← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Forty Three

Kamu Masih Bisa Balik ke Sini

POV: Sekar


Rumah sebelah kosong selama sebelas hari.

Aku tahu angkanya karena aku menghitungnya, dan aku menghitungnya karena setiap malam jam sepuluh lewat aku melihat ke arah pagar itu dan lampu depannya tidak menyala.

Sepuluh tahun, lampu itu menyala setiap malam sampai jam sepuluh lewat.

Sebelas hari, tidak.

Hari kedua belas, ada orang datang membawa gerobak dan mengambil kursi rotan, lemari, dan televisi yang tidak ada suaranya.

Aku menonton dari jendela kamar.

Kursi rotan itu diangkat dua orang. Dudukannya melengkung mengikuti bentuk badan seseorang, dan waktu diangkat, lengkungan itu tetap di sana, dan aku memikirkan hal itu selama berhari-hari setelahnya.

Ada bantal kecil yang jatuh dari kursi itu waktu diangkat.

Salah satu dari mereka memungutnya dan melemparkannya ke gerobak.

Dan aku berdiri di jendela kamarku dan hampir berteriak, karena aku tahu bantal itu untuk apa, karena aku pernah melihat seorang anak laki-laki berumur sepuluh tahun jongkok mengangkat kaki neneknya dan meletakkan bantal itu di bawahnya, dan waktu itu aku mengira itu permainan.

Ibuku berdiri di belakangku selama beberapa menit dan tidak mengatakan apa-apa, dan waktu aku menoleh dia sudah tidak ada.


Aku ke percetakan hari Sabtu.

Bukan untuk apa-apa. Aku cuma tidak punya tempat lain untuk dituju, dan seratus meter adalah jarak yang bisa kutempuh tanpa harus menjelaskan ke siapa pun aku mau ke mana.

Rolling door terbuka penuh. Mesin menyala.

Dan ada anak laki-laki yang tidak kukenal sedang menyapu serpihan kertas di bawah mesin.

“Sekar?”

Anaknya Bu Nah. Kelas dua belas. Namanya Reza. Aku mengenalnya sejak SD dan aku tidak pernah sekali pun bicara dengannya lebih dari dua kalimat.

“Eh. Kamu kerja di sini?”

“Iya. Dari minggu kemarin.”

“Oh.”

“Gantiin Andhika.”

Dan dia mengatakannya dengan nada paling biasa di dunia, sambil terus menyapu, karena baginya itu memang kalimat yang biasa.

Gantiin Andhika.

Aku berdiri di pintu itu selama beberapa detik sampai aku yakin wajahku sudah benar.


Pak Har di kursi plastik. Gelas kopi. Ampas.

“Nduk.”

“Pagi, Pak.”

“Duduk.”

Aku duduk.

Kami tidak bicara selama mungkin lima menit, dan itu tidak canggung sama sekali, karena Pak Har adalah satu-satunya orang dewasa yang pernah kukenal yang tidak menganggap diam sebagai masalah yang harus diselesaikan.

“Pak.”

“Hm.”

“Reza gimana kerjanya?”

“Belum bisa apa-apa.”

“Oh.”

“Naruh kertasnya miring.” Beliau menyeruput. “Nyangkut dua kali minggu ini.”

Aku menoleh ke dalam, ke arah mesin tiga, ke arah kertas menguning yang ditempel dengan selotip di dinding di belakangnya.

DILARANG NYALAKAN MESIN 3 SENDIRIAN KECUALI ANDHIKA

Kertas itu masih di sana.

“Pak nggak dicabut?”

“Apanya?”

“Yang di dinding.”

Pak Har melihat ke arah yang kutunjuk.

“Nggak,” katanya.

Dan tidak menjelaskan lebih jauh.


Menit ketiga puluh:

“Pak.”

“Hm.”

“Bapak ngomong apa ke dia? Pas dia pamit?”

Dan Pak Har memutar gelasnya.

Lama sekali. Mungkin dua puluh detik.

“Aku bilang,” katanya, “kamu masih bisa balik ke sini.”

Aku menoleh.

“Terus?”

“Terus dia diem.”

“Terus?”

“Terus dia bilang makasih, Pak.”

Beliau meletakkan gelasnya di lantai.

“Terus dia pergi,” kata Pak Har.


Aku duduk di kursi plastik itu dengan tangan di pangkuan.

“Pak.”

“Hm.”

“Menurut Bapak dia bakal balik?”

Dan Pak Har melihat ke arah gang, ke arah pasar, ke arah tempat gerobak-gerobak lewat setiap pagi.

“Nduk,” katanya. “Orang balik ke tempat yang dia rasa dia punya.”

“Terus?”

“Terus pertanyaannya bukan dia bakal balik apa enggak.”

Beliau menoleh ke arahku.

“Pertanyaannya, ada nggak yang dia rasa dia punya di sini.”


Aku pulang jalan kaki.

Seratus meter, dan aku menghabiskannya dengan satu pertanyaan yang tidak mau pergi:

Apa yang dia punya di sini?

Sekolah — tidak. Namanya sudah tidak ada di absen. Rumah — tidak. Sudah kosong. Kursi rotannya sudah diangkut. Pekerjaan — tidak. Sudah ada Reza yang menaruh kertasnya miring. Neneknya — di sana.

Aku berhenti di depan pagar rumahku sendiri.

Dan aku melihat teras itu.

Lantai semen, satu lampu, satu tiang yang catnya mengelupas.

Dan aku menyadari, dengan sangat pelan dan sangat menyakitkan, bahwa satu-satunya hal di seluruh gang ini yang mungkin dia rasa dia punya adalah tempat duduk di lantai teras rumah orang lain.

Dan bahwa pagi Sabtu itu, aku duduk di sebelahnya selama tiga puluh dua menit dan tidak mengatakan satu pun dari enam kalimat itu.

Dan bahwa kalau aku mengatakannya — satu saja, yang mana saja — maka mungkin akan ada satu hal di kota ini yang dia rasa dia punya.


Aku ke atap hari Senin.

Jam sepuluh kurang sepuluh, seperti biasa, seperti seratus sembilan puluh hari terakhir.

Anak tangga kelima berbunyi setengah.

Aku duduk di sudut timur laut dan aku membuka buku sampul merah muda seharga tiga ribu, dan aku membalik ke halaman terakhir yang terisi.

Halaman lima puluh dua.

Hari ini dia tidak naik.

Aku menulis tanggal baru.

Lalu aku menutup buku itu tanpa menulis apa-apa.

Dan aku pindah ke sudut barat daya, dan aku menunduk ke tembok pembatas, dan aku melihat empat baris angka yang digores di semen di bagian yang tertutup bayangan.

09.50 — 10.10 12.40 — 12.55 15.10 — 16.00 + 00.00 — 24.00

Dan aku mengeluarkan kunci dari tasku.

Dan aku menggores baris kelima.

Bukan angka.

Aku menggores tiga huruf, dalam-dalam, berkali-kali, dengan tangan yang perih sampai aku harus berhenti dua kali:

KAR

Dan di bawahnya, alamat rumahku, yang tidak akan pernah berubah, karena keluargaku sudah tinggal di gang itu sejak sebelum aku lahir.


Aku memotretnya.

Aku mengirimnya ke grup.

sekar: [foto]

Renata membaca dalam sembilan detik. Tamara dalam sebelas.

tamara: kar

tamara: itu kamu yang gores?

sekar: iya

Renata: Kapan?

sekar: barusan

Tidak ada yang mengetik selama hampir dua menit.

Lalu Tamara mengetik satu baris:

tamara: aku ke sana besok

Dan Renata:

Renata: Saya juga.

sekar: buat apa?

tamara: buat gores punya aku

Renata: Dan saya.

Aku duduk di lantai koridor lab dengan ponsel di tangan.

sekar: kalian nggak usah

tamara: kenapa

sekar: karena kalau dia balik ke situ, dia bakal liat tiga alamat

sekar: terus dia bakal ngitung mana yang paling deket dari stasiun

sekar: terus dia bakal dateng ke situ duluan

sekar: terus dia bakal ngerasa dia harus dateng ke dua yang lain juga

sekar: dan dia bakal ngerasa itu tugas

Jeda panjang.

tamara: sial

tamara: kamu bener

Renata: Sekar.

sekar: iya

Renata: Bagaimana Anda mengetahui hal tersebut?

Dan aku mengetik jawabannya dengan tangan yang masih perih karena menggores semen selama dua puluh menit:

sekar: karena aku udah sepuluh tahun ngeliatin dia ngitung

sekar: dan sepuluh tahun itu aku belajar satu hal doang

sekar: kasih dia satu pilihan. jangan tiga.

sekar: kalau dikasih tiga, dia bakal nyusun jadwal


Aku turun jam sepuluh lewat dua puluh, terlambat masuk kelas untuk kedua kalinya seumur hidupku. Dan di anak tangga kedelapan, kakiku miring karena besinya memang longgar, dan tanganku menggapai ke belakang seperti refleks sepuluh tahun.

Tidak ada apa-apa di sana.

Aku memegang pegangan besi. Aku turun sendiri.

Dan di lantai koridor lab, aku berdiri sebentar dan mengucapkan sesuatu ke ruangan kosong — pelan, sekali, dengan suara yang tidak akan didengar siapa pun:

“Lima belas menit aja.”

Tidak ada yang menjawab.

Tentu saja tidak ada yang menjawab.


Aku lulus setahun kemudian.

Aku masuk kedokteran, jalur ujian tulis, pilihan kedua, karena pilihan pertamaku tidak lolos dan karena aku sudah cukup dewasa untuk tahu bahwa pilihan kedua juga boleh.

Ibuku menangis di hari pengumuman. Aku tidak.

Aku menangis dua minggu kemudian, sendirian, waktu aku membereskan lemari untuk pindah kos dan menemukan buku catatan sampul merah muda seharga tiga ribu di antara buku-buku SMA.

Lima puluh dua halaman.

Lima puluh satu di antaranya berbunyi Hari ini dia tidak naik.

Dan satu — halaman kedua puluh sembilan — berbunyi:

Hari ini dia naik. Dua puluh delapan menit. Sembilan belas detik buat tidur.

Aku membawa buku itu ke kos.

Aku membawanya ke setiap kos setelah itu, dan ke setiap rumah, dan aku masih memilikinya sampai sekarang, dan aku belum pernah sekali pun menambahkan satu baris pun ke dalamnya.

Karena baris berikutnya bukan milikku untuk ditulis.