Chapter Two
Anak Tangga Kelima
POV: Sekar
“Sekaaar!”
Aku belum sempat menaruh tas di meja dan seseorang sudah memelukku dari belakang.
“Ya ampun, kamu gemesin banget sih pagi-pagi.”
Itu Dinda. Dinda dari kelas sebelah, yang setiap hari lewat kelasku bukan karena kelasnya lewat sini, tapi karena — kata dia sendiri — “mau ngecas dulu.”
Ngecas.
Aku maskot. Aku baterai. Aku bukan orang.
“Pagi, Din,” kataku, dan aku tersenyum, karena itu yang dilakukan maskot.
Dia mengelus kepalaku dua kali, seperti mengelus kucing yang sudah dia bayar, lalu pergi.
Aku menghitung. Itu yang keempat pagi ini, dan bel masuk belum berbunyi.
Aku duduk. Aku merapikan jepit rambutku yang bergeser karena elusan tadi. Aku membuka buku.
Di papan tulis masih ada tulisan piket kemarin. Sekar ditulis dengan huruf yang dibesar-besarkan dan diberi gambar kucing di sebelahnya. Bukan aku yang menggambar. Tidak pernah aku yang menggambar.
Kelas mulai ramai. Fitri lewat, mencubit pipiku sambil bilang “halo bayi.” Rian dari belakang menaruh dagu di kepalaku selama dua detik seolah kepalaku sandaran tangan.
Yang kelima dan keenam.
Aku sudah pernah menghitungnya selama satu minggu penuh, dulu, waktu kelas sepuluh. Rata-rata dua puluh tiga kali sehari. Aku berhenti menghitung di hari Jumat karena angkanya mulai membuatku ingin menangis di kamar mandi, dan aku sudah memutuskan sejak lama bahwa aku tidak akan jadi orang yang menangis di kamar mandi sekolah.
Yang menyebalkan bukan sentuhannya. Aku suka disentuh. Aku orang yang senang menempel; kalau tidak, aku tidak akan tidur di bahu tetanggaku sejak umur enam tahun.
Yang menyebalkan adalah bahwa mereka melakukannya tanpa berpikir. Seperti menekan tombol lift.
Dan aku memikirkan hal yang selalu kupikirkan di jam-jam seperti ini, yaitu: kalau tinggiku 165, apakah mereka akan tetap melakukan itu?
Jawabannya tidak. Aku tahu jawabannya tidak.
Ada satu orang di dunia yang tidak pernah sekali pun mengelus kepalaku. Satu.
Dan orang itu sudah kukenal sejak aku umur enam tahun.
Rumahku dan rumah Mas Dhika dipisahkan satu tembok, satu jemuran, dan satu pohon jambu yang buahnya tidak pernah dimakan siapa-siapa karena rasanya sepat.
Aku tahu jam berapa dia berangkat. Aku tahu suara rolling door percetakan Pak Har waktu ditutup jam dua pagi karena kamarku menghadap gang. Aku tahu lampu depan rumahnya selalu menyala sampai dia pulang, dan aku tahu Mbah Ratmi bilang dia cuma belum ngantuk.
Aku tahu terlalu banyak. Itu masalahnya.
Aku tahu dia dulu punya sepeda dan sekarang tidak. Aku tahu tahun lalu ada dua minggu di bulan November di mana lampu depan rumahnya tidak menyala sama sekali, dan aku tahu itu bukan karena mereka pergi. Aku tahu Mbah Ratmi memasak jam lima pagi supaya bekalnya sempat dingin sebelum dimasukkan kotak.
Ibuku sering menyuruhku mengantar makanan ke sebelah. Rendang, kadang. Sayur lodeh. Dan setiap kali, Mbah Ratmi menerima dengan senyum yang lebar sekali dan besoknya mengembalikan piring itu dengan isi — pisang goreng, tempe mendoan, apa pun.
Piring itu tidak pernah kembali kosong. Tidak sekali pun. Lima tahun.
Aku tidak pernah bilang ke ibuku bahwa aku tahu artinya apa.
Dan aku tidak pernah bilang ke Mas Dhika bahwa aku tahu.
Karena satu hal yang kupelajari tentang keluarga itu adalah: kalau kamu menunjukkan bahwa kamu tahu, mereka akan berhenti menerima.
Tapi ada satu hal yang tidak kutahu, dan itu menggangguku sejak kelas sepuluh:
Mas Dhika makan siang di mana?
Karena dia tidak pernah di kantin. Aku sudah cek. Berkali-kali, dengan tingkat kekhusyukan yang kalau diceritakan ke orang akan terdengar seperti masalah kejiwaan.
Dia juga tidak di kelas. Tidak di perpustakaan. Tidak di masjid. Tidak di lapangan.
Setiap istirahat pertama, Andhika Pratama menguap dari sekolah ini selama dua puluh menit, lalu muncul lagi seolah tidak terjadi apa-apa.
Dan hari ini aku memutuskan untuk berhenti penasaran dengan cara yang paling sederhana.
Aku mengikutinya.
Dia berjalan ke belakang laboratorium.
Aku tahu tempat itu. Semua anak yang pernah bolos upacara tahu tempat itu. Gudang tua, gembok karatan, dan tangga besi di sisinya yang sudah berdiri di sana sejak sebelum kami masuk.
Yang tidak pernah kulakukan adalah menaiki tangga itu.
Bukan karena takut. Karena— entahlah. Karena tangga besi itu selalu terlihat seperti milik seseorang. Seperti pagar rumah orang. Kamu tidak masuk pagar rumah orang cuma karena pagarnya nggak dikunci.
Mas Dhika naik. Anak tangga kelima berbunyi. Dia tidak berhenti.
Aku menunggu dua menit, lalu naik juga.
Anak tangga kelima berbunyi lagi, jauh lebih keras dari yang kubayangkan, dan aku hampir kabur saat itu juga.
Dia duduk di sudut, punggung ke tembok, kaki lurus, kotak bekal biru di pangkuan, earphone di kedua telinga.
Dia tidak menoleh.
Dia bahkan tidak kaget.
“Kar.”
Aku berhenti di anak tangga terakhir dengan satu kaki masih menggantung.
“Kok tau aku?”
“Bunyinya beda.”
“...Hah?”
“Tangganya.” Dia menunjuk dengan dagu, sedikit sekali, ke arah anak tangga kelima. “Bunyinya beda-beda tergantung yang naik.”
Aku naik sepenuhnya. Angin di atas sini lebih besar dari yang kukira, dan rok seragamku langsung berkibar dan aku harus menahannya dengan dua tangan sambil berjalan seperti nenek-nenek menyeberang jalan.
“Kamu bisa bedain orang dari bunyi tangga.”
“Nggak semua orang. Kamu doang.”
Jantungku melakukan sesuatu yang tidak pantas.
“Kenapa aku doang?”
“Ringan.” Dia menyuap nasi. “Anak tangganya cuma bunyi setengah.”
Oh.
Bukan karena aku spesial. Karena aku kecil.
Sudah. Selesai. Ini kenapa aku tidak pernah cerita ke siapa-siapa tentang perasaanku sendiri.
Aku duduk. Bukan di sebelahnya — dua langkah dari sebelahnya, karena entah kenapa hari ini aku merasa harus punya alasan untuk duduk dekat, dan aku tidak punya alasan.
Padahal dua hari lalu aku tidur di bahunya waktu nonton TV di rumahnya dan tidak memikirkan apa-apa sama sekali.
Aneh ya. Tempat bisa mengubah orang.
“Kamu makan di sini terus?” tanyaku.
“Hm.”
“Kenapa?”
Dia mengunyah. Menelan. Baru menjawab.
“Sepi.”
“Kantin juga ada tempat sepi.”
“Nggak ada.”
“Ada. Yang deket—”
“Kar.” Dia menoleh, akhirnya. “Kalau kamu duduk sendirian di kantin, orang nanya kenapa kamu sendirian. Kalau kamu duduk sendirian di sini, nggak ada yang nanya.”
Aku membuka mulut untuk membantah dan tidak menemukan apa pun untuk dibantah.
Karena itu persis alasanku naik ke sini.
“Kamu sendiri kenapa naik?” tanyanya.
Nah. Ini dia. Ini pertanyaan yang seharusnya kusiapkan jawabannya di bawah tadi, dan yang tidak kusiapkan karena aku terlalu sibuk memikirkan apakah akan naik atau tidak.
“Nyariin kamu.”
“Kenapa?”
“Penasaran.”
“Penasaran apa?”
“Kamu makan siang di mana.”
Dia mengunyah. Dia tidak menjawab. Dia juga tidak terlihat merasa perlu menjawab, dan itu membuatku mengoceh untuk mengisi kekosongan, yang mana adalah kebiasaan burukku nomor satu.
“Soalnya aku udah cek kantin. Nggak ada. Terus perpus juga nggak ada. Masjid nggak ada. Terus aku mikir kamu pulang, tapi kan nggak mungkin, terus—”
“Kar.”
“Ya?”
“Berapa lama kamu ngecek?”
“...Setahun.”
Aku menyesal dua detik setelah mengatakannya.
Dia menoleh. Betulan menoleh, kali ini, dengan tubuhnya sedikit ikut berputar.
Dan dia tidak tertawa. Itu bagian yang membuatku ingin melompat dari atap.
Kalau dia tertawa, aku bisa bilang “ih apaan sih” dan semuanya selesai. Tapi dia cuma menatapku, agak lama, dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca sama sekali.
“Setahun,” ulangnya.
“Nggak setiap hari.”
“Hm.”
“Cuma— pas kepikiran.”
“Hm.”
Dia mengangguk sekali, lalu balik menghadap depan.
Dan tidak membahasnya lagi.
Kami diam beberapa menit. Dia makan. Aku memandangi atap-atap rumah di kejauhan dan menemukan atap rumahku sendiri di antaranya, dan itu perasaan yang aneh — melihat rumahmu dari tempat yang tidak seharusnya kau datangi.
“Mas Dhika.”
“Hm.”
“Kenapa kamu nggak pernah elus kepala aku?”
Sendok berhenti setengah jalan.
Ini pertanyaan yang sudah lima tahun kusimpan dan aku baru saja melemparkannya begitu saja, jam sepuluh pagi, di atas gudang, seperti orang yang membuang sampah dari jendela mobil.
“...Harusnya?” katanya.
“Nggak. Bukan gitu.”
“Terus gimana?”
“Semua orang ngelakuin itu.”
“Iya.”
“Kamu nggak.”
“Iya.”
Dia menaruh sendoknya. Melirik jam tangannya — kebiasaan yang sudah kuhafal, dia melakukannya delapan sampai sepuluh kali per jam, dan aku tidak pernah tahu kenapa.
“Kar, waktu kita SD,” katanya, “kamu pernah nangis di depan warung Bu Nah gara-gara ada bapak-bapak ngangkat kamu terus dibilangin lucu.”
Aku ingat. Umur delapan. Aku menangis sampai cegukan dan tidak bisa menjelaskan kenapa, karena umur delapan belum punya kata-kata untuk aku ingin dianggap manusia.
“Aku nggak inget,” bohongku.
Dia melihatku sebentar. Jepit rambutku terasa longgar dan aku merapikannya walaupun tidak longgar.
“Ya udah,” katanya.
Dan dia lanjut makan.
Dia tidak memaksa. Dia tidak pernah memaksa. Itu bagian dari dia yang membuatku ingin memukul sesuatu, karena kalau dia memaksa sedikit saja, aku akan cerita semuanya, dan aku sudah lima tahun menunggu alasan untuk cerita semuanya.
“Kar.”
“Hm?”
“Kamu nggak makan?”
Aku baru sadar aku memang tidak membawa apa-apa. Aku naik ke sini dengan tangan kosong, seperti orang yang datang ke rumah orang tanpa oleh-oleh.
“Lupa.”
Dia menyodorkan kotak bekalnya ke arahku. Terbuka. Nasi tinggal setengah, tempe tinggal satu potong.
“Nggak usah,” kataku cepat.
“Ambil.”
“Aku nggak laper.”
“Perut kamu bunyi dua kali dari tadi.”
“Itu angin.”
“Oke,” katanya, dan menarik kembali kotaknya.
Dan entah kenapa itu justru membuatku merasa kalah.
“...Setengah aja.”
Dia menyodorkannya lagi. Aku mengambil tempe yang satu potong itu dan menggigitnya setengah, lalu mengembalikan sisanya ke kotak.
“Kar.”
“Apa.”
“Kalau digigit setengah terus dibalikin, itu namanya bukan ngambil setengah.”
“Terus namanya apa?”
“Namanya ngerusakin tempe orang.”
Aku tertawa. Keras. Lebih keras dari yang seharusnya untuk lelucon sekecil itu, dan bunyinya memantul ke tembok pembatas dan kembali lagi ke telingaku sendiri.
Aku baru sadar aku belum tertawa seperti itu sejak entah kapan. Tertawa yang tidak sedang ditonton siapa-siapa.
Bel istirahat berbunyi dari kejauhan, dua kali, tanda lima menit lagi.
Dia menutup kotak bekalnya. Melepas earphone. Menggulungnya dengan cara yang sangat spesifik — dua lingkaran, lalu ujungnya diselipkan — dan aku menyadari sesuatu.
“Kabelnya dilakban.”
“Iya.”
“Rusak?”
“Sebelah.”
“Yang mana?”
Dia berdiri, memasukkan earphone ke saku, dan menepuk celananya sekali.
“Kanan.”
“Ganti dong.”
“Nanti.”
Nanti. Kata yang dia pakai untuk semua hal, dan yang tidak pernah sekali pun kudengar berubah jadi sekarang.
Kami turun. Dia duluan, aku belakangan, dan di anak tangga kedelapan kakiku miring karena besinya longgar dan tanganku langsung menggapai—
—dan menemukan dua jarinya.
Kelingking dan jari manis. Persis seperti dulu.
Aku tidak memikirkannya. Tangan itu memang selalu di sana sejak umur enam tahun, seperti pegangan di angkot, seperti sesuatu yang disediakan oleh pemerintah.
Dia menahanku sampai kakiku benar. Lalu turun lagi.
Dan dia tidak melepaskannya. Aku yang melepaskan, di anak tangga terakhir, karena kami sudah sampai bawah dan tidak ada alasan lagi.
“Kar.”
“Ya?”
Dia sudah berjalan duluan, membelakangiku, tangan di saku.
“Besok kalau naik, langkahin anak tangga kelima.”
“Kenapa?”
“Berisik.”
Dia belok di tikungan koridor dan hilang.
Aku berdiri di sana beberapa detik, memandangi tangga besi itu, dan pelan-pelan menyadari sesuatu yang membuat perutku terasa aneh sepanjang sisa hari itu.
Dia tidak menyuruhku berhenti datang.
Dia cuma menyuruhku datang dengan lebih pelan.
Berarti dia sudah tahu aku akan datang lagi besok.
Dan berarti — ini bagian yang membuatku tidak bisa fokus sama sekali di pelajaran Kimia — dia sudah memikirkan aku datang besok, sebelum aku sendiri memikirkannya.
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima reading
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu