemudian aku mengetikkannya lagi.
Aku menatap layar itu selama, aku perkirakan, empat menit.
Dan aku menyimpan berkasnya dengan namaku di kolom tersebut, karena itu yang diminta, dan karena penolakannya jelas, dan karena tidak ada alasan rasional untuk melakukan sebaliknya.
Lalu aku membuka agendaku, membalik ke halaman hari itu, dan pada kolom pukul 12.40 yang keterangannya bertuliskan Andhika, aku menambahkan satu baris kecil di bawahnya, di luar format, dengan pensil:
11 menit. 114 nota. Tidak menggunakan kalkulator.
Aku menutup buku itu.
Dan aku berbaring di kasur dengan satu hal yang tidak dapat kususun ke dalam kategori mana pun.
Bukan mengenai bagaimana dia menyelesaikannya.
Mengenai kalimat terakhirnya.
Terus mereka cari tau.
Orang yang tidak ingin dicari tahu biasanya bukan orang yang tidak punya apa-apa untuk diceritakan.
Orang yang tidak ingin dicari tahu biasanya adalah orang yang punya sesuatu yang sedang dia jaga.
Jumlah kata: ±1729
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit reading
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu