Chapter Thirty Eight
Anter
POV: Tamara
Aku tahu dia akan pergi pada hari Kamis, dari orang yang paling tidak kuduga.
“Tam.”
Bagas. Di depan kelasku. Jam istirahat. Dengan wajah yang sama sekali bukan wajah Bagas.
“Kenapa, Gas?”
“Andhika pindah.”
Aku menaruh ponselku di meja.
“Pindah ke mana?”
“Nggak tau. Luar kota.”
“Kamu tau dari siapa?”
“Dari mamanya temen gue yang beli di percetakan situ.” Dia menggaruk lehernya. “Katanya anak yang biasa jaga mau berhenti. Sabtu terakhir.”
“Sabtu?”
“Sabtu.”
Hari ini Kamis.
Aku ke grup.
tamara: dia pindah sabtu tamara: kalian tau?
Sekar membaca dalam empat detik.
sekar: iya
Aku menatap satu kata itu selama sepuluh detik penuh.
tamara: dari kapan
sekar: senin
tamara: SENIN
tamara: sekar itu empat hari yang lalu
sekar: iya
tamara: kenapa nggak bilang
Dan Sekar tidak menjawab selama dua menit, dan lalu yang muncul bukan jawaban:
sekar: aku juga baru dikasih tau kemarin. sama pak har. bukan sama dia
sekar: dia belum ngomong apa-apa ke aku
sekar: sepuluh tahun, tam. dia belum ngomong apa-apa ke aku
Dan Renata masuk, dan yang dia ketik cuma satu baris, dan itu baris paling tidak-Renata yang pernah dia tulis:
Renata: Saya juga tidak diberi tahu.
Aku pulang sekolah jam tiga dan aku tidak naik ke atap.
Aku naik angkot ke arah yang berlawanan dari rumahku.
Aku tidak tahu alamatnya. Aku belum pernah ke sana. Empat bulan aku bertanya kamu tinggal di mana dan empat bulan dia bilang deket sini, dan aku menyerah di bulan Desember.
Aku punya satu hal: nama percetakan.
Harapan Jaya. Sekar pernah menyebutnya di grup.
Aku mencarinya di peta. Ada tiga. Aku mendatangi ketiganya.
Yang pertama tutup. Yang kedua bukan.
Yang ketiga ada di ujung gang di belakang pasar, dengan papan nama yang huruf J-nya nyaris hilang, dan rolling door yang terbuka penuh, dan bunyi mesin dari dalam.
Jam lima lewat sepuluh.
Ada bapak-bapak duduk di kursi plastik di depan pintu.
“Cari siapa, Nduk?”
“Andhika, Pak.”
Dia mengangkat wajah.
Dan dia menatapku — lama, jauh lebih lama daripada yang sopan — dengan cara yang membuatku merasa sedang diukur.
“Kamu yang mana?” katanya.
“...Hah?”
“Yang tiga itu. Kamu yang mana.”
Aku berdiri di depan percetakan itu dengan seragam yang masih kupakai dan tas di bahu.
“Tamara,” kataku.
“Oh.” Dia mengangguk-angguk. “Yang berisik.”
“...Dia bilang gitu?”
“Nggak.” Pak Har menyeruput kopinya. “Dia nggak pernah cerita apa-apa. Aku yang nebak.”
“Nebak dari mana?”
“Dari mukamu,” katanya. “Dua yang lain dateng ke sini pelan-pelan. Kamu dateng kayak orang mau berantem.”
Aku menunggu satu jam empat puluh menit.
Di kursi plastik, di depan percetakan, di gang di belakang pasar, dengan seragam SMA dan sepatu yang tidak cocok untuk berdiri di lantai semen berdebu.
Pak Har membawakan teh dan meletakkannya di lantai karena tidak ada meja.
Kami tidak banyak bicara.
Menit kedua puluh:
“Pak, dia beneran pindah?”
“Ho’oh.”
“Kenapa?”
Dia tidak menjawab.
Menit keempat puluh lima:
“Pak.”
“Hm.”
“Bapak nggak nahan dia?”
Dan Pak Har memutar gelas kopinya di tangan.
“Nduk,” katanya. “Kalau aku nahan dia, dia bakal tinggal.”
“Ya bagus dong.”
“Terus neneknya gimana?”
Aku menutup mulut.
“Ibunya di sana,” katanya. “Rumahnya lebih deket rumah sakit. Ada yang bisa jagain siang hari.” Dia meletakkan gelasnya. “Anak itu udah ngitung semuanya. Aku cuma bisa ngitung ulang, dan hasilnya sama.”
Menit ketujuh puluh:
“Pak.”
“Hm.”
“Dia sekolahnya gimana?”
Pak Har diam lama.
“Nanti aja tanya sendiri,” katanya.
Menit kesembilan puluh:
“Pak.”
“Hm.”
“Bapak nggak sedih?”
Dan Pak Har meletakkan gelasnya di lantai — pelan, dengan dua tangan, seperti orang yang meletakkan sesuatu yang bisa pecah.
“Sedih,” katanya.
Satu kata, dan lalu tidak ada apa-apa lagi selama hampir dua menit.
“Dulu aku punya anak,” katanya akhirnya, ke arah gang.
Aku tidak berani menoleh.
“Seumur dia, kira-kira. Pas dulu.” Dia menyeruput kopi yang tidak ada isinya. “Aku suruh dia kerja di sini juga. Tiap hari. Katanya biar nggak males.”
Ada motor lewat.
“Terus dia pergi,” kata Pak Har. “Bukan pergi kayak Andhika. Pergi yang beda.”
“Pak—”
“Aku nggak nyariin,” katanya. “Tiga bulan. Aku pikir nanti juga balik.”
Dia mengangkat gelasnya dan melihat ke dalamnya, dan tidak ada apa-apa di dalamnya, dan dia meminumnya juga.
“Nduk.”
“Iya, Pak.”
“Kalau nanti kamu udah gede,” katanya, “terus ada orang yang pergi—”
Dia berhenti.
Lalu dia berdiri, dan mengambil gelasnya, dan masuk ke dalam sebelum menyelesaikan kalimatnya.
Dan aku duduk di kursi plastik itu selama tiga puluh menit lagi tanpa tahu bagian akhirnya, dan aku masih tidak tahu sampai sekarang.
Dia keluar jam enam lewat lima puluh.
Kaus oblong abu-abu. Rambut basah karena keringat. Tangan menyeka ke celana.
Dan dia melihatku duduk di kursi plastik di depan pintu percetakannya, dan langkahnya berhenti.
Betulan berhenti. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya.
“Tamara.”
“Hai.”
“Kamu—”
“Aku nunggu satu jam empat puluh menit,” kataku. “Aku ngitung.”
Dia tidak bergerak.
“Aku belajar dari kamu,” kataku. “Ngitung. Empat bulan ini. Aku ngitung semuanya sekarang dan itu nyebelin banget dan aku nggak bisa berhenti.”
“Tamara—”
“Kamu pindah Sabtu.”
Dia tidak menyangkal.
“Kamu nggak bilang ke aku.”
Dia tidak menyangkal itu juga.
Dan aku berdiri dari kursi plastik itu, dan aku merasakan seluruh isi dadaku naik ke tenggorokan, dan yang keluar dari mulutku bukan satu pun dari sebelas kalimat yang sudah kususun selama satu jam empat puluh menit.
Yang keluar cuma satu kata.
“Anter.”
Dia menatapku.
“Apa?”
“Anter aku pulang.”
“Tamara, saya—”
“Anter.”
“Ini jauh. Kamu naik apa tadi?”
“Angkot tiga kali.”
“Saya nggak bisa—”
“ANDHIKA.”
Suaraku memantul ke dinding gang, dan dua ibu-ibu di depan warung menoleh, dan aku tidak peduli sama sekali.
“Aku nggak minta kamu jelasin apa-apa,” kataku. “Aku nggak nanya kenapa. Aku nggak nanya ke mana. Aku nggak nanya kapan balik.”
Air mataku sudah keluar dan aku membiarkannya.
“Aku cuma minta kamu anter aku pulang,” kataku. “Sekali. Kayak dulu.”
Dia berdiri di sana selama beberapa detik.
Lalu dia menoleh ke dalam percetakan.
“Pak.”
“Sana,” kata Pak Har dari dalam, tanpa keluar. “Bawa payung.”
Kami jalan ke halte.
Dua ratus meter, dan dia tidak mengatakan satu kata pun, dan aku juga tidak.
Aku berjalan setengah langkah di belakangnya seperti yang dilakukan Sekar selama sepuluh tahun, dan aku baru mengerti sekarang kenapa Sekar melakukannya, karena dari sini kamu bisa melihat punggung orang itu dan kamu bisa melihat kapan bahunya turun.
Bahunya turun di meter kesembilan puluh.
Cuma sebentar. Lalu naik lagi.
Di halte, kami menunggu delapan menit.
Dan di menit keenam, aku berkata:
“Andhika.”
“Hm.”
“Aku mau nanya satu hal. Cuma satu. Terus abis itu aku nggak nanya apa-apa lagi seumur hidup.”
Dia menoleh.
“Boleh,” katanya.
Dan aku menoleh ke arahnya, di halte, jam tujuh malam, dengan wajah yang sudah hancur dan mata yang bengkak dan seragam yang bau debu percetakan.
“Bilang aku cantik,” kataku. “Sekali aja.”
Aku mengucapkannya bulan November, di atas atap, sambil ngambek karena dia menjawab pertanyaan orang lain lebih dulu.
Dan dia bilang “Kamu berisik.”
Dan aku marah lima menit dan mengulang kalimat itu sendiri sebelum tidur selama berhari-hari.
Aku mengucapkannya lagi di halte itu, empat bulan kemudian, dan itu bukan permintaan yang sama sama sekali, dan kami berdua tahu.
Dia diam.
Angkot lewat. Bukan yang kutunggu.
“Tamara,” katanya.
“Hm.”
Dan dia berkata:
“Kamu berisik.”
Dan aku menutup wajah dengan dua tangan dan menangis di halte itu sampai badanku gemetar, karena dia mengatakannya dengan suara yang sama sekali berbeda dari bulan November, dan karena aku sudah cukup lama mengenal orang ini untuk tahu bahwa dua kata itu adalah satu-satunya cara dia bisa mengatakan hal lain.
Angkotku datang jam tujuh lewat dua belas.
Aku naik.
Dia berdiri di halte dan tidak naik.
Dan lewat kaca belakang, aku melihatnya berdiri di sana sampai angkot belok, dengan tangan di saku, di bawah lampu halte yang setengah mati.
Aku sampai rumah jam delapan lewat.
Dan aku baru menyadari, jam sebelas malam, sambil menatap langit-langit kamar:
Dia tidak mengantarku pulang.
Dia mengantarku ke halte, delapan menit jalan kaki, dan berdiri di sana sampai angkotku pergi.
Dan aku mengizinkannya, karena aku sedang menangis dan tidak sedang menghitung.
Kalau aku sedang menghitung, aku akan tahu.
Orang yang mengantarmu sampai halte dan berhenti di sana—
—adalah orang yang sudah tahu dia tidak akan sampai ke tujuan yang sama denganmu.
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter reading
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu