← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Twelve

Lampiran C

POV: Renata


Rapat koordinasi renovasi berlangsung pada hari Rabu pukul 14.00 di ruang Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana Prasarana.

Saya hadir sebagai perwakilan siswa. Ini adalah kehadiran yang bersifat seremonial; keputusan telah diambil sebelum saya masuk ruangan, dan tugas saya adalah menandatangani lembar kehadiran serta menyampaikan bahwa siswa tidak keberatan.

Saya perlu mencatat bahwa saya telah menghadiri sebelas rapat semacam ini selama masa jabatan saya, dan dalam sebelas rapat tersebut, saya telah menyampaikan bahwa siswa tidak keberatan sebanyak sebelas kali.

Saya tidak pernah menanyakan kepada siswa.

Ini bukan kelalaian. Ini efisiensi: apabila saya menanyakannya, akan muncul keberatan yang tidak dapat diakomodasi, dan keberatan yang tidak dapat diakomodasi hanya menghasilkan kekecewaan.

Saya telah menganggap logika ini benar selama dua tahun sebelas bulan.

Pada rapat kedua belas, saya mulai mempertanyakannya, dan saya cukup jujur untuk mengakui bahwa saya mempertanyakannya bukan karena prinsip, melainkan karena satu orang yang duduk di sudut timur laut atap gudang setiap pukul 12.40.

Saya menyampaikan bahwa siswa tidak keberatan.

Kemudian saya bertanya sesuatu yang tidak ada dalam agenda.

“Bapak, mengenai gudang lama di belakang laboratorium—”

“Iya, itu masuk paket dua.”

“Apakah akses tangga sisi timur akan dipertahankan?”

Pak Wakil melihat saya. “Tangga apa?”

“Tangga besi. Di sisi timur bangunan.”

Dia membuka gambar kerja di layar laptopnya, menggeser-geser, mengerutkan kening.

“Nggak ada tangga di sini.”

“Ada.”

“Nggak ada di gambar, Ren.”

“Gambar itu dari tahun 2009.”

“Ya berarti nggak ada.”

Saya membuka mulut untuk menjelaskan bahwa keberadaan suatu benda tidak ditentukan oleh apakah benda tersebut tercantum dalam dokumen tahun 2009, kemudian saya menutupnya kembali, karena saya menyadari sesuatu.

Kalau tangga itu tidak ada di gambar, tangga itu tidak akan masuk dalam pekerjaan.

Kalau tidak masuk dalam pekerjaan, tidak akan disentuh.

“Baik, Pak. Terima kasih.”

“Kenapa emang?”

“Tidak apa-apa. Saya hanya memastikan tidak ada risiko keselamatan.”

Saya berbohong untuk yang keempat belas kalinya bulan ini. Saya sudah berhenti menghitung dengan takjub dan mulai menghitung dengan resignasi.

Di luar ruangan, Wisnu menunggu dengan map.

“Gimana, Ketua?”

“Diterima seluruhnya.”

“Ketua nanya soal tangga?”

Saya berhenti berjalan.

“Anda mendengar.”

“Pintunya nggak rapet, Ketua.”

“Wisnu.”

“Ya?”

“Apa yang Anda dengar tidak perlu diteruskan.”

“Iya, Ketua.” Dia mengangguk cepat, lalu — dan ini yang tidak saya perhitungkan — dia menambahkan, “Tapi Ketua nggak pernah nanya hal kayak gitu.”

“Hal seperti apa.”

“Hal yang nggak ada di agenda.”

Saya menatapnya selama kira-kira dua detik. Dia mengecil sekitar sepuluh sentimeter, sebagaimana biasa.

“Rapikan notulennya,” kata saya.

“Siap, Ketua.”


Pukul 12.40 keesokan harinya, saya menyampaikan hasilnya.

“Renovasi paket dua meliputi atap gudang, dinding sisi utara, dan penggantian pintu. Pekerjaan dijadwalkan selama sembilan hari.”

“Oke.”

“Tangga besi tidak termasuk dalam lingkup pekerjaan.”

“Oke.”

“Anda tidak menanyakan mengapa saya mengetahui hal ini.”

“Kamu Ketua OSIS.”

“Saya menanyakannya secara khusus di dalam rapat.”

Dia menoleh.

“Kenapa?”

Ini pertanyaan yang saya harapkan sekaligus tidak saya harapkan.

“Karena selama sembilan hari, area ini tidak dapat digunakan,” kata saya. “Dan saya ingin memastikan bahwa setelah sembilan hari, area ini dapat digunakan kembali.”

“Buat kamu tidur.”

“Ya.”

“Oke.”

Saya menunggu.

“Saudara Andhika, saya baru saja menyampaikan kepada Anda bahwa saya melakukan intervensi terhadap rencana renovasi sekolah demi mempertahankan sebuah tangga besi.”

“Iya.”

“Apakah Anda tidak memiliki tanggapan?”

“Ada.”

“Silakan.”

“Makasih.”

Dan dia kembali menghadap depan, dan saya duduk di sudut barat daya dengan perasaan yang, setelah saya susun ulang di kepala selama sisa hari itu, paling mendekati kekesalan.

Bukan karena dia tidak berterima kasih. Dia berterima kasih.

Karena dia berterima kasih dengan cara yang sama seperti dia menerima kotak makan, jaket, dan seluruh hal lain yang pernah saya berikan: singkat, sopan, dan tanpa satu pun tanda bahwa ia merasa berutang.

Saya tidak terbiasa memberi sesuatu kepada seseorang tanpa menciptakan utang.

Saya mulai curiga bahwa selama ini, sebagian besar hal yang saya berikan kepada orang lain memang dimaksudkan untuk menciptakan utang.


Ada satu hal lagi yang terjadi pada minggu itu, dan saya menuliskannya di sini karena saya tidak dapat menuliskannya di tempat lain.

Pada hari Jumat, saya tertidur.

Bukan tertidur biasa. Saya tertidur pada menit ketiga dan terbangun pada menit ketiga belas, dan ketika saya terbangun, kepala saya tidak berada di atas tas.

Kepala saya berada di lantai semen, dengan tas berada kira-kira dua puluh sentimeter dari kepala saya, terguling ke samping.

Saya bangkit.

“Tas saya bergeser.”

“Iya.”

“Apakah Anda—”

“Nggak.”

“Anda menjawab sebelum saya menyelesaikan pertanyaan.”

“Iya.”

Saya memeriksa tas itu. Resletingnya tertutup. Posisinya menunjukkan bahwa tas tersebut terguling akibat gerakan kepala saya sendiri, bukan akibat gerakan eksternal.

Saya kemudian menyadari bahwa saya sedang melakukan analisis forensik terhadap posisi tas saya sendiri, dan bahwa hal ini tidak sepenuhnya wajar.

“Renata.”

“Ya.”

“Kamu tidur miring ke kiri terus.”

“...Ya?”

“Tas kamu selalu geser ke kanan.”

“Anda memperhatikan arah bergesernya tas saya.”

“Saya duduk di sini. Nggak ada yang bisa diliat selain pohon.”

“Terdapat juga langit.”

“Langit nggak gerak.”

Saya menatapnya.

“Apakah itu lelucon?”

“Bukan.”

Tapi sudut mulutnya bergerak, dan itu berarti iya, dan saya mencatat di suatu tempat di dalam kepala saya bahwa saya baru saja mendeteksi lelucon dari orang ini untuk pertama kalinya, dan bahwa mendeteksinya terasa seperti pencapaian.

Saya turun pukul 12.55 seperti biasa.

Saya berjalan ke sekretariat seperti biasa.

Dan saya duduk selama empat menit tanpa mengerjakan apa pun, seperti tidak biasa, karena satu kalimat terus berputar di kepala saya dan tidak dapat saya arsipkan:

Nggak ada yang bisa diliat selain pohon.

Yang artinya, selama tiga belas menit setiap hari kerja selama hampir satu bulan, orang itu duduk empat meter dari saya, tidak melakukan apa pun, dan memperhatikan arah bergesernya tas saya.


Hari Senin, audit sekolah dilaksanakan.

Berjalan lancar. Laporan kas triwulan diterima tanpa catatan. Selisih telah diselesaikan dan didokumentasikan.

Pukul 15.10, saya diminta mengambil berkas tambahan dari Tata Usaha untuk kelengkapan lampiran.

Saya masuk. Bu Ratna menyerahkan map.

“Ini lampiran A sampai C, ya, Ren.”

“Baik, Bu.”

“Yang C jangan dicampur. Itu bukan buat OSIS, itu kekirim aja tadi.”

“Baik.”

Saya membawa map itu ke sekretariat. Saya memisahkan lampiran A dan B. Saya mengambil lampiran C untuk dikembalikan.

Dan karena saya adalah orang yang memeriksa segala sesuatu sebelum memindahkannya — karena hal itu telah menyelamatkan saya dari empat kesalahan administratif dalam tiga tahun terakhir — saya membuka lampiran C untuk memastikan tidak ada halaman OSIS yang terselip di dalamnya.

Judulnya:

REKAPITULASI TUNGGAKAN SPP & IURAN KOMITE — KELAS XI — PER OKTOBER Rahasia. Untuk keperluan internal.

Tiga kolom. Nama, kelas, jumlah bulan.

Saya seharusnya menutupnya saat itu juga.

Saya tidak menutupnya saat itu juga, dan saya tidak memiliki pembelaan yang dapat saya ajukan, kecuali bahwa mata saya bergerak lebih cepat daripada keputusan saya.

Empat puluh tiga nama.

Kolom paling kanan sebagian besar berisi angka 1 dan 2.

Ada tiga nama dengan angka 4.

Ada satu nama dengan angka 9, dan di sebelahnya, di kolom keterangan yang untuk semua nama lain dibiarkan kosong, tertulis dengan huruf kapital:

SURAT KEDUA TELAH DIKIRIM. BATAS AKHIR PENYELESAIAN: 12 FEBRUARI.

Nama itu berada di baris kedua puluh delapan.

ANDHIKA PRATAMA — XI IPA 3.


Saya menutup map tersebut.

Saya duduk di kursi saya di ruang sekretariat OSIS, sendirian, dengan map berwarna cokelat di atas meja, selama waktu yang tidak saya catat karena saya lupa mencatatnya, yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Kemudian saya melakukan sesuatu yang tidak dapat saya pertanggungjawabkan secara profesional maupun etis.

Saya membuka map itu kembali. Saya memotret halaman tersebut. Kemudian saya menghapus fotonya. Kemudian saya menutup map itu dan mengembalikannya ke Tata Usaha dalam keadaan tersegel sebagaimana saya menerimanya.

Bu Ratna mengucapkan terima kasih. Saya menjawab sama-sama.

Saya berjalan pulang.

Dan sepanjang perjalanan, saya menyusun daftar — karena menyusun daftar adalah satu-satunya hal yang dapat saya lakukan ketika saya tidak dapat melakukan apa pun.

Opsi satu: menyampaikan kepadanya bahwa saya mengetahui. Ditolak. Dia tidak menyebutkannya selama satu bulan. Itu bukan kelalaian; itu keputusan.

Opsi dua: menyelesaikannya secara diam-diam melalui dana bantuan siswa. Membutuhkan pengajuan, tanda tangan wali kelas, dan verifikasi ekonomi. Seluruh prosesnya melibatkan sekurang-kurangnya lima orang mengetahui namanya. Dia menolak namanya dicantumkan dalam laporan kas untuk alasan yang sekarang saya pahami sepenuhnya.

Opsi tiga: membayarnya sendiri. Saya memiliki tabungan sebesar empat kali angka tersebut. Dan saya mengetahui, dengan tingkat keyakinan mendekati sempurna, apa yang akan terjadi apabila saya melakukannya. Dia akan berterima kasih. Singkat, sopan, tanpa satu pun tanda bahwa ia merasa berutang. Dan keesokan harinya, pukul 12.40, atap gudang itu akan kosong.

Opsi empat:

Saya berhenti di opsi empat, di trotoar, kira-kira dua ratus meter dari rumah saya, dengan map kosong di tangan.

Karena saya menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam enam tahun, saya sedang menghadapi persoalan yang tidak dapat diselesaikan dengan prosedur yang benar.

Dan bahwa satu-satunya opsi yang tersisa adalah opsi yang paling tidak saya kuasai:

Tidak melakukan apa-apa, dan tetap datang.

Hari ini tanggal 22 Oktober.

Tanggal 12 Februari adalah seratus dua belas hari lagi.

Dan pada pukul 12.40 besok, saya akan menaiki tangga besi itu, dan orang yang duduk di sudut timur laut akan mengatakan “hm”, dan menawarkan earphone sebelah kiri, dan tidak menyebutkan apa pun.

Sebagaimana yang telah dia lakukan setiap hari selama sebulan terakhir.