← Earphone Sebelah Kiri

Chapter Twenty Seven

Yang Sudah Dihitung

POV: Andhika


Hari kesembilan, aku tidak naik.

Bukan karena marah. Aku tidak marah. Aku sudah mencoba beberapa kali dalam hidup dan aku sudah menyimpulkan bahwa marah itu barang yang tidak sanggup kubeli.

Aku tidak naik karena aku menghitung, dan hasilnya keluar dengan sangat jelas.

Dari sembilan hari terakhir: aku makan penuh pada empat hari, setengah pada tiga hari, dan tidak sama sekali pada dua hari.

Sebelum sembilan hari itu: aku makan penuh setiap hari sejak awal November.

Bedanya bukan makanannya. Makanannya bertambah — tiga kotak, kadang empat.

Bedanya adalah bahwa sekarang ada tiga orang yang menunggu aku menelan.

Dan tubuhku, yang sudah tujuh belas tahun belajar bahwa makan itu urusan yang harus diselesaikan cepat dan diam-diam, menolak melakukannya di depan penonton.

Itu bodoh. Aku tahu itu bodoh.

Tapi angka tidak peduli apakah alasannya bodoh. Angka cuma menunjukkan hasilnya.

Empat dari sembilan.

Jadi aku berhenti naik.


Ada alasan kedua, yang lebih besar, dan yang tidak akan pernah kukatakan ke siapa pun.

Sembilan hari itu, aku menghitung sesuatu yang tidak pernah kuhitung sebelumnya.

Aku menghitung berapa lama mereka akan mencari.

Sekar: paling lama. Dia tidak akan berhenti; dia sudah membuktikannya sepuluh tahun. Tapi dia akan berhenti naik, dan dia akan mulai menunggu di teras, dan itu artinya kerusakannya pindah ke tempat yang bisa kukendalikan.

Renata: dua minggu, mungkin tiga. Lalu dia akan menyusun kesimpulan, mengarsipkannya, dan melanjutkan. Bukan karena dia tidak peduli. Karena dia orang yang menyelesaikan hal-hal, dan orang yang menyelesaikan hal-hal harus punya sesuatu yang bisa diselesaikan.

Tamara: paling berisik, paling cepat, dan paling tidak bisa kuprediksi. Aku pernah salah menghitungnya dua kali dan kedua kalinya dia melakukan hal yang tidak masuk akal.

Aku menghitung ketiganya, dan aku sampai pada kesimpulan yang sama seperti dua bulan lalu ketika aku pertama kali membangun jadwal itu:

Semakin panjang ini berlangsung, semakin mahal biayanya untuk mereka.


Ini bagian yang harus kutulis dengan jujur karena aku tidak akan mengatakannya keras-keras.

Aku tidak membangun jadwal itu supaya mereka tidak bertemu.

Aku membangunnya karena aku sedang menjatah.

Bulan September, waktu Sekar pertama naik, aku sudah tahu angkanya. Surat pertama datang bulan Agustus. Surat kedua bulan Oktober. Dan sejak surat pertama, aku sudah menghitung setiap malam dari sudut mana pun yang bisa kubayangkan, dan hasilnya tidak pernah berubah.

Jadi ketika Sekar naik, aku punya dua pilihan.

Pilihan satu: menyuruhnya turun. Membuatnya berhenti datang. Tidak ada yang rusak nanti karena tidak ada yang dibangun sekarang.

Pilihan dua: membiarkannya.

Aku memilih yang kedua.

Dan aku tahu persis apa yang kupilih, dan aku melakukannya dengan sadar, dan aku sudah menghitung biayanya untuk dia.

Lalu Renata naik. Lalu Tamara.

Dan setiap kali, aku mengulang perhitungan yang sama, dan setiap kali aku sampai ke jawaban yang sama, dan setiap kali aku memilih yang kedua.

Itu bukan kebaikan.

Itu orang yang tahu dia akan pergi, dan tetap mengambil.


Aku menjaga jadwal itu supaya masing-masing dapat bagian yang penuh.

Kalau mereka bertemu, bagiannya jadi sepertiga. Kalau mereka tidak bertemu, masing-masing dapat utuh — dua puluh menit yang seluruhnya milik mereka, di tempat yang tidak ada di denah, tanpa ada yang melihat.

Dan ketika ini selesai — ketika 12 Februari lewat dan namaku hilang dari absen dan atap itu kosong — mereka masing-masing akan punya versi utuh untuk diingat.

Bukan versi bertiga.

Bukan versi yang berbagi.

Dua puluh menit sehari selama dua bulan adalah biaya yang wajar untuk itu.

Aku sudah menghitungnya. Aku selalu menghitungnya.


Sisa hari: empat puluh sembilan.

Aku mengulang hitungannya malam ini, di kamar, dengan lampu mati.

Upah sampai 12 Februari, orderan normal, tanpa lembur besar: cukup untuk enam bulan tunggakan. Yang harus dibayar: sembilan bulan. Selisih: tiga bulan.

Aku mengulangnya dengan asumsi lembur besar setiap minggu: cukup untuk tujuh bulan. Selisih: dua bulan.

Aku mengulangnya dengan asumsi lembur besar setiap minggu dan obat nenek diturunkan ke dosis paling murah: cukup untuk delapan. Selisih: satu bulan.

Aku berhenti di situ.

Bukan karena angkanya sudah cukup dekat. Karena asumsi ketiga itu bukan asumsi; itu keputusan yang tidak akan pernah kuambil, dan memasukkannya ke dalam hitungan adalah cara orang membohongi dirinya sendiri.

Selisih: tiga bulan.

Empat puluh sembilan hari.


Ada satu variabel yang sudah dua minggu ini bergerak ke arah yang salah, dan aku belum memasukkannya ke dalam hitungan mana pun karena aku belum sanggup.

Bulan lalu, obat nenek habis dalam dua puluh delapan hari.

Bulan ini, dua puluh satu.

Aku menanyakannya ke apoteker puskesmas — bukan bertanya langsung, karena bertanya langsung akan menghasilkan jawaban yang harus kutanggung, tapi bertanya seolah aku salah hitung.

“Pak, ini biasanya buat sebulan ya?”

“Tergantung dosisnya, Mas.”

“Ini dosisnya sama kayak bulan kemarin?”

Dia melihat resepnya.

“Naik,” katanya. “Dari dokternya.”

“Oh.”

“Kontrol lagi bulan depan ya.”

“Iya, Pak.”

Aku berjalan pulang empat kilometer hari itu, dan sepanjang jalan aku menghitung, dan aku sampai pada angka yang tidak mau kutulis di margin buku catatan mana pun.

Kalau naik lagi bulan depan dengan kenaikan yang sama, obatnya habis dalam enam belas hari.

Dan biaya per bulan naik empat puluh persen.

Aku mengulang hitungan tunggakan dengan variabel itu dimasukkan.

Selisih: lima bulan.

Bukan tiga.

Aku menghapusnya dari margin dan menulis 49 lagi, karena angka empat puluh sembilan lebih mudah dilihat daripada angka lima.


Nenek batuk jam dua pagi.

Aku bangun. Aku duduk di sisi kasurnya sampai berhenti, dan aku menghitung — tujuh menit, lebih lama dari minggu lalu yang lima — dan aku mengambil air hangat dan dia meminumnya dan berkata nggak apa-apa, Dhik, tidur sana.

Aku tidur sana.

Aku berbaring di kasur lantai kamar sebelah dan aku tidak tidur.

Aku mendengarkan.

Tujuh menit minggu ini. Lima minggu lalu. Tiga bulan lalu.

Aku menghitung juga yang ini. Aku tidak bisa berhenti. Otakku sudah rusak dengan cara yang spesifik dan tidak bisa diperbaiki: ia mengubah semua hal menjadi deret angka, dan deret angka punya arah, dan arah punya ujung.

Jam tiga pagi, aku mengambil ponsel dan menyalakan layarnya sebentar untuk melihat sisa baterai.

Enam puluh satu persen. Cukup sampai besok malam.

Dan sebelum kumatikan, mataku lewat di ikon pemutar musik.

Sembilan lagu.

Aku sudah tidak mendengarkan sembilan lagu itu sendirian selama tiga tahun. Aku cuma menyalakannya untuk orang lain, tiga kali, dan ketiga kalinya adalah untuk perempuan yang bertanya berapa jumlahnya dan menawarkan menambah.

Aku menekan play.

Lagu pertama. Volume paling kecil. Earphone yang kiri.

Aku mendengarkannya sampai selesai — tiga menit empat puluh satu detik — di kamar gelap, jam tiga pagi, sambil mendengarkan napas nenek dari kamar sebelah untuk memastikan tidak ada batuk lagi.

Lalu aku mematikannya dan menghitung baterainya: turun dua persen.

Dua persen.

Aku menghitung berapa lagu yang muat dalam empat puluh sembilan hari kalau setiap malam aku mengambil dua persen.

Jawabannya: cukup.

Ternyata cukup.

Dan entah kenapa itu yang membuatku menutup wajah dengan lengan di kamar gelap jam tiga pagi — bukan angka tunggakan, bukan tujuh menit batuk, bukan empat puluh sembilan hari.

Dua persen.

Ternyata selama tiga tahun aku bisa mendengarkan lagu, dan aku cuma tidak pernah menghitungnya, karena aku sudah lebih dulu memutuskan bahwa aku tidak boleh punya apa-apa yang tidak perlu.


Hari Rabu, aku lewat depan gudang.

Bukan naik. Lewat.

Jam sepuluh lewat lima, koridor lab kosong, dan aku berdiri di ujungnya selama kira-kira dua puluh detik.

Anak tangga kelima berbunyi setengah.

Sekar masih naik.

Jam setengah satu, aku lewat lagi. Anak tangga kelima tidak berbunyi.

Renata masih naik.

Jam tiga, aku lewat lagi, dan anak tangga kelima berteriak seperti biasa, dan aku berdiri di ujung koridor lab dan mendengarkan bunyi itu sampai habis.

Bagus.

Itu bagus.

Sistemnya kembali jalan. Tiga slot, tiga orang, tidak ada yang bertemu.

Cuma sekarang tidak ada yang perlu diatur, karena tidak ada lagi yang harus dihindari, karena orang yang harus dijadwalkan sudah tidak ada di sana.

Aku berjalan kembali ke kelas.

Bagas menoleh waktu aku duduk.

“Ndhik.”

“Hm.”

“Lo dari mana?”

“Toilet.”

“Lo dari toilet dua puluh menit?”

“Iya.”

Dia menatapku beberapa detik, lalu mengangkat bahu dan kembali ke ponselnya, karena Bagas tidak punya alat untuk curiga, dan hari itu aku bersyukur untuk itu.

Aku membuka buku catatan.

Halaman 41 sudah lama lewat. Sekarang halaman 112.

Dan di margin kanan bawah, dengan pensil, sangat kecil, ada deretan angka yang sudah kutulis dan kuhapus dan kutulis lagi berkali-kali sejak bulan Agustus.

Aku menghapus yang lama.

Aku menulis: 49.