Chapter Thirty One
Kerja Bakti
POV: Sekar
Aku menemukannya waktu membereskan lemari.
Ibuku menyuruhku mengeluarkan buku-buku SMP untuk disumbangkan, dan di antara buku Matematika kelas delapan ada selembar foto yang terselip di halaman seratus dua, karena umur tiga belas aku menyimpan foto di dalam buku pelajaran seperti orang menyembunyikan barang berharga di tempat yang tidak akan dibuka siapa pun.
Foto kerja bakti sekolah. Kelas 8-C. Empat puluh orang berbaris di depan gedung dengan sapu dan kain lap.
Aku ada di barisan depan, paling kiri, karena aku paling pendek.
Dan di barisan belakang, paling ujung kanan, ada anak laki-laki bertubuh kurus dengan kaus olahraga kebesaran yang tidak melihat ke kamera.
Aku duduk di lantai kamar dengan foto itu di tangan selama entah berapa lama.
Dan lalu aku ingat semuanya.
Namanya Vira.
Dia bukan orang jahat. Aku ingin menekankan itu sekarang, empat tahun kemudian, karena selama empat tahun aku sudah membangun Vira menjadi monster di kepalaku dan itu tidak adil dan itu juga tidak benar.
Vira anak yang biasa. Ceria. Suka menggambar. Pernah meminjamkan aku penghapus selama satu semester penuh.
Hari itu kerja bakti. Panas. Kami mengangkat pot-pot tanaman dari depan kelas ke halaman belakang.
Ada satu pot besar yang tidak bisa diangkat sendirian.
Vira mencoba. Tidak bisa. Dan ada seseorang yang lewat dan mengambil sisi satunya tanpa diminta, dan mereka mengangkatnya bersama sampai halaman belakang, dan di sana pot itu diturunkan.
Dan waktu diturunkan, tangan mereka bersentuhan.
Bukan lama. Setengah detik. Kecelakaan.
Vira menarik tangannya.
Bukan menepis — aku sudah memperbaiki ingatan ini berkali-kali dan aku ingin jujur — dia menarik tangannya, refleks, seperti orang yang menyentuh sesuatu yang tidak dia duga.
Lalu dia berjalan kembali ke teman-temannya, dan dia berkata, pelan, sambil mengibaskan tangannya:
“Tangannya kasar banget.”
Dia tidak mengatakannya dengan jijik.
Dia mengatakannya dengan kaget. Nada orang yang menemukan hal yang tidak dia duga dan menyebutkannya karena itu menarik.
Aku berdiri satu setengah meter dari sana, memegang kain lap.
Dan orang yang baru saja mengangkat pot itu berdiri tiga meter di belakang Vira, dengan tangan masih di sisi badan, dan dia mendengarnya.
Aku tahu dia mendengarnya, karena aku melihat wajahnya.
Yang kulakukan setelah itu:
Tidak ada.
Aku tidak berkata Vir, jangan gitu. Aku tidak berkata dia denger tuh. Aku tidak menghampirinya.
Aku berdiri di sana dengan kain lap di tangan dan aku menghitung sampai lima, karena itu yang selalu kulakukan, dan lalu aku melanjutkan mengelap jendela.
Empat tahun.
Aku tidak pernah menceritakan ini ke siapa pun.
Dan aku tidak pernah — sekali pun — mempertanyakan kenapa aku diam.
Aku mempertanyakannya hari itu, di lantai kamar, dengan foto kelas 8-C di tangan.
Dan jawabannya datang dalam sepuluh detik dan membuatku ingin merobek foto itu.
Aku diam karena kalau aku bicara, semua orang akan menoleh.
Dan kalau semua orang menoleh, mereka akan menoleh ke dia.
Dan mereka akan melihat anak laki-laki kurus dengan kaus olahraga kebesaran yang tangannya kasar karena dia mengangkat rim kertas di percetakan sejak umur tiga belas.
Aku diam untuk melindunginya.
Itu yang kukatakan pada diriku sendiri selama empat tahun.
Tapi hari itu, di lantai kamar, aku menghitung ulang seperti yang diajarkan orang itu, dan hasilnya keluar dengan sangat jelas dan sangat memuakkan:
Kalau aku bicara, orang-orang akan tahu bahwa aku peduli.
Dan kalau orang-orang tahu aku peduli pada anak yang tangannya kasar dan seragamnya pudar dan yang tidak pernah ikut acara apa pun—
—maka aku bukan lagi Sekar yang lucu, yang gemesin, yang semua orang suka.
Aku diam karena aku pengecut.
Dan aku menyebutnya melindungi selama empat tahun.
Aku mencari Vira malam itu.
Bukan untuk marah. Aku sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa marah ke anak kelas delapan yang sekarang sudah kelas sebelas di sekolah lain adalah cara paling murah untuk memindahkan rasa bersalah.
Aku mencarinya karena aku ingin tahu satu hal.
Akunnya masih ada. Fotonya sekarang berbeda — rambutnya panjang, dia ikut teater, ada foto dia menang lomba menggambar tingkat provinsi.
Aku mengetik pesan.
Aku menghapusnya.
Aku mengetik lagi.
vir, ini sekar. yang smp dulu 8c
Dibaca dalam dua menit.
SEKAAAR ya ampun apa kabarrr
Aku menatap layar itu selama satu menit penuh.
vir, kamu inget nggak pas kerja bakti kelas 8? yang angkat pot
hah? nggak inget sih. kenapa emang
Dan itu jawabannya.
Aku sudah menduganya, dan menduga tidak sama dengan mengetahui, dan mengetahui itu jauh lebih buruk.
Empat tahun.
Empat tahun aku menyimpan kalimat itu, dan empat tahun orang lain menyimpan kalimat itu di dalam kepalanya sampai hari ini dan mungkin sampai mati—
—dan orang yang mengucapkannya tidak ingat sama sekali.
Itu selalu begitu, ternyata. Kalimat yang paling menghancurkan hidup seseorang biasanya diucapkan oleh orang yang sedang tidak memikirkan apa-apa.
nggak papa vir. salah orang kali
oke wkwk. main dong kapan2
iya
Aku menutup ponsel dan tidak membukanya lagi sampai pagi.
Ada satu hal lagi.
Yang ini butuh dua jam lagi untuk kutemukan, dan waktu kutemukan aku harus menutup mulut dengan dua tangan di lantai kamar supaya ibuku tidak dengar.
Aku memegang dua jarinya.
Kelingking dan jari manis. Sepuluh tahun.
Di bulan Desember, di koridor lab, aku bilang ke dia: aku megang dua jari karena tangan aku kecil. Aku umur enam waktu itu.
Itu benar.
Umur enam, tanganku muat dua jari.
Aku tidak umur enam terus.
Umur sepuluh, tanganku sudah lebih besar. Umur dua belas, jauh lebih besar. Umur tiga belas, empat belas, lima belas, enam belas.
Sepuluh tahun, dan aku tidak pernah sekali pun pindah ke telapaknya.
Kenapa?
Aku duduk di lantai kamar dan menghitung, dan aku mencari alasan, dan aku tidak menemukan satu pun kecuali yang ini:
Kelas 8, semester dua, aku mendengar seseorang berkata bahwa tangan itu kasar.
Dan sejak itu, tanpa pernah kuputuskan, tanpa pernah kusadari, tanpa satu pun pikiran yang bisa kutunjuk—
—aku berhenti tumbuh ke arah telapaknya.
Aku tidak tidur malam itu.
Dan besok paginya aku naik ke atap jam sepuluh kurang sepuluh, dan atap itu kosong, seperti dua puluh lima hari terakhir.
Aku duduk di sudut timur laut dan membuka buku sampul merah muda seharga tiga ribu dan menulis:
Hari ini dia tidak naik.
Lalu aku menutupnya dan menangis di atas atap gudang selama dua puluh menit, sendirian, dengan cara yang tidak pernah kulakukan di kamar mandi sekolah karena aku sudah bersumpah tidak akan pernah jadi orang yang menangis di kamar mandi sekolah.
Malamnya, di teras.
“Belum tidur?”
“Belum ngantuk.”
Dia sudah mau jalan.
“Dhika.”
Dia berhenti.
“Duduk bentar.”
Dia duduk. Di lantai teras, sama seperti dua minggu lalu, dengan tas di sebelahnya.
Dan aku, yang sudah menyiapkan ini selama satu hari penuh dan yang tetap tidak siap sama sekali, mengulurkan tangan kananku dengan telapak menghadap ke atas.
Dia menatapnya.
“Kar—”
“Taruh tangan kamu di sini.”
“Kenapa?”
“Taruh aja.”
Dia meletakkannya.
Telapak ke telapak. Punyaku di bawah, punyanya di atas, dan tangan itu menutupi tanganku hampir sepenuhnya.
Aku menatapnya lama.
Ada garis-garis keras di pangkal jari. Ada bagian di sisi telapak yang warnanya lebih gelap. Ada bekas kecil melintang di punggung tangan yang sampai sekarang aku tidak tahu asalnya.
“Dhika.”
“Hm.”
“Kelas delapan, kerja bakti.”
Tangannya menegang.
Sangat sedikit. Tapi aku sedang memegangnya, jadi aku merasakan semuanya.
“Kar.”
“Aku di situ,” kataku.
Hening.
Suara TV dari rumah Bu Nah. Kucing di atas tutup got.
“Aku berdiri satu setengah meter dari Vira waktu dia ngomong,” kataku, “dan aku denger, dan aku nggak ngapa-ngapain.”
Dia tidak menjawab.
“Aku diem selama empat tahun,” kataku, dan suaraku sudah hancur di titik ini. “Dan aku bilang ke diri aku sendiri aku diem biar kamu nggak malu. Tapi bukan itu, Dhika. Aku diem karena aku takut orang tau aku peduli sama kamu.”
Aku menutup jariku di atas telapaknya.
“Dan aku megang dua jari kamu selama sepuluh tahun,” kataku, “dan aku pikir itu karena tangan aku kecil. Ternyata bukan. Ternyata aku berhenti tumbuh di umur tiga belas, di halaman belakang sekolah, gara-gara satu kalimat yang bukan buat aku.”
Aku menunduk. Aku menunggu.
Aku sudah menyiapkan diri untuk apa pun. Marah. Diam. Pergi.
Yang tidak kusiapkan adalah yang terjadi.
Tangannya membalik.
Telapak ke telapak jadi jari-jari yang menutup, dan dia menggenggam tanganku — kuat, sepenuhnya, tanpa ragu sedetik pun — dan dia menahannya di sana.
“Kar.”
“Hm.”
“Saya nggak inget.”
Aku mengangkat kepala.
“...Apa?”
“Saya nggak inget kamu ada di situ.”
Aku menatapnya.
Dan aku tahu — aku tahu dengan seluruh sepuluh tahun yang kupunya — bahwa orang ini tidak pernah lupa apa pun.
Orang ini hafal bunyi tiga tangga. Orang ini hafal urutan sembilan lagu sampai ke detiknya. Orang ini mengerjakan soal olimpiade dari ingatan karena kunci jawabannya tidak ikut terfotokopi.
Andhika Pratama tidak lupa.
Andhika Pratama sedang berbohong ke aku untuk pertama kalinya seumur hidupnya.
Dan dia melakukannya sambil menggenggam tanganku, sambil menatap gang yang lampunya mati, supaya aku bisa berhenti membawa sesuatu yang sudah kubawa empat tahun.
Aku tidak membantah.
Aku membiarkannya berbohong.
Karena itu satu-satunya hadiah yang bisa dia berikan malam itu, dan karena aku tahu betapa mahal harganya bagi orang yang tidak pernah bisa lupa.
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti reading
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu