Chapter Fourteen
Anak Pak Har
POV: Sekar
“Nduk.”
Aku sudah lewat lima langkah dari depan percetakan sebelum aku sadar dipanggil.
“Iya, Pak?”
Pak Har berdiri di depan pintu dengan gelas kopi seperti biasa. Tapi hari ini rolling door-nya terbuka penuh, dan di dalam ada mesin besar yang menyala, dan ada bau tinta yang keluar sampai ke trotoar.
“Andhika ada di dalem.”
“...Sekarang?”
“Ho’oh.”
Aku melihat jam. Jam sepuluh pagi. Hari Sabtu.
“Panggilin?” katanya.
“Nggak usah, Pak. Saya cuma lewat.”
Dia menyeruput kopi yang tidak ada isinya. “Masuk aja.”
Dan dia masuk duluan, yang mana adalah cara orang seumurnya mengatakan ayo tanpa mengatakan ayo.
Aku belum pernah masuk ke dalam percetakan itu.
Delapan belas tahun tinggal seratus meter dari tempat ini, dan aku belum pernah masuk.
Dalamnya lebih besar dari yang kubayangkan. Ada tiga mesin, dua meja panjang, tumpukan kertas setinggi dadaku di setiap sudut, dan lantai semen yang bunyinya berbeda tergantung di mana kamu berdiri.
Dan di ujung, di depan mesin pemotong, ada Mas Dhika.
Kaus oblong abu-abu. Celana kerja. Rambut basah karena keringat. Tangannya memegang tumpukan kertas setebal dua puluh sentimeter, dan dia mengangkatnya dari lantai ke meja dengan satu gerakan tanpa mengubah ekspresi apa pun.
Aku berdiri di pintu.
Bukan karena kaget melihat dia kerja. Aku sudah tahu dia kerja. Semua orang di gang tahu dia kerja.
Aku berdiri di pintu karena aku baru sadar bahwa “tahu dia kerja” dan “melihat dia kerja” adalah dua hal yang sama sekali berbeda, dan bahwa selama lima tahun aku sudah menyimpan yang pertama dan menghindari yang kedua.
“Kar.”
Dia melihatku. Dia tidak berhenti mengangkat.
“Ngapain?”
“Dipanggil Pak Har.”
“Oh.” Dia meletakkan tumpukan itu di meja, merapikan sisinya sampai rata, lalu menyeka tangannya ke celana. “Bentar.”
“Nggak usah bentar-bentar. Aku cuma—”
“Kar, kamu berdiri di jalur pikap.”
Aku melompat ke samping.
Dan dari tempat baruku, aku bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat dari pintu.
Di dinding di belakang mesin pemotong, ada kertas ditempel dengan selotip. Sudah menguning. Tulisannya tangan, spidol hitam, huruf kapital semua:
DILARANG NYALAKAN MESIN 3 SENDIRIAN
Dan di bawahnya, dengan spidol yang berbeda, lebih baru:
KECUALI ANDHIKA
Aku menatap dua baris itu cukup lama.
“Mesin tiga yang mana?”
“Yang gede.” Dia menunjuk dengan dagu. “Yang di pojok.”
“Kenapa nggak boleh sendirian?”
“Kalau kertasnya nyangkut, tangannya bisa ketarik.”
Aku merasakan sesuatu di tenggorokanku.
“Terus kenapa kamu boleh?”
Dia mengangkat tumpukan berikutnya. “Karena saya nggak pernah nyangkut.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu jawaban.”
“Mas Dhika—”
“Kar.” Dia meletakkan tumpukan itu. “Kertas nyangkut kalau ditaruhnya miring. Kalau ditaruhnya lurus, nggak nyangkut. Saya naruhnya lurus.”
Sesederhana itu.
Dan aku berdiri di tengah percetakan yang bising dan berpikir: ada orang di dunia ini yang bisa mengubah ‘aku hati-hati’ jadi kalimat yang terdengar seperti hukum fisika, supaya tidak ada yang perlu mengkhawatirkannya.
Kami duduk di kursi plastik di depan, sepuluh menit, karena Pak Har bilang “istirahat sik” dengan nada yang bukan saran.
Dia minum air putih dari botol bekas yang labelnya sudah lepas.
Aku memperhatikan tangannya.
Ada bekas hitam di kuku ibu jari yang bukan kotoran. Ada garis-garis di telapak yang tidak dimiliki anak SMA mana pun yang kukenal. Ada bekas luka kecil melintang di punggung tangan kanan yang aku tidak tahu asal-usulnya, dan itu membuatku sesak, karena aku tahu asal-usul setiap bekas luka di wajahnya tapi tidak yang ini.
“Kar.”
“Hm?”
“Jangan diliatin.”
Aku langsung memalingkan wajah.
“Aku nggak—”
“Kotor,” katanya, dan memasukkan tangannya ke saku celana. “Nanti kena baju kamu.”
“Aku nggak mikirin itu.”
“Hm.”
“Beneran.”
“Hm.”
Dia mengatakan “hm” dua kali dan aku tahu persis apa artinya, dan aku ingin sekali mengatakan sesuatu yang benar dan tepat dan menghapus lima tahun sekaligus.
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Aku cuma menggeser kursi plastikku dua sentimeter lebih dekat, yang mana adalah satu-satunya kalimat yang bisa kubuat.
Pak Har keluar membawa dua gelas teh. Dia menaruhnya di lantai — bukan di meja, di lantai, karena tidak ada meja — dan duduk di kursi ketiga.
“Sabtu kok nggak main?” katanya ke arahku.
“Lagi males, Pak.”
“Anak sekarang mainnya di HP.”
“Iya, Pak.”
Dia mengangguk-angguk. Lalu, tanpa mengubah nada apa pun, dia berkata:
“Dhik, Senin masuk siang aja.”
Mas Dhika menoleh. “Senin ada orderan raport.”
“Ho’oh. Masuk siang aja.”
“Bisa dari pagi, Pak.”
“Senin kamu ulangan.”
Aku menoleh cepat ke arah Mas Dhika.
Dia tidak menjawab.
“Kamu nggak bilang,” kata Pak Har, sambil menyeruput. “Tapi jadwal ulangan nempel di pager sekolah. Aku lewat.”
“Pak—”
“Masuk siang.”
Dan itu selesai. Tidak ada perdebatan. Pak Har berdiri, mengambil gelasnya yang masih tiga perempat penuh, dan masuk ke dalam.
Aku duduk di kursi plastik dengan mulut setengah terbuka.
“Pak Har lewat sekolah?” tanyaku pelan.
“Nggak lewat.”
“Terus?”
“Sekolah saya arah sebaliknya dari mana-mana.”
Aku menoleh ke arah pintu percetakan yang setengah terbuka.
Dan aku memikirkan bapak-bapak berumur lima puluhan yang menyempatkan berkendara ke arah yang salah untuk membaca jadwal ulangan di pagar sekolah, dan yang kemudian berbohong tentang itu supaya tidak ada yang merasa berutang.
“Mas Dhika.”
“Hm.”
“Pak Har kenapa baik banget sama kamu?”
Dia memutar botol air di tangannya.
“Nggak tau.”
“Bohong.”
“Nggak tau beneran.”
Dan aku percaya, kali ini, karena nadanya beda.
Tapi aku tahu sesuatu yang mungkin dia tidak tahu.
“Mas Dhika.”
“Hm.”
“Ibuku pernah cerita.” Aku memilih kata-kataku pelan-pelan. “Dulu, sebelum Pak Har buka percetakan, dia tinggal di Semarang.”
“Iya. Saya tau.”
“Kamu tau kenapa pindah?”
Dia berhenti memutar botolnya.
“Enggak.”
“Ibuku bilang Pak Har dulu punya anak.”
Kursi plastiknya berderit sekali.
“Laki-laki. Seumur kamu, kira-kira.” Aku menatap lantai. “Ibuku nggak tau lanjutannya. Katanya Bu Har nggak pernah mau cerita, terus Bu Har meninggal lima tahun lalu, terus udah.”
Kami duduk cukup lama.
Mesin di dalam berbunyi tiga kali dan berhenti sendiri.
“Kenapa kamu cerita?” katanya akhirnya.
“Nggak tau.” Aku mengangkat bahu. “Kayaknya kamu harus tau aja.”
Dia mengangguk sekali, sangat pelan.
Lalu dia berdiri, dan sebelum masuk kembali ke dalam, dia berkata satu hal yang membuatku duduk di kursi plastik itu sepuluh menit setelah dia hilang di balik pintu:
“Pantesan.”
Aku pulang jalan kaki.
Seratus meter, dan aku menghabiskannya dengan menyusun satu pikiran yang sudah mengganggu sejak hari Senin dan yang baru sekarang punya bentuk.
Aku selalu bilang aku mengenal Andhika Pratama lebih dari siapa pun.
Aku hafal jam dia berangkat. Aku hafal bunyi rolling door jam dua pagi. Aku hafal lampu mana yang mati. Aku hafal semua bekas luka di wajahnya.
Tapi hari ini aku baru pertama kali masuk ke tempat dia menghabiskan enam jam setiap hari, dan aku masuk bukan karena diajak olehnya.
Aku masuk karena disuruh orang lain.
Dan yang lebih parah: aku tidak pernah minta masuk.
Selama lima tahun, aku menunggu di teras. Aku menunggu di pagar. Aku menunggu di anak tangga kedelapan sampai dia mengulurkan dua jari.
Aku tidak pernah sekali pun berjalan ke arahnya duluan.
Aku pikir itu namanya dekat.
Sekarang aku mulai curiga itu namanya nyaman, dan itu dua hal yang berbeda, dan yang kedua tidak butuh keberanian sama sekali.
Sore itu, aku duduk di teras dan melihat pagar rumah sebelah.
Aku menghitung.
Berapa kali aku memegang dua jarinya? Ratusan. Mungkin ribuan, sejak umur enam.
Berapa kali aku memutuskan untuk melakukannya?
Aku duduk di situ sampai matahari hilang dan aku tidak menemukan satu pun.
Bukan satu pun.
Setiap kali, tangan itu sudah ada di sana lebih dulu. Di anak tangga. Di penyeberangan. Di gang gelap waktu kami kelas empat. Dia selalu mengulurkannya setengah detik sebelum aku butuh, dan aku selalu memegangnya tanpa berpikir, seperti orang yang memegang pegangan di angkot.
Aku tidak pernah memilihnya.
Aku cuma tidak pernah melepaskannya.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku bertanya pada diriku sendiri sesuatu yang membuatku tidak bisa tidur sampai pukul dua:
Kalau tangan itu berhenti diulurkan, apakah aku akan menggapai?
Atau aku cuma akan berdiri di anak tangga kedelapan dan menunggu, seperti yang selalu kulakukan, sampai dia sendiri yang datang mengambilku?
Senin pagi, di angkot, aku memutuskan sesuatu.
Kecil. Konyol. Sesuatu yang kalau kuceritakan ke siapa pun akan terdengar seperti bukan apa-apa.
Aku memutuskan untuk tidak memegang dua jarinya hari itu.
Bukan marah. Bukan menghukum. Aku cuma ingin tahu.
Jam sepuluh lewat sembilan, kami turun. Anak tangga kedelapan datang. Kakiku miring seperti biasa — dan aku menahannya, sengaja, dengan pegangan besi di sisi kanan.
Tangannya sudah keluar dari saku. Sudah terulur, setengah, seperti biasa.
Aku turun sendiri.
Di lantai, dia menarik tangannya kembali ke saku, dan tidak berkata apa-apa, dan berjalan seperti biasa.
Aku berjalan di sebelahnya dengan tangan kosong dan perasaan seperti kehilangan sesuatu yang bahkan bukan milikku.
Dan di tikungan koridor, tanpa menoleh, dia berkata:
“Kar.”
“Ya?”
“Besok pegangan aja.”
“...Kenapa?”
“Anak tangganya makin longgar.”
Dan dia belok, dan hilang.
Aku berdiri di sana dan aku tidak tahu apakah aku baru saja mendapat jawaban atau baru saja diberi jalan keluar yang sopan.
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har reading
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu