← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Thirty Two

Ayat (5)

POV: Renata


Saya menemukannya pada tanggal 16 Januari, pukul 21.14, ketika sedang membaca ulang Peraturan Yayasan Nomor 14 Tahun 2019 untuk keperluan yang sama sekali berbeda.

Pasal 8 ayat (5).

Permohonan keringanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) hanya dapat diajukan selambat-lambatnya tiga puluh hari sebelum batas akhir penyelesaian kewajiban.

Batas akhir penyelesaian kewajiban: 12 Februari. Tiga puluh hari sebelumnya: 13 Januari.

Hari ini: 16 Januari.


Saya membaca kalimat itu empat kali.

Kemudian saya membuka laci, mengeluarkan map cokelat setebal sembilan belas halaman, dan membuka halaman pertama, di mana pada kolom Tanda tangan pemohon terdapat tanggal dan satu baris kecil bertuliskan Berlaku apabila diminta.

Tanggalnya: 8 Desember.

Tiga puluh sembilan hari.

Saya memiliki tiga puluh sembilan hari, dan saya menghabiskannya dengan mengeluarkan map itu dari tas setiap malam, menatapnya, dan memasukkannya kembali.

Saya membaca Pasal 8 secara keseluruhan pada hari kelima penyusunan berkas. Saya membacanya dari ayat (1) sampai ayat (7). Saya mengetahui hal ini karena saya mencatat proses penyusunan berkas tersebut, sebagaimana saya mencatat segala hal.

Saya membaca ayat (5).

Saya tidak mencatatnya.

Saya telah mencatat dua ribu empat ratus tiga puluh satu hal dalam enam buku agenda selama tiga tahun terakhir, termasuk arah bergesernya tas saya ketika saya tidur, dan termasuk berapa kali seseorang melirik jam tangannya dalam satu jam.

Dan satu-satunya hal yang tidak saya catat sepanjang hidup saya adalah tanggal kedaluwarsa dari satu-satunya dokumen yang berarti.


Saya perlu mencatat apa yang terjadi selama empat jam berikutnya, karena saya tidak akan mampu menceritakannya kepada siapa pun.

Pukul 21.20 sampai 22.05: saya mencari celah.

Saya membaca ulang seluruh peraturan, seratus enam halaman, mencari klausul pengecualian, ketentuan peralihan, atau kewenangan diskresioner. Saya menemukan tiga hal yang berpotensi. Saya memeriksa ketiganya. Ketiganya tidak berlaku.

Pukul 22.05 sampai 23.30: saya menyusun surat permohonan dispensasi.

Saya menulisnya empat kali. Versi keempat cukup baik. Saya membacanya ulang dan menyadari bahwa surat permohonan dispensasi terhadap batas waktu pengajuan permohonan keringanan adalah dokumen yang tidak memiliki dasar hukum dan yang akan ditolak oleh siapa pun yang membacanya.

Pukul 23.30 sampai 00.40: saya menghitung.

Saya membuka aplikasi perbankan saya. Saya melihat saldo tabungan yang telah saya kumpulkan sejak kelas tujuh dari uang saku, hadiah, dan tiga lomba yang saya menangkan.

Angkanya cukup. Angkanya lebih dari cukup.

Saya membuka aplikasi tersebut, memasukkan nomor rekening yayasan yang tertera di halaman terakhir peraturan, dan mengetikkan nominalnya.

Saya menatap layar itu selama sebelas menit.

Kemudian saya menutupnya.

Bukan karena saya tidak bersedia.

Karena saya sudah mengetahui apa yang akan terjadi, dan saya sudah mengetahuinya sejak bulan Oktober, dan seluruh sembilan belas halaman itu disusun justru untuk menghindarinya:

Kalau dia ngasihnya kayak orang naruh barang di meja, terus pergi, saya ambil. Kalau dia berdiri di situ nungguin saya ambil, saya nggak ambil.

Transfer tidak dapat dilakukan tanpa nama.

Yayasan akan mencatat siapa yang membayar. Tata Usaha akan mengetahui. Tiga orang akan membaca.

Dan pada pukul 12.40 keesokan harinya, tidak akan ada bunyi tangga.

Pukul 00.40 sampai 01.15: saya duduk.

Saya tidak melakukan apa pun. Saya duduk di kursi meja belajar saya dengan map cokelat di pangkuan.

Dan pada pukul 01.15, saya menangis untuk pertama kalinya sejak usia sebelas tahun.


Saya menemuinya hari Sabtu.

Sebelum itu, terdapat dua hari yang perlu saya catat.

Kamis. Saya tetap naik pukul 12.40. Atap kosong, sebagaimana tiga puluh dua hari terakhir. Saya berbaring selama lima belas menit dan tidak tidur sedetik pun, dan ketika turun saya menyadari bahwa saya telah berhenti berhenti di anak tangga ketiga.

Kebiasaan meluruskan bahu itu hilang entah kapan.

Saya tidak mengetahui kapan, dan saya tidak mengetahui apakah itu berarti saya sudah tidak perlu memperbaiki wajah saya, atau saya sudah berhenti peduli apakah wajah saya perlu diperbaiki.

Jumat. Wisnu masuk ke sekretariat pukul 15.20 membawa dua map.

“Ketua, ini laporan bulanan.”

“Letakkan di meja.”

“Sama ini.” Dia meletakkan map kedua. “Yang ini bukan laporan.”

Saya membukanya.

Isinya kosong, kecuali satu lembar catatan kecil dari Wisnu, yang tulisan tangannya sangat jelek dan yang saya baca tiga kali:

Ketua, kalau Ketua butuh sesuatu, saya bisa bantu. Saya nggak akan tanya kenapa.

Saya menutup map itu.

“Wisnu.”

“Ya, Ketua?”

“Terima kasih.”

Dia berdiri di tempatnya selama beberapa detik dengan ekspresi seseorang yang mesin cucinya berbicara untuk kedua kalinya.

Kemudian dia keluar.

Dan saya duduk di ruang sekretariat OSIS dengan dua map di meja, dan saya menyadari bahwa selama tiga tahun terdapat tujuh belas orang yang bersedia menolong saya apabila saya meminta, dan bahwa saya telah salah menyimpulkan bahwa tidak ada yang pernah menawarkan.

Mereka menawarkan.

Saya hanya tidak pernah membuka mapnya.


Sabtu, pukul 08.30, di gang di depan rumahnya, karena Sekar memberi tahu saya bahwa hari Sabtu dia berangkat pukul sembilan.

Dia keluar dari pagar dan melihat saya berdiri di trotoar.

“Renata.”

“Selamat pagi.”

“Kamu di sini.”

“Ya.”

Dia melihat sekeliling gang — dua ibu-ibu di depan warung, seorang anak kecil, kucing di atas tutup got — dan saya melihat sesuatu bergerak di rahangnya.

“Kita ngomong di depan,” katanya.

Kami berjalan ke ujung gang. Ke jalan besar, di dekat halte, di mana tidak ada satu pun orang yang mengenal siapa pun.

Saya menyerahkan map itu.

“Saudara Andhika.”

“Hm.”

“Berkas ini sudah tidak berlaku.”


Dia tidak membukanya.

“Pasal 8 ayat (5),” kata saya. “Permohonan hanya dapat diajukan selambat-lambatnya tiga puluh hari sebelum batas akhir. Batas tersebut jatuh pada tanggal 13 Januari.”

“Sekarang tanggal 18.”

“Ya.”

Dia mengangguk sekali.

“Saya membaca ayat tersebut pada tanggal 20 November,” kata saya. “Bersama seluruh Pasal 8. Saya membacanya, dan saya tidak mencatatnya, dan itu adalah satu-satunya hal yang tidak saya catat sepanjang tahun ini.”

“Renata—”

“Saya memiliki tiga puluh sembilan hari,” kata saya, dan suara saya keluar dengan cara yang tidak saya izinkan. “Tiga puluh sembilan hari, dan berkas tersebut berada di dalam tas saya setiap hari, dan saya mengeluarkannya setiap malam dan memasukkannya kembali, dan saya tidak melakukan apa pun.”

“Kamu nggak bisa ngapa-ngapain.”

“Saya dapat mengajukannya tanpa tanda tangan Anda dan menerima penolakan administratif. Saya dapat menemui pengurus yayasan secara langsung. Saya dapat—”

“Renata.”

“Saya menyelesaikan segala hal,” kata saya. “Selama enam tahun. Tanpa pengecualian. Sebelas kali dalam tiga tahun sistemnya bekerja, dan setiap kali sistemnya bekerja karena saya membaca dokumennya dengan benar.”

Saya berdiri di trotoar di dekat halte dengan map cokelat di tangan.

“Dan satu-satunya kali sistemnya penting,” kata saya, “saya melewatkan satu ayat.”


Dia diam.

Lalu dia berkata:

“Nggak apa-apa.”

Dan itu.

Itu yang menghancurkan saya, dan bukan yang lain.

Bukan Pasal 8 ayat (5). Bukan tiga puluh sembilan hari. Bukan tabungan yang cukup dan tidak dapat digunakan.

Dua kata dari orang yang seharusnya marah, yang berhak marah, yang memiliki setiap alasan untuk marah — dan yang tidak marah, karena dia sudah menghitungnya, karena dia sudah mengetahui hasilnya sejak bulan Agustus, karena berkas sembilan belas halaman itu tidak pernah sekali pun berada di dalam perhitungannya.

“Jangan,” kata saya.

“Hm?”

“Jangan mengatakan tidak apa-apa.”

“Renata—”

“Ini apa-apa,” kata saya, dan suara saya pecah di kata ketiga. “Ini sangat apa-apa. Dan Anda tidak boleh membuatnya menjadi tidak apa-apa hanya supaya saya tidak perlu menanggungnya.”


Dan kemudian saya melakukannya.

Saya menjatuhkan map itu — betulan menjatuhkannya, sembilan belas halaman di trotoar dekat halte pukul sembilan pagi — dan saya melangkah maju dan saya memeluknya.

Saya tidak meminta izin.

Saya perlu mencatat bahwa itu adalah pertama kalinya dalam hidup saya bahwa saya melakukan sesuatu terhadap tubuh orang lain tanpa meminta izin, dan bahwa saya melakukannya dengan sangat buruk.

Terlalu erat. Tangan saya berada di posisi yang salah — keduanya di bahunya, terlalu tinggi, sehingga siku saya menekan ke atas dan seluruh postur tersebut lebih menyerupai orang yang mencengkeram daripada orang yang memeluk.

Saya menyadarinya setelah kira-kira tiga detik.

Saya tidak dapat memperbaikinya, karena saya tidak mengetahui bagaimana memperbaikinya, karena tidak ada satu pun dalam enam buku agenda saya yang mencakup hal ini.

“Saya tidak tahu caranya,” kata saya, ke bahunya.

Dan orang itu — yang tidak pernah menyentuh siapa pun terlebih dahulu, yang menyimpan tangannya di dalam saku sejak kelas delapan, yang berdiri kaku selama sembilan detik pada bulan Desember tanpa bernapas —

Mengangkat kedua tangannya.

Dan memindahkan tangan saya.

Pelan. Dari bahunya, turun, ke punggungnya, di posisi yang benar. Satu, lalu yang lain.

Kemudian dia menurunkan tangannya sendiri, dan melingkarkannya di punggung saya, dan menahannya di sana.

“Gini,” katanya.


Saya menangis di trotoar dekat halte, pukul sembilan pagi hari Sabtu, dengan sembilan belas halaman berserakan di dekat kaki kami.

Saya tidak mengetahui berapa lama.

Saya tidak menghitungnya.

Itu adalah satu-satunya rentang waktu dalam enam tahun terakhir yang tidak saya hitung, dan saya menyadarinya beberapa jam kemudian, dan kesadaran tersebut menghantam saya lebih keras daripada Pasal 8 ayat (5).

Ketika saya melepaskan diri, dia sudah jongkok mengumpulkan kertas-kertas itu.

Dia menyusunnya berurutan — halaman satu sampai sembilan belas, tanpa melihat nomornya, karena dia telah memindai seluruhnya pada bulan Desember dalam waktu satu setengah detik per halaman.

Dia menyerahkannya kembali kepada saya.

“Ini disimpen,” katanya.

“Berkas ini tidak berguna.”

“Iya.”

“Lalu mengapa disimpan?”

Dan dia berkata:

“Karena ada orang yang ngerjain ini sebelas hari.”


Saya pulang naik angkutan umum untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, karena saya tidak sanggup menelepon sopir keluarga dan menjelaskan mengapa seragam saya kotor dan mengapa mata saya seperti itu.

Di dalam angkot, saya membuka map tersebut.

Halaman satu sampai sembilan belas, berurutan, sempurna.

Dan di antara halaman empat belas dan lima belas, ada satu lembar yang bukan milik saya.

Selembar kertas fotokopi, buram, tulisan tangan, huruf kapital.

DILARANG NYALAKAN MESIN 3 SENDIRIAN KECUALI ANDHIKA

Saya menatapnya.

Saya membalik lembar itu.

Dan di baliknya, dengan pensil, dengan tulisan yang saya kenali karena saya telah melihatnya di margin buku catatan seseorang pada bulan Desember, tertulis satu baris:

Pak Har nitip ini ke kamu hari Sabtu kemarin. Saya nemu di tas kamu waktu bantuin ngangkat kardus. Saya nggak baca yang belakangnya. Maaf.