Chapter Twenty
Sesuatu Selain Muka
POV: Tamara
Mama menelepon jam tujuh pagi, yang mana adalah jam di mana Mama tidak pernah menelepon siapa pun.
“Tam, ada tawaran.”
“Tawaran apa?”
“Iklan. Produk skincare. Tante Rima yang kasih.”
“Aku sekolah, Ma.”
“Syutingnya Sabtu. Sehari.”
Aku memindahkan ponsel ke telinga yang lain.
“Bayarannya lumayan,” katanya. “Tapi bukan itu poinnya. Ini bisa jadi pintu, Tam. Kamu tau kan Mama dulu—”
“Iya, Ma.”
“Mama nggak maksa.”
Mama tidak pernah maksa. Itu keahliannya. Mama menaruh sesuatu di meja dan menunggu, dan kalau kamu tidak mengambilnya dalam tiga hari, dia akan menaruhnya lagi dengan cara yang sedikit berbeda, dan begitu terus sampai kamu mengambilnya sendiri dan mengira itu keputusanmu.
“Aku pikir dulu ya, Ma.”
“Iya. Jangan lama-lama. Jumat mereka butuh jawaban.”
Aku menutup telepon dan duduk di tepi kasur selama sepuluh menit, dan aku tahu persis apa yang akan kujawab hari Jumat, dan aku benci bahwa aku sudah tahu.
“Kamu pengen jadi apa?”
Dia menoleh. “Kenapa?”
“Jawab dulu.”
“Nggak tau.”
“Semua orang punya jawaban.”
“Enggak.”
“Andhika.”
“Tamara.”
Kami saling menatap. Aku menyerah duluan, seperti biasa.
“Ya udah aku dulu,” kataku.
“Oke.”
“Aku pengen jadi—” Aku berhenti.
Karena jawaban yang sudah kusiapkan sejak umur sepuluh tahun adalah aktris, dan itu jawaban yang selalu kuberikan ke siapa pun karena itu jawaban yang membuat orang mengangguk dan berkata cocok banget.
Dan hari itu, di atap gudang, dengan orang yang tidak pernah sekali pun mengomentari wajahku selama enam minggu, jawaban itu terasa seperti baju yang salah ukuran.
“Aku pengen dilihat,” kataku.
“Kamu udah dilihat.”
“Bukan yang itu.”
Dia menunggu.
Dan aku, entah kenapa, mengatakan hal yang belum pernah kukatakan ke siapa pun, termasuk ke diriku sendiri di depan cermin:
“Aku pengen dilihat karena sesuatu. Bukan karena muka aku.”
Dia tidak menjawab selama beberapa detik.
“Sesuatu apa?” katanya.
“Nggak tau. Itu masalahnya.” Aku memeluk lutut. “Aku nggak bisa apa-apa, Ndhik.”
“Bisa.”
“Nggak.”
“Kamu bisa bikin orang ngomong.”
“Hah?”
“Kamu ngomong terus. Kelihatannya berisik.” Dia menghadap depan. “Tapi orang jadi ikut ngomong.”
“Itu bukan keahlian.”
“Itu keahlian.”
“Itu namanya cerewet.”
“Bagas cerewet,” katanya. “Nggak ada yang jadi ikut ngomong sama Bagas.”
Aku tertawa — dan tawanya terhenti di tengah, karena aku baru sadar sesuatu.
Selama enam minggu, aku sudah tahu bahwa Andhika Pratama tinggal dengan neneknya. Aku tahu kotak bekalnya biru karena itu yang ada. Aku tahu dia tidak suka tempe. Aku tahu tangannya selalu di saku dan aku tahu itu bukan karena dingin.
Aku tidak menggali satu pun dari itu.
Semuanya keluar sendiri, di sela-sela, sambil aku mengoceh tentang anjing tetangga bernama Bakso.
“Oh,” kataku pelan.
“Hm?”
“Nggak. Lanjut.”
“Sabtu aku syuting iklan.”
“Oke.”
“Skincare.”
“Oke.”
“Kamu nggak nanya apa-apa?”
“Kamu mau ditanya?”
“IYA.”
Dia berpikir sebentar.
“Kamu mau ambil?”
“Enggak.”
“Terus kenapa diambil?”
“Karena Mama.”
“Oh.”
Dan lagi-lagi, “oh” itu bukan penghakiman. “Oh” itu cuma orang yang menerima informasi dan menaruhnya di tempatnya.
Yang justru membuatku ingin menjelaskan lebih banyak.
“Mama dulu model,” kataku. “Sampe umur dua puluh empat. Terus nikah, terus aku lahir, terus udah.”
“Terus dia berhenti.”
“Iya.”
“Terus dia mulai lagi lewat kamu.”
Aku menoleh cepat.
Dia mengatakannya tanpa nada apa pun, seperti orang yang menyebutkan bahwa jalanan macet, dan aku merasakan sesuatu di dadaku pecah dengan sangat pelan.
“Kok kamu—”
“Nggak apa-apa.”
“Kok kamu tau.”
“Nggak tau. Nebak.”
“Nebaknya bener.”
“Hm.”
Aku menunduk. Aku menarik lengan seragamku sampai menutupi buku jari.
“Aku nggak boleh gemuk,” kataku, ke lantai semen. “Dari kelas satu SD. Ada timbangan di kamar mandi. Angkanya dicatet.”
Aku menunggu.
Aku menunggu dia berkata ya ampun, atau itu jahat banget, atau tapi kamu kurus kok, karena itu tiga hal yang dikatakan semua orang yang pernah kuceritakan hal ini — yang jumlahnya nol, karena aku tidak pernah menceritakannya ke siapa pun.
Dia tidak mengatakan satu pun dari ketiganya.
Dia berkata:
“Pantesan kamu beli tiga.”
Dan aku menangis.
Bukan menangis yang bagus. Menangis yang jelek, yang keluar dari hidung, yang membuat suaraku seperti orang tercekik, yang membuatku harus menekan pergelangan tangan ke mata dan tetap tidak berhasil menahan apa-apa.
Aku menangis di atap gudang, di depan cowok yang aku kenal enam minggu, karena dia berkata pantesan kamu beli tiga.
Empat kata.
Bukan simpati. Bukan penghiburan.
Dia cuma menghubungkan dua hal, dan dengan menghubungkan dua hal itu dia memberi tahu aku bahwa selama enam minggu dia memperhatikan, dan bahwa dia tidak pernah sekali pun menganggapku aneh, dan bahwa dia sudah tahu jawabannya jauh sebelum aku memberikan pertanyaannya.
Aku menangis kira-kira tiga menit.
Dia tidak bergerak. Tidak menyentuh. Tidak mengeluarkan tisu, tidak berkata sudah-sudah, tidak melakukan satu pun hal yang dilakukan orang untuk membuat orang berhenti menangis.
Dia cuma duduk di sana.
Dan ketika aku selesai, dia berkata satu hal:
“Sabtu jam berapa?”
“...Hah?”
“Syutingnya.”
“Jam delapan. Sampe sore.”
“Oke.”
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Aku turun jam empat lewat dengan mata bengkak dan seluruh persediaan bedak di tasku terpakai habis.
Di gerbang belakang, aku berhenti.
“Andhika.”
“Hm.”
“Makasih ya.”
“Buat apa?”
“Nggak tau.” Aku mengangkat bahu. “Buat nggak ngasih tau aku harus ngerasa gimana.”
Dia mengangguk sekali.
Dan aku, karena hari itu aku sudah kehabisan seluruh kemampuan untuk menahan diri, berkata:
“Kamu tuh baik banget. Kamu tau nggak?”
Dan dia berhenti berjalan.
Berhenti total, di tengah trotoar, dengan cara yang membuatku ikut berhenti.
“Jangan,” katanya.
“Jangan apa?”
“Jangan bilang gitu.”
“Kenapa?”
Dia tidak menjawab.
Dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat selama enam minggu — bukan datar, bukan tenang, bukan sudut mulut yang bergerak satu milimeter.
Sesuatu yang terlihat seperti takut.
“Andhika—”
“Nanti kamu ngarep,” katanya.
Dan dia berjalan pergi.
Sabtu, aku syuting.
Delapan jam. Lampu, blower, tujuh orang yang menyentuh wajahku sepanjang hari, dan seorang sutradara yang bilang “cantik banget kamu” dua belas kali dan tidak sekali pun menanyakan namaku.
Aku menghitungnya. Dua belas.
Aku juga menghitung berapa kali seseorang menanyakan pendapatku tentang apa pun: nol.
Dan berapa kali seseorang menyentuh wajahku tanpa bertanya lebih dulu: aku berhenti di dua puluh sembilan karena angkanya mulai membuatku ingin menangis di kamar mandi, dan aku baru sadar bahwa aku baru saja melakukan hal yang persis diceritakan seorang anak perempuan dengan jepit dua sisi di atas gudang seminggu lalu.
Jam satu siang, ada asisten yang datang membawa nasi kotak.
“Mbak Tamara, makan dulu.”
Aku melihat kotak itu.
Lalu aku melihat Mama, yang duduk di kursi lipat di seberang studio, yang tidak sedang melihat ke arahku sama sekali.
“Nanti aja, Mbak.”
“Nanti keburu dingin lho.”
“Iya. Nanti.”
Asisten itu meletakkannya di meja dan pergi, dan kotak itu masih di sana empat jam kemudian ketika kru mulai membereskan lampu.
Jam empat sore, break terakhir, aku duduk di kursi lipat di pojok dengan botol air mineral yang tidak boleh kuminum terlalu banyak karena “nanti bengkak.”
Dan ponselku bergetar.
Nomor tidak dikenal. Satu pesan.
Udah makan?
Aku menatap layar itu selama sepuluh detik penuh.
Aku tidak pernah memberikan nomorku ke Andhika Pratama. Aku pernah menawarkan, dua kali, dan dua kali dia bilang tidak punya paketan.
Aku mengetik.
siapa ini?
Tiga menit. Lalu:
Andhika. Pinjem hp Bagas.
dari mana kamu tau nomor aku
Dari grup angkatan. Bagas ada.
Aku menekan pergelangan tangan ke mata, di kursi lipat, di pojok studio, dengan tujuh orang lalu-lalang di depanku.
belum makan
Makan.
gabisa. nanti bengkak
Jeda lama. Lebih lama dari yang lain.
Lalu:
Pelan-pelan aja. Nggak ada yang ngambil.
Aku pulang jam delapan malam.
Aku membuka ponsel di kamar dan menggulir percakapan itu ke atas untuk membacanya lagi, dan aku berhenti di satu tempat.
Bukan di pesan terakhir.
Di stempel waktunya.
16.02.
Andhika Pratama masuk kerja jam empat sore. Setiap hari. Sekar bilang begitu, dan Sekar tidak pernah salah tentang hal-hal seperti itu.
Yang artinya, jam empat lewat dua menit hari Sabtu, di percetakan seratus meter dari rumahnya, ada seseorang yang berhenti mengangkat kertas untuk meminjam ponsel temannya.
Untuk bertanya apakah aku sudah makan.
Dan dia melakukannya karena dia tahu jam berapa aku selesai — karena aku memberitahunya jam delapan sampai sore, dan dia menghitung sisanya sendiri, seperti dia menghitung segalanya.
Senin pagi, aku menemukan Bagas di kantin.
“Eh. Tamara?” Dia hampir menjatuhkan gorengannya. “Eh— iya? Kenapa?”
“Sabtu kemarin Andhika pinjem hp kamu.”
“Oh. Iya.”
“Berapa lama?”
“Hah?”
“Dia pinjemnya berapa lama.”
Bagas mengerutkan kening.
“Nggak lama sih. Dia nggak pernah lama.” Dia mengunyah. “Paling lima menit.”
“Sering pinjem?”
“Nggak. Sabtu itu doang.”
“Dari kelas sepuluh?”
“Dari kelas sepuluh.” Bagas menoleh ke arahku. “Kenapa emang?”
Aku tidak menjawab.
Aku berjalan kembali ke kelas dan duduk dan tidak mendengarkan satu pun kata dari pelajaran jam pertama.
Satu setengah tahun.
Satu setengah tahun duduk di sebelah orang yang punya ponsel, dan tidak sekali pun meminjamnya.
Sampai Sabtu kemarin.
- 1 Tempat yang Tidak Ada di Denah
- 2 Anak Tangga Kelima
- 3 Prosedur Tidur Siang
- 4 Tiga Bungkus
- 5 Yang Kiri
- 6 Kelebihan Porsi dari Sekretariat
- 7 Anter
- 8 Delapan Menit
- 9 Sebelas Menit
- 10 Renovasi
- 11 Dua Menit Lewat
- 12 Lampiran C
- 13 Suapan
- 14 Anak Pak Har
- 15 Hal-hal yang Tidak Ada dalam Agenda
- 16 Dua Belas Menit Sebelum Jam Tiga
- 17 Satu Ubin
- 18 Enam Kali
- 19 Sembilan Lagu
- 20 Sesuatu Selain Muka reading
- 21 Izin
- 22 Prosedur
- 23 Yang Merusak Jadwal
- 24 12.40
- 25 Yang Dijaga
- 26 Empat Orang di Atap
- 27 Yang Sudah Dihitung
- 28 Yang Masih Naik
- 29 Percetakan Harapan Jaya
- 30 Diam
- 31 Kerja Bakti
- 32 Ayat (5)
- 33 Sebelas Menit, Lagi
- 34 Lima Belas Menit
- 35 3 Februari
- 36 Kolom Kosong
- 37 00.00 — 24.00
- 38 Anter
- 39 Pulang
- 40 Dua Belas Ribu Rupiah
- 41 Surat Keterangan
- 42 Kelima Kalinya
- 43 Kamu Masih Bisa Balik ke Sini
- 44 Yang Kiri Buat Kamu