Chapter Forty
Dua Belas Ribu Rupiah
POV: Renata
Aku perlu menuliskan ini dengan lengkap, karena aku telah memeriksanya empat ratus kali sejak hari Sabtu itu dan karena setiap kali aku memeriksanyaku menemukan bahwa kesalahannya tidak berkurang.
Kamis, 25 Februari, pukul 19.40.
Aku membuka jadwal keberangkatan.
Empat kereta ke arah tersebut: pukul 07.15, 11.00, 15.40, dan 21.20.
Aku menyusun tabel dengan enam kolom: jam, kelas, harga, durasi, jam kedatangan, dan catatan.
Kamis, pukul 20.15.
Aku mengeliminasi pukul 21.20. Tiba pukul 04.00 dini hari. Tidak sesuai untuk seseorang yang membawa lansia pascaoperasi.
Aku mengeliminasi pukul 07.15. Membutuhkan keberangkatan dari rumah pukul 05.30. Tidak sesuai untuk hari yang sama dengan pengemasan barang.
Tersisa dua: pukul 11.00 dan pukul 15.40.
Kamis, pukul 20.40.
Selisih harga: dua belas ribu rupiah per orang. Dua orang: dua puluh empat ribu.
Aku memeriksanya tiga kali. Angkanya benar.
Kamis, pukul 21.05.
Aku menyusun profil keputusan.
Aku memiliki data yang cukup untuk ini. Aku telah mengumpulkannya selama seratus tiga puluh sembilan hari: dia berjalan empat kilometer untuk menghemat ongkos angkot. Dia tidak mengganti earphone yang rusak sejak Februari tahun lalu. Dia tidak memiliki paket data. Dia memakai seragam kelas sepuluh pada tahun kedua.
Kesimpulanku: dua puluh empat ribu rupiah adalah jumlah yang signifikan bagi orang tersebut.
Kesimpulan tersebut benar.
Kamis, pukul 21.20.
Aku menuliskan pada agendaku, dengan pulpen, bukan pensil:
Sabtu, 27 Februari. Stasiun Kota. Pukul 14.30.
Dan aku menutup buku itu, dan aku tidur pukul 22.10, dan aku tidur nyenyak, karena aku telah menyelesaikan sebuah perhitungan dan karena selama enam tahun aku belum pernah salah.
Aku perlu menuliskan bagian ini juga, walaupun bagian ini yang paling sulit.
Jumat, 26 Februari.
Aku tidak melakukan apa pun.
Aku masuk sekolah. Aku memimpin dua rapat. Aku menandatangani sebelas dokumen. Aku menyelesaikan laporan bulanan tiga hari lebih awal.
Dan pada pukul 12.40, aku naik ke atas gudang, dan aku berbaring di sudut barat daya selama lima belas menit, dan aku tidak tidur.
Aku memiliki dua puluh empat jam pada hari Jumat.
Dua puluh empat jam, dan alamat rumahnya, dan nomor Pak Har di dalam ponselku.
Dan aku menghabiskan seluruhnya dengan bekerja, karena bekerja adalah satu-satunya hal yang kuketahui cara melakukannya, dan karena selama enam tahun aku telah membangun sebuah sistem yang mengubah setiap masalah menjadi tugas dan setiap tugas menjadi jadwal.
Sistem tersebut mengatakan: hari Sabtu, pukul 14.30.
Maka hari Jumat tidak ada apa-apa untuk dikerjakan.
Sabtu, 27 Februari, pukul 12.41.
Aku berdiri di depan papan keberangkatan Stasiun Kota.
Sebelum itu, terdapat satu kejadian pada pukul 09.20 yang perlu aku catat.
Aku mengirim pesan kepada Sekar.
Renata: Selamat pagi. Apakah Anda akan ke stasiun hari ini?
Dibaca pukul 09.24.
sekar: nggak
Renata: Apakah Anda mengetahui jadwal keretanya?
sekar: nggak
Renata: Anda tidak ingin mengetahuinya?
Jeda tujuh menit.
sekar: ren
Renata: Ya.
sekar: aku tetanggaannya sepuluh tahun
sekar: kalau dia mau aku ada di stasiun, dia bakal ngasih tau aku jamnya
sekar: dia nggak ngasih tau
Aku membaca pesan tersebut sambil berdiri di ruang tamu rumahku, dan aku menyimpulkan pada saat itu bahwa Sekar sedang menyerah.
Aku salah.
Aku baru mengetahui betapa salahnyaku pada malam hari itu juga, dan pengetahuan tersebut membuatku duduk di lantai kamar selama satu jam.
Sekar tidak menyerah.
Sekar sedang melakukan satu-satunya hal yang benar di antara kami bertiga, yaitu menghormati keputusan orang tersebut untuk tidak memberi tahu.
Dan aku, yang menghabiskan dua malam menyusun tabel enam kolom, sedang melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan dengan berkas sembilan belas halaman:
Menyusun sesuatu untuk seseorang tanpa menanyakan apakah dia menghendakinya.
Aku sampai lebih awal — aku selalu sampai lebih awal — dan aku melihat papan tersebut, dan aku membaca baris demi baris dari atas ke bawah sebagaimana aku membaca segala hal.
11.00 — BERANGKAT.
Aku membacanya empat kali.
Kemudian aku membuka aplikasi di ponselku dan memeriksa daftar penumpang yang dapat diakses publik, yang tidak dapat diakses publik, sehingga aku tidak dapat memeriksanya.
Kemudian aku berdiri di depan papan itu selama tujuh menit.
Dan pada menit kedelapan, aku menemukan variabel yang kulewatkan.
Kursi roda.
Neneknya menggunakan kursi roda. Aku melihatnya dari pintu ruang kelas tiga pada tanggal 5 Februari, tempat tidur nomor sembilan, dekat jendela.
Kursi roda tersebut bukan milik pribadi.
RSUD meminjamkan kursi roda kepada pasien pascaoperasi dengan ketentuan pengembalian pada hari yang sama, sebelum pukul tiga sore, karena unit tersebut terbatas.
Aku mengetahui hal ini.
Aku mengetahuinya karena aku membaca papan pengumuman di lorong rumah sakit tersebut pada tanggal 5 Februari, sambil berdiri, sambil menunggu keberanian yang tidak pernah datang.
Aku membacanya.
Aku tidak mencatatnya.
Ini adalah kedua kalinya.
Yang pertama: Pasal 8 ayat (5). Aku membacanya pada tanggal 20 November dan aku tidak mencatatnya, dan aku kehilangan tiga puluh sembilan hari.
Yang kedua: papan pengumuman lorong RSUD. Aku membacanya pada tanggal 5 Februari dan aku tidak mencatatnya, dan aku kehilangan dua jam.
Aku telah mencatat dua ribu empat ratus tiga puluh satu hal dalam enam buku agenda.
Arah bergesernya tasku ketika tidur. Jumlah lirikan jam tangan per jam. Jarak duduk yang berkurang sepuluh sentimeter setiap bab. Sembilan belas baris di sistem pensil mengenai bagaimana seseorang menempati ruang.
Dan dua hal yang kulewatkan adalah dua hal yang menentukan segalanya.
Aku telah memikirkan hal ini selama dua tahun, dan aku telah sampai pada satu kesimpulan yang tidak dapat kubantah:
Aku mencatat hal-hal yang membuatku merasa dekat dengannya.
Aku tidak mencatat hal-hal yang dapat mengakhiri keadaan tersebut.
Ayat (5) akan menyelesaikan tunggakannya. Papan pengumuman akan membawanya ke peron pukul sebelas.
Dua-duanya adalah pintu keluar.
Dan sistemku — yang bekerja sempurna selama enam tahun, yang tidak pernah gagal sebelas kali dalam tiga tahun — menolak mencatat pintu keluar.
Bukan karena sistemnya rusak.
Karena aku yang mengoperasikannya.
Aku duduk di trotoar di depan Stasiun Kota bersama Tamara Eliza Putri sampai pukul dua siang.
Kami tidak banyak bicara.
Pada pukul 13.40, dia berkata:
“Ren.”
Aku menoleh. Itu pertama kalinya seseorang memanggilku dengan cara tersebut.
“Ya.”
“Kamu bawa map.”
“Ya.”
“Buat apa?”
Aku melihat ke pangkuanku.
Sembilan belas halaman. Berkas yang telah kedaluwarsa empat puluh lima hari yang lalu. Dokumen yang tidak dapat diajukan, tidak dapat diproses, dan tidak memiliki satu pun kegunaan administratif.
“Saya tidak tahu,” kataku.
“Kamu selalu tau.”
“Ya.” Aku memegang sudut map yang penyok. “Itulah yang membuat hal ini mengganggu.”
Tamara tertawa.
Suaranya jelek — basah, serak, pendek — dan berhenti setelah dua detik.
“Dia pernah bilang gitu ke kamu ya,” katanya.
“Tidak. Saya yang mengatakannya kepada dia. Pada bulan Januari.”
“Terus dia jawab apa?”
Dan aku mengingatnya dengan sempurna, sebagaimana aku mengingat seluruhnya, karena aku menuliskannya di sistem pensil pada malam itu juga:
“Dia berkata: kamu selalu tau.”
Aku pulang naik angkutan umum.
Di dalam angkot, aku membuka map itu.
Halaman satu sampai sembilan belas, berurutan, sempurna, sebagaimana dia menyusunnya kembali di trotoar dekat halte pada bulan Januari.
Dan di antara halaman empat belas dan lima belas, selembar kertas fotokopi buram bertuliskan DILARANG NYALAKAN MESIN 3 SENDIRIAN / KECUALI ANDHIKA, dengan catatan pensil di baliknya.
Aku membalik lembar itu.
Aku membacanya lagi.
Saya nemu di tas kamu waktu bantuin ngangkat kardus. Saya nggak baca yang belakangnya. Maaf.
Dan pada hari Sabtu tanggal 27 Februari, pukul tiga sore, di dalam angkutan umum, aku menyadari sesuatu mengenai catatan tersebut yang tidak kusadari selama empat puluh hari.
Dia menuliskan catatan itu dengan pensil.
Pensil dapat dihapus.
Dia menuliskannya dengan pensil supaya, apabila aku menghendaki, aku dapat menghapusnya dan berkas itu kembali menjadi milikku sepenuhnya, tanpa satu pun jejak bahwa pernah ada orang lain yang menyentuhnya.
Aku memegang lembar itu dengan dua tangan di dalam angkutan umum yang penuh.
Dan aku menangis untuk kedua kalinya sejak usia sebelas tahun, di depan sebelas orang asing, tanpa satu pun usaha untuk memperbaiki wajahku.
Malam itu aku membuka agendaku.
Halaman Sabtu, 27 Februari.
Kolom pukul 14.30 bertuliskan, dengan pulpen: Stasiun Kota.
Aku menatapnya.
Kemudian aku mengambil pensil, dan pada kolom pukul 11.00 yang kosong, aku menuliskan satu baris.
Dan setelah menuliskannya, aku menutup buku itu, dan aku meletakkannya di rak bersama enam buku lainnya, dan aku tidak membuka satu pun dari ketujuhnya lagi selama dua tahun berikutnya.
Baris itu berbunyi:
Ia menawarkan earphone sebelah kiri kepada saya pada hari kedua belas. Saya tidak pernah menanyakan apa yang sedang ia dengarkan.
Jumlah kata: ±1383
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah reading
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu